Yogyakarta.. Pulangnya saya..

Something about this city attracts me more than to just call it hometown.

Yogyakarta.
Tempat kelahiran bujendral dan abang saya.
Tempat kami kembali saat Hari Raya.
Tempat terdekat untuk kabur dari hirup pikuk Jakarta.
Yogyakarta..
————————————————————————————————————
Kali kemarin saya pulang, ada dua kenangan manis tersimpan.
Yang pertama; akhirnya, setelah beberapa kali kembali, saya bisa mewujudkan salah satu impian untuk naik ….
ODONG-ODONG LAMPU!! 
 
 
 
 
Hahaha. Dubrak nggak? 😛
Tapi sungguh naik odong-odong lampu ini sudah keinginan dari lama, tapi tidak bisa dilakukan karena beberapa hal:
1. Belum ada teman asyik untuk naik bareng dan naik odong-odong sendirian itu terlihat sungguh desperate.
2. Biaya naiknya cukup mahal. Satu kali putar, kalau hari biasa Rp30.000, Weekend/Hari Besar Rp50.000. Bisa bayangkan kalau saya naik sendirian di tengah hiruk pikuk Alun-Alun Kidul, mencoba bersenang-senang dengan iringan dentuman musik house yang menggelegar, keluarin uang Rp30.000 dari dompet sendiri? Naik sendiri gowes sendiri joget sendiri bayar sendiri. Bisa bayangin? Bisa? Saya sih enggak. Nggak tahu kalau Mas Anang.
Dengan dua alasan itu, maka saat kemarin kami (saya, abang, kakak ipar, keponakan, dan dua sepupu) jalan bersama, saya langsung mengobarkan semangat ’45 untuk melakukan kegiatan perodong-odongan ini. Hihihi. Harganya Rp50.000 dan bapak pemilik odong-odong tidak mau sedikit pun bergeser. Not even to Rp45.000! Tapi baiklah, mari laksanakan!
Wajah saya kayaknya terbaca sekali bahagianya. Saya sampai ketawa-ketawa sendiri beberapa kali hanya karena senang akhirnya keinginan ini tercapai juga. Hehehe.
❤ ❤ ❤
Gigi kering kakaaaaak, cengengesan terus kakaaaa. Hihihi..
Tapi tak apa, hati bahagia..
Yang bayar Rp50.000-nya Kak Ari lagi.. << salah deng, yang bayar ternyata om saya, Om Koen. Hihihi.
Hidung kembang kempis..
————————————————————————————————————

Kebahagiaan kedua adalah karena saya bisa mewujudkan keinginan lainnya yang juga sudah lama dibayang-bayang: naik sepeda sampai Malioboro! Woohoo!!

Saat di Jogja, saya memang lebih senang naik sepeda ke mana-mana. Naik sepeda di Yogya itu enak; angin semilir, asap tidak sepekat Jakarta, dan pengendara lain masih menghargai keberadaan pengendara sepeda ini. Hihihi. Di beberapa jalan bahkan ada jalur khusus pesepeda. Kurang apa coba? 😀
Kalau saya sendirian ke Yogya, paling jauh saya hanya naik sepeda sampai Purawisata dari rumah eyang saya di Prawirotaman. Tapi kemarin karena Abang (sepupu saya) juga datang, akhirnya saya menariknya untuk jalan lebih jauh. Abang ini teman jalan saya dulu ke Belitong dan Melaka dan Kuala Lumpur dan Perak. Hahaha. Di acara jalan-jalan ini juga kami menginisiasi penerus kami, Dion (sepupu terkecil), untuk jadi pejalan juga seperti saya dan Abang. Asik juga anak kecil ini. Diajak ke mana-mana nggak ngeluh dan tetap happy-go-lucky. Hihihi.
Dion, Abang, Rembulan Indira Cantik Jelita Di Seluruh Nusantara.
Rute kami kemarin: Prawirotaman, Jl Parangtritis, Jl Katamso, Panembahan, Wijilan, Alun-Alun Utara, Jl Senopati, Jl Suryotomo, Jl Mataram, Jl Malioboro, Jl Ahmad Yani, Jl Senopati, Jl Katamso, Jl Parangtritis, Prawirotaman. Coba itu di mana ya bisa cari tahu itu berapa kilometer yang kami tempuh? Hehehe. At some point, Dion sampai turun dan cari kardus karena bokongnya sakit. Mungkin kalau celananya saya pelorotin, terlihat cetakan kursi boncengan sepeda di bokongnya. Hahaha. *eh, that’s actually a good idea ya!*
Dengan sepedaan, kami jadi bisa berhenti dan melihat beberapa tempat. Berhenti untuk bernostalgia dengan Restoran Legian di Malioboro di mana Popsky dan Bujendral sering mengajak saya dan abang untuk menikmati sepiring spaghetti saat sedang punya uang lebih. Kami bahkan sempat beli minum ke Progo demi menukar uang. (Parkir sepedanya gratis euy! :P). Dan sempat terpana melihat gerbang besar Kampung Ketandan yang sudah berdiri kokoh. Itu kok tetiba ada? Dibangun Roro Jonggrang? EAAAAA!! Juga bisa berhenti ke kelenteng yang sudah dari lama ingin saya masuki. Pokoknya jadi bisa menclok-menclok deh kalau keliling Yogya naik sepeda!
Kelenteng Fuk Ling Miau
Eh anak Sevel mana loe? | Sevel Sarkem! | *kemudian semua diam*

 

Restoran Legian. Tempat kami memakan pasta saat papamama punya uang lebih. :’)

 

Kampung Ketandan yang entah muncul dari mana.. :p
Balik-balik hati membuncah bahagia dan betis mengencang. Akhirnya angan-angan lainnya terpenuhi. Angan-angan yang sederhana tapi sudah membuat bahagia. Yogyakarta tidak pernah membosankan untuk saya. Selalu ada hal baru, tempat baru, cerita baru dari setiap perjalanan saya ke sana. Yogya terasa manis seperti setiap kali saya mengucapkan namanya saat orang bertanya, “Pulang ke mana?” 🙂
Senyum dulu ah.. 🙂
————————————————————————————————————

Tulisan Travel Bloggers Indonesia lainnya, silakan kakaaaaa:

Kak Olive – Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong
Kak Danan – Mudik, Rindu Rumah
Kak Bobby – Tradisi Mudik di Keluarga Batak
Fahmi Anhar – Tradisi Lebaran Di Kampung Halaman
Kak Farchan – Kepulangan yang Agung
Kak Vika – Pulang Mengenang Kakek
Kak Yofangga – Ibu, Aku Pulang
Kakatete – Mudik atau Tidak, adalah Pilihan
Kak Bolang – Sebuah Cerita Tentang Pulang
Kak Nugie – Selalu Ada Jalan Untuk Pulang
Kak Badai – Lebaran Terakhir Bersama Nenek
Mbak Indri – Cirebon: Mudik dan Perut yang Manja

Advertisements