Liburan untuk Pekerja Kantoran

Dua tahun lalu saya mengakhiri masa lajang gap year saya. Setelah 1.5 tahun gap year itu, saya yakin saya mau kerja kantoran. Penuh waktu. Banyak yang mencibir keinginan ini dan beberapa malah secara gamblang mengungkapkan ketidakyakinannya akan kemampuan saya jadi pekerja kantoran. Tapi rubah melolong, perempuan cantik nan imut kinyis-kinyis berlalu dong. Saya pokoknya mau jadi mbak-mbak kantoran! Titit! *iya memang tulisannya titit, bukan typo, sudah biarkan saja*

Pekerja Kantoran Milenial. TSAH!

Pekerja Kantoran Milenial. TSAH!

Beberapa hari bekerja, saya baru tahu sulitnya membagi waktu antara menjadi pekerja kantoran dan pejalan. Pertimbangan utama dan satu-satunya adalah soal jumlah cuti. *sampai pada bagian ini, liriklah HRD kantor saya, niscaya kamu akan menemukannya memicingkan mata, pusing mengurus satu karyawan yang suka buat minus cuti tahunannya. Hihihi*

Kalau d’Masiv bisa buat lagu spesial untuk saya, pasti mereka akan buat lirik ‘cuti ini membunuhku’ dan bukan ‘cinta ini membunuhku’. Cinta sih nggak sepenting jumlah cuti! *menghibur diri sebagai jomblo*

Tapi apa jadi pekerja kantoran lantas membuat saya tidak sempat liburan?

Apa menjadi pekerja kantoran sebegitu menyita waktu sampai tidak sempat melihat lingkungan di luar kubikel dan rumah?

Oh tentu tidak!

Semua bergantung amal dan iman keinginan. *kibas kartu cuti* Hihihi. Pekerja kantoran juga tetap bisa liburan. Hanya perlu lebih cerdik menyiasati waktu. Akan selalu ada hal baru yang bisa dipelajari dari rutinitas yang berubah. Termasuk dari perubahan rutinitas si pengangguran kebanyakan jalan jadi pekerja kantoran ini. 😉

Taman Nasional Baluran. Belum setahun bekerja. :p

Taman Nasional Baluran. Belum setahun bekerja. :p

Dari pertengahan tahun berjalan, saya sudah sibuk mencari kalender tahun depan dan daftar cuti bersamanya. Ini berguna untuk melihat hari-hari libur terjepit yang berpotensi untuk dijadikan hari liburan. Sebagai referensi, saya selalu pakai kalender dari Chocky Sihombing. Chocky sudah menyediakan kalender dari bulan Mei 2014 untuk tahun 2015. Silakan cek dan cetak dari sini. 🙂

Atur periode liburan dengan baik. Saya cari periode liburan dengan hari sebanyak-banyaknya dan cuti sesedikit-sedikitnya dengan memaksimalkan HTN alias Hari Terjepit Nasional. Misalnya ada libur di hari Kamis, nah itu potensial dijadikan liburan! Karena kalau diambil dari Kamis sampai Minggu, cuti hanya 1 hari untuk liburan 4 hari! AHA!

Sejak jadi pekerja kantoran, pola pikir liburan saya berubah jadi mulai liburan di hari Kamis/Jumat; bukan lagi hari kerja lainnya. Dan pola pikir jam berangkatnya pun berubah dari jam manusia jadi jam serigala. Berangkat jam 18.00 (atau lebih malam lagi) dan kembali ke Jakarta kadang di jam maling pulang alias dini hari. Hihihi.

Hal lain yang bisa dimaksimalkan dari menjadi pekerja kantoran adalah perjalanan bisnis. Perjalanan bisnis saya sampai saat ini baru ke Kuala Lumpur – Malaysia sih, semoga nanti ada kesempatan untuk perjalanan bisnis ke tempat lain. ADA AMIN DI SINI, SODARA SODARA??!! Kalau perjalanan bisnisnya diakhiri di hari Kamis, biasanya saya akan extend dan pulang di hari Minggu. Lumayan, cuti satu hari untuk liburan tiga hari. Hihihi. Atau kalau ada meeting hari Senin/Selasa, saya berangkat Sabtu atau Minggu (atau malah Jumat malam) demi tambahan waktu liburan. Hihihi.

Main ke Melaka setelah meeting di kantor pusat Kuala Lumpur. :)

Main ke Melaka setelah meeting di kantor pusat Kuala Lumpur. 🙂

Sekarang saya masuk ke kumpulan weekenders – pejalan yang sempatnya jalan-jalan hanya saat akhir pekan saja. Saya benar-benar memaksimalkan akhir pekan; lebih pilih liburan ke pulau dibanding hang out ke mall, lebih pilih jalan-jalan sama keluarga ke luar kota dibanding datang pesta ini itu. Jadi lebih selektif memilih mana yang lebih menyenangkan dan membahagiakan. Kalau lagi nggak ada acara ke luar, beristirahat di rumah juga bisa jadi liburan. Kasihan itu apartemen kalau akhir pekan ditinggal-tinggal terus. Hihihi.

Tahun ini masuk tahun ketiga saya jadi pekerja kantoran. Dan sampai sekarang, tidak ada kebahagiaan liburan yang hilang. Justru saya merasa lebih ‘kaya’. Saya jadi lebih menghargai waktu dan orang. Juga lebih bisa baik mengatur keuangan. Lebih gampang dibuat senang dan bisa bahagia dengan hal-hal kecil serta jadi pejalan (dan manusia) yang lebih nggak ribet. 😀

Bangga malah saat kemarin saya ke Kuala Lumpur, bertemu CEO kantor dan beliau mengatakan, “Hi Rembulan, long time no see! But I’ve been following all of your traveling via Facebook! Wonder how do you manage to have so much time to do all those traveling?!”

Ahahahaha!!

Jadi untuk yang sering bilang ke saya, “Aku tuh nggak ada waktu buat liburan sejak kerja di Kantor A. Padahal butuh liburan banget!”; komentar saya hanya satu: yakin nggak bisa menyempatkan diri liburan? Saya saja bisa, kamu juga pasti bisa! Persoalan kemauan saja. Hihihi.

Senyum dulu ah.. 🙂

Berakhir pekan ke Pulau Pari. Karena dua hari sungguh berarti.

Berakhir pekan ke Pulau Pari. Karena dua hari sungguh berarti.

Advertisements