Menikmati Bisingnya Jalanan India

Banyak teman saya dari luar Indonesia (ya bule lah gitu) yang mengatakan betapa pusingnya mereka dengan lalu lintas di Indonesia, khususnya Jakarta. Bahkan Costa pernah berujar, “You’re totally fucked up when you’re sick in Jakarta.” dan ketika saya bertanya kenapa, dia melanjutkan, “With all this traffic, it will take more than 30 min to get to the nearest hospital!” dan saya hanya tertawa menanggapinya.

Tertawa sambil berpikir, eh memang segitu parahnya lalu lintas Jakarta ya?
Hihihi.
Mungkin karena saya lahir dan besar di Jakarta jadi saya sudah terbiasa dengan keadaan lalu lintas ini. Mungkin juga karena sejak beberapa tahun lalu saya memilih efisiensi di atas udara bersih dan tinggal di kos/apartemen yang hanya berjarak 10 – 30 menit ke kantor, jadi saya tidak terlalu terpapar kemacetan jalanan ibukota. Mungkin karena saya lebih pilih pulang malam sekali kalau selesai kerja di jam sibuk jadi saya nggak kena macet. Atau mungkin karena kalau Jakarta lagi banjir, saya lebih pilih menginap di kantor kerja dari rumah atau ngabur ke kota lainnya. (Maklum, orang kaya). Mungkin saja.
Beberapa kali justru saya merasa, kalau jalanan Jakarta sedang kosong, pasti ada yang tidak beres di depan sana. Justru mencurigakan. Apa ada demo? Apa ada kerusuhan? Apa ada jalan putus? Apa …. hubungan kita harus diakhiri hanya sampai sini, Mas?
Tapi tentu kali pertama mendengar orang (luar Jakarta) mengeluh tentang lalu lintas ibukota, saya tidak akan mengeluarkan segala kemungkinan di atas tadi. Selain berpikir, “Ih ini orang apaan sih? Ngeluh aja kerjanya.”, pikiran yang selanjutnya hadir justru membawa saya ke India dan mengatakan:
Have you ever been to India? I believe you haven’t! Because otherwise, you’ll feel Jakarta’s traffic is less challenging!
Hihihi. Protektif gitu anaknya sama jalanan Jakarta. :p
Tapi sungguh, lalu lintas India itu luar biasa sekali. Tidak pernah ada keadaan hening! Tidak pernah ada satu menit tanpa suara klakson! Dan tidak pernah ada jalan sepi tanpa sapi. Hihihi.
Kali pertama saya mendarat di Kolkata dan naik taksi menuju Howrah Station, saya terpukau dengan keramaian yang tiada habisnya. Mulai dari suara mesin mobil yang menderu ditingkahi suara orang-orang di sekitar yang setengah berteriak saat berbicara dan suara klakson yang tidak pernah absen menyapa; jalanan Kolkata menjadi sangat HIP!
Sudah begitu, seperti di film India yang sering kita tonton [(((KITA)))], hampir semua orang India menggoyang-goyangkan kepalanya saat berbicara. Itu menambah HIP-nya keadaan. Saya jadi ingin ikut bergoyang. *paragraf ini hanya alasan untuk saya bisa menaruh GIF di bawah ini..jadi ingin ikut goyang nggak sih? Hihihi..*
Acha acha…
Saya tersenyum di balik jendela taksi yang kotor, melihat sekeliling dengan perasaan membuncah. Jalanan Jakarta tidak ada apa-apanya dibanding jalanan Kolkata ini.
Di Varanasi lebih ramai lagi. Saya tertawa-tawa di dalam tuktuk yang menjemput dari stasiun dan mengantar ke penginapan saat supir mengendarai dengan sangat sigap berpindah jalur kanan kiri kanan kiri. Ritmenya adalah injak gas, ambil jalur kanan, potong jalur kiri, klakson, rem, tunggu mobil depan lewat, gas pol lagi, kanan, rem sedikit, gas lagi, salip kiri, klakson, klakson, klakson, rem mendadak, hiyak ada sapi lewat, berdoa. Terus begitu selama lebih kurang satu jam. Belum lagi saat menyalip, jarak tuktuk dengan kendaraan di sebelah hanya 5cm! Saya melihat ke dalam kendaraan lain sambil meringis ngilu, kalau-kalau badan kendaraan itu terserempet tuktuk yang saya tumpangi ini. Atau sebaliknya, kendaraan lain menyerempet tuktuk yang saya naiki. Hiks. Ngejelengkrak manja di pingir jalan. πŸ˜₯
Ini lagi jalan becaknya. Lihat jarak rodanya. Lagi jalan saja sedekat itu. πŸ˜€
Juman, supir saya di New Delhi pernah berujar, perlu empat ‘good’ untuk bisa menyetir di India.
Good horn
Good eyes
Good brake dan….
Good LUCK!
Which of course, I agree.
Selama saya berada di dalam mobil, kaki saya tak berhenti menendang-nendang rem ilusi yang saya bayangkan. Hihihi. Bagaimana tidak? Mobil bisa berjalan sangat cepat, tidak mengurangi sedikit pun kecepatannya hingga mepet sekali dengan mobil depan baru rem diinjak maksimal dan sebelum mobil berhenti total, setir diarahkan ke kanan atau kiri. Jadi mobil menyalip mobil lain di depan dalam keadaan melayang. Warbiyasak!! Stress-stress senang! Hihihi.
Dengan keramaian seperti itu maka pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana kalau berjalan kaki?
Wah, seperti yang dikatakan supir tuktuk di Varanasi, urutan di India adalah..
Pejalan kaki kalah dengan pengendara sepeda.
Pengendara sepeda kalah dengan tuktuk/becak.
Tuktuk/becak kalah dengan motor.
Motor kalah dengan mobil.
Mobil kalah dengan bus.
Bus kalah dengan truk.
Dan truk serta kendaraan lain yang lebih besar kalah dengan …………………………….. SAPI.
Mooooo!!
Yang termaha.. πŸ™‚
Maka dengan demikian, jalan kaki di India memang sangat menantang. Satu waktu saya jalan di pinggir sebuah pasar di Varanasi dan untuk menyeberang jalan kecil saja butuh kekuatan hati dan kedamaian jiwa yang tinggi. Karena kendaraan jarang sekali mau berhenti kecuali kita lihat si pengendara dengan bengis sambil membawa parang tanda perang!!
Nggak deng..
Harus kita saja yang menyeberang dengan cepat sambil lari kecil lunjak-lunjak gitu. Hihihi.
Dengan keadaan jalanan India yang riweuh begitu apa jalan-jalan jadi tidak nyaman?
Ah masih nyaman saja sih. Sekali lagi mungkin karena saya terbiasa dengan ramainya jalanan ibukota. Yang walaupun tidak seramai jalanan India (dan minus keberadaan sapi) tapi tetap menerpa saya setiap harinya. Dan saya justru jadi banyak bersyukur saat ke India karena ternyata … ada jalanan yang lebih bising dan lebih ramai dari jalanan Jakarta. Hihihi.
Selalu ada yang bisa kita syukuri dari setiap perjalanan kan. Kebisingan jalanan di India sangat bisa dinikmati kok. Kapan lagi telinga kita ‘dimanjakan’ sebegitu banyak bunyi-bunyian?
Only in India. πŸ™‚
Senyum dulu ah.. πŸ™‚
*Video Youtube tentang jalanan di Varanasi, India. Waktu saya di sana, jalanannya lebih penuh dari ini sih, but you get the idea. Hihihi.
Advertisements