Cerita Book and Go dan Duo Ginuk Menginap di Hotel Besar

Beberapa teman yang terhubung ke saya di Facebook (dan Twitter) mungkin melihat tagar yang saya tuliskan beberapa saat lalu; #DuoGinukInSolo . 😀 Ginuk itu bahasa Jawa untuk badan yang agak gendut-gendut namun lucu maksimal gitu. Duo Ginuk ini mengacu ke saya dan Kakatete. Hihihi.

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, jalan-jalan ke Solo ini terhitung lumayan cepat prosesnya. Cepat dan nggak ribet. Yang membingungkan, saya dan Kakatete yang sama-sama OCD, bisa-bisanya tidak bertemu dulu untuk membicarakan rencana perjalanan. Komunikasi pun tidak intens; hanya sebatas membicarakan soal naik Bus Werkudara (yang kepengurusan dipegang oleh Kakatete) dan keinginan untuk sewa sepeda selama di Solo (yang kepengurusan menguap di Twitter begitu saja karena ternyata susah cari sewa sepeda di Solo. Hihihi). Saya? Ya mengurus free-stay penginapan (yang saya limpahkan ke Mama dan Mas Agung), membantu sedikit kepengurusan akan sewa sepeda *tetap* (dengan menanyakan ke Mas Agung dari pihak hotel), datang lebih awal ke Stasiun Gambir untuk mengurus tiket kami, dan …. tadaaaa .. membuat itinerary santai (hahaha, tetap ya..).

Dengan mengurusi segala sesuatu di menit-menit terakhir, ternyata semua berjalan dengan baik dan banyak tempat yang kami ingin kunjungi bisa kami sambangi! *pat our backs*. Saya pun kaget karena biasanya jika liburan kurang dari 4H3M, saat sampai Jakarta, saya akan kena PHS (Post Holiday Syndrome) di mana saya akan bengong-bengong bodoh gitu. Tapi kemarin pulang dari Solo langsung masuk kantor, saya segar luar biasa. Dan hatinya terasa senang sekali. 😀

Setelah perjalanan ke Solo ini sukses, satu yang menjadi poin bagi saya. Bahwa kadang saya perlu melakukan ‘book and go’. Begitu saja tanpa pusing memikirkan ini dan itu. ‘Book’ biar ada keharusan untuk pergi dan berlibur. ‘Go’ untuk akhirnya menjalankan liburan itu sendiri. Jalan saja dan nikmati setiap hal yang terjadi. Tidak melulu setiap hal harus mempunyai target dan rencana jangka panjang (walaupun saya tetap suka merencanakan segala sesuatu jauh hari), dan saya harus mencapai target tersebut. Kadang, keluar dari rutinitas dan berjalan santai adalah apa yang saya perlukan. 😀

————————————————————————————————————————- 

Saya pernah menulis tentang kebiasaan saya menginap di dorm saat jalan-jalan. Kalau belum baca, silakan klik ini. Saya juga sudah bercerita bagaimana rasanya menginap di hotel berbintang gratisan dibayari kolega kantor di sini. Nah kali ini saya mau cerita kelucuan yang saya dan Kakatete alami ketika kami – yang biasanya menginap di guesthouse murah meriah atau malah di dalam tenda –   menginap di hotel besar di Solo. 😀

Becak Pak Mul berhenti tepat di seberang sebuah gedung tinggi dengan jalan masuk rapi dan taman di kanan kiri. Saya dan Kakatete turun sambil cengar-cengir. Inilah hotel yang akan kami inapi selama dua malam. 😀 Sebuah mobil mewah ke luar dari parkiran. Saya menengok ke dalam; yah, kok nggak ada becak di dalam parkiran? Becak nggak boleh masuk ya? 😦

Selesai berbicara dengan Pak Mul, kami berlari kecil menuju depan hotel untuk …. berfoto! Hahaha. Satpam melihat saya dan Kakatete berfoto dan membiarkan walaupun sepertinya ia agak bingung. Selesai berfoto, dengan ransel di punggung, kami jalan cengengesan menuju lobby.

‘Sudah check in, Mbak?’, tanya satpam (yang daritadi melihat kami) dengan ramah.
Saya bingung menjawabnya. Kan kami baru datang.

‘Belum. Ini baru mau.’, jawab saya kikuk. ‘Lobbynya di sana kan, Pak?’ saya menunjuk ke arah depan. Mungkin pertanyaan itu bisa membuat pak satpam sadar kami ‘baru mau’ check in.

‘Oh iya, silakan mbak, itu lobbynya.’, masih dengan ramah bapak itu menyahut.

Saya dan Kakatete jalan berdekatan sambil cekikikan berpikir apakah bapak itu bingung melihat kami yang beransel ini terseok-seok memasuki lobby hotel besar ini dan berpikir kami salah masuk penginapan? Hihihi.

Sampai di lobby, seorang mas-mas dengan ramah menangkupkan tangan dan mengucapkan salam. Saya tadinya mau ikut menangkupkan tangan, tapi tangan saya sudah terlanjur nangkring di meja resepsionisnya. 😀 Saya mengatakan sudah ada reservasi. Masnya mencari nama saya …. TIDAK ADA. Krik krik krik.

‘Oh saya pakai poin mama saya, Mas. Sudah diaturkan oleh Mas Agung.’

Mas itu mencari sekali lagi kemudian berkata, “Atas nama Ibu Kissumi ya, Mbak?’ – nama mama saya; saya mengangguk. Keluarlah kertas ini dari printer di sebelah masnya dan saya membubuhkan tandatangan di bagian bawah lalu menunjukkan kalimat ‘Free Stay Point’ ke Kakatete sambil cengengesan.

‘Di kamar 1905 ya Mbak. Ini password untuk wifinya.’
Saya mengambil kartu kamar yang diberikan.

Beberapa saat setelahnya, di kamar, Kakatete tiba-tiba cekikikan melihat kartu kamar kami. ‘Buy, there’s no way we can forget that we can sleep here because of Bujendral ya. Password wifinya aja nama Bujendral.’ Saya melihat kartu kamar dan ngakak. Iya, passwordnya nama mama saya! Huahahaha.

Selesai urusan check in, kami jalan lagi. Memasuki elevator, ada seorang staff hotel lagi yang menyapa ramah dan sopan dengan menundukkan kepalanya sambil berkata, ‘Silakan, Mbak’ dan menunjuk elevator.

Saya masuk elevator dengan biasan warna hangat itu dan memencet angka 19. Tetoooot, tidak bisa menyala.

‘Oh..’ sahut saya sambil menyadari kedodolan diri sendiri. Perlu dimasukkan dulu kartu kamarnya sebelum angka 19 itu bisa menyala rupanya. :p

Bapak yang tadi menyapa kini mendekati kami karena melihat pintu elevator tidak juga tertutup.

‘Bisa, Mbak? Itu harus pakai kartu kamarny…’
‘Iya iya..’ sahut saya grogi sambil mengeluarkan kartu kamar dan mencoba memasukkan ke dalam slot. Eh kok nggak bisa? Saya coba sisi lain kartunya. Tidak bisa juga. Saya melihat kartunya dengan bengong dan mencoba lagi. Tidak bisa juga. Aaaargh! *grogi berhadapan dengan bapak staff hotel*

Bapak itu makin mendekat dan dengan senyum ramah menunjukkan cara memasukkan kartu dengan benar. Ternyata dimasukkan secara horizontal; bukan vertikal. BUAHAHAHAHAHA. Gembel! :)))))

Masih cekakakan di dalam elevator yang membawa kami ke lantai 19, saya dan Kakatete menghibur diri akan kedodolan kami dengan mengatakan, ‘Yaaaa kan di tenda nggak ada elevatoooorr. Dudududu..’ YA MENURUT LOE AJA, TONG! Hihihi.

Sampai di kamar, kami membuka pintu kemudian dua-duanya berucap hal yang sama dalam waktu bersamaan; ‘Whoaaaa!!’ Hahaha. Norak abis!

Satu langsung lari ke jendela, satu lagi langsung lari ke ruang tidur. Lalu bersama-sama masuk ke toilet. Lalu lari lagi menyalakan TV, buka lemari, jalan ke sini jalan ke sana. Begitulah. Hihihi.

Hingga hari kedua kami di sana, kami masih suka membuka korden untuk melihat pemandangan dari atas. Masih suka terpana dan bersyukur bisa sampai di Solo, bersikap santai, punya book and go attitude, dan bersyukur bisa menginap di hotel besar itu. Hihihi.

Demikianlah cerita singkat Duo Ginuk Menginap di Hotel Besar -nya. Ayo jalan-jalan! Sometimes, the more you overthink (about) the plan, the farther the chance of it to happen. So, just book and go! 😀 Jangan lupa senyum tertawa dan bersyukurnya. 😀

Kesempurnaan adalah milik Tuhan, kesalahan memasukkan kartu ke dalam slot elevator adalah milik manusia. Sekian.

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements