Tangis Perempuan di Luar Kamar

Adalah salah bagi saya untuk ikut serta dalam Posbar Travel Bloggers Indonesia kali ini. Temanya horor mistis. Suatu tema yang saya hindari dari dulu. Jangankan ingin mengalami, mengingat (yang sudah pernah kejadian) saja kalau bisa tidak usah. Terhitung hanya dua kali saya berani menulis pengalaman horor mistis yang saya alami. Yang pertama tentang ketukan di Aceh (jangan dibaca kalau kalian penakut atau lagi sendirian ya, bacalah saat lagi berpacaran), yang kedua tentang kemping menakutkan di Pulau M (tidak semenakutkan yang di Aceh tapi lumayan kalau mau buku kuduk merinding saja sih bisa lah). Tapi kali ini, dengan seluruh kekuatan daya ingat, saya harus mengulang memori yang mungkin bisa menjadi cerita post tema horor mistis kali ini. Maka saya mengingat sesuatu. Tentang sebuah suara. Tangis perempuan di luar kamar.

Saya selalu tinggal di kamar yang tinggi. Di rumah saya dulu di Bekasi, saya tinggal di lantai dua. Di apartemen kali ini, Ubernest ada di lantai 10. Kenapa sukanya tinggal di tempat yang tinggi, Lan? Nganu.. Biar dekat dengan Tuhan.

Cailah.

Apa hubungannya coba?

scary walk


Tinggal di tempat tinggi dengan jendela menghadap ke luar itu sepertinya menyenangkan ya. Tapi ternyata tidak juga. Khususnya kalau di beberapa malam, kamu bisa mendengar isak tangis perempuan di luar kamar. Hiks. Kenapa juga mbaknya suka sekali nongkrong di luar kamar. Padahal free wifi pun tidak saya sediakan. 😦

Kejadian ini bermula saat saya SMP (kayaknya). Setiap malam, saya selalu menyetel radio hingga radionya mati sendiri saat program habis. Kemudian radio akan menyala sendiri di waktu subuh saat program dimulai. Suara radio di kala subuh itulah yang membangunkan saya setiap harinya untuk pergi sekolah. Jadi pada masa dahulu, saya pernah rajin bangun saat subuh lho. Luar biasa kan! *memandang lucu alarm ponsel sekarang yang saya atur untuk berbunyi pukul 07.00*

Di beberapa malam saat radio masih menyala dan saya masih sadar, suara radio itu sering naik turun. Volumenya mengecil dan membesar dengan sendiri. Saya kira, itu hanya radio saya saja yang rusak. Maka seringnya saya bangun dan membenarkan level volumenya. Yang mana berhasil, untuk beberapa saat.

Kemudian suaranya naik turun lagi, dan saya sudah mulai malas bangun dari tidur. Jadi saya diamkan saja atau saya tinggal tidur. Kalau lagi kesal, ya saya bangun kemudian saya matikan saja. Ini terjadi beberapa kali.

Suatu malam, saya sudah siap mau tidur dan sedang mendengarkan lagu dar radio sebagai pengantar tidur ketika kemudian suara radio itu naik turun lagi. Saya terdiam, kemudian malas-malasan bangun untuk membenarkan volumenya. Volume sudah benar, saya berbaring lagi. Dan tepat ketika saya berbaring, suaranya naik turun lagi. Saya tertawa. Ini lucu; pikir saya.

Saya pun bangun dan membetulkannya sekali lagi kemudian beranjak kembali ke tempat tidur untuk kembali berbarinng. Kali ini, belum pun saya sampai ke tempat tidur, suara radio itu sudah naik turun lagi. Saya ingat karena saya kesal, saya hanya mendengus, ‘Haduuuuuh..’ kemudian lanjut berbaring dan tidur.

Keesokan malamnya, kejadian yang sama terulang lagi. Kali pertama, saya masih tertawa. Kali kedua, saya mulai kesal tapi masih berdiri untuk membenarkan. Kali ketiga, saya kesal karena harus bangun – tidur – bangun – tidur; akhirnya saya berkata, ‘Sudah ya, jangan naik turun lagi ya.’  ke radio saya setelah saya membetulkan tombol volumenya. Eh ajaib, setelah saya berkata seperti itu, suara radionya seimbang lancar jaya hingga esok hari. YEAH!

Mengingat hari kemarin berhasil dengan omongan, saya yang masih polos lucu dan bodoh pun akhirnya langsung menggunakan teknik bicara itu di keesokan harinya. Sambil berbaring siap tidur, saya berkata, “Sudah ya, jangan iseng ya, sudah bagus tadi suaranya. Jangan naik turun lagi.’

BERHASIL!

Saya pun tidur.

Tanpa sadar saya mungkin bodoh sudah ‘mengetuk’ masuk pintu dunia lain untuk saya berkomunikasi. 😦

*Eh barusan pas saya mengetik cerita ini, tiba-tiba cable roll saya jatuh, padahal posisinya didudukkan dengan sempurna di atas container besar dan selama ini tidak pernah jatuh. Kenapa ya? Mungkin hanya kebetulan semata ya.*

*tapi tetiba deg-degan*

*ini cerita dilanjutkan nggak ya?*

Sleeping horror


Di suatu hari beberapa minggu setelah kejadian pertama terjadi, malam itu badan saya agak panas. Saya pun berencana tidur cepat. Radio sudah saya nyalakan dan sedang memutar program tertentu. Saya bersiap tidur. Tiba-tiba suaranya naik turun lagi. Saya yang lagi kurang enak badan, tanpa pikir panjang, langsung berujar kesal, ‘Berisik banget sih! Aaargh!!’ kemudian alih-alih membenarkan suara radionya, saya matikan saja langsung. Dan saya tidur.

Sekitar jam 10 malam, saya terbangun mendengar suara yang rasanya begitu dekat dengan kepala. Suara perempuan menangis.

Di luar kamar saya.

Sebentar, kamar saya ini di lantai atas dan di pojok. Rumah tetangga saya yang bersebelahan tidak bertingkat, sehingga pasti bukan suara dari rumah tetangga saya. Saya terdiam. Tapi mata saya terbuka. Ingin lari tapi kaki saya bahkan tidak mampu digerakkan.

Suara tangisan itu makin terdengar nyata. Saya diam. Tapi ingin lari sebenarnya.

Posisi kepala saya langsung di pinggir jendela tapi saya tidak berani membuka tirai untuk melihat ada apa di sebaliknya. Saya diam. Terpaku. Tidak lama kemudian sepertinya saya tertidur. Karena saya nggak ingat apa-apa lagi. Esoknya saya bangun seperti mengawang, berpikir keras, yang semalam itu mimpi atau benar terjadi ya? Hihihi.

Beberapa minggu setelahnya, sekitar pukul 11 malam, saya yang masih asyik belajar tiba-tiba mendengar suara tangis perempuan di luar kamar saya lagi. Kali ini jelas sekali dan saya coba menggerakkan kaki saya perlahan, bisa. Bodohnya (lagi), sudah bisa menggerakkan kaki kenapa tidak lari? Alih-alih saya beranjak dari duduk dan menuju ke jendela. Tangan saya menyibak tirai perlahan. Tirai terbuka sepertiga, saya melihat ke luar. Tidak ada apa-apa. Tapi suara tangisan itu ada.

Saya duduk. Jantung saya berdetak sangat kencang. Paduan antara ketakutan dan penasaran.

Mirror Horror

Akhirnya saya berkata, ‘Sudah ya, jangan ganggu lagi ya. Jangan ganggu lagi ya.’ dan di luar bayangan, saya mulai mengucap ayat kursi yang entah bagaimana tiba-tiba saya hapal. Padahal sesungguhnya saya hanya hapal setengahnya saja. Selesai saya menggumam ayat kursi, suaranya tidak terdengar lagi. Saya pun berbaring, namun dengan posisi dibalik. Kepala saya tidak lagi dekat dengan jendela, melainkan kaki saya. Dan suara itu terdengar lagi.

AH ELAH!

Saya bicara lagi, ‘Sudah ya..’

Dan tangisan itu diam.

Saya mencoba tidur lagi dan sepertinya pulas karena saya tidak ingat lagi bagaimana akhirnya tangis perempuan di luar kamar itu berakhir.

Kenapa sekarang saya ingat lagi?

Karena saya baru ingat, ketika saya menginap di sebuah hostel di luar negeri beberapa saat lalu, saya mendengar tangisan yang sama. Kali ini lengkap dengan ketukan di jendela kamar.

Saya terdiam sambil berpikir.

Ummm.. Kamar ini kan di lantai 3 dan tidak ada balkonnya.

Ummm.. Itu siapa ya?

Hehehehe.


PS: Sejak kejadian ini, saya tidak pernah lagi pasang radio hingga pagi menjelang. Pas saya mau tidur, radio selalu saya matikan. Mungkin tangisan itu dikirim oleh PLN ya. Supaya saya sadar untuk hemat listrik.

Ya anggap saja begitu.

Hehehe.

Senyum dulu ah.. 🙂

Nih biar nggak takut-takut amat. 😀

Shoes such a turn off


Post ini masuk dalam posbar (post barengan) Komunitas Travel Bloggers Indonesia. Kenapa tidak di Oktober saat Halloween diterbitkannya? Adalah karena kami anakanya advance sekali dan tidak ingin didahului, maka sebulan sebelumnya pun tak apa ya. Biar jadi garda depan begitu. Hihihi.

Baca kisah horor lainnya dari teman-teman Travel Bloggers Indonesia di bawah ini:

  1. Adlien >> Sosok di Ujung Pulau Kodingareng Lompo
  2. Astin >>
  3. Danan >> Pertanda dan Arwah
  4. Edy >> Sisa Tragedi G30SPKI di Coban Talun 
  5. Gio >> Jangan Dibaca Sebelum Tidur
  6. Olive >> Tentang Mereka
  7. Parahita >> Kamu Takut Setan Nggak? 
  8. Reynaldi >> Terjebak Horor di Rinjani
  9. Titiw >> Kisah Mistis di Balik Jeruji Pondok Baduy
  10. Vika >> Ketemu Hantu
Advertisements