Via Ferrata di Tebing Parang Purwakarta

Pernah kah kalian mengambil sebuah keputusan tapi semakin mendekati hari H keputusan itu dijalankan, kalian semakin geregetan ingin teriak “NGAPAIN GUE LAKUKAN INIIIIII?!”

Nah itu yang saya rasakan ketika akan ikutan via ferrata di Tebing Parang Purwakarta. Hihihi.

Tebing Parang, atau banyak juga yang menyebut Gunung Parang, ada di Purwakarta, Jawa Barat. Sudah lumayan lama saya melihat foto-foto panjat tebing di Tebing Parang Purwakarta ini berseliweran di Instagram, tapi selayaknya pejalan yang suka berdesir hatinya kalau ditembak gebetan berada di ketinggian, saya belum siap menjalankannya, jadi nggak pernah mengemukakan ide ini ke siapapun.

Bukan menikah saja rupanya yang saya belum siap, panjat tebing juga.

Brum.. Brum.. NEXT!

tebing-parang-purwakarta

Kalau foto ini dizoom, niscaya kalian akan melihat manusia-manusia kecil sedang rappling di bagian bulatan semacam gua di tengah itu.

Hingga kemudian ketidaksiapan saya terkalahkan oleh hasrat pokoknya-ingin-jalan-jalan saat Kakatete mengajukan ajakan, “Panjat tebing ke Gunung Parang yuk!”

HALAH!!

APA INI??

KONSPIRASI APA INI??

AJAKAN SESAT!!

“Yuk!” jawab saya cepat.

Maka bergabunglah saya sebagai Leony, Kakatete sebagai Dea Ananda, dan Onal sebagai Alfandy (eh ini kok pas sih?! hahaha) membentuk trio untuk misi menaklukkan diri sendiri Via Ferrata di Tebing Parang Purwakarta.

trio-kwek-kwek

Oh that temporary tat trend. Hihi. Gambar diambil dari sini.

Saya post lah di Path, menggabungkan Kakatete dan Onal untuk membicarakan ‘permasalahan genting’ ini lebih lanjut. EH TAK DINYANA TAK DIDUGA, post saya di Path membuahkan korban berkelanjutan. Masuklah Diana Maryam a.k.a Deedee ke dalam grup ini. Lalu dipikir-pikir kayaknya kasihan Onal cowok sendirian, maka dicabutlah Elsa dari pertemanan kos-kosan Kakatete untuk kemudian diceburkan ke dalam grup yang sama.

Elsa kan perempuan.

Iya. Emang kenapa? Masalah buat kalian?

Onal tetap cowok sendirian.

😀

Karena sudah berlima dan daripada bikin keributan di Path, maka saya buatlah grup KPJA – Jakarta. Komunitas Para Jomblo Akut Kwartir Jakarta. << Nama grup hancur sudah karena dua minggu sebelum panjat tebing, Onal punya pacar. Mana pacarnya imut lucu banget kayak artis Korea Selatan lagi. Kok mau sama Onal? *misteri*

Dan dimulailah siksaan demi siksaan di grup KPJA ini. Mulai dari getolnya Onal membagi foto panjat tebing yang dia comot dari Instagram orang – yang sesungguhnya tidak membantu hati kami yang kebat-kebit grogi. Lalu keribetan kami memilih sepatu yang akan dipakai untuk panjat tebing ini, ajakan untuk latihan pull up dan push up dari Deedee demi kemaslahatan tubuh, hingga persoalan menit terakhir macam topi (bagi Incess yang sensitif sama suhu panas) dan sarung tangan (bagi Kakatete karena manicure di salon langganan sudah naik harganya). DUH.

Semakin mendekati hari H, setiap ada yang berbicara tentang trip panjat tebing ini, saya selalu menimpali dengan, “Lho, kita jadi panjat tebingnya?” Mihihi.

Namun apa mau dikata. Hari yang tidak ditunggu-tunggu pun tiba, kami berangkat juga.

outfit-via-ferrata-purwakarta

Hati deg-degan trus liat tanah lapang? Ya wefie dulu lah.

Onal menyetir mobilnya Deedee; saya Kakatete, dan Elsa duduk di deretan kursi tengah. Sepuluh menit pertama kami asyik mengobrol untuk melepaskan keraguan di hati. Dua setengah jam berikutnya kami …. TIDUR LAH!! Biar Onal aja yang nyetir sendirian.

Sempat berhenti di tempat peristirahatan, saya bertanya sekali lagi, “Gaes, kita jadi ni panjat tebingnya? Belum terlambat untuk ubah haluan ke Bandung loh, Gaes..”

“Jadi!”, kata Deedee mantap.

“Gue terlanjur koar-koar mau panjat tebing ke followers gue. Malu dong kalau gak jadi.”

YHAAAAA….. *semprot-semprotin teh manis hangat ke Deedee*

Maka lanjut lah perjalanan kami ke Tebing Parang Purwakarta. Melewati jalan besar, jalan kecil, jalan berkelok, dan salah jalan, akhirnya kami sampai. Provider yang kami pilih adalah Skywalker. Kenapa?

Because the name sounds awesome! Hihihi.

Dan Puji Tuhan kami nggak salah pilih provider. Pengalaman panjat tebing kami begitu manis dan menyenangkan bersama mereka. Ada beberapa fixer dari Skywalker yang menemani sesi panjat tebing pagi itu: Mas Sky – yang awalnya kami kira dia menyebut namanya Sky karena dari Skywalker namun ternyata namanya memang Sky – hahaha.. bagus ya.., Besta – Lelaki Minang Riwil yang kemampuan berbicaranya setara Energizer Bunny – gak selesai-selesai yampun Hayati lelah, Bang, Mas Saugie – yang positif banget kalau nyemangatin ‘Baguuuss..Bisa bisa.. Pasti bisa.. Baguuus.. Up up.. Good..” ini fixer apa dokter kandungan sih?, serta satu Mas Kaus Hijau dan satu Mas lainnya yang nggak sempat kenalan dan nggak diberikan kesempatan foto bareng saya.

LHA.

Pengalaman panjat tebingnya sendiri bagaimana, Lan?

SERU!!!

panjat-tebing-via-ferrata

WE ARE KPJA – JAKARTA!!

Lima meter awal saya kesulitan karena antara cagak besi pertama ke yang kedua itu jauh sekali jaraknya – khususon untuk perempuan bertinggi badan 156cm saja. Hihihi. Dan tebingnya lembab agak berlumut, jadi saya ragu untuk berpijak di tebing demi mengambil ancang-ancang melompat tinggi ke udara ke cagak kedua. Alhasil, saya lipat kaki saya dan naik merambat ke cagak kedua dengan betis. Gerakan ini langsung dikomentarin Besta, “Ada yang bakal biru nih!!” << dan benar lho, Pemirsa, sempat biru itu bekasnya. Hahaha. Tapi cuma dua harian kok birunya dan nggak sakit. Setelah melewati lima meter pertama, perjalanan selanjutnya bisa dibilang Puji Tuhan lancar jaya!!

Metode panjat tebing di Tebing Parang Purwakarta ini disebut Via Ferrata, mengacu ke lintasan berupa cagak-cagak besi yang sudah dipasang sebagai pijakan panjat tebingnya dan adanya tambang untuk pegangan dan sistem keamanan selama menyusuri lintasan. Semua pemanjat akan melalui lintasan yang sama, melintasi cagak besi yang sama. Faktor keselamatan didukung harness di masing-masing pemanjat yang dilengkapi dua karabiner yang disangkutkan ke tambang atau cagak besi. Yang agak bikin deg-degan adalah karena tanggungjawab keselamatan ada di masing-masing pemanjat. Karabiner disangkutin sendiri, pilihan mau nyangkutin di tambang atau di cagak diputuskan sendiri, keputusan istirahat atau jalan terus diputuskan sendiri (pemanjat selanjutnya bisa nyalip kalau mau), semua pokoknya diputuskan sendiri. Ini yang sempat bikin saya deg-degan sebelum manjat. Takut kliyengan kepanasan dan skip lalu lupa menyangkutkan karabiner. Duh amit-amit, jangan sampai..  *ketok-ketok pintu rumah Bu Hajah Maghfiroh*

via-ferrata-di-tebing-parang-purwakarta

Mode: Panoramic Eyes

Setelah naik, takut atau enggak?

Enggak. Padahal saya melihat ke bawah berkali-kali, tapi ketakutan saya akan kliyengan, dll Puji Tuhan tidak terjadi. Enjoy banget. Kadang kami berhenti untuk berfoto bersama atau lihat pemandangan Waduk Jatiluhur dari ketinggian. Langit cerah pagi itu jadi pemandangan pun ciamik memanjakan mata.

Lintasan Via Ferrata Tebing Parang Purwakarta ini tidak hanya naik vertikal, tapi juga ada yang horisontal atau menyerong. Yang lebih ribet lagi, ada yang horisontal ke kiri, tambang di atas, lalu meyerong kiri, tambang di kanan, lalu patah horisontal menyerong ke kanan dan tambang pindah ke kiri. Nyahahaha. Kalau dibaca atau dibayangkan mungkin agak memusingkan, tapi entah apa yang terjadi sama diri saya, di atas sana saya bisa santai banget. Bisa tenang mindahin karabiner ke tambang satu demi satu. Nggak ada rasa takut, nggak ada panik, nggak ada rasa terburu-buru. Saya menikmati sekali seluruh proses sangkut ini sangkut itu tali di atas tangan naik hap hap hap-nya.

cat-climbing-gif

Hap.. Hap.. Hap..

Beruntungnya juga, teman satu grup memanjat kemarin orang-orang yang positif semua. Nggak ada yang sok lebih bisa dari yang lain, nggak ada yang merendahkan yang lebih lambat. Semuanya santai dan suportif. Benar-benar panjat tebing santai nan menggembirakan di Tebing Parang Purwakarta.

Dari KPJA sendiri kemudian pada nagih untuk naik lagi. Kakatete dan Deedee akan naik lagi tapi kali ini ke ketinggian 300 meter dpl (yang kemarin kami lakukan 125 meter) dan menginap satu malam di atas. Tentu masih bersama Skywalker.

PS: Dengar-dengar, di ketinggian 300meter, disediakan toilet juga oleh Skywalker. Whoaaa. Macam keren!! Untuk di bawah, basecampnya Skywalker enak banget. Ada tempat duduk-duduk, ada kamar mandi, toilet, lengkap dengan pancuran hujan ala hotel bintang lima. No kidding. Oh dan harga panjat tebing yang kami bayarkan sudah termasuk makan siang super yahut dong.

blog-img-20160918-wa0015

Ibu-ibuan Skywalker: Neng, ayo makan Neng. Udah siang. | Saya: Iya Bu sebentar bikin alis dulu. | Kakatete: Lipstikkan dulu, Bu. | Deedee: Perempuan!

Saya ikut nggak yang naik 300 meter ini?
Sepertinya tidak dulu. Sudah ada beberapa jadwal manggung menunggu. Belum meet n greet dengan penggemar. Ya maklum lah, namanya juga artis ibukota.

Sekian.
*ini ember untuk muntah*

Panjat tebing di Tebing Parang Purwakarta ini memberikan efek bagus untuk saya,. Setidaknya sekarang jadi agak lebih pede sama kemampuan diri khususnya soal nanjak menanjak. Hehehe. Harus semangat latihan nih, demi rencana Mei 2017!! YEAH!!

*mata kedip-kedip*
*ternyata kelilipan*

Hihi..

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements