Keliling candi Angkor di Siem Reap dalam satu hari

Apa yang hadir di pikiran saat mendengar jalan-jalan ke Siem Reap, Kamboja? Pasti banyak yang menjawab deretan candi yang masuk sebagai Angkor World Heritage sebagai wisata wajib kunjungnya. Itu juga yang ada di pikiran saya selain tentunya kamu yang mendiami relung-relung pikiranku, tapi sejujurnya, saya nggak begitu suka wisata candi. HAHAHA. Piye iki?

angkor-wat-cambodia

Angkor Wat dari arah timur

Eits jangan kawatir, sesungguhnya adanya tipe One Day Angkor Pass adalah karena memang ada orang-orang yang ingin keliling candi Angkor di Siem Reap dalam satu hari. Contohnya saya dan teman jalan saya. Jadi sudah pasti saya tidak sendirian. Hihihi. 😀 Angkor Pass sendiri tersedia dalam tiga tipe: 1 hari (USD20), 3 hari dalam 1 minggu (USD40), dan 6 hari dalam 1 bulan (USD60).

Kami janjian dengan To – supir tuktuk yang awalnya mengantar kami dari bandara menuju hotel – untuk berkeliling candi Angkor di Siem Reap dalam satu hari. Biayanya adalah USD50 dan itu sudah termasuk ke Banteay Srei yang berada 28km ke arah luar kota. Kalau tanpa kunjungan ke Banteay Srei, tentu bisa lebih murah lagi. Tapi memang saya keukeuh mau ke Banteay Srei. Hihihi.

tuktuk-siem-reap

Tuktuk di Siem Reap yang tidak syariah. Terbuka di mana-mana. 😛

To menjemput kami pukul 05.00 tapi kami belum siap; kami baru keluar hotel pukul 05.20. Hahaha. Bye sunrise! Dimaklumkan saja ya. Dua hari sebelumnya saya harus berangkat malam sekali setelah seharian kerja; sampai di Kuala Lumpur tengah malam, lalu pukul 4 pagi sudah harus bangun lagi untuk terbang ke Siem Reap, Kamboja. Jadi tentu saya lelah sekali; maklumkanlah ya. Usia memang tidak bisa bohong.

Untuk bisa keliling candi Angkor di Siem Reap dalam satu hari, To mengantar kami ke konter tiket utama yang ada sebelum masuk komplek candi Angkor Wat untuk membeli Angkor Pass. Saat membeli Angkor Pass, mbak-mbaknya minta saya maju sebentar dan tersenyum ke arah kamera. Saya kira hanya untuk data mereka jadi saya santai saja senyum, ternyata … FOTONYA ADA DI ANGKOR PASS SAYA!!

Ah tahu begitu kan saya pakai eyeliner dulu! *tebalikinmeja*

angkor-pass

Tetap cantik! *kata mama saya* 😛

Proses pembelian Angkor Pass berlangsung sangat cepat. Setelah Angkor Pass sudah di tangan, kami pun menuju candi pertama yang terbesar dan paling terkenal yaitu Angkor Wat. Berkeliling Angkor Wat, saya jadi agak pusing karena panas matahari yang menyengat dan salahnya, saya pakai kaos warna hitam! Pinter memang princess ini. *jedotin kepala ke dada Mas Jude Law*

Selesai berkeliling, kami pun ke luar lewat Pintu Timur dan langsung berteriak:

TWO  COCONUTS!

Minum air kelapa muda di hari yang panas itu rasanya seperti bertemu lelaki impian setelah terpisah jarak dan waktu selama enam bulan, dahaga terpuaskan! Eh maksudnya dahaga terpuaskan dari minum air kelapa muda, bukan yang dari bertemu lelaki impian. *aduh*

angkor-wat-siem-reap

Angkor Wat. Nggak kelihatan panas ya. Padahal….

Istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan langsung ke Banteay Srei. Perpaduan perjalanan panjang dan angin yang menyapa wajah dengan halus menghasilkan apa?

Menghasilkan kami tertidur pulas di atas tuktuk yang terbuka bebas kanan kiri depan belakangnya itu. Hahaha. Apa kata pemuda lokal yang melihat ya? Itu kok princess tidurnya ngejelembreh begitu? Hancur reputasi dan keanggunan yang sudah saya bangun. Hiks. *bersandar dengan khusuk*

Banteay Srei memang jauh, tapi saya cinta sekali sama candi ini. Cantik! Seperti saya. Ya kan! Sudah bilang saja iya.

banteay-srei-siem-reap

Gila ya detilnya. Saya terpana…

Selesai dari Banteay Srei, kami kembali dan berhenti sebentar untuk mengunjungi Land Mine Museum. Lanjut tidur jalan lagi untuk jalan menuju candi selanjutnya. Sekitar 30 – 40 menit kemudian, To memberhentikan tuktuknya di depan sebuah candi yang terlihat sangat megah. Pre Rup namanya. Saya melihat dengan takjub, lebih takjub lagi saat tahu kami bisa naik sampai bagian atas candinya. Walaupun panas, saya semangat naik ke atas dan whoaaa, pemandangan dari atas menakjubkan sekali. Candi ini tinggi dan saya jadi merasa seperti raja-raja (ya ratu lah ya) jaman dahulu kala yang melihat ke rakyatnya di bawah sana. Ahahaha.

pre-rup-siem-reap-cambodia

Pre Rup! Megah ya.

“Saya perintahkan, seluruh perempuan di sini memakai lipstik berwarna fuschia setiap hari Rabu dan warna merah setiap hari Senin!”

Like how cool am I as a queen? 😀

Dari Pre Rup, kami menuju satu candi lagi yaitu Banteay Kdei. Saat di Banteay Kdei, cacing-cacing di perut kami sudah mulai menabung gendang, tapi masih tertahankan. Sabar ya, Nak. *mengucap ke perut yang keroncongan*.

Setelah selesai berkeliling Banteay Kdei, kami kembali ke arah Angkor Wat dan berhenti di Angkor Thom. Perut sudah kelaparan dan jam sudah menunjukkan pukul 11.45; To bilang kami akan makan siang setelah selesai dari Angkor Thom. Restorannya pun dekat dari Angkor Thom. Baiklah. Sebagai penumpang yang baik, kami mah menerima saja diatur oleh supir tuktuk kami yang baik ini. Hihihi.

angkor-thom-siem-reap-cambodia

Lihat dan rasakan panasnya!!

Angkor Thom sendiri bagi saya terlihat biasa saja, tidak terlalu menggugah. Mungkin karena saya sudah jatuh hati sama Banteay Srei dan Pre Rup atau mungkin juga karena kadar ke-candi-an untuk saya hari itu sudah melebihi ambang batas yang disarankan. Jadi sudah mulai terlihat sama semua candi-candi ini. Hihihi.

Setelah dari Angkor Thom, To memenuji janjinya dan mengajak kami ke restoran untuk makan siang dan istirahat. Puji Tuhan ya Allah!! *basuh wajah*

Sekitar jam 3, kami lanjut jalan lagi dan kali ini kami ke Ta Phrom! Woohoo! Ta Phrom adalah candi yang tergerus pohon! Coba, manusia sering menggerus dan menebang pohon, eh di Ta Phrom ini pohon yang menggerus candi buatan manusia. Hehehe. Baik-baik sama pohon, Kalian!

ta-phrom-siem-reap-cambodia

Antara terpana kagum sama agak takut melihatnya. Hehehe.

Dari Ta Phrom, kami diberhentikan di depan pelataran gajah (elephant terrace) untuk menuju Candi Baphuon. Mata saya sudah berkaca-kaca dan berlinang pasir saking bosannya melihat batu dan batu. Hahaha. Pas lihat harus naik tangga lagi untuk menuju atas candi, saya mengibarkan bendera putih tinggi. Nggak usah lah, sudah saya menunggu di bawah saja. Hahaha. Apa saya sendirian? Nggak dong! Ternyata ada satu pengunjung lain yang juga memilih untuk duduk saja di bawah menunggu temannya yang berkeliling Baphuon. Hihihi.

Dari Baphuon, kami jalan kaki ke Candi Bayon. Itu kaki saya sudah melenyet. Lelah sekali rasanya. Dan badan sudah terasa lembab nggak enak. Hasil percampuran sengatan sinar matahari, keringat, udara kering, timpaan angin dingin dari AC, kemudian tersengat sinar matahari lagi. Ya ampun, rasanya sudah lembek. LOL. Jadi kalau lelah kenapa pakai ke Bayon? Tidak lain tidak bukan adalah karena To menunggu kami di pintu keluar Bayon! Hahaha. *lempar sandal ke To*

bayon-temple-cambodia

Pas ke sini, entah kenapa ingat papa. Hehehe. Mungkin karena namanya mirip. 😀

Selesai dari Bayon, mata saya sudah tidak lagi berkaca-kaca dan berlinang pasir melainkan sudah berbatu-batu. Tapi masih ada satu lagi candi yang ingin kami kunjungi dan candi ini terkenal sebagai tempat melihat matahari terbenam. Tahu kan sunset itu favorite time of a day bagi saya, jadi biarpun kaki lelah, tetap HARUS mengejar matahari terbenam!

Kami pun mengejar waktu masuk Phnom Bakheng yang akan ditutup pukul 17.30.  Beruntung sampai sana masih pukul 17.00, jadi kami bisa naik. Itu ya, sudah kaki lenyet-lenyet bergelombang karena lelah, eh jalan menuju Phnom Bakhengnya harus mengarungi bukit sebelum akhirnya naik tangga! Ya ampun, sungguh ini cobaan di bulan puasa. *padahal ke sananya pas nggak bulan puasa dan saya juga nggak puasa gitu* 😛

phnom-bakheng-siem-reap

Tangga naik ke sunset view point Phnom Bakheng. Ampun DJ!!

Kami sampai di altar atas dan spot-spot terbaik untuk melihat matahari terbenam sudah ditempati. Duduk di salah satu spot dan menghabiskan waktu mengobrol hingga akhirnya pukul 17.30, kami baru tersadar banyak orang yang bangun dan pergi. HAH? Sunsetnya sudahan?

Ternyata tidak, Saudara-saudara. Mereka beranjak pergi karena sudah terlihat hari itu berawan sehingga sunset tidak akan terlalu bagus. Teman jalan saya bertanya apa saya mau menunggu? Karena sudah kelelahan, saya akhirnya bilang, sudah pulang saja yuk. Hahahaha. Akhirnya kami pulang tanpa melihat momen matahari terbenam. 😦

phnom-bakheng-cambodia

Berawan di Phnom Bakheng.. 😦

Saya sempat sedih, kami melewatkan momen matahari terbit dan kami tidak mendapatkan momen bagus matahari terbenam. Sedih tapi nggak mau bilang. Ya mungkin kali ini belum beruntung; tandanya kami akan diberi rejeki untuk kembali lagi ke Siem Reap. Amin. *nyanyi let it go ~ let it go ~*

Tapi rupanya, Tuhan tidak membiarkan kami kembali dengan hati hampa. Saat kami akan kembali ke Kuala Lumpur, kami naik tuktuk dari hotel dan pihak hotel meminta kami untuk pergi bersama dua pejalan lainnya dari Tiongkok yang ingin ke Angkor Wat. Karena searah ya kami sih oke-oke saja. Walaupun kami tidak membeli Angkor Pass baru dan Angkor Pass kami sendiri sudah tidak berlaku, tapi kami diberikan ijin memasuki kompleks Angkor karena mengantar dua pejalan dari Tiongkok tadi.

Dan betapa bahagianya saya ketika melihat gurat merah muda, jingga, ungu, dan biru di langit. YA AMPUN, KAMI DAPAT MOMEN SUNSET YANG CANTIK SEKALI!

Kami ijin untuk berfoto sebentar pada supir tuktuk kami dan ia mengijinkan kami pergi selama dua menit. Kami pun lari dan melihat indahnya kuasa Tuhan itu. Walaupun nggak bisa masuk Angkor Wat dan hanya bisa melihat momen matahari terbit dari luar, tapi saya sudah bahagia sekali. Momen itu cantik! Tuhan itu baik! 🙂

sunrise-angkor-wat

Uwuwuwuwu..

Keliling candi Angkor di Siem Reap dalam satu hari itu melelahkan sekali. Rasanya pas bangun pagi itu semangat ala Tomb Raider, pulangnya, rasanya kayak Spongebob. Hihihi. Tapi bahagia dan senang bisa melihat peninggalan sejarah yang begini anggunnya.

Kadang kalau datang ke tempat sejarah begini, saya jadi suka membayangkan, seperti apa ya kehidupan di masa dahulu itu? Apa orang-orang di jaman dahulu berkeliling jalan kaki pakai jarik dan kemben? Apa kakinya nggak kapalan ya? Apa jaman dahulu ada salon? Apa mereka pakai make up? Apa mereka menarik garis mata dengan membentuk wing di ujungnya? Apa…..

Eh, ini kok jadi ke mana-mana pikirannya. Hihihi.

Senyum dulu ah.. 🙂


Kontak Choeun Bunthoeun (To), supir tuktuk yang mengantar saya keliling candi Angkor di Siem Reap dalam satu hari: +855 78 719 199 atau +855 69 817 385; Facebook: Choeun Bunthoeun. Katakan saja temannya Bee. Seperti biasa, menawar adalah diperbolehkan, tapi jangan sadis ya menawarnya. Sebagai perbandingan, kemarin saya keliling candi Angkor di Siem Reap dalam satu hari diberikan harga USD35, dan jalan dari bandara lalu ke War Museum lalu makan pagi lalu ke Angkor National Museum, dan diantar ke hotel diberikan harga USD15 (hari yang berbeda). Ini harga per Juni 2015 ya. 🙂 Saat jalan keliling bersama, jangan lupa ajak To makan dan bayari juga ya. 🙂

Advertisements