Transportasi ke Situ Gunung

Ada teman yang bertanya, setelah naik kereta ke Sukabumi, lalu bagaimana caranya mencapai Situ Gunung?

Nah sesungguhnya, pas ke Situ Gunung, saya tidak turun kereta di Sukabumi walaupun di tiket kereta tertulis tujuan akhir: Sukabumi. Saya turun di Stasiun Cisaat. Itupun (sepertinya) tanpa rencana karena saya ingat saya masih duduk-duduk santai melihat ke luar jendela dengan hati berdesir bahagia membayangkan hal-hal indah, eh Mbak Nyanyu dengan gegap gempita mengambil ranselnya dengan cepat lalu berkata, “Ayo turun turun di sini! Sekarang turun!”

Kemudian saya pun gelagapan menutup imajinasi, mengambil ransel sambil ingin mementung Mbak Nyanyu.

Stasiun Cisaat..

Stasiun Cisaat..

Dari Stasiun Cisaat, kami meneduh dulu di bawah pohon besar. Nggak hujan sih, nggak panas juga, cuma biar sesuai dengan cerita-cerita di buku sastra saja. :’) Setelah beberapa saat meneduh sambil mengobrol, kami sampai pada dua pilihan: aku atau dia

1. Menyewa angkutan sampai pertigaan Polsek Cisaat setelah itu cari angkutan lain yang menuju Situ Gunung. Perkiraan biaya, sewa angkutan 1 Rp40.000 – 50.000, naik angkutan 2 Rp6.000 – 10.000/orang.

2. Menyewa angkutan langsung sampai Situ Gunung. Perkiraan biaya Rp80.000.

Dengan alasan kemanjaan kepraktisan, kami pun memutuskan untuk melaksanakan pilihan kedua. Lagipula kami berenam, jadi perhitungan biayanya tidak akan beda terlalu jauh. Maka, kenapa harus ganti angkutan kalau bisa bersama satu angkutan saja sampai di tujuan? Kenapa harus ganti pasangan kalau bisa bersama satu pasangan saja sampai di tujuan? TUJUAN MANAH?! &%%#((&&))

Angkutan yang kami naiki berwarna biru dengan mamang supir bernama Iki. Kami mengobrol, tertawa, becanda sepanjang perjalanan hingga kemudian jalan rusak sekali dan Mang Iki meminta kami untuk turun karena mobil tak kuat nanjak. HUAAAA!!! *ngegelesot ke luar pintu kemudian jalan tertatih-tatih* HIKS!

Beberapa kali kami disuruh turun karena memang jalannya menanjak dan rusak. Dan sebagai anak yang berat badannya lumayan (bihihik), akhirnya saya dan Kalejid yang turun. Eppy, anaknya Mbak Nyanyu, nggak disarankan turun sama Mang Iki karena katanya nggak guna kalau dia turun juga, nggak memberikan perbedaan signifikan pada berat keseluruhan mobil saking kurusnya. Huahahaha. Sial! *tinju lengan Mang Iki*

Perjalanan dari Stasiun Cisaat sampai Villa Cemara, tempat kami menginap, tidak lama. Hanya sekitar 40menit saja. Villa Cemara ini posisinya tepat berada sebelum pintu masuk Situ Gunung, jadi koprol saja juga sampai ke Situ Gunungnya. Hihihi.

Pulangnya, kami menempuh jalur yang agak berbeda karena kami pulang dari Stasiun di Sukabumi, bukan dari Stasiun Cisaat. Setelah selesai packing, Bu Tuty, host kami memanggilkan angkutan untuk membawa kami turun sampai Pertigaan Polsek Cisaat. Kali ini angkutan berwarna merah. Percakapan di bawah ini pun terjadi antara saya dan anak-anak Kemping Cukstawww.

 

Mbak Nyanyu: Kak Bulan, could you help bargain to the driver.

Saya: Sure. How much is the budget?

Kamikih: If it is to the station (Sukabumi), then it must be around 100.000 or more, but if we use him only to drive us to Polsek, then make it around 40.000 for all of us. Ya, 50 max.

Saya: So are we going to get him driving to the station or just to Polsek?

 

Kamikih lihat Mbak Nyanyu, Mbak Nyanyu lihat Kamikih. Kamikih dan Mbak Nyanyu lihat Kalejid. Kemudian mereka lihat-lihatan sementara saya ngeloyor pergi. Hahaha. Setelah becanda-becanda, akhirnya semua setuju untuk naik angkutan sampai Polsek Cisaat saja kemudian cari makan dulu di sana sebelum lanjut ke Stasiun Sukabumi. Saya pun mendekati supir ditemani Kakatete. Sebelum sampai di pinggir supir, kami menyusun strategi tawar menawar:

 

Kakatete: So it’s 50 max for six of us ya, Buy. Not more than that.

Saya: Yup! If he asks for more, it’s either we find other car or we take ojeg to go down.

Kakatete: Okay. Taking ojeg is not that bad. But maybe it will cost more. 

Saya: Ah ya.. But let’s just stick to 50 max with this car ya. Bu Tuti said ojeg will cost 10.000 to go to Polsek.

Kakatete: So it’s 60.000 for the six of us?

Saya: Yup! So should we say 60max for this car?

Kakatete: I guess so.

Saya: Okay.

 

Lalu percakapan-percakapan ini menjadi tidak penting karena kemudian percakapan dengan supir terjadi:

 

Saya: Mang, berapa kalau mau ke Polsek Cisaat?

Mamang: Berapa orang, Neng?

Saya: Enam.

*Mamang mikir sebentar*

Mamang: 36 ya Neng.

Saya: 36 apa? 36ribu?

Mamang: Iyah.

Saya: Itu untuk enam orang?

Mamang: Iyah.

Saya dan Kakatete: OKE!

 

HUAHAHAHAHAHA.. Ini mah apa yang (perlu) ditawar coba?? Hahaha.. Strategi tawar menawar kami tak berguna. Hiks! Hihihi.

Perjalanan sekitar 30menit, kami pun sampai dengan selamat sampai di Pertigaan Polsek Cisaat. Ternyata, angkutan yang berwarna merah ini, walaupun keadannya lebih memprihatinkan, tapi secara kekuatan mesin, lebih kuat! Jadi kalau mau ke Situgunung tanpa disuruh turun sama mamang supirnya, carilah angkutan berwarna merah! Hihihi. Makan siang sebentar di dekat polsek sambil ngobrol, lalu lanjut naik angkutan yang menuju Stasiun Sukabumi dengan membayar Rp3000/orang saja.

Dari pengalaman itu, memang lebih enak ke Situgunung dari Stasiun Cisaat. Tidak kena macet. Pas ke Stasiun Sukabumi itu kami kena macet lumayan. Dan perjalanannya pun lebih lama dibanding kalau ke Stasiun Cisaat.

Tapi Stasiun Sukabumi sendiri bagus! Bangunan tua, klasik, cukup terawat. Cocok buat …. foto-foto. Hihihi.

Sukabumi1

Stasiun Sukabumi.. The clock says it all ya.. :’)

 

Sukabumi

Kereta lucu imut nan bersih di Stasiun Sukabumi..

 

Ke Situgunung itu menyenangkan. Apalagi kalau naik kereta. Tidak capek di jalan, tidak kena macet, angkutan lanjutannya pun mudah didapatkan. Ihiy!

 

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements