Mimpi Indonesia: Desa Adat Wae Rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur

Kalau diberikan satu kesempatan untuk bisa ke satu tempat diΒ mana saja di Indonesia, kalian akan pilih ke mana?

Mungkin banyak yang akan menjawab Raja Ampat atau Pantai Ora di Pulau Seram, Maluku – yang masuk dalam 14 Places I Would Want to Share with My Loved One dan dengan seijin Tuhan akan saya kunjungi Oktober nanti, IHIR!, tapi saya, sejak beberapa tahun lalu justru tergugah ingin sekali mengunjungi Desa Adat Wae Rebo di Flores, Nusa Tenggara Timur.

wae-rebo

Foto diambil dari sini. Terima kasih, Mas Erwin!

Saya ingat pertama kali tahu tentang Desa Adat Wae Rebo dari sebuah artikel di Koran Kompas yang ditunjukkan oleh mama. Dengan foto yang sungguh sangat menggugah kalbu; memperlihatkan tujuh rumah berbentuk kerucut berdiri kokoh di atas sebidang tanah berumput yang hijau, gunung tinggi menjulang melingkupi dan melindungi terlihat di belakang, kabut pagi turun dari sisi gunung dan sinar matahari membias jatuh di atas tujuh rumah tadi. Foto itu magis bagi saya. Terlihat fana namun nyata adanya. Saya terjerat cinta.

Jadi, kalau sudah cinta, kenapa tidak ke sana, Lan?

Itu dia.

Coba jawab kenapa? Hihihi.

Dengan sibuknya pekerjaan saya dan tingginya aktivitas saya ke sana ke mari (maklum, artis ibukota ya kan!) saya jadi harus meminggirkan Desa Adat Wae Rebo dulu dari pikiran dan prioritas saya. Tapi walaupun berada di pinggiran, bayangan Desa Adat Wae Rebo ini tetap tersimpan dalam hati. Hingga kini. Jadi mimpi Indonesia saya. DAN SAYA YAKIN AKAN SAYA RAIH MIMPI INI!! AKAN!! SUATU SAAT NANTI!! DUKUNG SAYA, PEMIRSA! KETIK Bulan (spasi) Wae Rebo dan kirim ke Tuhan yang Maha Esa. Dukungan Anda sangatlah berarti! Anda sopan, kami segan.

Ya begitulah kira-kira. Paham kan maksudnya? (0_0)

yosef-katup-wae-rebo

Foto diambil dari sini. Terima kasih, Mas Yuniadhi!πŸ˜€

Sedikit cerita tentang Desa Adat Wae Rebo:

Desa Adat Wae Rebo yang tepatnya berada di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur ini adalah sebuah desa kecil yang terdiri dari hanya tujuh rumah saja. Enam dari tujuh rumah ini disebut Mbaru Niang, dan satu yang terbesar disebut Mbaru Gendang. Tinggi Mbaru Niang mencapai 15 meter dan atapnya yang terbuat dari daun lontar membentuk kerucut dengan kemiringan tajam dari atas hingga hampir menyentuh tanah. Di dalam sebuah Mbaru Niang, ada lima lantai. Setiap lantai berbeda nama dan fungsinya. Lantai pertama disebut lutur yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan berkumpul. Lantai kedua yang berupa loteng disebut lobo, berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang kebutuhan sehari-hari. Lantai ketiga disebut lentar yang berfungsi sebagai tempat menyimpan benih tanaman. Lantai empat disebut lempa rae yang memuat stok pangan (seperti gudang begitu ya) dan lantai kelima yang tertinggi disebut hekang kode yang menjadi tempat menaruh sesajian untuk leluhur.

Saya hapal semuanya?

Tidak, itu info saya dapat dari Wikipedia. Hihihi. Ya kan saya belum ke sana, mana saya tahu coba kalau nggak dari Wikipedia. TUNG!

mbaru-niang-wae-rebo

Foto diambil dari sini. Terima kasih, Blog Rumah Adat!πŸ˜‰

Tadinya, saya pikir satu Mbaru Niang itu dihuni oleh satu keluarga saja; ternyata dari yang saya baca, satu Mbaru Niang bisa dihuni lima keluarga! Bayangkan, Saudara-saudara, lima keluarga tinggal dalam satu rumah yang sama! Hebat ya, saya tinggal sama keluarga mantan suami saya lengkap dengan ayahnya dan adik-adiknya dalam satu rumah saja sudah tidak betah. Bihihik. *salamΒ damai, salim, bukan curhat*

Lalu bagaimana akses menuju Desa Adat Wae Rebo ini?

Dari artikel yang ditulis dengan sangat apik di sini, saya belajar cara menuju Desa Adat Wae Rebo adalah melalui Desa Denge atau Desa Dintor – dua desa yang paling dekat dengan Desa Adat Wae Rebo. Kalau dari Jakarta (seperti saya), naik pesawat dulu ke Bali untuk kemudian melanjutkan dengan pesawat menuju Ruteng. Tapi cara ini mungkin agak kurang bisa diandalkan karena penerbangan Bali menuju Ruteng hanya ada beberapa kali dalam seminggu. Rute yang lebih sering digunakan adalah rute Labuan Bajo. Dari Jakarta, terbang dulu ke Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo, dilanjutkan dengan bus atau mobil travel menuju Ruteng. Sudah sampai Ruteng, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Denge atau Dintor dengan bemo atau oto kayu. Sudah sampai Desa Denge atau Dintor lalu sudah, Lan?

YA BELUM!! Tempat magis yang indah itu memang butuh perjuangan untuk mencapainya! Seperti cinta! (Ya elah kenapa balik ke cinta coba? -____-)

oto-kayu-flores

Foto diambil dari sini. Terima kasih Mas Chris Djoka:)

Dari Desa Denge atau Dintor, perjalanan dilanjutkan dengan trekking mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudra dan hutan selama lebih kurang 3 – 4 jam. Jangan lupa ditambahkan 1,5 kali kalau jalannya sama saya. Hehehe.

Setelah trekking tersebut, akan sampai lah kita di Desa Adat Wae Rebo ini. Ih, membayangkan saya melihat Desa Adat Wae Rebo di kejauhan saja sudah membuat saya merinding sekarang. Bagaimana kalau terwujud ya? Mungkin saya akan langsung menari dinding pak dinding eeeeey dinding pak dinding sambil ngibing. *tolong jangan discreenshot dan ditagih*

Dari beberapa artikel yang saya baca, warga Desa Adat Wae Rebo ini terkenal sangat ramah. Mereka pun menjamu tamu dengan baik dan sopan. Yang membuat saya senang, warga Desa Adat Wae Rebo ini dikatakan tidak hanya berpangku tangan dan bersenang-senang dengan uang hasil pariwisata dari tamu yang datang. Mereka masih bekerja di ladang dan menenun. Kehidupan berjalan sewajarnya, ada atau tidak ada tamu. Selain ramah, warga Desa Adat Wae Rebo juga masih menjaga tradisi luhur mereka. Ini yang hebat, sudah terpapar pariwisata tapi masih kukuhΒ menjaga keaslian diri. Mungkin desa adat lainnya perlu belajar dari Desa Adat Wae Rebo ini. Hehehe.

Setiap kali saya baca artikel tentang Desa Adat Wae Rebo, setiap kali pula mimpi saya untuk mengunjungi desa adat ini bertambahΒ menggila. Bagi saya, Desa Adat Wae Rebo punya daya magis yang menarik saya untuk berkunjung. Bukan hanya dengan pesona alamnya, tapi juga dengan kesederhanaan penduduknya. Menghabiskan seminggu di sana untuk bermain bersama anak-anak Desa Adat Wae Rebo; menggambar, berlarian, berloncatan, pasti sangat menyenangkan. Ikut serta di kegiatan sehari-hari saat mereka berladang atau belajar menenun pasti akan jadi pengalaman tak terlupakan.

Suatu saat, Wae Rebo. Suatu saat saya akan sampai di sana. Kini, biar bayangan tentangmu bertengger manis sebagai mimpi Indonesia saya. *kurangi beli lipstik lah Lan biar bisa nabung untuk ke Wae Rebo* :’)

Senyum dulu ah..:)


Post ini adalah bagian dari posbar (post bareng) teman-teman Travel Bloggers Indonesia dalam rangka Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.

Baca Mimpi Indonesia lainnya dari tautan berikut ini:

  1. Indri >> Anambas, Mimpi Indonesiaku
  2. Firsta >> A Story from Banda Neira
  3. Sinyo >> Banda Neira, Ku Akan Datang
  4. Danan >> Mimpi tentang Anambas
  5. Leo >> Di Timur Menyongsong Dirgahayu
  6. Dea >> Tanah Papua Kamulah My Dream Indonesia
  7. Richo >> Ingin ke Misool Segera
  8. Olive >> Ge Mu Fa Mi Re untuk Negeriku
  9. Vika >> Tidak Mau Mati, Sebelum…
  10. Ridwan >> Tobelo Destined To Be Loved
  11. Ghana >> Jelajah Laut Negeri Menjaga Titik Luar Indonesia
  12. Citra >> Aceh: Destinasi Impian Orang-orang
  13. Putri >> Kepulauan Anambas, Surga Tropis di Ujung Negeri
  14. Tracy >> In Papua Where I Meet This Inspiring Lady
  15. Edy >> Berbagi Ilmu dan Menimba Kearifan Lokal di Wae Rebo
  16. Imama >> Kapan ke Kakaban?
  17. Adlien >> Merawat Pagar Nusantara di Perbatasan
  18. Indah >> Indonesia (Juga Bisa) Bikin Rindu
  19. Titiw >> Pancaran Nasionalisme dalam Taman Nasional Indonesia
  20. Arie >> Banda Aceh, Impian dalam Mimpi
  21. Wira >> 5 Destinasi Impian di Indonesia yangΒ Harus Kamu Kunjungi
  22. Nugi >> Lima Destinasi Impian Indonesia Versi TheTraveleran
  23. Liza >> Berkisah tentang Sabang di Hari Kemerdekaan
  24. Shabrina >> The Need to Give Back for Indonesia
  25. Eka >> Pantai Impian
  26. Fahmi >> Destinasi Impian Nusantara
  27. Parahita >> Kembali ke Pulau Lombok
  28. Rudi >> Jelajahi Indonesia, Akankah Ku Lakukan?
  29. Karnadi >> Kaldera Toba for UNESCO
  30. Astin >> Inginku Boven Digul: Belajar dari Bung Hatta