Amsterdam Membuat Saya Jatuh Cinta

sore-di-amsterdam

Bau yang terasa aneh menyergap indera penciuman saya sekeluarnya saya dari Amsterdam Central Station. Selama satu setengah hari pertama di Amsterdam, saya mencoba mengira ‘wewangian’ apa itu dan kenapa begitu pekat tercium. Baru di akhir hari kedua saya sadar, itu ‘wangi’ kotoran burung! Hahaha.

Ya Tuhan. Dosa apakah Hamba hingga kau beri wewangian ini sebagai penyambutan di tanah Amsterdam?

Burung merpati banyak sekali di daerah sekitar Amsterdam Central Station. Bebas terbang, bebas mendarat, dan bebas nemplok sana sini tanpa tendensi.

Ah seandainya hati bisa mudah berpindah seperti itu.

Eh ini apa sih?


Burung yang (katanya) tak pernah ingkar janji ini sepertinya sudah lama menjadi warga Amsterdam jadi wangi kotorannya pun sudah menjadi bagian wangi kota. Di hari kedua, wangi ini sudah biasa di hidung saya sehingga tidak terlalu pekat lagi tercium.

Tapi bukan bau kotoran burung di Amsterdam yang membuat saya jatuh cinta, bukan!! Kehidupan di ibukota negara ini yang terasa santai, secukupnya, yang penting bahagia lah yang membuat saya jatuh cinta bahkan pada pandangan hari pertama.

dok-amsterdam

Tersenyum melihat mpup buyung di bawah sana.. SIGH..

Orang-orang, laki-laki perempuan (atau netral), tua muda, seliweran dengan sepeda ke mana-mana, melewati jalan besar, jalan kecil, jembatan, dan juga pasar. Lalu lintas sepeda sangat ramai di Amsterdam sehingga ada lampu lalu lintas khusus pesepeda. Tempat sewa sepeda pun banyak di Amsterdam. Dari mulai yang bayar per jam sampai yang bayar harian. Saran saya, ambil deh kartu-kartu kecil yang ada di penginapan, itu kartu diskon atau kartu harga khusus. Dengan kartu itu, bisa sewa sepeda 24 jam dengan hanya 5 Euro saja. Good deal kan! Sebagai pembanding, saat saya sewa sepeda di Zaanse Schans, harganya 5 Euro di 1 jam pertama dan tambah 3 Euro per jam berikutnya. Itu karena langsung sewa on the spot. Mahal ya. Iya. Sudah jangan komentar apa-apa. >.<

Selain dengan sepeda, perahu juga moda transportasi yang lumrah di Amsterdam. Area-area di Amsterdam dihubungkan oleh kanal-kanal yang cukup lebar. Tidak hanya sebagai jalur perhubungan, kanal-kanal ini bahkan juga jadi ‘tanah’ tempat tinggal. Cukup banyak orang Amsterdam yang tinggal di atas kapal. Istilahnya boat house. Kalau lagi butuh pemandangan, tinggal buka pintu dan duduk-duduk di dek kapal. Melihat orang yang lalu lalang sambil baca buku dan menyeruput teh hangat. Hidup kok kayaknya asyik banget ya. Hihihi.

Eh padahal nggak tahu juga sih, sewa ‘tanah’ untuk boat house itu mahal, apalagi kalau tinggalnya di kanal utama. Jadi siapa tahu mereka juga kepikiran biaya ini itu at the back of their mind ya. *merusak bayangan*

rumah-kapal-di-amsterdam

Kibarkan saja jemurannya biar mengaduh sampai gaduh..

Jalan kaki di Amsterdam juga enak, jalannya rata, jadi tidak terlalu melelahkan. Udara saat saya dan mama ke sana pun cukup enak. Sedikit dingin, tapi masih nyaman. Lelah berjalan kaki? Naik tram saja. Tiket bisa dibeli di atas tram atau bisa beli tiket terusan 24 jam yang mengijinkan kita naik turun tram sesuka hati. Harganya? Masih cukup masuk akal.

Butuh hiburan? Datang saja ke ‘plein’ atau alun-alun yang banyak di Amsterdam. Sering banyak acara diadakan di sana. Bisa juga duduk untuk sekedar mendengarkan musisi jalanan yang memainkan karya-karya indah. Anak muda Amsterdam juga senang sekali piknik. Di pinggir kanal atau di ujung dermaga. Berkumpul sambil bawa roti lapis dan mengobrol saja berjam-jam menunggu matahari terbenam. Cara mudah (dan murah) pacaran.

Hihihi.

Butuh hiburan ala orang dewasa? Bisa main ke red light districtnya. Kenapa saya bilang main? Karena Distrik Lampu Merah di Amsterdam ini nggak terlihat ‘murah’ dan atau menjijikkan layaknya komplek rumah bordil lainnya yang pernah saya lewati. (Lewati saja. Beberapa kali ingin masuk sih, tapi nanti ditawar. LAH. KOK GR!)

Distrik Lampu Merah di Amsterdam berisi kafe-kafe dan restoran. Yang datang ke distrik ini tidak melulu mencari seks. Pertemuan wajar diadakan di kafe-kafe yang ada di sana. Bahkan gereja besar yang cantik ada di tengah-tengah distrik ini.

PS: Kalau datang di malam hari saat distrik ini ‘hidup’, janganlah norak-norak amat godain mbak-mbak yang di sana kalau tidak berniat memakai jasa mereka. Dinikmati saja tanpa colek-colek. Kenalan sih boleh, yang sewajarnya. Mereka kerja lho itu. Saling menghormati ya.

Hampir semua orang Amsterdam bisa dan mau berbahasa Inggris. Pelafalan Bahasa Inggrisnya pun mudah dimengerti. Orangnya juga pemaaf dan nggak emosian. Saat mau naik tram, saya (yang kakinya sedang keseleo) dan mama jalan beriringan pelan di pembatas jalan menuju halte. Harusnya jalan di kanan saja satu lajur, tapi mama jalan di kiri. Alhasil kami memperlambat seorang ibu-ibu di belakang yang mau mengejar tram. Pas saya akhirnya ke kiri karena mama belum sadar juga kalau kami menghalangi, tramnya jalan. YA AMPUN RASANYA BERSALAH BANGET! Saya sampai nunduk-nunduk minta maaf berulang kali. Kalau di London, kami sudah dimaki kali. Tapi ibu ini senyum tulus dan berkata tidak apa-apa sambil menepuk bahu saya kemudian santai menunggu tram selanjutnya. *salim*

tram-di-amsterdam

Makanan di Amsterdam bagaimana?

BEUH!! Banyak yang enak-enak!

Dari mulai makanan Turki, makanan Indonesia, makanan India, sampai makanan Korea dan Jepang, ada semua. Belum lagi makanan sampah ala Amerika. Ada! Nggak akan kelaparan deh! Cuma belum ada Gojek saja sih di sana. Jadi ya mesti jalan. Hihihi. >.< #AnakJakarta #AnakGoFoodBanget #SalamAspal

Dengan sebegitu menyenangkannya cerita tentang Amsterdam, apakah semuanya indah, sempurna,tanpa ada kurang baiknya?

Nggak sih. Tetap ada kurang okenya.

APA?

Kurangnya: Di sana pakai Euro dan nilai tukar Rupiah ke Euro makdirabit nyelekit banget. Hihihi. Ke toilet umum untuk buang air kecil bayar 2 Euro. Dua Euro itu 30.870 (kurs 15.435) jadi ya bayangkan saja sih bayar tiga puluh ribu rupiah untuk pipis.

Bayangkan.

BAYANGKAN!!

BA. YANG. KAN!! *flush toilet dengan hati tersayat sembilu*

Hihihi..

Senyum dulu ah.. 🙂

amsterdam-to-zaanse-schans

Advertisements