8 Tips Menghemat Pengeluaran di Jepang

Tiga hari lalu, saya baru kembali dari perjalanan enam belas hari keliling beberapa kota di Jepang. Jepang memang terkenal sebagai negara mahal, apalagi jika ke sana saat musim puncak – seperti yang saya lakukan. Dua kali ke Jepang, dua-duanya pas musim puncak, kan dudul. Hihihi. Tapi pun tidak datang saat musim puncak, Jepang masih merupakan negara yang mahal.

Sebagai gambaran, untuk transportasi subway/metro saja, dalam satu hari kalau mengunjungi tiga hingga empat tempat bisa habis 2000 yen (sekitar 240.000 rupiah). Untuk makan, bisa dapat harga 500 yen (sekitar 60.000 rupiah) itu sudah membahagiakan. Air mineral kemasan di Jakarta normalnya sekitar 2500 rupiah, di KL sekitar 1 ringgit (3000 rupiah), di Jepang paling murah 100 yen (12.000 rupiah). HAHAHA HAHAHA HAHAHAHA. *ketawa miris sampai Yokohama*

ohatsu-tenjin-shrine-osaka

Love Temple di Osaka. Membaca cerita latarnya langsung ingin peluk pasangan. #EHGIMANA

Tapi bisa nggak sih jalan hemat di Jepang?

BISA!!

Berbekal pengalaman jalan ke Jepang 9 hari di perjalanan pertama dan 16 hari di perjalanan kedua, saya rangkum 8 tips menghemat pengeluaran di Jepang berikut ini. Semoga membantu! 😉

  1. Buat rencana perjalanan (itinerary)
    Nggak perlu njelimet dan lengkap, rencana perjalanan bisa dibuat secara garis besar saja. Hari 1 mau ke mana, hari 2 mau ke mana. Atau buat per daerah; di Osaka mau ke mana, di Tokyo mau ke mana. Dengan membuat rencana perjalanan, kita jadi tahu pass apa yang harus kita beli sesuai kebutuhan (baca lebih lanjut di poin 2).

    Pembuatan rencana perjalanan juga penting supaya perjalanan menjadi lebih efektif. Kalau naik subway/metro bisa lebih efisien pengaturannya, perjalanan bisa satu garis lurus, nggak bolak-balik. Naik subway/metro bolak-balik bukan hanya berat di ongkos, tapi juga berat di ketahanan fisik. Capek tahu naik turun tangga kalau lagi nggak ada eskalator! *mau naik elevator juga malu kalau cuma bawa diri, situ sudah nini-nini?” Hihihi.

    o-torii-gate-miyajima

    O Torii Gate di Miyajima..

  2. Beli JR Pass
    Saya pernah menulis tentang Japan and Their Confusing Passes, dan walaupun di perjalanan kedua ini saya pakai JR Pass (dan saya tetap bingung), tapi saya mendorong untuk yang mau pakai Shinkansen sebagai moda transportasi antar region, belilah JR Pass karena perjalanan Shinkansen dua kali saja sudah sama biayanya dengan harga JR Pass untuk satu minggu. Lebih kurang begitu.

    Untuk semakin efektif, pesan penginapan yang dekat dengan stasiun JR – bukan subway/metro. Kalau dekatnya ke stasiun subway/metro jadi harus keluar uang lagi untuk ongkos tambahan. Nggak hemat dong! *ngomong ke cermin, mengingat kembali penginapan selama perjalanan kedua kemarin*

    Untuk lebih maksimal lagi, reserve seat dari setiap perjalanan Shinkansen. Kenapa? Biar nggak ribet rebutan kursi sementara di saat yang sama harus cari tempat menaruh barang. Dan lagi, sudah beli JR Pass mahal, kenapa juga nggak dipergunakan semaksimal mungkin ya kan? Reserve seat kan nggak bayar lagi. Hehehe.

    Kalau nggak mau beli JR Pass karena mahal bagaimana? Ya sudah nggak usah beli, tapi nggak usah juga pakai Shinkansen. Di perjalanan pertama dulu saya nggak beli JR Pass, nggak naik Shinkansen. Beuh, murah kali nah itu perjalanan! Hihihi. Hanya waktunya saja yang lebih tidak hemat. Sebagai perbandingan, naik Shinkansen Shin-Osaka – Tokyo hanya memakan waktu 153 menit. Saya naik Willer Bus Osaka – Tokyo memakan waktu 7 jam. Hahaha. Signifikan ya.

    Jadi pilihannya:
    – Mau menghemat waktu, mau naik Shinkansen, belilah JR Pass.
    – Mau menghemat uang, nggak perlu naik Shinkansen, nggak usah beli JR Pass.
    Gitchuw..

    hayabusa-shinkansen-hokkaido

    Reserve Seat berarti juga masuk ke gerbong bisa santai sambil gaya begini. CAILAH.

  3. Cari alternatif tempat wisata yang gratis
    Hampir semua tempat wisata di Jepang adalah berbayar. Tapi tentu ada beberapa juga yang gratis.

    Nah makanya buatlah rencana perjalanan, kan saat membuat pasti cari tahu tempat-tempat yang ingin dikunjungi, jadi tahu deh kalau-kalau ada alternatif tempat wisata yang gratis. Saya tadinya ingin tuliskan mana saja yang gratis, tapi, ih nanti pada manja, cari tahu sendiri ya. #lha #bloggermacamapasaya

    a-dome-memorial-hiroshima

    A Dome Memorial, salah satu memorial gratis yang WAJIB dikunjungi di Hiroshima

  4. Pergi saat musim sepi
    Ini saran paling umum memang, tapi efek dari musim-musim ini sangat besar kaitannya dengan biaya yang harus dikeluarkan, jadi patut saya masukkan.

    Dua kali saya ke Jepang adalah saat musim puncak di awal April (musim sakura) dan tentu saja ini berpengaruh ke harga penginapan. Seluruh penginapan menaikkan harganya karena permintaan yang begitu tinggi. Maka, kalau mau lebih hemat, kunjungilah Jepang di saat musim sepi (low season).

    Plusnya: Saat musim sepi, saya yakin banyak tempat wisata yang tidak terlalu penuh. Jadi lebih enak foto-foto dan jalan-jalannya.

    Minusnya: Kadang sepi begitu menyergap, membuat sesak, hingga hidup terasa hampa, tak ada suara. Hanya hening menyelimuti hati. Kamu sendiri. *kemudian metik sitar*

    sakura-hanami-in-hiroshima

    Pas musim sepi, mungkin mau foto sendirian sama sakura nggak akan sesulit ini. OM MINGGIR KENAPA OM!!

  5. Pesan penginapan jauh hari
    Penginapan di Jepang tidak bisa terbilang murah, kamar kapsul atau ranjang dorm sekalipun. Apalagi saat pergi di musim puncak atau musim ramai, harga bisa naik sekian kali lipat dari harga saat musim sepi. Jadi sudah tahu harga sudah pasti naik kenapa harus pesan penginapan jauh hari?

    Supaya masih banyak pilihan jadi bisa membandingkan. Tidak ‘terpaksa’ harus menginap di penginapan A hanya karena nggak ada pilihan lain. Yang perlu juga diperhatikan, stasiun kereta dan tempat publik lainnya di Jepang TIDAK BISA diinapi. Jadi kalau ada yang berpikir naik kereta yang sampai malam saja trus menginap di stasiun deh biar hemat, NOPE, tidak bisa seperti itu. Yang ada diusir ke luar stasiun dan terlantar memalukan negara. Hiks.

    Di perjalanan pertama saya dulu, saya melakukan kesalahan karena tidak memesan penginapan jauh hari, jadilah kami tidak dapat penginapan di Kyoto; membuat kami harus bolak-balik Osaka – Kyoto selama dua hari hanya untuk jalan-jalan di Kyoto. Selain nggak hemat dari sisi ongkos, juga nggak hemat dari sisi tenaga. Capek euy commuting gitu. (Kemudian warga Bekasi menyibak tangan sambil berkata “Sudah biasa…”)

    Di perjalanan kedua, teman seperjalanan membuat kesalahan yang sama (ya keledai tak akan jatuh dua kali di lubang yang sama memang, untung ini beda keledainya..Hihihi) dengan tidak memesan penginapan di Kyoto jauh-jauh hari. Jadilah semua AirBnB penuh, dan hotel yang akhirnya kami tinggali harga per orangnya 3 juta untuk 3 malam. Ish!! Mau kesal tapi sudah nggak ada pilihan, jadi ya sudahlah duduk  saja menghadap pojokan. Hihihi.

    Pelajaran lah ya. Pesan penginapan jauh-jauh hari supaya masih ada banyak pilihan untuk dibandingkan. Karena tidak ada yang lebih menyedihkan dari harus mengambil satu keputusan hanya karena keterpaksaan dan tidak adanya pilihan.

    Sekian.

    waiting-for-train

    Karena setelah lelah berjalan seharian, penginapan dekat stasiun adalah berkat Tuhan.

  6. Beli makanan di minimarket
    Makan kudapan di gerobak pinggir jalan saja harganya minimal 500 yen (60.000 rupiah) sedangkan itu hanya kudapan, bukan makanan inti. Perut Indonesia kemungkinan besar akan masih lapar makan satu porsi takoyaki isi enam atau satu tusuk sate ayam (iya, satu tusuknya 500 yen. Hihihi); maka pilihan makan besar jatuh ke minimarket.

    Minimarket seperti Family Mart dan 7-eleven itu jual makanan yang bisa dipanaskan. Pilihannya cukup beragam dan lidah saya sih cocok ya sama rasanya. Satu porsinya berkisar di harga 365 – 485 yen, belum termasuk pajak. Kenyang!

    Makan kudapan jalanan juga saya sering sih, tapi beli satu porsi dimakan berdua dengan teman seperjalanan. HAHAHA. Ya kalau kalian jalan sendiri, mungkin bisa cari mas-mas/mbak-mbak yang mau berbagi makan satu tusuk mochi bakar berdua di tengah dinginnya cuaca. Siapa tahu begitulah jalan Tuhan untukmu bertemu jodoh. Alhamdulillah.. *raup muka pakai air Gunung Fuji*

    street-food-in-kyoto

    Lupa namanya apa, enak saja pokoknya! Hihi.

  7. Makan di Yoshinoya
    Ini baru saya ketahui di perjalanan kedua. Ternyata Yoshinoya di Jepang itu … MURAH SEKALI!! Hahahaha.

    Satu porsi Rice Bowl ukuran M (untuk saya sih ukuran M sudah cukup mengenyangkan) harganya 330 yen sudah dengan pajak. YUP!! Sudah dengan pajak!! Makan berdua, satu ukuran M, satu ukuran L habis 760 yen. Itu adalah rekor makan termurah saat di Jepang kemarin. Terima kasih, Yoshinoya! Hihihi.

    *nggak punya fotonya, jadi GIF ini saja ya.. Hihihi*

    Rice

  8. Bawa bekal air minum
    Seperti yang saya kemukakan di awal, air mineral kemasan di Jepang harganya minimal 100 yen (12.000 rupiah). Kalau kalian adalah onta seperti saya, ini akan jadi beban pengeluaran yang sangat besar. Maka, bawalah air sendiri. Hihihi.

    Bawa saja botol kosong dari tanah air. Beberapa air keran di Jepang sudah bisa langsung minum. Segar. Kalau masih takut minum air keran, ya dimasak saja. Hampir semua penginapan yang saya inapi menyediakan teko elektrik. Tinggal masak, tunggu sebentar sampai dingin, masukkan ke botol dan bawa jalan-jalan deh. Hehehe.

    Kalau seperti saya yang tidak masalah meminum air keran, saat air bekal habis di tengah hari, cari saja taman dan isi ulang botol di keran air minum di sana. Keran air minum juga bisa ditemukan di makam (ini kaget juga sih, kenapa juga disediakan keran air minum di makam, banyak banget lagi. Si…si…siapa yang minum ya? Hmmm..).

    Air keran di Kawaguchiko menempati posisi teratas air tersegar yang saya minum selama di Jepang. Mungkin karena air ini langsung dari Gunung Fuji. Dingin dan segar sekali! Dan Puji Tuhan selama ini minum air keran sih saya baik-baik saja. Jadi penasaran juga, bagaimana kalau saya minum air keran apartemen saya di Jakarta ini ya? Hmmm…

    yanaka-cemetery-tokyo-nippori

    Makam yang bagus nan adem di Nippori. Banyak keran air minum di sini.

Demikianlah delapan tips jalan hemat di Jepang dari saya. Sederhana sih ya, tapi kalau jalan-jalannya lumayan lama (lebih dari 5 hari gitu), terasa sekali memang betapa negara ini negara yang mahal, jadi semoga tips di atas membantu. Hehehe.

Kalau ada yang mau menambahkan tips jalan hemat di Jepang ini boleh banget lho. Isi di kolom komentar ya. Mungkin saja ada pemikiran yang terlupa oleh saya. Karena saya, walaupun seorang Incess Ikan, juga masih manusia biasa yang penuh dosa dan khilaf. Untuk lebih dan kurangnya, saya mohon maaf.

*ini apa sih?!*

Bertemu lagi di blogpost selanjutnya (kalau saya mood menulis lagi) yaaaa.. Hihihi. Salam manis selalu untukmu..

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements