Hati Patah di Museum Merapi..

Sebagai anak Yogya yang bangga dengan kampung halaman, sesungguhnya saya cukup malu mengatakan saya belum pernah ikut Lava Tour Gunung Merapi. Tapi sekarang tidak lagi!! Kemaluan itu sudah diambil dan dibuang jauh karena akhirnya saya bisa bercerita tentang ini! Woohoo!

Lava Tour adalah tur naik Jeep keliling area di sekitar Gunung Merapi. Jeep bisa disewa di beberapa operator yang ada di jalan menuju ke gunung. Kemarin saya ikut tur ini bersama teman-teman #NescafeJourney yang reunian di Yogyakarta karena di Jakarta terlalu mainstream dan di London terlalu mahal. Kami naik Jeep dari operator Grinata Adventure. Kata Mas Pengemudi, satu jeep bisa ditumpangi maksimal empat penumpang. Nah kemarin Grinata beruntung karena kami bersepuluh, maka satu Jeep diisi ….. lima penumpang! Ha Ha Ha.. *sudah isi lima, berisik teriak-teriak lagi..saya doang yang kalem.. * Ckckck..

“Yuk kita turun sini dulu ya.. Ini museumnya.”, kata Mas Rudi, pengemudi Jeep kami.

Saya berjalan santai menuju sebuah area terbuka dengan bangunan di tengahnya. Kemudian saya diam tercekat selama beberapa detik.

Museum Sisa Hartaku. :(

Museum Sisa Hartaku. 😦

Sebuah bangunan yang dulunya adalah rumah salah satu warga berdiri di tengah. Tak lagi kokoh, bangunan ini sekarang sudah tidak bisa disebut rumah. Beberapa dindingnya sudah runtuh, jendela tidak ada, pintu pun juga. Rumah ini ikut diterjang lahar panas yang mengalir cepat dan dahsyat dari perut Gunung Merapi empat tahun lalu.

Dua kerangka sapi dipajang di depan. Saya tertegun membayangkan bagaimana hewan-hewan itu berteriak saat lahar panas menyentuh kulit mereka tanpa mereka bisa berlari menghindar. Di belakang kerangka sapi, ada sebuah kerangka motor yang juga sudah hancur. Hati saya mencelos. Seperti ada yang menariknya ke bawah. Saya berkeliling setiap ruangan di museum ini dalam diam.

“Itu jam erupsinya,” suara Mas Rudi menyentak saya dari keheningan. Saya melihat arah yang ditunjuknya. Sebuah jam yang sudah setengah meleleh tergantung di ruang tengah. Jam itu sudah tidak berfungsi. Terdiam menjadi saksi saat lahar panas mengalir deras. Saya mematung di depannya.

5 November 2010. 00.05

5 November 2010. 00.05

Pikiran saya melayang membayangkan kejadian dini hari kala itu. Membayangkan bagaimana lahar meluncur deras menyapu apapun yang ada di hadapannya. Membayangkan bagaimana paniknya warga. Membayangkan bagaimana perasaan mereka saat itu. Dan saya tertunduk diam lagi sambil berangsur pergi.

Di ruang lainnya, keadaan hati saya tidak juga membaik. Bahkan ketika saya melihat deretan piring dan cangkir, lemari, dan televisi; perasaan ini semakin carut marut tak terkatakan.

This is actually heartbreaking..” ujar saya pelan ke teman-teman yang sedang berada di ruang lain. Dan semua sependapat dengan saya.

Hati saya patah melihat apa-apa yang ada di museum ini. Napas saya seperti tercekat. Ini tamparan keras sekaligus air dingin yang menyadarkan. Melihat bagaimana hidup bisa berakhir dengan sangat cepat. Dan barang-barang yang saya punya bisa cepat menyandang nama ‘sisa harta’. Dan saya tidak bisa melakukan apa-apa selain merelakan.

Banyak yang bisa diresapi. Banyak yang bisa direnungi. Dari sebuah rumah yang sudah tak berjendela dan berpintu. Dari kerangka sapi hingga lelehan televisi. Dari sebuah jam dinding mati.

Belajar untuk terus kuat. Untuk terus memaksimalkan waktu tengah ini. Untuk menikmati berkat yang didapat. Untuk lebih bisa bersyukur lagi. 🙂 Semoga bisa.. 🙂

Senyum dulu ah.. 🙂

 

Renungan

Advertisements