Menginap di dorm saat jalan-jalan..

Semalam saya ikut dalam keramaian #IDTC yang membahas tentang Hostel. Untuk yang belum familiar, #IDTC adalah singkatan Indonesia Travel Chat; acara ngobrol-ngobrol urun pendapat atau komentar atau pengalaman tentang traveling. #IDTC diadakan di Twitter setiap Selasa malam, strictly untuk Indonesian. Setiap minggu bahasannya beda-beda dan siapapun asal WNI boleh ikutan. Tinggal search saja tagar #IDTC pas Selasa malam dan nanti ketemu deh pertanyaan-pertanyaan yang bisa dijawab untuk jalannya urun-urunan ini. Hehehe.

Saat semalam ngobrol tentang hostel, bahasan kemudian menjadi tentang menginap di dorm hostel saat jalan-jalan. Dan ternyata animonya luar biasa! Banyak yang nanya pengalaman dan tips tinggal di dorm. Saya pikir 160karakter agak terbatas untuk menjelaskan, jadi post ini dibuat. πŸ˜€ Saya baik ya. Iya. Terima kasih. Sama-sama. :’)

Markimul!

————————————————————————————————————

1. Pesan ranjang di dorm itu bagaimana caranya?
Ada beberapa website untuk pesan ranjang di dorm. Yang paling sering saya gunakan Hostelbookers. Tapi ada juga Hostelworld dan AirBnBΒ dan Booking.comΒ (terima kasih Kak Nugie). Masing-masing website sudah dilengkapi fitur map untuk bisa lihat strategis tidaknya hostel yang bersangkutan, kolom review dari tamu-tamu sebelumnya, pilihan kamar, dan fasilitas. Filternya pun beragam mulai dari berdasarkan review, harga, atau rekomendasi admin situs. Foto hostel dan dormnya pun tersedia.

2. Pertimbangan menginap di dorm di hostel?
Nah pertimbangan ini, tentukan dari awal: apa sih yang dicari dari sebuah penginapan? Harga murah, lokasi strategis, keadaan bersih, atau sekedar tempat untuk beristirahat saja? Banyak yang menganggap pertimbangan utama seorang pejalan menginap di dorm di hostel adalah harga murah tapi bagi saya, itu bukan yang utama. Mungkin karena saya orang kaya. UHUK! *keselek kedondong* Pertimbangan utama saya adalah lokasi dan kebersihan hostel. Lokasi strategis, keadaan dorm bersih, maka HABEK! Dari mana tahu lokasinya strategis dan keadaannya bersih? Ya dari review dan testimoni tamu yang sudah pernah menginap dong. Saya selalu baca review tentang hostel tersebut sebelum memutuskan memesan kamar. Jadi, jangan malas baca!

Untuk harga, jangan salah, harga pecahan per orang untuk menginap di dorm sebuah hostel mungkin bisa lebih mahal dibanding harga pecahan satu kamar di sebuah hotel budget. Di dorm itu hitungan harganya per orang; bukan per kamar.

Saya kasih sedikit bayangan saja ya, kalau saya jalan berempat; di Dorm A harga per orangnya Rp175.000, untuk empat orang berarti total Rp700.000. Di Hotel X, harga Kamar Keluarga untuk 4 – 5orang = Rp600.000; maka lebih hemat mana? Ya Hotel X dong, karena harga per orangnya jadi Rp150.000. Lumayan banget kan menghemat Rp25.000 per orang. Selisihnya bisa buat beli Momogi Coklat banyak!! πŸ˜€

Jadi tidak semua dorm itu …. murah! πŸ˜€

Maka menurut saya, dorm itu cocok untuk yang lagi jalan sendirian atau jalan dengan teman lawan jenis yang bukan muhrim dan bukan gay dan nggak nyaman untuk diajak tidur satu ranjang. Ihir! Hehehe.


3. Pilih dorm laki-laki, perempuan, atau campur?
Dilihat dari penghuninya, ada dorm yang dikhususkan untuk perempuan saja, untuk laki-laki saja, atau campur. Dari harga, biasanya yang dorm campur lebih murah 1 – 2 dollar. Kalau harganya sama, saya pasti pilih dorm khusus perempuan. Tapi kalau bedanya lumayan, saya nggak pernah masalah menginap di dorm campur. Banyak teman yang (ternyata) masih takut menginap di dorm campur. Alasannya ada yang merasa kurang nyaman satu kamar dengan lawan jenis, takut nggak aman, atau bingung harus bagaimana bersikap atau juga takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti dipegang-pegang saat tidur. Well, Puji Tuhan selama ini saya menginap di dorm campur tidak pernah kejadian apa-apa yang aneh. Kuncinya apa? Jaga diri, jaga sikap, saling tenggang rasa, saling menghormati.

Nggak aneh Lan satu kamar sama lawan jenis? Aman nggak?
Saya sih enggak merasa aneh ya. Toh masing-masing punya ranjang sendiri-sendiri. Privacy dan keamanan pun cukup terjaga karena umumnya sesama pejalan itu rasa saling menghormatinya tinggi. Ya merasa senasip sepenanggungan mungkin. Hihihi. Lebih lanjut lagi, energi positif di diri saya percaya, kalau saya nggak ada niatan mengambil barang Mbak Angel yang ranjangnya di kanan ranjang saya, maka Mbak Angel dan Mas Bruno dan Mang Dadang juga tidak akan ada niatan mengambil barang saya yang saya taruh di atas ranjang. Gitu aja. Simple. Hehehe. Walaupun begitu, menjaga barang masing-masing tetap perlu. Biasanya tiap dorm dilengkapi lemari penyimpangan untuk masing-masing penghuni. Nah gunakanlah dengan maksimal. Simpan barang-barang berharga di dalamnya saat ditinggal jalan-jalan. Jangan sentuh barang-barang yang bukan milik kita walaupun barang itu terkapar menggoda.

Bagaimana harus bersikap?
Ya biasa saja. Santai, jadi diri sendiri. Hihihi. *saya jadi bingung jawabnya* Jaga sikap memang perlu karena intinya kita memakai kamar ini bersama-sama, perlu tenggangrasa. Tidak ngobrol dengan suara keras di kamar. Kalau pulang malam atau pagi dan melihat lampu kamar sudah dimatikan, jangan cuek menyalakan. Jangan mendengarkan musik dengan speaker, pakai earphone saja ya. Anggap kalian pelit gitu, nggak mau bagi-bagi musik ke penghuni lain. Hehehe.

Bagaimana kalau lihat ada pejalan yang tidur bareng pelukan sama pasangannya di salah satu ranjang? *ini kejadian sama saya di dorm di Singapore*. Kalau saya sih bodo amat ya. Hihihi. Urusan masing-masing. Dia mau pelukan kek, ciuman kek, uget-uget kek; selama nggak ganggu saya, ya terserah. Paling kalau sudah mulai kelewatan dan mengganggu (misalnya saking hot ciumannya sampai berbunyi mengganggu), saya negur santai, ‘Dude, would you mind kissing in silence?’ Hehehe.

Intinya begini, masing-masing penghuni punya hak yang sama atas ketenangan dan kenyamanan kamar (karena itulah kita perlu bertenggangrasa toh). Kalau ada rasa kurang nyaman yang disebabkan penghuni lain ya bilang, tegur santai. Kalau masih bisa handle sendiri, handle lah. Kalau sudah tidak bisa, yasudah jalan santai saja ke resepsionis dan katakan apa yang jadi keberatan kita. Bisa kan?

Gak takut dipegang-pegang saat tidur?
Well, kalau soal dipegang-pegang, itu bisa terjadi di mana saja, tidak hanya di dorm. Di kereta yang penuh saja suka ada yang gesek-gesek kan. Nah jadi mesti gimana? Ya preventif saja, tidur jangan pakai lingerie (yakalik) dan bawa kain Bali untuk selimutan atau pakai celana panjang dan kaos santai yang tidak terbuka atau ketat badan.

Lalu kalau dipegang-pegang mesti bagaimana?
Kalau saya (amit-amit jangan sampai kejadian), pasti teriak sekeras-kerasnya! Hahahaha. Lalu kerahkan seluruh tenaga untuk tendang anunya, colok matanya, ambil HP atau barang yang agak keras lainnya dan gebuk kepalanya. Abis itu lari ke resepsionis dan lapor! LAPOR! Biar jera dan dikeluarin orangnya. HIH! Pokoknya keluarkan survival mechanism kalian masing-masing! << ini berlaku di semua lini kehidupan, nggak cuma di dorm saja. Kalau di kereta suka ada yang gesek-gesek, saya biasanya setengah teriak bilang ‘Aduuuuh ini Bapak di belakang apaan sih nempel-nempeeeel???’. Hehehe. Lalalala dudududu. Malu deh tu bapak.

Lan, kalau lihat ada perempuan ganti baju di dalam kamar cuek banget, sampai gue bisa lihat dalamannya, gue mesti bagaimana?
Lah, ya sudah biasa saja. Mungkin bagi dia, dalaman itu nggak sepenting itu jadi dia cuek. Itu bukan berarti dia minta disentuh atau diajak ngobrol (atau ditidurin. Please deh!). Nilai kepantasan tiap orang kan beda-beda. Kalau kalian jadi nggak enak yasudah balik badan tidurnya atau keluar kamar sebentar. Kalau kalian berpikir itu pantas dilihat ya lihat saja. Hihihi.

Dan hal-hal kecil seperti itu bukan hal yang harus dibanggakan sih menurut saya. Makanya kalau ada teman yang gembar-gembor tentang dia pernah lihat perempuan ganti baju di dalam kamar atau lihat paha pejalan perempuan yang tidur di ranjang sebelah, saya sih tertawa saja. Situ hidupnya kasihan ya, sampai hal kayak begitu saja digembar-gemborkan. πŸ˜›

4. Dorm di hostel bersih?
Bersih ya bersih saja, nggak tergantung jenis penginapannya.

Ada dorm yang bersih? ADA!
Ada hotel yang ada bed bugs di ranjangnya? ADA!
Sama lah kayak laki-laki.
Ada yang lulusan S2 tapi nggak mengerti bagaimana harus bersikap? ADA!
Ada yang lulusan SMA tapi sikapnya terhormat banget? ADA!
Maka hati-hati saat memilih laki-laki yang akan dijadikan suami.
*LHO..Fokus geser jauh*

Sekali lagi, lihat testimoni dan baca review dari tamu sebelumnya. Mereka kasih pandangan terkini sesuai keadaan terakhir dorm dan hostel tersebut.

5. Ada persiapan khusus kalau akan menginap di dorm?
Khusus sih enggak. Jeli saja membaca apa-apa yang sudah disiapkan oleh hostel dan apa yang belum. Ada beberapa hostel yang tidak memberikan handuk dan kalau mau menyewa harus bayar lagi. Ada yang menyiapkan lemari penyimpanan di tiap kamar tapi tanpa memberikan gembok. Tiap hostel beda-beda fasilitasnya. Berikut beberapa tips ringan dari saya untuk yang mau menginap di dorm:

A. Baca baca baca, cek dan ricek
Jangan malas baca deskripsi hotel dan dormnya, penjelasan lokasinya, dan fasilitas apa yang disediakan. Baca juga reviewnya. Saya dulu tahu jalan asyik di belakang hostel, di pinggir sungai, saat di Melaka ya dari reviewnya, bukan dari deskripsi pengurus hostel. Tahu ada toko roti enak di ujung jalan yang bisa dicapai jalan kaki juga dari review hostelnya. Tahu hostel A bisa kasih harga murah sekali tapi nggak worthed juga dari review yang bilang kasurnya banyak bed bugs. Hahaha. Iuuuww. πŸ˜€

Seperti yang saya jelaskan di poin nomor dua di atas, harga (harusnya) bukan jadi pertimbangan utama dalam memilih dorm. Karena harga per orang untuk di dorm mungkin bisa lebih mahal dibanding kalau menginap di hotel; maka sebelum memesan, cek dan ricek harga dengan teliti. πŸ˜€

B. Bawa kain Bali
Multifungsi sekali ini. Bisa jadi selimut, alas tidur, slayer, shawl, rok, handuk, baju, lap dll. Hihihi. Ini selalu saya bawa sekalipun tidak menginap di dorm. πŸ˜€

C. Bawa handuk dan perlengkapan mandi sendiri
Ini kebiasaan yang saya bawa bahkan saat saya menginap di hotel. Hehehe. Bawa saja handuk kecil dan perlengkapan mandi secukupnya. Beberapa hostel tidak menyediakan barang-barang ini. Kalau saat pulang perlengkapan mandinya tinggal sedikit, tinggal saja. Hemat tempat untuk ransel. Hihihi.

D. Jaga dan urus barang masing-masing
Kalau bawa barang berharga, simpan di lemari penyimpanan dan gembok lemarinya. Jaga juga jangan menaruh barang-barang sembarangan di atas tempat tidur atau di space lain yang milik bersama. Biasanya, hostel berada di lantai dua atau tiga sebuah bangunan (makanya, baca baca baca) dengan tangga sempit menuju ke atas. Akan susah kalau bawa koper berat besar karena jarang ada elevator di hostel. Hehehe. Maka pikirkan juga ya tentang bawaan ini. Jangan sampai menyusahkan orang lain. Bawa barangnya sendiri-sendiri, kalau capek naik tangga sambil bawa barang banyak ya istirahat sebentar ambil napas. Hehehe. πŸ˜€

E. Bersikap ramah tapi nggak murah
Tunjukkan keramahan. Kita bisa dapat banyak teman baru dengan menginap di dorm. Kalau menyapa dengan ramah, sopan, dan baik, pasti ditanggapi dengan baik juga. Takut karena Bahasa Inggrisnya belum lancar? Oh jangan sedih, nggak semua pejalan dan bule itu Bahasa Inggrisnya bagus kok. Hihihi. Dan mereka menghargai kalau kita berusaha walaupun masih belepotan. πŸ˜€

Obrolan biasanya seputar tempat-tempat di negara atau daerah tersebut yang sudah atau akan dikunjungi. Sering juga kita jadi dapat teman perjalanan ke tempat-tempat baru. Asyik kan, jadi bisa share cost! Hahaha. Nggak murah di sini dimaksudkan ya jangan nemplok-nemplok manja juga hanya untuk bisa dekat dan ngobrol dengan penghuni lain. Yang ada malah dianggap aneh. Mbak ini kenapa? Salah makan? 😐

F. Ini opsional: bawa suvenir khas Indonesia
Ide ini juga saya dapat dari salah satu teman yang ikutan #IDTC semalam. Saya belum pernah kepikiran bawa suvenir khas Indonesia soalnya. Hihihi. Selain suvenir, bisa juga simpan foto-foto indahnya Indonesia di HP. Bisa banget untuk ditunjukkan ke penghuni lain saat lagi ngobrol-ngobrol. Promosi Indonesia gitu. Hehehe.

Ribet nggak menginap di dorm? Enggak kan?
Menginap di dorm di hostel itu asyik kok. Itulah kenapa kadang, saya tetap menyempatkan menginap di dorm walaupun saya bisa menginap di hotel pada saat itu. Ada interaksi yang kurang terasa saat menginap di hotel, menurut saya. Di dorm lebih kekeluargaan, lebih seru, lebih hangat. Hehehe.

Oh, satu lagi. Tulisan ini tidak menyarankan atau mengharuskan untuk menginap di dorm. Tulisan ini lebih untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang salah dengan menginap di dorm. Kalau memang tidak bisa atau tidak sesuai hati ya sudah tidak apa, tidak perlu pakai mengejek para bedspacers (penghuni dorm) dengan bilang, ‘Ih gue mah nggak bisa ya nginap satu kamar bareng-bareng sama orang lain hanya untuk menghemat. Bagi gue, orang yang nginap di dorm saat liburan itu berarti orang yang sebenarnya belum punya cukup uang untuk liburan tapi maksain!’ << pengalaman pribadi, ada teman yang berkata seperti ini. Atutedih. 😦

Dan untuk para bedspacers juga sama, pilihan menginap di mana saat jalan-jalan adalah personal. Nggak perlu juga mengejek orang yang menginap di hotel terus. Tidak semua orang yang menginap di dorm itu backpacker keren, lebih tangguh, dan tidak manja dibanding mereka yang tinggal di hotel. Begitu ya. πŸ™‚ Kembali ke pilihan masing-masing saja. πŸ™‚

Sekian dan terima tepuk tangan.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements