Hadiah Natal Terbaik..

You are my life

You are my strength

I can’t fight a battle alone

I can make it through when I’m with you

Charice – Always

*lagu yang dipersembahkan untuk ibunya, sesaat setelah ia mengakui preferensi seksualnya, memohon untuk sang ibu menerima keadaannya*


Post ini seharusnya terbit tanggal 25 Desember lalu (atau 22 Desember lalu), tapi dengan segudang kesibukan saya sebagai artis ibukota, maka jadwal terbit pun undur hingga hari ini. Semoga tidak mengurangi sedikit pun berkat dari keseluruhan cerita ini. 🙂

Kalau teman-teman berteman dengan saya di Facebook, pasti kalian tahu betapa dekatnya saya dengan mama. Banyak yang mengatakan kami ibu-anak yang kompak; sering menghabiskan setiap akhir pekan bersama, jalan-jalan bersama, dandan bersama. Yang tidak kalian tahu, kami sudah melalui berbagai macam keributan, pertengkaran, dan masa-masa buruk hingga sampai di keadaan sekarang. Dan saya bersyukur kami melewati itu semua dan tetap bersama. Bahkan lebih kuat dari sebelumnya. 🙂

Ya, saya memang terlihat lebih seperti adek dibanding anaknya. :')

Ya, saya memang terlihat lebih seperti adek dibanding anaknya. :’)

Katanya, keluarga adalah bagian dari hidup kamu yang tidak akan pergi walau kamu berada di keadaan terburuk sekali pun. Dulu saya tidak percaya perkataan itu; hubungan saya dengan keluarga (papa, mama, Kak Ari) baik tapi ya tidak sebaik itu. Saya menyimpan satu hal yang (sepertinya) bagi keluarga saya adalah hal penting – sedangkan bagi saya tidak sepenting itu. Saya belum berani mengatakannya pada saat itu, dan saya berpikir, akan tiba saatnya saya mengatakan hal tersebut dan mereka akan meninggalkan saya. Saya bermain dengan pikiran saya selama bertahun-tahun tanpa sanggup menghadapinya. Saya menyiapkan diri, saya berpikir kemungkinan terburuk; tapi semua hanya ada di pikiran saya, tidak ada yang berani saya hadapi langsung untuk mengetahui hasilnya. It was such a hard time I even preferred not to come to mom’s apartment often. Anything that makes us have a distance, I would take it. I was not ready.

Hubungan saya dan mama pun sempat memburuk. Mama seperti mengejar saya, takut saya hilang dari genggamannya, dan saya kabur, takut terus berada dalam genggamannya. Kami kejar-kejaran. Ada masa di mana mama menelepon saya dan marah-marah sebal karena saya tidak meneleponnya selama tiga hari. Saya bingung, memang harus telepon setiap hari gitu? Aduh kok ribet? Mama telepon lagi bilang saya punya waktu untuk teman-teman tapi tidak punya waktu untuk beliau. Aduh, ya teman-teman saya nggak pernah ribet sama baju yang saya pakai dan bisa bertemu di mall sih, jadi tentu nggak serepot bertemu mama yang harus memikirkan baju yang dipakai dulu dan datang ke apartemen. Belum lagi harus (terpaksa) beribadah sesuai keyakinan mama, belum lagi tidak boleh pakai rok mini, tidak boleh pakai tank top, tidak boleh pakai dress yang terlalu terbuka, tidak boleh pakai cat kuku, tidak boleh ini itu nina ninu, aduh! 😦

Ada yang salah dengan hubungan saya dan mama. Sepertinya terlalu mengikat dan menarik kami berdua turun. Tidak memberikan waktu bagi kami untuk berkembang menjadi individu yang dewasa.

Pasal utama yang selalu menjadi perdebatan adalah soal agama.

Mama pernah mengatakan, kalau saya sampai pindah agama, beliau akan mengambil seluruh fasilitas yang pernah diberikannya untuk saya. Perkataan itu yang membentuk saya, selama bertahun-tahun, tidak mau menerima dengan sepenuh hati fasilitas APAPUN yang ditawarkan keluarga. Saya menyiapkan diri bahwa semuanya adalah titipan. Semuanya akan diambil ketika saya akhirnya mengatakan keyakinan saya, maka saya tidak ingin ada ikatan apapun dengan semua fasilitas itu. Saya tidak ingin menggadaikan keyakinan saya untuk barang. Seberapa pun abstraknya keyakinan saya itu. Dan ketiadaan keinginan saya untuk menerima apa-apa yang ditawarkan keluarga pun menuai protes. Saya jadi dianggap anak belagu yang sombong. Mama merasa ingin memberi, saya merasa tidak ingin terbebani dengan pemberiannya. Kami tidak bertemu.

Tahun lalu, setelah beberapa pertengkaran kecil, saya akhirnya memberanikan diri mengatakan si pasal utama. Di depan mama, Kak Ari, dan bapak tiri, dalam pertemuan keluarga dengan nuansa serius (luar biasa ya, kami bisa serius juga), saya dengan jujur mengutarakan bahwa saya tidak memiliki keyakinan yang sama dengan mereka. Setelah saya mengatakannya, sisi dramatis saya bersiap untuk terlemparnya piring, pecahnya kaca, terbaliknya meja, dan teriakan “KELUAR KAMU DARI APARTEMEN MAMA!!”; tapi ternyata …. tidak. Suasana hanya hening. Diam. Saya bingung. Mana drama yang sudah saya perkirakan akan terjadi? Hehehe.

Di sini saya lumayan lebih cantik lah, jadi wajib dipasang foto ini. :p

Di sini saya lumayan lebih cantik, jadi foto ini wajib dipasang. :p

Mama memecah hening dan berbicara dengan pelan dan lembut, meminta saya untuk belajar tidak hanya apa yang saya yakini tapi juga apa yang keluarga yakini. Saya diam. Sambil berpikir, jadi, dramanya nggak jadi nih?

Itu titik balik hubungan kami.

Setelah pengutaraan itu, mama adalah orang yang TIDAK PERNAH sekali pun memaksa saya beribadah sesuai ajaran keyakinannya. Mama tidak pernah lagi memberi komentar untuk cat kuku yang saya pakai. Mama tidak pernah lagi dengan gegap gempita mengatur hidup saya sesuai apa yang beliau inginkan. Bahkan beliau memasakkan makanan saat saya menginap di apartemennya padahal saat itu bulan puasa dan beliau sedang ibadah. Sebegitu hebatnya lah mama saya. Beliau menghormati saya sebagai individu. Dan saya merasa sangat dihargai.

Rasa hormat saya untuk beliau yang sebelumnya mulai runtuh menjadi bertambah dua ratus tujuh puluh empat kali lipat. Mama saya bertahan. Tetap menjadi mama untuk saya. Dan saya tetap jadi anaknya. Walaupun kami berbeda pendapat soal keyakinan (atau untuk banyak hal lainnya), tapi ia berusaha untuk tetap ada untuk saya. Ketakutan saya tidak terjadi. Di luar bayangan saya, mama adalah orang yang begitu terbuka dan berani membiarkan saya berkembang menjadi lebih baik lagi setiap harinya.

Hubungan kami pun jauh membaik. Tidak ada beban bagi saya untuk menelepon beliau setiap hari. Komunikasi berjalan lancar dan kami merindukan satu sama lain setiap kini dan nanti. Tidak ada beban untuk datang ke apartemennya karena dipaksa beribadah. Hidup saya jauh lebih ringan. Saling menghormati terjaga utuh. Kami bisa jalan-jalan dengan lebih asyik. Tidak ada lagi pertengkaran hebat. Saya jauh lebih menghormati seluruh ibadah yang disyaratkan agama yang beliau anut dan saya mengingatkan beliau untuk menjadi pengiman yang baik. Saya tidak lagi antipati. Mama tidak lagi menahan diri untuk belajar beberapa hal dari saya karena ternyata untuk beberapa urusan, saya lebih pintar dari beliau; misalnya soal dandan dan fesyen. Hahaha. Saya sayang beliau dengan sepenuh hati. Bahkan sekarang sudah belajar untuk lebih berani meminta barang ini itu ke beliau. Hubungan ini menyenangkan!

Jadi apa yang kalian lihat sekarang dari hubungan saya dan mama adalah hasil dari proses menyatukan hati dan pikiran selama bertahun-tahun. Hasil dari sekian banyak pertengkaran. Hasil dari sekian kali perbedaan pendapat.

Lucu mengingat bagaimana hubungan ibu dan anak bahkan membutuhkan penyesuaian panjang. Dan saya selalu bangga mengatakan pada mama bahwa jika saya berkembang menjadi seorang individu yang mampu berpikir dan berpendapat, tidak selalu menuruti apa-apa yang beliau ucapkan/inginkan dan menelannya mentah-mentah, maka beliau sudah berhasil dan sukses mendidik saya. Beliau sudah menjadi ibu yang luar biasa.

mama2


Mamaku sayang, BuJendral, Emak, terima kasih ya.

Terima kasih sudah selalu ada untuk aku, terima kasih sudah mau menerima aku dengan segala kerumitan hidupku. Terima kasih sudah menerima banyak pemikiranku yang mungkin bagi mama terlalu sekuler dan bebas. Terima kasih sudah membiarkan aku hidup dan berkembang. Terima kasih sudah menurunkan kemampuan berpikir yang kritis. Terima kasih sudah mau mendekatkan diri dengan teman dan lingkunganku. Terima kasih untuk semua dukungan dalam apapun yang sudah dan akan aku lakukan. Dan yang paling penting, terima kasih sudah menjadi orang yang tidak pernah pergi. Bertahannya mama adalah hadiah Natal terindah dari Tuhan.

Aku ….. padamu!

Weehee!!

Senyum dulu ah.. 🙂

PS: Untuk menjawab banyak kekepoan baik diucapkan maupun tidak, maka saya berikan penjelasan di sini. Mama saya muslim, saya hingga kini belum memutuskan untuk beragama apapun. Saya merayakan banyak hari besar. Saya berdoa dengan berbagai macam cara. Saya terbuka untuk banyak pelajaran cinta kasih dari banyak agama. Kalau kalian mau mencemooh preferensi saya di sini, silakan. Tapi jangan cemooh mama saya apalagi agama (apapun). I can be really harsh to someone who hurts my mom. 🙂

Advertisements