Tiga Puluh Tahun..

Halo Uberfriends!

Hari ini hari yang bersejarah karena untuk sekali seumur hidup, saya berusia …. TIGA PULUH TAHUN!

Hahahaha.. *jumplakjumplak*

Seperti biasanya setiap tahun saya selalu berusaha membuat satu post syukur(an) saat ulang tahun. Bukan karena saya bijaksana dan filosofis, tapi karena membuat post ulang tahun itu gratis sementara jalan-jalan untuk birthday trip itu butuh uang. Hihihi. *assalammualaikum buhaji* *salim*

Jadi mari kita mulai post penuh rasa syukur ini dengan berucap:

Puji Tuhan..

Setelah mencapai usia 30 tahun ini, saya luar biasa bersyukur untuk hidup saya. I remember the times I wished for the state I am in now. Gile, saya pikir-pikir, sesungguhnya saya ini keren sekali lho. Lebih keren dari Sandra Bullo…. oke, enggak sih, itu terlalu jauh. Lebih keren dari Taylor Swi…. eh enggak juga deng, itu juga agak jauh ya. Lebih keren dari Rais….. eh, umm. Lebih keren dari Mpok Jingkah anak Haji Mendem yang rumahnya di pengkolan Gang Mudur lah pokoknya. DEAL!

Boss saya pernah bertanya, “What makes you content?” dan saya membutuhkan waktu selama 170jam untuk menjawabnya. Sungguh, itu pertanyaan sulit! Apa sih yang membuat seseorang berbahagia? Apa yang benar-benar bikin saya senang dan puas?

Apa yang bisa buat kamu bahagia, Bang?

APA??

AKU?

Ah Abaaaang.. *tersapu-sapu, gamit lengan ajak ke KUA*

dog-blinking

Setelah berpikir lama, saya jawab, saya bahagia kalau nggak punya utang dan bisa jalan-jalan tanpa mikirin uang. Hahahaha. Shallow, I know. But I certainly didn’t have any other answer at that time. And guess what, saat menjawab itu saya sudah berusia 27 tahun lho!! Dua puluh tujuh tahun! Usia yang bagi sebagian orang sudah dewasa, ditandai dengan bejibunnya pertanyaan, “Kapan menikah?” diajukan tak kenal waktu tak kenal perasaan hati itu – yang kemudian ketika kita sudah punya jawaban untuk si “Kapan menikah?”, orang itu akan merespon dengan “Jangan lupa undangannya ya!” DIH, KIRAIN MAU BANTU BAYARIN PESTANYA! Atuhlah. 😦 So certainly, kedewasaan itu tidak bisa didasarkan pada usia. Hehehe.

Back to topic, ternyata memang tidak mudah untuk menemukan jawaban pasti dari pertanyaan itu. Selama tiga tahun saya mencari cinta yang tak kunjung datang jawabannya dan di sepanjang proses, ternyata justru saya bisa merasakan bahagia yang luar biasa sampai tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata untuk membentuk satu kalimat jawaban yang memuaskan.

Dari perjalanan ini, yang saya sadari adalah bahwa saya luar biasa bahagia ketika saya bersyukur. Bersyukur untuk hidup ini. Bersyukur untuk badan ginuk dengan payudara mecotot yang suka berteriak minta pembebasan pada kancing baju yang terlalu erat memeluk. Bersyukur untuk berbedanya cara berpikir dengan kebanyakan orang karena, oh well, saya kan anti mainstream. Bersyukur untuk bisa jujur mengungkapkan perasaan, kecuali perasaanku ke kamu yang masih terpendam di lubuk hati terdalam hingga sekarang. Bersyukur untuk banyak hal. Karena ketika saya bersyukur itulah saya sadar betapa kece dan terberkatinya saya ini. Bukan hanya tentang fisik (walaupun ya nggak bisa dipungkiri wajah saya manis begini) tapi juga tentang semua hal!

rihanna-hairflip

Saya bahagia melakukan hal-hal kecil yang saya suka. Misalnya nonton film sepulang kantor atau melakukan kerajinan di akhir pekan. Ngecat furniture lah, bikin wall decor lah, bahkan sesederhana ganti sprei atau pijat di salon. Hihihi. Ketika kita mulai mensyukuri hal-hal kecil yang (bisa) terjadi di hidup kita, rasa syukur itu membuncahkan perasaan bahagia.

Saya pernah menertawakan diri sendiri ketika saya mengangankan diri ini melakukan sesuatu tapi saat itu belum ada uangnya; lalu tidak lama kemudian ketika saya sudah punya uangnya saya tetap tidak bisa melakukan hal tersebut. Karena apa? Karena gantian waktunya yang tidak ada. Hihihi. Manusia itu lucu ya, we work so hard to afford a life while in the process, we lose it.

Ketika saya di Nepal, saya baru menyadari sepenuhnya hal ini. Saya belajar untuk diam dan menikmati waktu. Hidup tidak melulu harus bergerak cepat. Ada masa di mana saya diam sejenak, berhenti dari rutinitas, tidak hanya untuk beristirahat, tapi juga bersyukur. I only live once, I don’t wanna lose it. 

Sekarang, banyak hal yang saya lakukan dengan asas “Yang penting bahagia”. Selama saya melakukannya secara bertanggungjawab dan tidak mengganggu kebahagiaan rumah tangga orang lain, saya pikir tidak ada salahnya. Jadi untuk seorang teman (laki-laki lho!) yang mengeluh saya sekarang dandan terus: lah cong, akik beli make up gak pake uang yey, napa juga yey yang rempong! *tebalikin meja*

Juga, tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan dipanggil ‘Kak’ oleh Mas-mas Starbucks setelah perempuan sebelumnya, yang saya yakini lebih muda dari saya, dipanggil ‘Bu’. HAHAHAHAHA. *cium-cium krim malam*

Intinya, saya melakukan apa yang saya suka. Hidup saya jadi enteng banget, nggak kayak badan saya. Dan saya jadi lebih mudah senang dan bahagia. Nggak capek mengejar target, nggak capek melakukan pembuktikan. Saya sudah berhenti berkeinginan untuk membuktikan segala sesuatu ke orang lain. Nggak usah saya buktikan, biar kenyataan yang berbicara. TSAH ELAH!! Positif lah.

Kini memasuki usia kepala tiga, saya berusaha lebih cuek namun lebih mawas diri, dan juga lebih bertanggungjawab untuk hidup saya sendiri. Satu yang masih perlu saya pelajari adalah untuk bisa memaafkan. Saya pikir selama ini saya orang yang mudah memaafkan. Ternyata enggak lho! Ngomongnya doang “I forgive” tapi masih menyimpan sakit, penyesalan, dan dendam kesumat di dalam hati. Bad, Princess, bad!! 😦

Ya doakan dan dukung saya untuk bisa lebih memaafkan ya. Baik pada orang lain maupun diri saya sendiri. 😀 Untuk SMS dukungan, kirim IncessBuyan [spasi] aku padamu, kirim ke 1106.

Akhir kata, saya bahagia di usia baru saya ini. Ternyata berusia 30 tahun tidak semenakutkan itu ya. Saya pikir saya bakal stress gimana gitu, ternyata enggak. I am thirthy and happy. Alhamdulillah. 🙂

Senyum dulu ah.. 🙂

Hellow, Thirty!

Hellow, Thirty!

Advertisements