Enam Hari Hong Kong – Shenzhen – Macau

Saat BuJendral minta kami pergi ke luar negeri selama libur raya kemarin, saya sempat bingung mau ajak beliau ke mana. Ke mana ya yang tidak begitu jauh tapi kalau bisa, bukan negara Islami jadi rasa-rasa raya tidak terlalu terasa. Ke Thailand bisa sih tapi masa ke Thailand lagi? Kami sudah pernah ke Thailand. Ke Vietnam? Ummm, saya nggak begitu suka Ho Chi Minh City dan ingin sekali ke Hanoi, tapi mama sudah pernah ke Hanoi dan malah belum pernah ke Ho Chi Minh City. Aduh. Princess pusing.

Dizzy Sailormoon

Sempat lama tuh saya tidak beli tiket sampai akhirnya mama bilang, “Jangan dibuat pusing, Dek. Pokoknya jalan-jalan saja. Ke Thailand lagi juga nggak apa.”, dan saya masih berkeras, “TIDAK, ALFONSO!! Beri aku sedikit waktu untuk aku bisa memutuskan akan ke mana kita nanti!!” TSAH! *kemudian mama lempar microwave* :’)

Pikir punya pikir, akhirnya saya memutuskan untuk kami menempuh rute pertama saat saya berkenalan dengan dunia jalan-jalan ini. Rute Hong Kong, Shenzhen, Macau. Mama belum pernah ke tiga negara ini dan saya, walaupun sudah pernah, tidak keberatan untuk mengulang memori dan mengambil seperempat hati yang saya tinggalkan di Macau lima tahun lalu. Haseek..

Saya, lima tahun lalu, masih imut, polos, tanpa banyak dosa. Ihihihi.

Saya, lima tahun lalu, masih imut, polos, tanpa banyak dosa. Ihihihi.

Total kami pergi adalah selama enam hari Hong Kong – Shenzhen – Macau. Tapi total hari jalan-jalannya hanya sekitar 4 hari. Iya, perjalanannya saja sudah menghabiskan waktu 2 hari sendiri. 😦

Hari 1:

Perjalanan kami ke Hong Kong ditempuh via udara dengan Tiger Airways yang transit di Bandara Changi. Berangkat dari Jakarta pukul 11.05 dan sampai di Hong Kong pukul 21.05. Sepuluh jam? IYA SEPULUH JAM! Dipotong transit selama dua jam lebih di Changi sih, tapi ya tetap saja, menghabiskan waktu ya.

Sampai di Hong Kong, langsung naik taksi ke penginapan di daerah Tsim Sha Tsui. Sampai di penginapan kira-kira jam 22.30 dan Hong Kong tentu saja masih jaya! Masih kelap-kelip, masih hidup! Kami taruh koper, istirahat sebentar, lalu keluar untuk cari makan. Kami sempatkan ke Masjid Kowloon untuk cari tahu jadwal salat Eid esok hari; eh ternyata di Hong Kong, Eid-nya beda sehari dari di Indonesia, jadi bukan keesokan harinya melainkan lusanya. Hahaha. Akhirnya kami jalan-jalan saja di sekitar Tsim Sha Tsui dan beli makan di 7eleven karena tempat itu yang muncul di pikiran saya pertama kali untuk mencari masakan halal untuk mama. Hahaha. Kami panaskan makanan di 7eleven dan bawa pelan-pelan kembali ke penginapan untuk dimakan di kamar. Oat Rice with Braised Vegetable with Fermented Beancurd aman hingga ke perut untuk malam itu. Ditambah teh susu hangat. Sedap! Kami mengobrol kemudian istirahat.

masjid-kowloon-hong-kong

Emak di depan Masjid Kowloon.

Hari 2:

Jalan-jalan di Hong Kong dari rangkaian enam hari Hong Kong – Shenzhen – Macau dimulai. Kami makan pagi dulu di Cafe de Corals (naik eskalator dari luar sebelah Chung King Mansion) lalu jalan kaki ke pelabuhan untuk naik ferry menuju Central. Tiket ferry satu arah HKD2.5, terhitung murah. Hehehe. Sampai di Central Pier, kami jalan melintasi jembatan penyeberangan untuk langsung menuju Hong Kong Park. Mama dan saya suka sekali ke taman kota. Kadang-kadang bisa sampai berjam-jam di sana hanya mengobrol, cekikikan, dorong-dorongan, foto, cekikikan lagi, sampai capek dan lapar baru kami pergi. Hahaha. Masuk Hong Kong Park ini gratis tentunya. Karena masuk taman yang bayar itu hanya Taman Impian Jaya Ancol saja. Bihihik. Bercanda, ah!

hong-kong-park

Hijau..

hong-kong-park

Adem..

hong-kong-park

Neng, cendilian aja, Neng..

Dari Hong Kong Park, kami jalan kaki menuju Lower Tram Station untuk naik tram menuju The Peak. Ini jalan kakinya jangan dibayangkan yang jauh ya, nggak jauh sama sekali karena keluar Hong Kong Park, naik tangga, menyeberang jalan kecil, nah sudah sampai Lower Tram Stationnya. Hahaha.

Eh sekarang di The Peak disediakan audio guide lho! Jadi kalau kalian lihat ada headset tergantung di leher saya, itu bukan saya gaya-gayaan ya, itu headset audio guidenya The Peak. Hahaha. Ya kali buat gaya-gayaan lha headsetnya saja bukan Beat atau Bose gitu. :’) *eh, Bose punya headset?*

the-peak-hong-kong

Uwiyuwiyu..

reservoir-the-peak-hong-kong

Pemandangan dari The Peak tidak hanya gedung..

bubba-gump-the-peak-hong-kong

Pemandangan dari Bubba Gump The Peak, Hong Kong

Dari The Peak, kami kembali ke Central Pier naik bus no 15C. Jadi kalau kalian mau langsung ke Lower Tram Station dari Central Pier, bisa naik bus 15C ini. Tapi, yakin tidak mau ke Hong Kong Park dulu? Bagus lho. Hijau-hijau adem. Hehehe.

Sampai di Central Pier, kami kembali ke Kowloon (Tsim Sha Tsui tempat kami menginap adanya di Kowloon) dan keluar dari Central Pier, jalan kaki dulu menyusuri pinggir bayfront sampai ke Avenue of Stars. Selesai dari sana, pulang dulu ke penginapan sambil stop by di Sasa karena ada pesanan kosmetik dari anaknya teman mama yang akhirnya beli pesanan kosmetiknya hanya dua barang, sayanya belanja lebih enam barang. Hahaha. Nggak apa ya, yang penting hati senang dan bahagia. Kan itu inti dari jalan-jalan; untuk buat hati senang dan bahagia. Hihihi. Iyain saja sudah.

Laughing Britney

Dari Sasa, kami kembali ke penginapan untuk istirahat sebentar. Malamnya kami ke Ladies Night Market naik MTR (Stasiun Mong Kok) dan makan malam sekalian di sana. Makan masakan India yang ternyata … MAHAL!! Hih!! Halal namun mahal. 😦

ladies-night-market-honng-kong

Ramai kelap kelip

Hari 3:

Mama membangunkan saya pagi-pagi untuk menemani beliau ke masjid untuk salat Eid. Hampir semua yang datang ke Masjid Kowloon adalah para tenaga kerja Indonesia. Kowloon Hong Kong jadi terasa seperti tanah Jawa. Hehehe.

Selesai mama salat, kami kembali ke penginapan untuk beres-beres barang bawaan kemudian check out untuk bertolak ke Shenzhen tapi sebelumnya, makan dulu. Karena makan pagi adalah kunci! Hehehe.

Kami makan pagi di Chung King Mansion karena sudah pasti banyak masakan halal di sana dan sudah pasti banyak yang buka (hasil dengar-dengar obrolan mbak-mbak pekerja Indonesia di Masjid Kowloon tadi). 😀 Perut kenyang, hati senang, kami bersiap menuju Shenzhen.

breakfast-chungking-mansion

Makan pagi halal nggak pakai mahal di Chungking Mansion

Sampai di perbatasan Hong Kong – Shenzhen, kami mengajukan permohonan visa. Cara pengajuan visa Shenzhen bisa dibaca di >> masuk Shenzhen dari Hong Kong << ini.

Visa di tangan, cap bertengger di paspor, kami bergerak menuju … KFC. Hahaha. Lapar! Dari KFC, kami ke Stasiun Metro Luohu untuk naik kereta menuju Grand Theater, stasiun terdekat dari penginapan yang kami pilih. Nah keluar dari Stasiun Grand Theater ini saya mulai cranky. Sudah lah panas, capek angkat-angkat koper, semua orang yang saya temui TIDAK BISA BAHASA INGGRIS SAMA SEKALI!! Nggak bisanya bukan hanya karena tidak mengerti tapi mereka sampai pada taraf takut kalau ada orang yang mengajak bicara Bahasa Inggris karena mereka nggak bisa menjawabnya dan tidak mengerti maksud pertanyaannya. Lebih lanjut lagi, HAMPIR SEMUA nama gedung itu pakai tulisan Mandarin. Dan jangan sedih, orang di sana tidak tahu nama dengan Bahasa Inggris dari si gedung tersebut. Jadi ketika saya tanya, “MIXC Mall?” – saya eja Em, Ay, Ex, Si – mereka tetap tidak tahu apa maksud saya. MATANG NGGAK TUH! Huhuhu. Setelah berputar, jalan ke sana ke mari tak tentu arah sampai mau teriak kesal, akhirnya kami menemukan lah itu jalan menuju hotel. Jiwa emosi dan lelah campur aduk maka saya memutuskan untuk langsung mandi air adem saja. Hehehe. *Just for the record, resepsionis hotel yang bertugas saat kami datang juga TIDAK BISA Bahasa Inggris. Kami berbicara via aplikasi penerjemah di ponsel masnya. Hehehe.*

shenzhen-metro

Ini metronya Shenzhen tapi kalau tanya ‘metro’ ke orang lokal, mereka nggak tahu. Tanya ‘train’ juga gak tahu.Tahu deh tahunya apa. >.<

Malamnya, kami jalan kaki pelan-pelan untuk menemukan di mana sesungguhnya jalan masuk dan keluar Stasiun Grand Theater yang dekat dari hotel kami ini. Ternyata siangnya kami berputar karena kami salah mengambil Exit. Harusnya Exit E, kami keluar Exit D (saya baca di review seseorang tentang hotel ini, dia bilang ambil Exit D – jadi sungguh, jangan salahkan saya. *tebalikin meja*) . Hanya beda satu huruf sih ya itu Exit, tapi memutarnya jauh! 😦

Karena sudah sampai Stasiun Metro, sekalian lah malam itu kami menuju ke Dongmen Shoppers Paradise (Stasiun Laojie). Dongmen Shoppers Paradise ini seperti ITC. Kebanyakan barang yang dijual adalah baju tapi juga ada sepatu dan kosmetik abal-abal. Hihihi. Harganya menurut saya biasa saja. Tidak terlalu murah juga. Sepertinya, harga lebih murah di Dongmen Paradise Street, tapi kami kemarin tidak ke sana. Hehehe. Di Dongmen Shoppers Paradise ini banyak model yang lucu-lucu tapi mencarinya harus sabar karena kekurangan Dongmen Shoppers Paradise ini adalah: UDARANYA PANAS! Nah tahu sendiri kan princess ni macam apa kalau belanja di udara panas. Ya jadi tidak semangat lihat-lihat. Gerah soalnya! Hehehe. Saya nggak beli apa-apa, mama beli beberapa baju untuk beliau sendiri maupun untuk Key. Eh, come to think of it, baju anak-anaknya lucu-lucu lho. 😀

Dari panasnya Dongmen Shoppers Paradise, kami balik ke Dongmen Mall untuk makan malam. Berakhir di sebuah restoran Korea yang namanya saya lupa tapi makanannya enak (serta halal – penting nih bagi BuJendral) dan harganya masuk akal.

Hari 4:

Rencana awalnya adalah ke Window of The World (Stasiun Window of The World) lalu ke Shenzhen Expo Park (karena kami park addict) dan ke Splendid China and Chinese Folk Village. Cailah banget kan! Kenyataannya kami hanya bisa ke Window of The World saja. HUAHAHAHAHA. Window of The World ini ternyata besar, Saudara-saudara! Tidak bisa hanya dikelilingi selama dua tiga jam saja. Hahaha. *tepuk kening Josh Groban lalu cium pipinyah*

window-of-the-world-shenzhen

Panas, Jendral!!

window-of-the-world-shenzhen

Mmmm.. Nganu, Mas. Nggak boleh masuk apalagi sampai pegang lho.. >.<

window-of-the-world-shenzhen

Kapan lagi kan bisa ke taman ala Jepang sambil lihat Menara Eiffel sebagai latar. Hehehe.

Pulang dari Window of The World, kaki ini sudah hampir ingin dilepas lalu digantung terbalik biar pegal hilang. Haha. Kami pun langsung pulang untuk istirahat. Malamnya, kami menyeret kaki yang sudah lelah untuk makan di Pizza Hut di The MIXC Mall demi mengasup diri dengan salad. Hehehe.

Hari 5:

Pagi-pagi kami sudah check out dan naik metro ke Shekou Port untuk berpindah ke Macau. Kami bisa dapat tiket menyeberang pukul 11.30 dan pukul 12.30 kami sudah sampai di Macau. AHEY! Seperempat hati yang kutinggal, aku akan mengambilmu kembali! Capek juga kan hidup lima tahun hanya dengan tiga perempat hati. :’)

street-side-macau

Foto ini menunjukkan Macau banget! Motif trotoarnya maksudnya. 😀

Sampai di Macau, kami langsung naik taksi menuju penginapan yang sudah saya pesan sebelumnya via Travelio. Waktu masih menunjukkan pukul 13.20 tapi kami diperbolehkan masuk! Yay!

Menaruh koper, istirahat sebentar, kami pun langsung ke luar karena saya sudah nggak sabar mau ajak mama ke The Venetian. Kami naik bus ke The Venetian; ini kali pertama saya naik bus di Macau. Hahaha. Busnya kecil, kayak bus khusus karyawan gitu. Dan supirnya menyetir tanpa rem saat berbelok, swing swing kanan kiri diayun. Lumayan, wahana Dufan gratisan. Hehehe.

the-venetian-macau

Ummm.. Setelah dari sini, ajak mama ke mana lagi ya?

gondola-ride-the-venetian-macau

Gliyar gliyer gliyar gliyer

Sampai di The Venetian kami jalan-jalan, makan, naik gondola. Mama kelihatan senang sekali. Ya senyumnya tidak semerekah waktu kami naik cruise sih, tapi cukup merekah membuat bahagia saya yang melihatnya. Hehehe. Selesai dari The Venetian sudah malam, kami pun pulang dan istirahat karena besok pagi sudah harus kembali ke Jakarta.

Hari 6:

Penerbangan pagi kembali ke Jakarta dengan segudang cerita dan hati yang sudah penuh. Hehehe. Kata mama, waktu di Macau-nya kurang. Iya sih, kami bahkan tidak sempat ke Senado Square. Ya mari berdoa saja ya Ma, semoga ada kesempatan lagi kembali ke Macau dan menghabiskan waktu lebih lama di sana. Amin.

Penerbangan kami kembali via AirAsia dengan transit di Kuala Lumpur. Puji Tuhan sampai dengan selamat di Jakarta walaupun pakai delay dan drama jam tertingga di scanner kedua. Hihihi.

Demikian enam hari Hong Kong – Shenzhen – Macau kami, semoga bisa membantu untuk yang mau ke tiga negara itu atau yang akan jalan-jalan bersama mama. Tidak apa berkunjung ke tempat wisatanya hanya sedikit, yang penting tidak terlalu capek. Kasihan mama kalau sampai terlalu lelah. Hehehe.

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements