Transportasi di Korea Selatan

Saya dan teman saya, Silka, pernah berkelakar akan kesimpulan yang kami ambil bahwa: Orang yang sudah pernah atau biasa menumpang angkutan umum di Indonesia, seyogyanya akan bisa naik angkutan umum di negara mana pun juga. Hahaha.

Itu semata untuk menunjukkan bahwa fasilitas transportasi umum di Indonesia itu masih belum bisa diandalkan. Jadi kalau sampai bisa mencapai tujuan dengan menumpang angkutan umum di Indonesia, yang di negara lain sih bisa lah. Apalagi negara yang transportasi umumnya sudah terintegrasi dengan baik. ๐Ÿ˜€ Eh tapi commuter lineย Jabodetabek sekarang sudah lebih bisa diandalkan sih. Bangga saya bangga!! :’)
Korea Selatan adalah negara dengan transportasi umum yang sangat bisa diandalkan. Saking bisa diandalkannya, kebanyakan orang membuat janjian di keluaran stasiun metro/subway, bukan di mall atau restoran. ๐Ÿ˜€
Busan
Ada metro di Busan. Metro ini mencakup area mulai dari bandara Gimhae hingga sedikit ke luar kota seperti Beomeosa. Hampir semua destinasi wisata yang diunggulkan Busan bisa dicapai dengan metro. Peta metro Busan ini bisa diminta secara gratis di Tourist Information Center (TIC)ย Bandara Gimhae. Petanya cukup lengkap dan langsung di rute metronya terlihat tempat-tempat apa yang bisa dikunjungi dan keluaran nomor berapa yang harus diambil serta kalau harus melanjutkan dengan bus, bus jenis apa dan nomor berapa yang harus ditumpangi.
Pembayaran metro dan bus sudah terintegrasi dan bisa menggunakan T-Money (kartu turis yang bisa dibeli dan diisi ulang di seluruh minimarket GS25). Harga tiket bervariasi tergantung jauh dekatnya jarak yang ditempuh. Ada diskon 10% kalau menyambung transportasi dalam waktu 30menit; jadi misalnya, naik subway lalu lanjut naik bus, nah kalau tap T-Money di busnya kurang dari 30menit, harga tiket busnya didiskon. Saya nggak cek lagi sih soal diskon-diskon ini, saya sih main tap-tap saja. Hahahaha.
Melihat okenya metro Busan, maka saran saya, dalam memilih penginapan, pilihlah yang dekat dengan entrance/exit stasiun metro. Entrance/exit dari sebuah stasiun berjumlah banyak. Kadang ada yang sampai 6. Posisinya sesungguhnya tidak berjauhan antar entrance/exit ini, tapi kalau sampai salah keluar, sudah pasti pusing. Saya dan Bujendral pernah salah keluar dan itu memutar jauh sekali. Huhuhu. Mana sudah malam pula, capek dan lelah pula, lapar pula. ๐Ÿ˜ฅ
Penggunaan peta metro Busan sama kok dengan MRT Singapore atau LRT Malaysia. Misalnya penginapan ada di Jagalchi dan mau menuju ke Pantai Haeundae, maka rutenya adalah Jagalchi – Seomyeon (Line 1 – Jingga Tua), Seomyeon – Haeundae (Line 2 – Hijau). Di Jagalchi, karena Seomyeon adalah stasiun transit (terhitung stasiun besar), maka mudah cari tulisan arah Seomyeon. Kalau ternyata nggak ada, cari tulisan Nopo (stasiun terakhir dari rute Jagalchi yang melewati Seomyeon). Saat di Seomyeon, tidak usah keluar karena hanya akan transit. Alih-alih, cari tulisan ‘Transfer to Line 2’. Tulisan biasanya dilatari warna hijau sesuai warna Line-nya. Tapi jangan sampai salah, di Busan, Entrance/Exit itu diwarnai hijau juga, tapi hijau kotak-kotak, bukan latar. Ribet? Enggak kok, ini kan karena belum dijalani saja, baru dibaca. Kalau sudah sampai sana, lama-lama juga terbiasa. ๐Ÿ˜€
Setelah menemukan peron untuk Line 2, lanjut cari tulisan Haeundae. Kalau nggak ada, maka cari tulisan Jangsan. Karena apa? Yap benar, karena Jangsan adalah stasiun terakhir dari rute Seomyeon – Haeundae. ๐Ÿ™‚ Paham dong ya.. Bagaimana? Kalau belum, silakan tanya lagi di kolom komentar, nanti saya jelaskan. ๐Ÿ™‚
Cetak layar dari sini. Klik untuk memperbesar.
Sokcho
Tidak ada metro atau subway di Sokcho, tapi ada bus dengan rute lengkap mencakup hampir seluruh pelosok kota. Seperti yang saya ceritakan di sini, bus di Sokcho sangat bisa diandalkan. Secara jadwal memang tidak seperti metro yang datang tiap beberapa menit, tapi menunggunya juga tidak lama kok. Jalan utamanya hanya satu dan dilewati banyak trayek bus.
Lihat foto bagian peta di atas, yang dipakai putar-putar ya paling hanya beberapa bus di bawah judul ‘City Bus Route’ itu. Hihihi. Untuk menuju Seoraksan National Park tinggal naik bus no 7 atau 7-1. Bus ini juga melewati pinggir Sokcho Beach di bagian mercusuar dan juga melewati Rodeo Street. Menuju Hotspring dan Seorak Waterpia, naik bus 3 atau 3-1. Selain bus, sepeda juga lazim digunakan di Sokcho, beberapa penginapan memberikan sewa gratis sepeda-sepeda ini.
Pembayaran bus di Sokcho tidak bisa dengan T-Money; hanya dengan uang tunai atau kartu kredit. Kalau pakai kartu kredit, di-tap dua kali saat naik dan saat turun. Untuk minta berhenti, ketuk-ketuk atap atau teriak ‘Left, Sir!!’ pencet tombol berhenti yang ada di dekat pintu keluar. Budaya tertib di Korea Selatan sudah bagus, jadi semua tertib naik dari pintu masuk di depan dan keluar dari pintu bus yang ada di tengah. ๐Ÿ˜€
Seoul
Metronya Seoul adalah sistem metro tersibuk ketujuh di dunia dan saat saya lihat petanya, saya langsung pusing. Hahaha.
Cetak layar dari Cyber Station. Klik untuk memperbesar.
Yang membuat pusing sebenarnya bukan sistem menumpangnya karena sistemnya sama seperti metro di Busan. Yang membuat pusing itu mencari nama satu stasiun di antara penuhnya rute yang ada. Hihihi. Jadi kalau mau janjian, misalnya diberitahu di Stasiun Heukseok exit 4; nah daripada bingung dan pusing mencari nama Heukseok di peta, langsung saja tanya Heukseok itu Line berapa. Saat diberitahu Line 9, nah tinggal dirunutkan satu-satu deh Line 9 itu untuk mencari Heukseok. Setelah menemukan, dikasih tanda ya di peta (dilingkari misalnya), karena saya pernah sudah menemukan satu stasiun lalu saya lagi mau merunut rute yang bisa ditempuh dari stasiun awal saya, eh stasiun yang tadi ditemukan hilang masaaaaaaaa. Pusing lagi mencarinya. Fiuh. *gigit-gigit T-Money*
Yang juga membingungkan, coba lihat Line 1, itu di tengah-tengah antara Sema – Seryu ada Stasiun Byeongjeom nah lalu ada jalur dari Byeongjeom ke Seodongtan. Jadi itu bagaimana? Kereta yang ditumpangi akan ke Seodongtan atau tidak? Atau lihat Line 5, kalau naik dari Bangi mau ke Achasan, nah sampai di Gangdong, bagaimana kita tahu itu kereta itu akan ke Sangildong atau ke Banghwa? Harus turun lagi? Ganti kereta? Nah sampai sekarang, saya juga nggak pasti tentang jawaban keraguan-keraguan di atas, maka baiknya, tanya saja saat di kereta apakah kereta itu menuju tujuan yang diinginkan. Hahahaha. Nggak membantu ya. :’)
Metro di Seoul bisa dibayar dengan T-Money. Bus dan taksi juga bisa dibayar menggunakan T-Money tapi saya tidak coba menumpang bus dan taksi di Seoul. Metro sudah mencukupi kebutuhan jalan-jalan saya dan Bujendral. ๐Ÿ˜€
Umum
Di terminal bus antar kota, hampir semua keterangan dan jadwal diberikan dalam tulisan Hangeul. Petugas loketnya juga kurang lancar berbahasa Inggris. Jadi bagaimana kalau mau beli tiket bus antarkota? Jangan khawatir, di setiap terminal bus antarkota ada Tourist Information Center. Setiap mau beli tiket, saya selalu ke sana dan bertanya tentang jadwal yang saya inginkan dan konfirmasi ulang harga dari yang saya dapat di situsย ini. Nanti petugas TIC akan menuliskan rute dan tiket apa yang mau dibeli dalam tulisan Hangeul dan kertas itu tinggal diberikan ke petugas loket. Untuk itulah, jangan datang mepet waktu ke terminal. Kadang, TIC akan penuh dengan turis jadi harus tunggu giliran dilayani.
Catatan yang dibuat oleh petugas TIC dan tiket yang didapat! ๐Ÿ˜€
Sedikit saran, pilihlah penginapan yang dekat dengan entrance/exit stasiun metro atau halte bus. Dari dan ke-nya bisa dicapai dengan berjalan kaki gitu. Setelah sudah tahu entrance/exit terdekat, di hari pertama, coba jelajahi pilihan entrance/exit yang ada untuk mencari yang mana yang ada eskalatornya. Hahaha. Ini penting karena seperti yang sudah saya ceritakan di sini, tangga naik dan turun di stasiun itu tinggi-tinggi, kadang sampai lapis tiga. Betis berkonde kalau naik tangga terus, maka carilah eskalator. Saya dan Bujendral lebih pilih agak memutar sedikit atau harus menyeberang jalan demi keluar di exit yang ada eskalatornya dibanding exit lebih dekat tapi naik tangga. Hihihi. Cek juga apakah benar stasiun terdekat adalah yang sesuai dengan nama daerahnya. Misalnya saya kemarin di Busan menginap di daerah Jagalchi tapi entrance/exit terdekat justru menyambung kami lebih cepat ke Stasiun Nampo-dong daripada Stasiun Jagalchi.
Jarang sekali ada petugas di stasiun atau terminal yang bisa berbahasa Inggris. Tapi mereka berusaha untuk mengerti dan membantu kok, jadi jangan panik atau takut. Di Seoul, banyak penduduk yang bisa berbahasa Inggris dan kalau kita menampakkan wajah bingung sedikit saja, langsung banyak yang ingin membantu. Kebalikannya terjadi di Busan. Hampir tidak ada orang yang bisa berbicara atau mengerti Bahasa Inggris jadi semua bergantung ke ketenangan dan keyakinan diri kita dalam menentukan rute secara mandiri. ๐Ÿ™‚
Yang penting tenang.
Seperti kata Isya, saat saya menahan tubuhnya di dalam air, menunggu ia memakai goggles:
You know what can save you (in the water), Tante Bulan? You being calm!
Saya setuju dan selalu ingat kata-kata itu, saya terapkan di keseharian saya. Semua bisa dicari solusinya dan semua akan baik-baik saja kalau saya tenang. ๐Ÿ™‚ Walaupun saat kata-kata itu keluar dari mulut anak berusia 8tahun itu, saya lagi bersusah payah menenangkan diri, menggerakkan kaki tak ber-fin saya, menendang-nendang air, demi menjaga kepala dia tidak masuk ke dalam air laut yang asin dan memerihkan mata. Hihihi.
Senyum dulu ah.. ๐Ÿ™‚
Advertisements