Pemandu Becak dan Sewa Mobil di Solo..

*pertanyaan penting pembuka post*

Kalau orang Jakarta disebut Jakartan,
Orang Palembang disebut Wong Kito Galo,
Orang Minang disebut Urang Awak,
Orang Solo disebut apa?

๐Ÿ˜€

Tapi, apapun sebutannya minumnya tetap Teh Botol Sosro, satu yang berkesan bagi saya saat ke Solo kemarin: sebagian besar orang Solo ramah-ramah ya. Ramahnya ramah tulus gitu. Saya bahagia. ๐Ÿ™‚

Yang membuat kesan ramah dan tulus pertama kali adalah Pak Mul: pemandu becak kami selama di Solo. Saat pertama bertemu di pintu keluar Stasiun Balapan, kami tawar menawar untuk diantar ke Gudeg Ceker Margoyudan. Dari Margoyudan, kami lalu minta diantar langsung ke hotel. Pak Mul menyanggupi. Sampai di hotel, saya bertanya di mana mencari sewa sepeda? Kata Pak Mul, sewa sepeda jarang di Solo. Beliau menanyakan kami mau ke mana saja. Setelah diberitahu, Pak Mul bertanya (dengan sangat sopan) apa mau diantar olehnya. WAH! Boleh boleh! Huhuw!

Pak Mul datang sebelum pukul setengah sepuluh, perjanjian waktu kami. Dia menunggu di luar hotel dan tidak mau masuk padahal saya geregetan banget ingin bawa becaknya Pak Mul sampai depan lobby Hotel Solo Paragon. Hehehe. Kami pun berkeliling kota Solo sama Pak Mul. Orangnya sabar sekali dan sangat melayani. Bahkan saat kami tidak jadi ke Taman Sriwedari sedangkan Pak Mul sudah belok kanan dari depan gerbang masuk Pura Mangkunegaran, beliau tanpa mengeluh menggenjot becaknya lagi untuk putar balik dan mengantar kami ke Pura Mangkunegaran, sesuai yang (tiba-tiba) kami inginkan. Hihihi. Maaf ya Pak.

Pak Mul ini rumahnya di daerah Balapan, dekat stasiun. Usianya memang cukup tua namun masih kuat menggenjot becak ke rute kami Hotel (Solo Paragon) – Pasar Gede – Pura Mangkunegaran – Pasar Klewer – Kampung Batik Kauman – Hotel. Saat di Kampung Batik ada kejadian lucu, Pak Mul-nya posesif sama kami, takut kami kecapean jadi beliau ingin mengantar kami ke gang-gang kecil itu, padahal kaminya mau jalan kaki. Hahaha.

Saya masih menyimpan nomor HP Pak Mul. Kalau ada teman-teman yang akan ke Solo dan ingin berkeliling diantar becak oleh Pak Mul, drop a message on my Facebook or Twitter. I’ll share. Tapi mintanya yang baik dan sopan ya. Pesan seperti ‘Pernah baca kamu punya nomor telepon tukang becak di Solo, minta dong sekarang, perlu banget. Besok ke Solo!’ TIDAK AKAN saya jawab. Saya lebay? Mungkin. Tapi beneran ada yang pernah kirim pesan ke Facebook saya seperti itu, menanyakan nomor telepon Pak Azmal, supir taksi langganan saya di Kuala Lumpur. -_____- d’uh! Situ ikrib sama saya?!

Oya, tolong sekali, kalau naik becak sama Pak Mul, maksimal 2 orang per becak ya. Atur rute sedemikian rupa biar nggak bolak-balik. Atau beritahu tempat mana saja yang mau dikunjungi dan minta Pak Mul yang atur rutenya. Kalau waktunya makan dan kalian sebagai penumpang akan makan, jangan lupa tawarkan (atau langsung pesankan) untuk Pak Mul juga. Nggak akan bikin kalian kekurangan, sungguh! Kemarin kami putar-putar selama lebih kurang 4.5jam itu memberikan Rp120.000 + makan siang ke Pak Mul. Dari awal, Pak Mul menolak menyebutkan berapa yang harus kami bayar. Saat diberi pun beliau tidak meminta lebih, bahkan tidak menghitung berapa rupiah yang kami berikan. Beliau penuh rasa syukur dan menerima dan kalau tahu Pak Mul dari saya, tolong jangan berikan harga di bawah itu untuk jalan-jalan selama periode waktu yang sama. Kalau mau menawar sampai murah sekali, silakan cari pemandu becak lain, jangan sama Pak Mul!! *penumpangposesif* Hehehe.

Hari kedua di Solo, kami berencana untuk sedikit ke luar kota Solo. Ke Karanganyar, mengunjungi Candi Cetho, Candi Sukuh, dan Air Terjun Jumog. Untuk ke sana, tentu tidak bisa dengan Pak Mul. Hihihi. Malam-malam jam 21.00 kami baru cari sewa mobil setelah mengetahui kalau sewa mobil di hotel harganya Rp620.000 untuk Avanza. HIDIW BABHAY!

Googling sebentar dan membuka satu website, menelpon, mendapatkan harga, menutup telpon sebentar untuk berkata ke Kakatete dan Ang, “Aku gagal deh kalau menghadapi orang ramah dan sopan. Bapak yang angkat telepon sopan banget. Harganya 450.000 sudah mobil supir BBM.” Kakatete melihat saya sekilas, membaca air muka saya yang yakin, kemudian langsung mengiyakan. Tidak sampai dua menit kemudian, kami dapat mobil sewaan untuk keesokan harinya. Hehehe. Kaget ya kok tumben saya bisa jalan-jalan koboy begini tanpa persiapan matang? Iya, saya juga kaget. Hihihi.

UPDATE 30/11-2015: Tedda Rent Car yang saya bantu promo di bawah ini ternyata tidak memertahankan profesionalismenya. Membaca post ini, BuJendral memutuskan memakai Tedda Rent Car saat pergi bersama sebelas temannya ke Solo beberapa hari lalu. Tedda Rent Car, dengan dalih lagi penuh order, mengganti mobil yang dipesan BuJendral (ELF kapasitas 12/14 orang) dengan ELF dari penyedia sewa mobil lainnya. Mobil datang dalam keadaan tidak bersih dan mulaiย sepertiga perjalanan, AC mati. WTF sekali. Jadi, saya hilangkan tautan di bawah ini ya. Kalau masih mau pakai jasa sewa mobil ini, silakan Googling nama yang saya berikan. At your own risk ya, karena ternyata mereka gak bisa jaga hubungan kerja dengan baik. ๐Ÿ™‚

Nama sewa mobil ini Tedda Rent Car. Silakan diklik tautannya untuk masuk ke websitenya. Supir kami kemarin namanya Pak Doni. Baik, ramah, dan rambutnya gaya mullet! Hihihi. You know tatanan mullet kan? Business at the front, holiday at the back! Hihihi. Nih seperti ini:

Ini bukan Pak Doni. Cuma gaya rambutnya saja.

Sayang saya nggak sempat foto Pak Doninya. Padahal sudah rencana. ๐Ÿ˜ฆ Mungkin nanti saya bisa minta Pak Anton (yang punya Tedda) untuk fotoin. Hihihi. Pak Doni sopan dan mengerti jalan. Menyetirnya pun halus dan tidak grasa-grusu. Sabar sekali melayani kami, tiga perempuan lucu nan imut jalan-jalan keliling candi, makan, tidur, ribut nyanyi, dan makan lagi. :p Pak Doni pun mau diminta memotret kami di tengah hujan sambil ikut ngetawain bareng warga sekitar (–____–) saat kami menjadi Power Ranger dadakan di Desa Jumog. Cerita Power Ranger ini nanti akan ada di post yang berbeda ya. Overall, sangat puas dengan pelayanan Tedda Rent Car dan Pak Doni.

Untuk menyewa mobil di Tedda, ternyata paling tidak harus memesan seminggu sebelumnya. Kami kemarin beruntung sekali masih bisa mendapatkan mobil di waktu yang mepet dan mobil yang kami pesan adalah mobil terakhir yang ada. Hehehe. Rejeki anak cantik kece nan baik dan rendah hati. :’)

Selain Pak Mul, Pak Anton, dan Pak Doni; satpam di hotel juga ramah. Satpam di Mall Paragon juga ramah. Ibu Gudeg, Ibu Nasi Liwet, Bapak Parkir, semua ramah.

Eh tapi apa semua ramah? Tidak juga sih. Supir taksinya nggak ada yang ramah masa. Padahal taksi ini taksi resmi rekanan hotel. Taksinya tidak ada yang pakai argo dan supir taksinya semua sok tahu. Sok tahunya nyebelin banget. Saya sama Kakatete sampai tobat deh. Kalau nggak terpaksa, nggak mau naik taksi di Solo. Mending sama Pak Mul atau Pak Doni deh. Hehehe.

Mbak-mbak Dawet Telasih Bu Dermi di Pasar Gede juga nggak ramah. Nggak ada senyum-senyumnya acan. Mbaknya nggak bisa berlaku semanis dawet jualannya. Ihiks.

Tapi, jumlah orang yang ramah mengalahkan mereka yang tidak ramah kok. Solo kota yang menyenangkan. Orang-orangnya juga menyenangkan. Membuat betah. Cocok untuk tempat kita menghabiskan masa tua bersama, Mas. *gamit lengan Mas Joseph Gordon-Levitt dengan mafhum*

Senyum dulu ah. ๐Ÿ™‚

Advertisements