Jangan ke Nami Island!!

“Ke Nami nggak, Lan?”

“Wah, asyik dong lama jalan-jalannya. Ke Nami juga kan, Bul.”
“Kamu ke Nami Island kan, Lan?”
Pertanyaan dan saran ke Nami Island deras saya terima mendekati hari H keberangkatan ke Korea Selatan. Sesungguhnya perasaan saya dan Nami Island itu agak tidak klik. Nami Island bagus dikunjungi saat musim gugur (atau musim dingin) dan saat saya datang, musim gugur belum maksimal menyapa. Nami Island terkenal dalam hubungannya dengan drama Korea, Winter Sonata, nah, saya tahu film itu saja tidak. Hihihi. Jadi sesungguhnya saat saya ke sana, hati ini masih tertinggal dan kaki ini malas beranjak. Sudah begitu, cara menuju Nami Island ini, ternyata tidak bisa dicapai secepat itu.
Stasiun terdekat dengan penginapan adalah Hyehwa. Melihat peta Metro Seoul, saya harus cari rute yang walaupun jauh dan memutar tapi transitnya lebih sedikit. Dengan begitu, keharusan untuk naik turun tangga selama di stasiun transit tidak terlalu memberatkan. Jangan anggap enteng, di beberapa stasiun metro di Seoul memang tidak disediakan eskalator dan tangganya tinggi-tinggi. Elevator tersedia tapi tertulis jelas untuk lansia atau pengguna kursi roda; ya malu hati gitu kalau kita ikutan pakai elevator. Hihihi.
Akhirnya diputuskan rutenya adalah Hyehwa – Nowon, Nowon – Sangbong, dan Sangbong – Gapyeong. (Untuk bisa lihat peta Metro Seoul, silakan klik di sini.) Lalu setelah di Gapyeong sudah sampai? Oh belum!! Keluar dari Gapyeong ada dua pilihan. Bisa naik taksi atau naik bus. Info ini didapat dari pemandu wisata di pintu keluar Stasiun Gapyeong. Beliau justru mengisyaratkan untuk naik bus saja daripada naik taksi. Ya baiklah, akhirnya saya dan Bujendral naik bus. KEPUTUSAN YANG SALAH!
Seperti yang pernah saya tulis, supir bus di Korea Selatan tidak bisa berbahasa Inggris dan saya pikir, karena kami menunggu di halte yang tertulis Nami, dan bus berhenti tepat di depan halte tersebut, maka sudah pasti kami naik bus bertujuan ke dermaga di Nami. Bus jalan dan jalan hingga kemudian berhenti di terminal. Saya bengong. Harusnya kami ke tempat ferry menyeberang tapi terminal itu ada di darat dan di sekelilingnya tidak ada danau atau air yang bisa diseberangi dengan ferry. DUH!
Mana pula seluruh papan petunjuk hanya memakai Hangeul. Krik krik. Bertanya pada beberapa orang di jalan dan hampir semua mengacu kami untuk naik taksi hingga ke dermaga. WHAT?? Tahu begitu, dari keluar stasiun tadi saja langsung naik taksi! HIH! *bejek pemandu wisata di Gapyeong*
Sampai di Nami, hari sudah panas terik dan deretan mobil parkir sudah penuh, kami pun makan dulu. Sambil menunggu makanan datang, saya buka-buka brosur Nami Island yang tadi diberikan di depan Stasiun Gapyeong dan mata ini tertumbuk ke tulisan ‘Shuttle’.
Saya baca lagi pelan-pelan dan kemudian ingin rasanya membenturkan kepala ke dinding. Ternyata ada Shuttle Bus dari Insa-dong ke Nami Island! Dan itu direct shuttle bus!! Haaaa!! Kenapa tadi pakai naik turun dan ganti metro kalau ada bus langsung ke Nami??? KENAPAAAA??? Aaaaargh!! Benci saya benci!! Kalau tadi naik shuttle bus itu sudah pasti kami sampai di Nami lebih cepat, tidak pakai menyasar, dan tidak pakai capek! Ih saya benci deh kalau saya kurang teliti cari info. Huhuhu. Memang sih harga shuttle bus ini lebih mahal dibanding kalau naik metro, tapi sungguh sangat mending naik shuttle bus itu. Hemat waktu hemat tenaga.
Shuttle bus ke Nami Island ada dari dan ke Insa-dong dan Stasiun Metro Jamsil. Beroperasi setiap hari. Berikut jadwalnya:
     * Insa-dong – Nami Island: 09.30. Bus ada di samping Tapgol Park, dekat Gerbang Barat.
     * Stasiun Jamsil  Nami Island: 09.30. Bus ada di depan Lotte Mart, Stasiun Jamsil exit 4.
     ————————————————————————————————————
     * Nami Island – Insa-dong/Jamsil: 16.00. Bus ada di belakang loket beli tiket.
Harga shuttle bus ini KRW15000 untuk pulang-pergi, dan KRW7500 untuk sekali jalan. Saya akhirnya beli tiket shuttle bus sekali jalan untuk pulangnya. Tapi itu berarti saya harus berada di dermaga lagi jam 16.00 dan naik ferry dari Nami jam 15.40. Saya menengok jam di tangan dan miris, hanya ada waktu 2 jam yang bisa saya habiskan di Nami Island. HAHAHAHA!! Sudah jauh, waktunya sedikit pula. HAHAHAHAPHAPHAP!! *ketawa ngakak sambil ngunyah tteobokki*
————————————————————————————————————————–
Menginjakkan kaki di Nami Island, saya langsung ingin split mengangkang. Sungguh tempat ini overrated sekali. Hihihi. Mungkin untuk penggemar drama Korea, tempat ini keren karena punya beberapa momen dari serial yang ditonton. Pohon-pohon tinggi menjulang di kanan kiri jalan, ada rute jalan yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki ataupun naik sepeda. Ada kolam ikan, kolam renang, dan beberapa taman tematik. Di Nami Island juga tersedia sewa sepeda. Sepeda yang disewakan ada yang satuan atau tandem berdua. Kenapa ada yang tandem? Karena ternyata Nami Island ini memang adalah tempat tepat untuk menghabiskan waktu bersama …. pasangan. GLEK! Hihihi.
Aura penuh cinta tersebar di mana-mana. Banyak sekali pasangan memakai baju seragaman, menikmati satu es krim berdua, berpelukan di pinggir danau, bersepeda sambil bercanda, atau sekedar duduk di bale-bale. Belum pernah saya datang ke suatu tempat dan merasakan melimpahnya aura cinta selain di Nami Island ini. 🙂
Duduk peluk-peluk..
Jalan rangkulan..
Berangkulan memandang masa depan..
Mengobrol di pinggir danau..
Sepedaan..
Dengan waktu yang sedikit, saya dan Bujendral akhirnya naik Electric Tour Car keliling Nami Island. Dengan membeli tiket seharga KRW5000, kami diajak berkeliling selama 20-30menit. Electric Tour Car ini sudah ada pemandunya, wah lumayan lah jadi mengerti lebih dalam tentang Nami Island, pikir saya. Tur pun dimulai dan ……. jiahahaha, pemandunya menjelaskan segala sesuatu dalam Bahasa Korea! Oke BYE!!
Lucu mengingat Nami Island ini adalah tempat wisata yang terkenal bagi wisatawan mancanegara tapi kok pemandunya malah memberikan penjelasan hanya dalam Bahasa Korea. Hihihi.
Setelah berkeliling, Bujendral sudah kelelahan (hasil dari naik turun ganti kereta tadi) dan memutuskan menunggu saya yang jalan-jalan sendiri saja. Saya pun tidak bisa jalan terlalu jauh karena harus kembali ke dermaga untuk naik ferry jam 15.40. Berjalan-jalan sebentar, saya masih tidak menemukan apa spesialnya pulau ini. Semua terasa biasa saja. Tidak ada suasana yang menyenangkan dan membuat betah.
Di perjalanan ferry kembali ke dermaga awal, saya melihat Nami Island sekali lagi dan akhirnya tahu apa yang membuat pulau ini dinilai ‘wajib kunjung’ oleh banyak orang. Selain karena drama Korea itu, Nami Island dibentuk sebagai pulau pelesiran bagi para pecinta. Nami Island memberikan aura romantisme yang tidak ada habisnya. Nami Island cocok bagi pasangan yang ingin memperkuat hubungan dengan menghabiskan satu hari penuh hanya berkeliling di pulau ini saja.
Untuk itulah saya tuliskan..
JANGAN KE NAMI ISLAND.
JANGAN!
JANGAN KE NAMI ISLAND KALAU TIDAK DENGAN PASANGAN.
Aura cinta di pulau ini kuat sampai kadang menyesakkan. Kalau kita ke sana sendirian (atau bukan dengan pasangan), bersiaplah merasakan kekosongan hati yang mendalam dan kemudian terdiam.
Tidak ada yang spesial bagi saya di Nami Island. Pemandangan pun terhitung biasa saja. Tapi kekuatan aura cintanya memang tidak main-main adanya. It will suck you to your last drip of blood when you see all those couples. Yet, they are very cute you can’t help but feeling happy for them! Hihihi.
Jadi saya ulang.
Jangan ke Nami Island.
Jangan.
Kalau tidak dengan pasangan.
Okay.
I’ve warned you. Hihihi.
Senyum dulu ah.. 🙂
Advertisements