Candi Sukuh dan Keperawanan Saya..

“Jadi Buy, konon katanya, kalau kita naik Candi Sukuh ini lalu pas turun kita berdarah, itu tandanya kita masih perawan!!” ujar Kakatete dengan mimik wajah super serius yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Saya membalas dengan tatapan bingung. Apa yang dia harapkan dari berkata demikian pada saya yang sepertinya sudah tidak perawan ini deh? >.<
Tapi baiklah, mari kita coba!

————————————————————————————————————
Candi Sukuh adalah candi ketiga yang kami kunjungi hari itu. Terletak di Karanganyar, candi ini lebih terkenal sebagai candi seksual atau candi porno. Kenapa begitu? Karena Lingga dan Yoni digambarkan secara terbuka di candi ini. You know Lingga and Yoni, aite? The image of penis and vagina. 😀
Saat mobil sewaan kami memasuki parkir, Ang sempat mengucap ‘Yah…Penuh banget!!’, dan saya langsung lihat ke bagian atas candi yang ternyata sudah penuh orang nongkrong-nongkrong cuek. Kami pun berjalan santai masuk area candi setelah sebelumnya beli tiket masuk dulu Rp3000/orang. Saya jalan duluan sementara Ang dan Kakatete masih baca-baca penjelasan tentang candi ini. Saat saya naiki tangga kecil di halaman, saya ketemu satu bapak satpam yang duduk santai mengawasi. Saya tanya ada apa di atas kok penuh sekali? Dijawab katanya sedang ada ritual. Ooooo, pantesin penuh.
Saya pun keliling-keliling dulu menunggu pengunjung yang di atas turun untuk gantian dengan pengunjung yang di bawah. Tunggu punya tunggu, nggak turun-turun dong mereka. Hihihi. Betah ya Mas, Mbak. Melihat banyak pengunjung yang menunggu giliran naik, bapak satpam pun melaksanakan tugasnya dengan baik. Beliau mendekat ke candi lalu menganjurkan pengunjung yang di atas untuk turun dan memberi kesempatan pengunjung yang di bawah untuk naik juga. Anjuran disampaikan dalam Bahasa Jawa halus yang membuat saya bengong. KENAPA BAPAK ITU BISA BAHASA JAWA HALUS?? Saya kok nggak bisa? Kenapa coba kenapa? Jawab!!
 
Beberapa pengunjung pun turun setelah mendengar anjuran bapak satpam; beberapa lainnya, tetap keukeuh di atas. Ada satu pasangan yang tetap di atas dan kaki sang perempuan menjulur ke bawah. Mereka nggak ngobrol pun, ya cuma duduk saja di candi. Mungkin menurut mereka itu keren. Hehehe. 😛
Menunggu beberapa saat, turun lah para nongkrongers itu dan kami pun naik ke atas. Sesampainya di atas, ada beberapa orang berbaju seperti petapa dengan rambut panjang dan tatapan wajah diam misterius (ala-ala Sudjiwo Tedjo gitu) sedang membereskan barang-barang yang habis dipakai untuk ritual. Saya melihat ke sekeliling. Komplek candi ini, walaupun kecil tapi sangat adem dan menyenangkan. Rumputnya hijau, banyak pohon rindang, suasananya adem. Pantas banyak yang pacaran di sini.
Kami berfoto sebentar lalu turun untuk memberi giliran pengunjung lain yang akan naik. Sedikit cerita tambahan, pas di bawah, di halaman candi, ada sekelompok mas-mas gitu mengikuti kami dan tiba-tiba salah satu dari mereka bilang, “Mbak, teman saya mau foto bareng sama mbak. Boleh ya mbak?”
YAMPUN AKUH DIKIRA RAISA!!
Okeskip!
*ya sedikit selfie saja deh ya nggak papa*
*peace*
Selesai dari Candi Sukuh, kami menuju ke Air Terjun Jumog. Selesai dari sana baru kami pulang dan hasil tes pun keluar. Hasil ini cukup mengagetkan karena …. Kakatete tidak merasakan apa-apa sedangkan saya ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Menstruasi.
Darah.
Berarti ……………………….
SAYA PERAWAN!!
OMG!!
*pingsan*
Sekian.
Post selesai.
Hihihi.
Senyum dulu ah.. 🙂
Advertisements