London, Kau Mengagetkan (Mama)!

Sebagai anak jurusan Sastra Inggris, mengunjungi London (atau Inggris) adalah impian. Sama seperti impian anak Sastra Mandarin mengunjungi Beijing (kata Nisa) atau anak Sastra Belanda mengunjungi Amsterdam. Atau anak Sastra Indonesia mengunjungi Jakarta (eh bagaimana?).

Di kampus tempat saya menimba ilmu dulu, jurusan Sastra Inggris adalah yang paling minim memberikan beasiswa atau kesempatan bagi mahasiswanya untuk berkunjung ke negeri tempat aksen melungker terdengar seksi itu. Anak Sastra Jerman sudah pada ke Jerman, anak Sastra Belanda sudah pada ke Belanda; anak Sastra Inggris?

Masih saja bergumul di Kantin Sastra.

Ya nasib.

Maka ketika Qatar Airways khilaf memberikan diskon 40% untuk penerbangan ke Eropa, tujuan saya hanya satu: LONDON!

newspaper-shop-london

Berbekal kemampuan Bahasa Inggris di atas rata-rata dan kesabaran yang hanya datang saat memesan tiket perjalanan, saya pun berhasil mendapatkan tiket berangkat Kuala Lumpur – London dan pulangnya Paris – Jakarta. Harga tiketnya nggak usah lah saya beberkan di sini, nanti kalian JLEB sedih mengetahuinya.

[5.8 juta rupiah. PP.]

Maka berangkat lah saya dan BuJendral, mama saya, ke London. Kami menumpang Malindo Air dulu ke Kuala Lumpur dan menginap EMPAT JAM di sebuah hotel yang harga per malamnya bisa untuk saya beli sepuluh NYX Soft Matte Lip Cream. *cry*

Kan banyak hotel murah di dekat KLIA, Lan!

Iya, tapi kan saya perginya sama BuJendral!

*kemudian hening*

*lama sekali*

*dan semuanya jelas sudah*


Kami mendarat di Heathrow sekitar pukul 17.55; memasuki bandara, saya langsung terpukau!

Eh kenapa ini bandara kok jelek agak buruk rupa?

Hihihi.

london-underground-heathrow

Minus satu banget nih Bro, lantainya?

No offense, tapi benar bandaranya di luar bayangan saya. Kirain akan megah atau kayak istana, ternyata tidak. Saya transit di Hamad International Airport – Doha sebelumnya dan dua minggu sebelum keberangkatan ke London, saya dan BuJendral baru menyelesaikan perjalanan ke Jepang; kami sempat ke Kansai International Airport (yang sebenarnya biasa saja) dan Haneda International Airport (yang cukup oke); jadi ya, Heathrow terasa sangat ‘sederhana’ dibanding yang lainnya. Maafkan kejujuran saya. *salam damai* *ini bulan puasa*

Keluar bandara menuju stasiun tube, wangi bir menyeruak. Hati saya kebat-kebit, takut BuJendral menciumnya juga dan merasa kurang nyaman, oh tapi tidak, BuJendral tidak mencium bau bir itu! YAY! Beliau hanya mengatakan,

“Bau pesing ya, Dek.”

OKE SIP BAU PESING!

Hihihihi.

Tube yang kami naiki pun kecil dan sempit. Bagi saya, itu wajar, namanya juga tube kan, bukan velodrome Rawamangun, wajar sempit. Tapi mama sudah mulai mengirimkan indikasi kurang nyamannya. “Kecil ya Dek. Kotor ya Dek. Nganu ya Dek.”

Nganu tu apaaa?

*menjura memegang tiang di tengah tube*

heathrow-terminal-4-london

Ini saya naikan ya brightness-nya. Kalau nggak, beuh! Gelap remang-remang.

Di tengah perjalanan, beberapa anak muda masuk dan berjalan dengan sedikit terhuyung hingga menabrak koper seorang perempuan yang duduk di pojokan. Saya nunduk, sambil memegang kening yang tidak terasa pening, euleuh ieu jelema mabok pas beurang caang ngabelentrang!

PS: Jam 17.55 di musim semi masih sangat terang di Inggris sana. Bahkan matahari masih diskon besar-besaran!

“Itu kenapa, Dek?” – pertanyaan mama makin membuat saya kencang memegang kening.

“Mabuk.” – saya menjawab pelan dan kalem, mencoba santai, sambil pura-pura mengantuk, menghindari kontak mata dengan mata mama yang sedikit terbelalak. Lalala.

Di Stasiun South Kensington, saat kami menaiki eskalator, terdengar keriuhan di eskalator turun di seberang. Tiga pemuda menggebrak pinggir eskalator sambil meneriakkan yel-yel dengan suara keras dan berat. Saya tersenyum ke mama sambil berujar, “Mau ada pertandingan bola.”; yang dibalas mama dengan tatapan kenapa-sih-mesti-teriak-teriak-gitu-kok-nggak-sopan?

Dalem, Ndoro..

*kemudian jalan jongkok*

taxi-in-london

Orang London itu juga emosian. Pas saya dan mama lagi asyik duduk santai di stasiun, tiba-tiba ada lelaki berusia sekitar 40 tahunan yang marah-marah, berteriak, sampai menendang kursi dan meja di sebuah kafe YANG BELUM BUKA. Apa pasal?

Dia marah karena ‘menurut dia’, kafe itu harusnya buka jam 7 pagi. Saat itu sudah jam 8 dan belum buka. Seseorang dari dalam kafe memberikan isyarat tangan kalau kafe belum buka, eh langsung lah dia emosi dan berteriak, “Put that bloody sign down if you can’t open at seven!”BEUH!! Talk about a man and his coffee-absence.

PS: Pas lelaki yang marah-marah itu pergi, saya sempat menengok ke area signage yang dia tunjuk untuk melihat tulisan jam beroperasi kafe itu. Seseorang dari kafe juga keluar dan mengecek area yang ditunjuk orang tadi, kemudian dia melihat saya yang juga bingung, kemudian saya mengedikkan bahu. TIDAK ADA SIGNAGE APA-APA DONG. Orang tadi mabuk apa bagaimana? Hihihi.

Berhenti di Stasiun Victoria, kami menyusuri lorong-lorong stasiun yang tidak terlalu terang (mau tulis remang-remang tapi nanti terasa seperti sedang membicarakan sebuah kedai di pinggir Stasiun Pondok Kopi – eh kok Bulan tahu?) sebelum akhirnya naik tangga dan keluar. Di luar, banyak anak muda merokok di pinggir jalan. Membuat kami harus melewati lorong asap yang cukup pekat. Di sudut-sudut jalan, banyak tunawisma tidur beralas kardus atau koran, bahkan juga tanpa alas. Botol-botol berisi cairan berwarna kuning ada di dekat mereka, tergeletak begitu saja.

watching-guard-changing-at-buckingham

Pak, bagaimana kalau mengobrolnya agak pinggiran, Pak? Itu ada mpup kuda lho.

Beberapa hari di London, pemandangan seperti itu kerap menyapa. Daripada saya pusing berpikir mama tidak merasa nyaman, lama-lama saya suka buat tertawa saja. Seperti saat kami turun di sebuah stasiun (yang saya lupa apa) dan harus menuruni tangga semen sempit, kotor, banyak sampah, tanpa ada pegangan; sebelum mama berkomentar, saya langsung mengucap, “Aduh London, kamu kok kotor amat sih, malu-maluin saja. Ini aku bawa mamaku lho ke sini. BuJendral lho. Emak lho!” dan akhirnya mama gak jadi komentar, cuma terkikik saja dengar curahan hati anaknya. Hihihi.

Jadi, London kotor banget, Lan?

Iya.

Tapi di balik joroknya London, masih banyak hal manis terjadi di sana yang membuat niat saya untuk kembali mengunjunginya tidak surut.

Saat harus menaiki tangga stasiun dengan membawa koper, selalu ada lelaki yang menawarkan bantuan. Sayang saja mereka menawarkan dirinya untuk membawakan koper, coba kalau menawarkan diri untuk mencintai sepenuh hati, kan akan lain jawaban saya.

Jude Law

❤ Mamang ❤ Photo taken from here.

 

Ketika kami bingung mencari hotel tempat kami akan menginap karena saya belum paham membaca sistem alamatnya, seorang mas-mas berbaik hati membukakan Google Maps dan mengarahkan kami ke jalan yang benar (assalammualaikum, Pak Haji). Begitu juga dengan seorang perempuan yang sedang jalan santai membawa anjingnya, dia mau berhenti sebentar untuk mengarahkan saya kembali ke jalan yang benar (assalammualaikum, Bu Haji). Beberapa orang tua di London juga ramah, seperti ketika saya melihat ada seorang lansia yang sudah susah jalan sedang menuruni tangga, saya menawarkan diri untuk memegang tangannya, dia bilang ‘That’s alright, Darling. I will try to do it on my own. If somehow I stumble upon you, then it means I failed my experiment.’ Hahaha.

advertisement-in-london-underground-station

Saya rasa yang membuat mama saya kaget dengan London (dan Londoners) adalah karena dua minggu sebelum kami ke London, kami baru kembali dari Jepang. Di mana unggah-ungguh, sopan santun, dan omotenashi sangatlah kuat di sana. Sehingga pembandingan di antara keduanya tidak terelakkan.

Jadi, Londoners ramah nggak sebenarnya?

Jika standarnya adalah orang Asia, Londoners jauh dari kata ramah. Justru cenderung kasar, tidak pedulian, dan tidak ada basa-basi. Tapi kalau standarnya adalah man-kind, ya mereka baik-baik saja. Mereka mau menjawab dan membantu kok kalau kita bertanya. Bagi saya sih itu sudah cukup. Hehehe. Kulturnya memang berbeda, upbringingnya berbeda, sehingga ‘jadinya’ juga berbeda.

Mau kembali lagi ke London, Lan?

Kalau saya…Mau lah!

Nggak tahu kalau BuJendral.

Hihihi.

Senyum dulu ah.. 🙂

buckingham-palace-london

Advertisements