Tentang bertanya..

A: Bulan, minta itinerary KL dong. Mau ke sana nih. Itinnya dikirim ke email blablabla..

atau
A: Bul, minta itinerary Turki loe dong.
B: Gue belum pernah ke Turki.
A: Lah… -____-
B: Lah? -____-

atau
A: Bul, kemarin ke India abis berapa? Ke mana aja?Β 

atau
A: Menurut kamu, Marrakech gimana?
B: Hmm.. Aku pribadi sih nggak terlalu suka Marrakech.
A: Kenapa?
B: Terlalu crowded. Biasa aja. Semua udah komersil dan fake.
A: Yaiyalah, namanya juga daerah tujuan wisata!
B: LAH?

Ada orang yang begitu?
ADA!!!

Semalam puncak kekesalan saya. People should really learn how to ask or request a favor!

Pas saya tuliskan keluhan saya ini di Twitter, ternyata banyak teman yang juga ikut urun menumpahkan kekesalannya akan perilaku seperti ini.

‘Bertanya’ adalah hal yang wajar (sama halnya ‘tidak menjawab pertanyaan tersebut’ adalah juga hal yang wajar), tapi saya amat sangat menghargai kalau teman-teman melakukan hal di bawah ini dahulu sebelum bertanya.

1. Baca blogpostnya
Hampir semua cerita perjalanan saya sudah ada di blog ini. Maka baca dulu sebelum bertanya. Adalah lucu bagi saya untuk menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah tersedia. Jangan biasakan ‘malas membaca’ ya. πŸ™‚

2. Cari tahu sendiri dulu
Saya sangat menghargai orang yang tidak bertanya secara dangkal. Atau bertanya tanpa mencari tahu terlebih dahulu, maunya dapat info lengkap tuntas dari saya saja. Sebelum bertanya, carilah sedikit bekal info. Caranya bagaimana? Baca baca dan baca. Ratusan travel blog tersedia. Ribuan situs juga ada. Usaha sedikit ya. πŸ™‚

3. Jaga sopan santun
Saya nggak gila hormat, tapi sopan santun perlu dijaga. Ada terima kasih, ada permisi, ada sopannya lah. Coba kalau kalian dapat pesan seperti momen pertama saya di atas, menurut kalian bagaimana? Ingin remas-remas handuk nggak sih? πŸ˜€

4. Coba buat itinerary sendiri
Saya bingung dengan yang mentah-mentah minta itinerary ke saya. Well, kalian tahu nggak, membuat itinerary itu agak belibet lho. Itu butuh banyak baca, banyak analisa, banyak cari tahu, dan banyak berdoa. Hihihi. Bagi sebagian pejalan, masa membuat itinerary itu adalah masa spanneng, masa stress. Nah, sudah dengan perjuangan sedemikian rupa lalu ada yang meminta mentah-mentah? Hmmm.. Uncool!
PS: Ada teman yang pernah meminta contoh itinerary saya. Pas sudah saya kasih, dia minta saya ubah beberapa rencana perjalanan di dalam itinerary tersebut sesuai maunya dia. WTH? Situ akrab sama saya?

5. Jangan mencemooh pendapat
Baca momen terakhir saya di atas. Dia nanya pendapat saya, saya berikan. Lalu tiba-tiba dia mencemooh pendapat saya? LAH? Bagaimana sih? Ya kalau nggak bisa menerima pendapat orang tentang suatu tempat, jangan bertanya as if mau tahu dong. Hihihi.

6. Jangan nyebelin bin nyinyir bin nuntut saya tahu semua
Seorang teman pernah bertanya tentang suatu tempat, kemudian pas saya ceritakan, dia bertanya apa saya nggak ke A, nggak ke B, nggak ke C? Saya jawab enggak. Bahkan satu dari tiga tempat yang dia sebutkan, saya nggak tahu dan saya malah bertanya balik. Maunya ya jadi diskusi. Menyenangkan kan kalau bisa berdiskusi, saling belajar satu sama lain. Eh tapi saya kaget dong karena responnya dia terhadap saya yang tidak mengetahui satu dari tiga tempat yang dia sebutkan adalah ‘WHAT? Loe nggak tahu, Bul? Gimana, katanya traveleeeer… Travel bloggeeeerr..’ JRENG!! Dude… *sigh* *speechless*

Demikianlah sedikit curhatan saya. Saya menjawab beberapa pertanyaan kalau diajukan dengan baik dan orangnya sudah melakukan hal-hal di atas kok.

Kayak yang ini:

Atau yang ini:

Contohnya saya kasih dua yang terbaru saja ya. Nanti kalau saya beberkan semua, dikira saya nih baik banget lagi (padahal iya kan? KAN?). Hihihi..

Jadi begitu ya teman-teman. Nggak ribet kan. πŸ˜€ Hanya perlu keinginan dan ketidakmalasan untuk membaca. You can be spoiled, but don’t be lazy.. πŸ˜€

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements