Nostalgia Kereta Uap Ambarawa

NGUIIIIIINGGGGG!!!!

Suara nyaring yang memekakkan telinga membuat saya menoleh cepat ke belakang.

Bukan, itu bukan suara babi kecil yang menangis sedih saat dipisahkan dengan ibunya untuk kemudian dipanggang (kemudian membayangkan dan jadi sedih setiap akan makan babi panggang ya); itu adalah suara panjang peluit kereta uap yang akan segera berangkat.

Saya berlari, ingin cepat melihat dari dekat. Bersiap untuk bernostalgia kereta uap Ambarawa.

kereta-lokomotif-uap

GAGAH BANGET YA LOKOMOTIF INI!

Depo Lokomotif Ambarawa atau yang lebih dikenal dengan nama Museum Kereta Ambarawa ini berada di …. YA AMBARAWA LAH! Bagaimana sih kalian ini, masa di Brosot? *eh ini apa sih kok bloggernya marah-marah?* *btw, itu benar ada daerah namanya ‘Brosot’ lho. Cari deh di G-Maps* Museum ini bisa dicapai lebih kurang satu jam berkendara dari Stasiun Tawang Semarang. Sepintas, Museum Kereta Ambarawa terlihat sebagai depo saja, seperti parkiran kereta. Banyak sekali lokomotif-lokomotif tua yang diparkir di sini. Tapi kalau kita masuk ke dalam, ternyata kita bisa nostalgia menumpang kereta yang ditarik lokomotif uap yang dijalankan di jam-jam tertentu! GRATIS?

Ya tidak lah! Bayar. Sepadan kok dengan pengalamannya. Buang air kecil di toilet umum saja bayar ya kan, masa nostalgia naik kereta uap di Ambarawa tidak mau bayar. Sayang lho nanti gajinya nggak habis-habis kalau disimpan terus. πŸ˜€

Saya termasuk beruntung bisa naik kereta uap di Ambarawa ini secara gratis. Di satu sisi, saya ingin membanggakan tagar #lifeasablogger saya, tapi di sisi lain, mungkin PT KAI dan Altour Travel Indonesia sebagai penyelenggara acara Traveling by Train yang saya ikuti kali ini sudah tahu kalau saya pengangguran. Tidak ada gaji yang bisa saya habiskan, maka digratiskan. Hihihi. Tuhan Maha Baik ya. Haleluya!

bagian-dalam-kereta-uap-ambarawa

Dalam episode: Fahmi, fotoin aku! Jongkok ya kamu, jongkok! Biar aku kelihatan tinggi! *ribet*

NGUIIIIIINGGGGG!!!!

Suara peluit kereta uap yang memekakkan telinga itu terdengar lagi, saya mempercepat langkah untuk memotret Fahmi menaiki kereta yang sudah akan berjalan sebentar lagi. Dua gerbong dijalankan siang itu, dikepalai lokomotif bernomor B5112 buatan tahun 1902 dengan warna hitam pekat. Tahukah kalian, ternyata kode huruf dalam nama lokomotif itu memberi tanda berapa roda (besar) penggerak yang ada di lokomotif tersebut. Kode B untuk dua roda penggerak, kode C untuk tiga roda penggerak, kode D untuk empat roda penggerak. Kalau A berarti satu roda, Lan?

Enggak, kalau A berarti cup-nya kecil.

Eh sebentar, ini roda penggerak kereta apa bra sih?

TOWEW!

Mickey Bra

Saya naik di gerbong depan namun di kursi paling belakang. Peluit uap sekali lagi dibunyikan dan kereta pun berguncang perlahan untuk kemudian berjalan. Saya senyum-senyum bahagia. Terbayang kalau saya pakai gaun besar ala noni Belanda sambil membawa parasol putih dengan renda di pinggirnya, pasti banyak yang bilang saya cantik gila. Muka pribumi kok bergaya ala londo. Hihihi.

Siang itu kereta uap membawa kami menuju Stasiun Tuntang di perbatasan Salatiga – Semarang. Kereta berjalan pelan dengan kecepatan 10km per jam dan total perjalanan hanya memakan waktu satu jam bolak-balik. Ibu Tri yang duduk di samping saya berkelakar, “Ini kalau ada orang jalan kaki di sampingnya, lebih cepat orang jalan kaki dibanding keretanya, Mbak.” Saya tertawa. Benar juga sih! Hihihi. Sesungguhnya, menurut artikel >> Kak Bulan anak siapa sih kok manis banget << ini, lokomotif B5112 bisa menarik kereta hingga kecepatan 75km per jam. Jadi kemarin dilarikan dengan kecepatan 10km per jam memang sengaja dilambatkan saja, biar cukup waktu untuk kami – anak-anak muda ibukota yang haus akan pemandangan hijau rawa dan sawah – menikmati semilir angin yang membelai rambut dengan lembut. Tsah! *bersandar ke bahu pak masinis dengan khusuk*

roda-penggerak-lokomotif

Cup C.. EH?!

Selesai dari nostalgia kereta uap, saya bersama rombongan mulai berkeliling Museum Kereta Ambarawa dan melihat-lihat banyak lokomotif tua. Menarik lho, ada satu lokomotif yang terbuat dari kayu tua, berwarna hijau, ada terasnya, dan melihatnya membuat saya terlempar kembali ke jaman koboy! Nostalgia tak ada habisnya. Lebih kerennya lagi, semua lokomotif yang ada di Museum Kereta Ambarawa ini terjaga sekali kebersihannya. Tidak saya lihat karat yang membuat saya memekik, “Ewww..” dan tidak ada kecoa yang membuat saya lari tunggang langgang ke pelukan bapak masinis tadi. Lingkungan museum pun terjaga bersih. Sesungguhnya, museum ini bisa jadi pilhan tepat untuk lokasi foto pre-wedding lho. Unik, bersih, aura nostalgianya terjaga, dan tempatnya cukup luas untuk fotografer bergerak mencari angle. Dedikasi bapak-bapak penjaga museum serta mekanik-mekanik di sini sungguh sangat luar biasa. Four thumbs up!!Β *tambah jempol bapak masinis tadi*

Hanya beberapa jam nostalgia kereta uap Ambarawa, saya sudah sangat berbahagia. Walaupun terselip sedikit lara, membayangkan akan betapa menyenangkannya kalau bisa nostalgia kereta uap Ambarawa dengan eyang kakung dari mama dan eyang putri dari papa yang keduanya sudah tiada. MerekaΒ pasti senang sekali. πŸ™‚

*air mata please jangan keluar*

Hehehe. Drama.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

dalam-kereta-uap-ambarawa

Semacam ingin bernyanyi Jogja-nya KLA Project. Tapi ini di Ambarawa. Piye?

Baca cerita Team Hore Traveling by Train (tagar Instagram dan Twitter #travelingbytrain)Β lainnya di bawah ini:

  1. Fahmi Anhar >> Jelajah Museum Kereta Api Ambarawa
  2. Lenny Lim >> Kereta Wisata Indonesia
  3. Putri Normalita >> Pengalaman Naik Kereta Wisata
  4. Atrasina Adlina >> Menapak Sejarah Kereta
  5. Taufan Gio >> Bandung – Semarang with Priority
  6. Citra Rahman >> Jalan-jalan Seru di Semarang
  7. Albert Ghana >> Berwisata dengan Kereta Wisata Priority
  8. Arif Abdurahman >> Nikmatnya Bermalam di Kereta Api Wisata Priority
Advertisements