Menyentuh ubur-ubur di Danau Kakaban

Pertemuan awal saya dan Mas Ryan Gosling ubur-ubur terjadi di Seaworld Indonesia. Satu ubur-ubur menyapa dengan gerakan renangnya yang gemulai dari dalam sebuah akuarium kecil di sana. Gerakannya terlihat sangat anggun dan manis seperti saya saat sedang menari Jaipong (tarakdungcess!). Bagian atas tubuhnya membuka menutup dengan lucu dan warnanya yang transparan memantulkan bias lampu sorot di dalam akuarium tersebut. Bias cantik itu yang membuat saya terpana. Saya sempat berdiri lama di depan akuarium itu, tidak membayangkan bahwa beberapa bulan setelahnya, saya bisa menyentuh makhluk ini yang lucu ini.

Ubur-ubur?

Iya, UBUR-UBUR!


Adalah Danau Kakaban yang mengijinkan saya untuk bisa menyentuh ubur-ubur. Danau Kakaban ada di Pulau Kakaban, Kalimantan Timur. Saya mengunjungi danau ini sebagai bagian dari perjalanan 5hari4malam ke Kepulauan Derawan. Malam sebelum saya diajak ke danau ini sebenarnya saya sakit, tennis elbow saya kambuh dan semalaman tidak bisa tidur karena ada pekerjaan mendadak harus post satu promo di saat sinyal adalah hal terakhir yang bisa diandalkan. #CurhatMimin, tapi pagi harinya, demi berenang bersama makhluk anggun ini, saya mengoleskan gel panas di lengan, berdoa, lalu tetap pergi. Tak ada alasan bagi saya tidak berangkat! Apalagi mengingat biaya perjalanan yang tidak murah untuk mencapai Kepulauan Derawan ini. Bihihik! *menatap nanar buku tabungan* *mandi gel panas*

Jam 8pagi saya berangkat dari penginapan di Pulau Maratua ke Pulau Kakaban dengan menggunakan speedboat. Laut tidak begitu bergelombang dan bisa sampai di Pulau Kakaban dengan cepat. Bersama teman-teman satu perjalanan, saya menyusur jalur jalan dari dermaga hingga ke danaunya di tengah pulau. Melewati hutan yang gelap pekat dengan diiringi lolongan serigala jadi-jadian, perjuangan mencapai Danau Kakabannya lumayan banget. Menyusur jalurnya dari bersukacita sampai menerawang ke depan sampai menggeh-menggeh berpikir kok nggak sampai-sampai. Hihihi. *maklumin saja, saya pejalan ala-ala* :’)

Sampai juga.. :') Biru airnya menggoda sekali untuk menceburkan diri ya.. :D

Sampai juga.. :’) Biru airnya menggoda sekali untuk menceburkan diri ya.. 😀

Di ujung jalur jalan yang membelah hutan itu, Danau Kakaban membentang. Airnya tidak biru tapi hijau. Ih kalau saya nggak tahu ada ubur-ubur lucu yang bisa disentuh di dalam danau ini, sepertinya saya akan pikir dua kali untuk mencemplungkan diri. Hihihi. Ubur-ubur di Danau Kakaban ini termasuk stingless jellyfish (ubur-ubur tak menyengat), karena itulah bisa disentuh. Di dunia ini, ada dua tempat di mana kita bisa menyentuh ubur-ubur jenis ini; satu di Danau Kakaban – Indonesia, satunya lagi di Palau – Oceania. Beruntungnya saya bisa mengunjungi satu dari dua tempat ini. 😀 Puji Tuhan.

Pelan-pelan saya menuruni tangga masuk danau. Memasuki Danau Kakaban tidak boleh meloncat, jungkir balik, apalagi kayang; harus lewat tangga, pelan-pelan sambil bilang ‘Permisi, anak tidak perawan mau numpang renang..’. Kenapa nggak bisa melakukan segala macam gaya akrobat itu? Karena di dalamnya banyak ubur-ubur yang sedang berkencan. Kasihan nanti mereka terganggu. Kalian tahu lah apa rasanya saat pacaran lalu diganggu. 😥 Berenang di Danau Kakaban juga tidak boleh pakai kaki katak karena penggunaan kaki katak bisa menyepak ubur-ubur yang sedang berenang cantik. Selain itu, tidak boleh bawa makanan masuk ke dalam danau juga karena nanti …… makanannya basah. *muka lempeng* :”|

Uwuwuwu.. Lucunya.. *menatap cermin*

Uwuwuwu.. Lucunya.. *menatap cermin*

Saat saya masuk, ternyata air yang terlihat hijau gelap dari luar itu tidak terlalu gelap di dalam. Inilah pelajaran hidup yang bisa diambil: bahwa kadang yang kita lihat gelap di luar, belum tentu gelap dalamnya. Jadi, jangan jahat sama orang berkulit gelap! *LAH?!*

Saya berenang pelan dan santai di dalam danau, ada beberapa ubur-ubur berenang di samping saya. Saya berenang lebih ke tengah dan semakin banyak ubur-ubur menyapa. Perlu sekitar dua hingga tiga detik bagi saya untuk berani menyentuh ubur-ubur ini. Mereka terlihat sensitif dan rapuh, membuat saya takut menyentuhnya. Hihihi.

Jadi apa rasanya menyentuh ubur-ubur?

Rasanya seperti menyentuh jelly. Hahahaha. Kenyal-kenyal lucu gitu.

Saya tidak lama berenang dengan ubur-uburnya karena selain tidak tahan lengan saya makin sakit, juga karena ada kelompok lain datang. Gantian deh berenangnya. Biar nggak terlalu ramai Danau Kakabannya, kasihan ubur-ubur sebagai penduduk utama kalau tiba-tiba banyak tamu datang dalam waktu bersamaan. Hihihi.

Pengalaman berenang cantik sama ubur-ubur ini mengesankan sekali untuk saya. Rasanya bisa mewujudkan satu impian itu menyenangkan! Puas!

Tempat impian selanjutnya, hmm …. mana lagi yaaaa. 😀

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements