Gemetaran di Tebing Keraton..

Halo dari pinggir Tebing Keraton – Bandung
Nama Tebing Keraton naik pamor mulai beberapa bulan lalu sejak tulisan tentangnya muncul di DetikTravel. Dari pertama kali lihat fotonya, saya langsung terperangah dan ingin sekali ke sana. Kemudan PergiDulu, pasangan blogger yang tinggal di Bandung akhirnya menyambangi tempat ini dan menuliskan cara menuju ke sana dengan jelas di sini.
Berbekal keyakinan diri, baca beberapa blogpost tentang tempat ini, dan dapat teman jalan tercihuy, Kakatete, maka #DuoGinuk plus dua teman pun siap menggebrak Tebing Keraton. TSAH!
HOBAAAAAHHH!!
—————————————————————————————————————————————-
Kami berencana berangkat dari penginapan di Braga pukul 04.30 pagi, tapi karena satu dan lain hal, kami berangkat telat. Sungguh, bukan salah kami. Kami sudah siap dari pukul 04.20! *remas-remas cimol*
Setelah sempat salah jalan dua kali dan mobil memutar balik, sekitar pukul 06.40 kami sampai di bagian bawah Tebing Keraton. Jalan menuju ke Tebing Keraton ini susah-susah gampang. Pokoknya ambil jalan menuju Tahura (Taman Hutan Rakyat Ir. H Djuanda) saja. Setelah ketemu Tahura, lurus lagi sedikit dan ….. tanya orang. Hahaha. Itulah yang kami lakukan. :p
Dengar-dengar, ada yang bilang banyak pungutan liar ditarik di sekitar Tebing Keraton tapi Puji Tuhan dengan pikiran positif, hati riang, muka senang, dan badan bergoyang, kami tidak mengalami pungutan liar apapun.
Mobil berhenti di bagian bawah Tahura, 3km sebelum Tebing Keraton. Dari parkiran, perjalanan dilanjutkan dengan naik ojek seharga Rp25.000 untuk sekali jalannya. Mobil memang bisa naik sampai ke atas, sampai pinggir pintu masuk Tebing Keraton, tapi jalan menuju ke sananya tidak begitu bagus dan di atas hanya ada beberapa slot parkir. Sistem siapa cepat dia dapat (lahan parkir) pun berlaku. Saya sebagai pemilik Opie, punya perikemobilan yang cukup tinggi dan nggak rela mobil yang kami sewa mengantar sampai atas. Jadi sudah, bagus parkir di bawah saja. Aman. πŸ˜€
Bisa jalan kaki untuk 3km itu? Bisa! Beberapa bagian jalan tidak menanjak kok. Jalan santai juga oke. Tapi sebagai pejalan ala-ala kaya yang kece nan manja, jujur, kami sih mending naik ojek bayar Rp25.000 daripada harus jalan kaki 3km. Huikikikik. *peace* Dan kalau ada yang bilang tukang ojek di bawah suka memaksa pengunjung menggunakan jasanya, hal itu tidak terjadi pada kami. Mereka memang menawarkan jasa, tapi tidak memaksa. Beberapa pengunjung yang datang dalam waktu yang bersamaan juga ada yang jalan kaki dan tidak dipaksa naik ojek kok. Pilihan saja.
Mamang ojek di Tebing Keraton yang ramah dan sabar saya minta berbaris. Hihihi.
Ojek mengantar sampai pintu masuk Tebing Keraton. Setelah membayar tiket masuk Rp11.000, kami pun jalan santai menuju ujung tebing untuk melihat pemandangan. Tanah berkerikil dan berpasir jadi harus hati-hati menapak karena Mbak Endah sempat terperosot saking licinnya.
Yang saya suka, orang-orang di sekitar Tebing Keraton masih sangat ramah, suka bercanda dan sopan. Pengunjung yang datang pun sabar berganti giliran mengambil foto di ujung tebing. Bahkan ketika saya mau ambil foto Kakatete dan ada orang di belakangnya, saya minta dengan sopan untuk orang di belakang menunduk eh mas-masnya mau lho. :’) Yang penting saling sopan bertutur kata. πŸ™‚
Pemandangannya memang bagus. Kita bisa lihat pemandangan luas seratus delapan puluh derajat. Pemandangan di bawah adalah Taman Hutan Rakyat yang hijau. Di ujung pemandangan, ada deretan pegunungan. Saat kami datang, masih ada kabut menyisip, membuat suasana terasa magis. Udara sejuk melingkupi, mendukung terciptanya suasana menyenangkan sepanjang kunjungan.
Saya melihat seorang mas berfoto duduk di atas sebuah batu. Wah, bagus nih pemandangannya. Saya pun menunggu giliran untuk berfoto juga di sana. Saat mas (yang kemudian kami berkenalan dan kami memanggilnya Mas Bro Han) berdiri, saya pun jalan pelan menuju batu tadi. Tiba-tiba, sepuluh sentimeter dari batu, kaki saya diam, beku, tak bisa bergerak. Pemandangan di bawah begitu memesona dan (menjorok) dalam. Di kanan kiri batu tidak ada pagar sama sekali. Tanah yang licin tak mapan untuk dipijak makin membuat saya gemetaran. Aduh ini kalau salah langkah bisa berakhir dengan …… hiiiii, saya menepis bayangan buruk tadi. Tapi kaki saya tetap tidak mau bergerak. Tetap membeku. Saya pun menengok ke belakang ke Kakatete, Mbak Endah, dan Mbak Irrna.
Nggak kelihatan kan gemetarannya. :))
‘Aku nggak bisa gerak ini!! Kakiku freezin!!’, saya berteriak ke mereka. Yang kemudian disambut derai tawa. Saya pun tertawa. Orang sekitar melihat kami dan tersenyum. Dikiranya kami bercanda, padahal kaki saya benar tidak bisa bergerak lebih jauh! :))
Akhirnya Mas Bro Han turun lagi untuk memegang tangan saya hingga saya bisa duduk dengan mapan. Selesai saya difoto, kaki saya masih beku, tidak bisa bergerak. Bagaimana saya mau berdiri? Melihat sekeliling, mas-mas tadi sudah pergi. Saya teriak lagi, “Aku nggak bisa gerak lagi niiii.. Gimana niii? Kakiku bekuuuu.. Gak bisa geraaaak!!” dan kemudian kami tertawa-tawa lagi. Kakatete pun melepas sandalnya dan turun perlahan untuk memegang tangan saya sehingga saya lebih percaya diri menggeser kaki untuk bisa berdiri.
Ini lucu.
Saya bukan orang yang takut ketinggian tapi semakin ke sini kok saya semakin suka gemetaran saat berada di ketinggian. Hihihi. Mungkin benar, semakin tua, kita semakin punya rasa takut. Bagaimana mau mendaki The Dolomites atau meloncat di leap of faith Nepal nih kalau begini? Hihihi.
Bungy jumping leap of faith, Nepal. Bukan foto saya. Saya ambil dari sini.
Kami tidak lama di Tebing Keraton. Sekitar jam 7.30 kami beranjak karena hari sudah semakin panas dan cacing di perut sudah semakin keras berdemo minta asupan. Rencana awal adalah kami akan berjalan kaki kembali ke parkiran.
HOBAAAAHHH!!! *pasang ikat kepala*
Kami pun jalan pelan-pelan dan saat hampir sampai di pintu masuk Tebing Keraton, kami berbicara santai dan berkeputusan mufakat bahwa …………………………………… kami akan naik ojek saja!
HAHAHA!! *lepas ikat kepala, kibarkibar bra*
Maka kami pun menumpang ojek lagi untuk kembali ke parkiran. Ojek berjalan pelan dengan kami yang sibuk lihat pemandangan kiri dan kanan. Hati senang dan bahagia. Energi seperti terisi kembali. Siap menghadapi minggu bekerja. Sampai tiba waktu liburan selanjutnya. πŸ˜€
Senyum dulu ah.. πŸ™‚
Advertisements