Perjalanan Menuju Rinjani

Saya nggak pernah memasukkan diri saya ke kategori anak gunung atau anak pantai, karena seyogyanya, walaupun saya terkenal sebagai Incess Ikan, tapi saya pernah beberapa kali naik gunung juga kok. Pernah sekali saya sebal sama orang yang mentahbiskan dirinya sebagai anak gunung dan bertanya ngenyek ke saya “Udah mendaki gunung mana aja? Perempuan mah baru bisa dibilang tangguh kalau udah naik gunung. Pantai mah apa lah..”

Saya bengong tak percaya menatapnya. Ingin sekali rasanya saya mendesiskan “HALAH MBELGEDES..” di telinganya kemudian berlalu.

Kenapa coba dia bisa bilang perempuan itu tangguh kalau sudah naik gunung? Dia lupa fakta bahwa perempuan tangguh itu jika dan hanya jika ia bisa angkat galon Aquanya sendiri?!

Punch

Anyhoo, kenapa saya nggak pernah memasukkan diri ke kategori anak apapun selain anak mama yang soleha adalah karena itu tadi, walaupun saya lebih sering ke pantai, tapi saya juga pernah naik gunung. Saya pernah mendaki Gunung Gede, Gunung Prau, dan Gunung Bromo (hihihi – itu dihitung nggak?). Nah sekarang daftar gunung yang pernah saya daki bertambah satu dengan Gunung Rinjani.

CAILAAAAH!!

UDAH TANGGUH BELUM NI GUE, HA??

HA???

HAAAA???

JAWAB, MBELGEDES!!

perempuan-mendaki-rinjani


Alkisah di akhir tahun 2016, Widi, teman saya di Langkah Dewi (grup penulis yang berhasil menelurkan satu buah antologi tapi lalu blasss, hilang dimakan waktu nggak pada bertelur lagi) bertanya di grup apakah ada yang mau ke Rinjani bersamanya?

Di luar bayangan, saya kok ya membalas pertanyaan dia dengan pertanyaan lain seolah-olah saya tertarik. KESAMBET APA COBA TU? Hahaha. Walaupun pernah mendaki beberapa gunung, tapi sesungguhnya saya nggak begitu menikmati mendaki gunung. Bagi saya, gunung itu menjebak. Saat sudah mulai mendaki, you have no other option other than finishing your whole trip. No turning back in the middle of the trip. Nggak bisa juga berhenti di tengah-tengah lalu minta jemput helikopter.

Bukan hanya karena terrainnya susah sih, tapi lebih ke karena… yang bayar penjemputan pakai helikopternya siapaaaaa? YHAAAA…

Rute mendaki kami kemarin adalah naik via Sembalun dan turun via Senaru. Rute itu seperti huruf M. Desa Sembalun di bawah, naik ke atas sampai Plawangan Sembalun, turun lagi ke Danau Segara Anak, naik lagi ke Plawagan Senaru, baru terakhir turun lagi ke Desa Senaru. Panjang ya.

Iya.

Sudahlah yang penting sudah telewati.

Hihihi.

grup-mendaki-rinjani

Desa Sembalun berada di ketinggian 800 – 1200 meter di atas permukaan laut. Kami, yang beberapa jam sebelumnya baru sampai dan menginap di Desa Senaru harus naik mobil bak terbuka dulu untuk menuju Desa Sembalun ini. Dari Desa Sembalun perjalanan dimulai, melewati sawah milik warga dan kemudian padang savana. Padang savana ini luas sekali! Jalan masih terhitung landai namun ya Tuhan, panjangnyaaaaaa… Kami mulai trekking jam 09.15 dan harus melewati padang savana tanpa pergola (ya lu kata parkiran mobil pake  pergola) di sekitar jam 10 dan 11 pagi. Panas nggak?

Kata orang, panasan api neraka!

Astagfirullah.. *ketok-ketok meja sebelah*

Puji Tuhan angin masih sesekali berhembus. Kadang saya berhenti jalan dan cuma menutup mata menikmati angin yang lewat. Macam Rose di kapal Titanic saja minus Jack yang memeluk dari belakang.

Rose Titanic

#NonaNonaTrip ini aslinya hanya saya dan Widi yang jalan. Tadinya kami mau jalan berdua dan mempekerjakan dua porter tambahan untuk membantu membawakan barang. Kok dua, kenapa nggak satu porter saja?

Karena kasihan, nanti abangnya kesepian.

KIU KIU!!

Semakin dekat ke hari keberangkatan, kami berubah pikiran dan akhirnya tidak hanya mempekerjakan dua porter tapi juga tambah dengan satu pemandu, Angga namanya. Saya bisa sih sebutkan nama trip organizer tempat dia bernaung, sekaligus memberikan akun Instagram dan nomor HP dia sekalian kalau-kalau ada yang mau naik gunung bareng trip organizernya, tapi…., akun trip organizernya belum follow saya di Instagram, jadi saya ngambek saja. Nggak usah lah disebutkan di sini kalau gitu. Hihihi.

*dilempar Sambal Beberug se-ulekannya sama Angga*

Angga ini kenalan adiknya Widi, Drian, yang sudah pernah mendaki Rinjani di tahun-tahun sebelumnya. Nah karena sama temannya dan pas Drian ada waktu kosong, maka ikut lah Drian dalam #NonaNonaTrip ini. Hahaha. Jadi yang jalan: saya, Widi, Drian, Angga, dan dua porter. BEUH!! Kurang nona-nona apa coba tu!!

sarapan-di-rinjani

Saat mulai mendaki, saya bersyukur banget kami jadi pergi sama mereka karena kalau hanya bersama porter, para porter ini nggak akan menunggui kami. Mereka akan jalan sesuai dengan pace jalan mereka yang cepat; yang tentu saja berbeda dengan pace jalan kami. Lha wong saya sama Widi saja berbeda pace jalannya. Perumpamaannya, porter jalan dengan pace cheetah, Widi jalan dengan pace kucing/anjing, dan saya jalan dengan pace…wait for it..

SIPUT!

Hihihi..

Jadi bayangkan kalau hanya dengan porter, yang ada saya dan Widi akan jalan berduaan saja. Dan mengingat pace jalan saya dan Widi yang berbeda, yang ada akhirnya kami akan jalan sendiri-sendiri. YA AMPUN SEDIH BANGET!! Di ibukota jalan sendirian ya masa sampai gunung jalannya sendirian juga. Apa kata Pak Masrun yang jualan gado-gado di pengkolan kanan gedung kampus sebelah coba???

Jadi keputusan pergi bersama Angga dan Drian adalah keputusan terbaik yang kami ambil menjelang kepergian kemarin. Alhamdulillah.. *raup muka*

segara-anakan-rinjani

Perjalanan dari Desa Sembalun sampai Pos 1 adalah yang terpanjang. Dominan landai, hanya saja panjang. Dari Pos 1 ke Pos 2 lumayan naik tingkat kesulitannya, tambahan di tengah mendaki hujan turun! Jadilah mendaki dalam kebasahan. Sambil bernyanyi “Yang.. Hujan.. Turuuuun lagi.. Di bawah payung hitam.. Ku berlindung..” (Untuk yang ingin tahu, itu yang nyanyi Ratih Purwasih, ada di Youtube videonya)

Di Pos 2 akhirnya Angga memutuskan kami akan berkemah di Pos 3 saja, nggak lanjut ke pos selanjutnya karena hari sudah semakin sore dan keadaan kami sudah lepek demek kasihan gitu. Hihihi. Maka menginaplah kami di Pos 3.

Perjalanan keesokan harinya dimulai sekitar jam 9 pagi. Tepat setelah Pos 3 itu adalah Bukit Penyesalan yang digadang-gadang menjadi bukit curam menanjak yang membuat banyak pendaki menyesal kenapa mereka memutuskan mendaki Rinjani. Hihihi. Di Bukit Penyesalan ini justru saya banyak bersyukurnya. Bersyukur banget mendaki kali ini ditemani teman-teman yang AMAT SANGAT menyenangkan. Saya rendah diri kalau urusan mendaki. Saya merasa jalan saya lama sekali dan sering merasa nggak nyaman karenanya, suka merasa saya memperlambat yang lain gitu. Suka merasa bersalah sendiri. Sensitif memang anaknya, kayak testpack.

berkemah-di-rinjani

Entah bagaimana, Widi Drian dan Angga membuat saya nyaman sekali kemarin. Nggak ada yang mengeluh saya memperlambat dan Widi tipikal yang juga nggak ribet menunggui saya. Jadi memang kami jalan terpisah. Widi jalan sama Angga di depan dan saya jalan dengan Drian di belakang. Drian sih nggak lambat ya jalannya, tapi sabar sekali menunggui saya, tanpa komentar apa-apa selain “Di depan ada yang landai, Mbak. Bisa istirahat di sana.” atau “Sedikit lagi Mbak. Ayo pasti bisa.” atau “Ambil jalan yang mana aja yang loe ngerasa nyaman, Mbak. Muter dikit juga nggak papa selama loe ngerasa loe lebih enak ambil jalan itu.” atau “Bisa Mbak, pasti bisa. Sedikit lagi sampai.” atau “Loe pegang akar atau rumput aja Mbak. Kuat kok itu.” Hanya ungkapan tips dan penyemangat seperti itu saja yang dia lontarkan. Selain itu, dia diam.

Dan tidak sama sekali dia merasa saya butuh bantuan di sana sini. Dia diamkan saja saya merambat naik, ngesot pakai paha saat menaiki dinding tebing, narik badan saya dengan berpegang ke akar, dia diamkan semua – kecuali kalau saya sudah bilang “Bendot (panggilan Drian) Bendot pegangin..” baru dia datang megangin. Hihihi. It helps me a lot! He made me feel like I can do it! Pemikiran saya tentang diri saya jadi bukan ‘saya memperlambat mereka’, tapi lebih ke ‘saya pasti bisa sampai, walaupun pelan tapi pasti bisa sampai’ dan saya jadi semangat terus mendakinya. Ya semangat itu bertahan hingga dua puluh tujuh detik kemudian lah. Widi juga gitu, kalau di tenda dan saya mulai nggak percaya diri dan nanya ke dia apa saya bisa? Jawaban dia SELALU, “Bisa Bul. Pelan-pelan aja pasti bisa nyampe juga.” Dan saya langsung percaya diri lagi kalau saya bisa. Gampangan memang anaknya, dimotivasi dikit langsung sumringah.

Widi dan Angga tentu menyelesaikan Bukit Penyesalan duluan. Saya sudah mulai kelelahan dan istirahat setiap dua tiga menit sekali di ujung-ujung Bukit Penyesalan itu. Soal pace istirahat ini juga beda antara saya dan Widi. Widi tipikal yang tahan mendaki terus kemudian istirahat cukup lama – merokok, minum, mengobrol, duduk-duduk, ya cukup lama lah. Saya tipikal pendaki yang lebih nyaman istirahat sering tapi dalam waktu yang singkat-singkat. Jadi kalau saya capek, saya sering istirahat, diam, dan minum – dalam posisi berdiri, kemudian nggak berapa lama lanjut jalan lagi. Di awal, Widi dan Angga selalu menunggui saya untuk istirahat bareng kemudian lanjut jalan bareng lagi, lama-lama karena saya sadar pace istirahatnya beda, saya bilang saya jalan duluan saja toh nanti mereka ‘mbalap’ saya. They’re perfectly fine with the idea. Dan benar, nggak berapa lama saya jalan juga mereka mendahului saya lagi. Hihihi.

padang-savana-rinjani

Mendaki gunung banyak membuat saya lebih mengerti tentang diri saya sendiri. Saya jadi tahu ternyata untuk mengangkat badan, tangan saya lebih kuat dari kaki saya (selama ini saya kira kaki saya lebih kuat). Beberapa kali saat kaki saya bingung menaruh kaki di mana untuk pijakan naik, pada akhirnya saya justru pakai tangan saya untuk mengangkat badan. Kayak panjat tebing jadinya. Hehehe. Sebelumnya juga, saya nggak pernah berpikir saya takut ketinggian. Saya menikmati terjun lenting, saya suka banget luncur gantung, saya baru saja menikmati paralayang, saya cukup rutin naik pesawat dan baik-baik saja; masa sih saya takut ketinggian?

Ternyata somehow, iya. Hahaha.

Ketika hampir sampai Plawangan Sembalun, saya sempat berhenti sebentar dan (sok-sokan) menengok ke belakang untuk melihat pemandangan. Kami berada cukup tinggi kala itu, Plawangan Sembalun ada di ketinggian 2639 meter di atas permukaan laut, ketika saya berbalik untuk melihat pemandangan, kami berada kira-kira 5 -6 meter sebelum sampai Plawangan Sembalun. Pemandangannya indah. Bukit Pergasingan dan Gunung Sembalun menyembul dari balik kabut putih yang cukup pekat di depan saya, di kanan terlihat kontur hutan lebat dengan kemiringan tajam, hijau royo-royo sekali warnanya, di bawah saya terlihat trek yang baru saya lewati, curam melelahkan campuran tanah kering dan batu kerikil kecil yang lumayan licin, dan ketika saya menengadahkan kepala lagi, tiba-tiba saya pusing.

Pusing keliyengan. Hahaha. Meuni cemen.

Mungkin tekanan darah saya rendah saat itu. Tapi lucu rasanya. Memang benar, berada di luar zona nyaman itu membuat orang jadi tahu lebih banyak tentang dirinya sendiri. Baru kali ini saya merasakan keliyengan karena melihat pemandangan. Hihihi.

Masih ada cerita lainnya tentang perjalanan saya mendaki kali ini. Maklum, perjalanannya sendiri kami laksanakan dalam 4 hari 3 malam, nggak mungkin kan kisahnya saya padatkan menjadi satu cerita saja. Jadi, saya akan menulis lagi tentang perjalanan ini. Kalau tidak esok hari, mungkin minggu depan. Kalau tidak minggu depan, masih ada bulan depan. Kalau tidak bulan depan, masih ada tah….. *kemudian hening*

Sampai ketemu di tulisan selanjutnya tentang Rinjani ya. Cup cup muaw muaw..

Senyum dulu ah.. 🙂
*iya sengaja banget akhirannya gantung nggak enak begini*

Advertisements