Perjalanan No Fuss, No Must ke Pulau Pari

“Gue mau ke pulau ah Sabtu ini. Ada yang mau ikut?”, tanya Kak Mickey santai di grup WhatsApp. Saya dengan semangat nan bergejolak langsung menjawab, “MAU!”

Sudah lama saya kangen laut. Kangen air asin. Kangen kulit menggosong. Kangen kehangatan sinar matahari. Kangen mendengar deburan ombak. Kangen bersentuhan dengan pasir lembut. Kangen sapuan angin yang mengganggu rambut. Kangen lah pokoknya. Kangen. Nggak seperti kamu yang nggak pernah kangen aku! Towew! 😦

Dari obrolan singkat itu, pagi di hari Sabtu, kami sudah siap di Pier 17, Marina – Ancol. Pantai, pulau, kami datang!

Mamang Mickey dengan satu tas penuh lensa kamera. Namanya juga jalan sama model ibukota.. :')

Mamang Mickey dengan satu tas penuh lensa kamera. Namanya juga jalan sama model ibukota.. :’)

Dari awal, Kak Mickey sudah bilang perjalanan kali ini “No Fuss, No Must“. No Fuss artinya kami akan jalan santai, nggak ribet, kalau bisa semuanya dibuat mudah (walaupun dorongan hati penuh drama ini selalu ingin menempuh jalan sulit nan ribet sendiri. Hihihi). No Must artinya kami nggak buat rencana perjalanan/itinerary,Β kami bahkan belum reservasi penginapan. Saya tidak pernah melakukan perjalanan seperti itu, dan saya pikir, tidak ada salahnya mencoba. Selalu ada hal baru yang bisa dipelajari kan. Mari jalan!

Jam 7.30 kami sampai di dermaga Pulau Pari. Keadaan tidak terlalu ramai tapi kehidupan sudah terlihat mulai berjalan. Aksi pertama: cari penginapan!

Untungnya, ini bulan Desember. Pulau Pari tidak terlalu ramai pengunjung sehingga kami langsung mendapat penginapan di pinggir pantai setelah sebelumnya Kak Mickey ‘digiring’ melihat penginapan lain di tengah pulau. πŸ˜€ Penginapan berdinding anyam dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, satu ruang keluarga, dua kasur (berukuran besar), dan teras itu lokasinya tepat di pinggir dermaga. Terasnya langsung menghadap laut. Tidak ada AC, hanya ada dua kipas angin tempel di dinding. Tapi saat saya coba nyalakan, ya ampun itu anginnya menggila kencang sampai rambut berkibar dan badan kecil nan ringan saya terbang!

Mamang Mickey sang penjaga pondok..

Mamang Mickey sang penjaga pondok..

Setelah menaruh tas, saya dan Kak Mickey segera menyewa sepeda dan berkeliling pulau. Pulau Pari ini asyik sekali untuk liburan santai. Jalan sudah tersedia dengan kondisi baik, banyak yang berkeliling naik sepeda, warganya ramah-ramah, warung makan banyak, penginapan dari mulai rumahan sampai pondokan ada. Di sebuah jalan, kami menemukan warung di pinggir pantai, langsung saja melipir dan berhenti. Kan No Fuss No Must. Hehehe.

Pantai itu Pantai Keresek namanya. Kata Pak Nurdin, pemilik warung di situ, nama Keresek karena mas yang datang (menunjuk Kak Mickey) KEREn dan mbak yang datang (menunjuk saya) SEKsi. Aw!! Jadi saya seksi!! Saya seksi!! Perhatikan itu wahai pembaca! Pak Nurdin saja yang baru kenal saya sudah tahu kenyataan itu! *kibas rambut sambil gelinjangan penuh gelora*

Neng Bulan sebagai model seksi ibukota di Pantai Keresek..

Neng Bulan sebagai model seksi ibukota di Pantai Keresek..

Menghabiskan waktu di pinggi Pantai Keresek menikmati kelapa muda dan makan keripik sukun balado sambil mengobrol dengan Pak Nurdin, waktu berjalan pelan dan santai. Asyik juga ya begini. Tidak terburu-buru harus ini itu. :’)

Setelah selesai mengobrol, kami lanjut ke Pantai Pasir Perawan. Pantai ini cantik sekali. Pasirnya halus, airnya jernih, pemandangannya indah. Masuknya pakai bayar tapi sebanding dengan keadaan pantai yang terjaga kebersihannya. Di pantai ini kami naik perahu Pak Halil untuk berkeliling. Saya pikir hanya akan keliling-keliling ala kadarnya; ternyata Pak Halil niat sekali mengajak kami memasuki celah kecil antar bakau sambil bercerita ini itu. Hahaha. What a morningΒ well spent. πŸ™‚

Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 ketika kami selesai main di Pantai Pasir Perawan. Cacing-cacing nan lucu di dalam perut sudah bermain gamelan. Bersepeda ke sana ke mari, akhirnya kami berhenti di sebuah warung di pinggir jalan karena di Pulau Pari, seperti di mana pun juga, tidak tersedia warung di tengah jalan. *nunduk kalem*

Setelah makan, baru saya kepikiran ingin snorkeling. Kak Mickey sepertinya tidak berpikir mau snorkeling karena dia tidak bawa snorkel gear. Hihihi. Tapi ya ini trip No Fuss No Must! Jadi cuek saja, spontan! Setelah tidak berhasil ikut rombongan lain karena kapal penuh, kami jadinya menyewa satu kapal untuk dipakai berdua. TSAH! Gaya banget sih! Kapal otok-otok berasa yacht. Hihihi.

Di atas kapal otok-otok yang berasa yacht..

Di atas kapal otok-otok yang berasa yacht..

Selesai snorkeling, kami kembali ke penginapan, duduk-duduk di teras sambil mengobrol. Setelah cukup beristirahat, kami kayuh lagi sepeda ke LIPI untuk lihat momen matahari terbenam. Malam dihabiskan dengan kami mengobrol bersamaΒ tetangga sebelah; sepasang kekasih baru, Intan dan Ntus. Ihiy. Hihihi.

Itu cerita hari pertama No Fuss No Must trip kami. Saya yang biasanya selalu terencana bisa melewati hari pertama dengan bahagia. Asyik juga ya hidup santai, nggak ribet, nggak harus melakukan A atau B di jam X atau Z. πŸ˜€

Saya jadi belajar banyak. Bahwa tidak apa menjadi spontan, tidak semua harus direncanakan dengan detil. Jalan spontan sama asyiknya dengan jalan terencana. Menikmati waktu dan berkat tidak harus selalu ‘efisien’. Kadang, dengan cepatnya ritme hidup di hari kerja, yang diperlukan saat liburan di akhir pekan justru waktu yang berjalan pelan dan setiap detik yang dilewati dengan senyum. Bahagia itu benar sederhana adanya.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements