Keramahan Amritsari yang Membuat Jatuh Hati

Ini tentang kebaikan hati orang-orang di sebuah kota suci di negara bagian Punjab, India. Amritsar nama kotanya, Amritsari sebutan untuk orang-orangnya. Saya terbang ke Amritsar setelah menyelesaikan ‘tugas negara’ di Delhi. Tugas negara sebagai temannya Sandeep dari Indonesia. :)) Yang belum baca kisah saya menjadi duta joget Indonesia, baca dong di post >> Jogetan di Mehendi Night << ini. Hihihi.

holy-city-amritsar

Sampai di Bandara Amritsar sekitar pukul 9 malam, saya merasakan keadaan yang sungguh berbeda. Bandara yang bernama Sri Guru Ram Das Jee International Airport ini sangat kecil dan sepi. Luasnya mirip dengan Bandara Adi Sucipto Yogyakarta sebelum perluasan. Dan sepinya mirip … hmmm … saya nggak bisa padankan dengan bandara di Indonesia nih secara bandara di Indonesia rame sama porter troli semua. Hihihi. Sepertinya pesawat yang saya tumpangi adalah pesawat terakhir di hari itu sehingga ketika semua penumpang sudah berjalan keluar bandara, makin krik krik krik sendirian lah saya di bandara.

Saya mencoba melongok ke arah luar bandara, sambil kaki masih di dalam bandara – jadi pintu otomatis tidak bisa menutup (hihihi, I know it’s a bad behavior tapi karena kalau saya ke luar dan pintu menutup, saya nggak bisa masuk lagi, sedangkan saya nggak tahu apa bisa menemukan taksi di luar, dan di luar dingin, suhu mungkin 10 derajat saat itu, jadi ya terpaksa deh naruh kaki di dalam, badan melongok ke luar :P). Nengok kanan kiri, saya mencoba mencari taksi.

NONE.

Keadaan di luar bahkan jauh lebih sepi dari keadaan di dalam bandara yang sudah sepi. Ditambah lagi kabut sudah mulai memenuhi udara sehingga pandangan di luar terbatas tinggal tujuh – delapan meter saja. Waduh.. Masa harus menginap di bandara hingga besok? Nggak mauuuuuu…

golden-temple-complex-amritsar

Saya mencoba bertanya ke petugas di mana kah saya bisa mencari taksi? Petugas menunjuk satu loket kecil di bagian dalam bandara, untuk  masuk ke bagian dalam itu saya diberikan kalung penanda.

Di dalam loket ada satu abang, saya bertanya apakah bisa pesan taksi. Dia bilang bisa. Biayanya 500 rupee. Ketika itu India sedang krisis uang tunai dan uang tunai saya tinggal 3170 rupee – nggak bisa bayar pakai kartu kredit/debet pula; 500 rupee terdengar luar biasa banyak! Bisa untuk makan Pani Puri lebih dari 10 kali!! Hihihi.

Dan harga segitu hanya untuk pengantaran sampai Golden Temple! Dari Golden Temple ke penginapan bagaimana? Ya naik transportasi lain lagi. Ya Allah, Tuhan YME, cobaan berat bagi perempuan kicik imut untuk membawa koper seberat 15 kg sambil harus cari transportasi lain di kota yang baru ia kunjungi sekali ini! Huks. Saya coba bertanya dengan sopan apakah bisa diantar sampai penginapan saja dan berapa biayanya? Saya angsurkan screenshot alamat penginapan ke Abang Amritsari yang manis saat tersenyum itu. Ia melihat alamatnya dan kemudian bertanya di mana kah penginapan itu? LHA BAGAIMANA ADIK TAHU, BANG?? Adik juga baru sekali ini ke Amritsar! Hihihi. Akhirnya saya minta tolong dia untuk telepon nomor yang ada di konfirmasi hotel saya. Setelah selesai telepon, dia berkata, “It’s near my house..” CAILAH.. Tetanggaan dong kita Bang selama Adik di Amritsar. AEEEEH!!! Saya pun diberikan harga sama, 500 rupee, tapi diantar sampai penginapan! Yay.. Senang dong saya, secara kalau minta penjemputan dari hotel biayanya 650 rupee. Lumayan, selilih 150 rupee bisa untuk makan Pani Puri 5 kali. *tetep*

amritsar-jutti-shoes

Seperti tidak cukup saya menyusahkan dia, setelah minta diantar langsung ke penginapan dan minta diteleponkan ke penginapan, Abang ini berbaik hati keluar dari konternya dan mengajak saya ngobrol sambil menunggu taksi datang. Bandara sudah super sepi saat itu. Selain saya, si Abang, dan petugas bandara, hanya ada bangku-bangku besi memanjang yang kosong. Kalau si Abang nggak ngajak saya ngobrol, kemungkinan besar saya ajak ngobrol itu bangku saking sepinya. >.<

Tidak berapa lama, ia mengajak saya ke luar bandara karena taksi sudah mau datang. Di luar, tiba-tiba ia berkata, “You just pay 400 to the driver.”

Saya bengong. Tadi kan persetujuannya di harga 500. Apa saya bayar 100 ke dia gitu? “So I only need to pay 400?” tanya saya ragu. Takut salah paham, sudah bahagia dapat potongan harga tahunya zonk. Si Abang, yang makin lama makin terlihat manis, menggoyangkan kepalanya sambil tersenyum – artinya: YA!

“Whaaa… Thank you, Bhaiya.. Thank you!!” ucap saya cepat-cepat sebelum ia berubah pikiran. :))

Alhamdulillah.. Uang tunai boleh pas-pasan, pikiran dan kelakuan positif jangan. Biar banyak bertemu dengan orang baik sepanjang perjalanan. Misalnya, Abang konter taksi ini. AHZEK!!

Homer


“Good morning Mam Indira-ji!” host penginapan saya menyapa hangat. Saya balas dengan senyum yang paling manis. Keramahan menyapa kayak gitu (sepertinya) bukan budaya India; jadi ketika saya mendapatkannya di hari pertama saya di Amritsar, saya cukup kaget.

“I wanna pay for my stay. Is Sandy here?” saya menanyakan keberadaan pemilik penginapan itu. “Not yet, Ma’am. Later maybe 10 o’clock he come.” host yang sama membalas.  Setelah itu dia menunjukkan dapur di mana saya bisa menyiapkan sendiri makan pagi saya. Kehidupan saat sedang solo traveling itu sungguh sangat santai. Nggak ada yang memburu harus pergi ke A di jam berapa, nggak ada kepala lain yang harus diajak berdiskusi mau ke mana, nggak ada pribadi lain yang harus dijaga moodnya selama perjalanan. Semua diputuskan sendiri, dilakukan sendiri, mood yang dijaga pun mood sendiri. Super menyenangkan! Jadi saya santai sekali menyiapkan makan, membawa makanan ke ruang tengah, mengobrol dengan host sambil sok ikut menonton TV. Sandy – sang pemilik penginapan – datang sekitar pukul 9. Setelah menaruh helmnya, dia berteriak ke saya, “Are you Indiraaaa?”

dorm-room-amritsar-india

Mata dan gerak tubuhnya sangat santai, terlihat tanpa tendensi. Kehangatan terpancar dari senyumnya. Saya mengangguk sambil membalas senyum. “How can I call you?” sahutnya lagi, “Indira is okay? Or Indu?” (ada beberapa nama di India yang ada versi pendeknya. Sandeep jadi Sandy, Indira jadi Indu, Deepika jadi Deepa. Kenapa ada beda akhiran I – U – A, saya sendiri pun nggak tahu kenapa. Hihihi)

“Bee. Just call me Bee. It’s easier for you.” jawab saya.

“BEE!! Yes!! Much easier!! Hahaha..”, dia tertawa santai. Saya berjalan ke arahnya, ingin bersalaman. Tapi bahkan sebelum saya sampai ke tempat dia berdiri, dia membuka tangannya, mengajak berpelukan. Saya sejujurnya, kaget! That attitude is so not Indian! Hahaha. Well, not the kind of Indian I know, I mean.

Saya ingat saya menahan tawa ketika lihat Deepika – adiknya teman saya – berpose kaku saat ingin foto bersama calon suaminya sesaat sebelum upacara pernikahan diadakan. FYI, Deepika datang dari keluarga berada dan berpendidikan, baik ia dan kakaknya senang traveling, open-minded, dan tentu sudah modern, jadi bukan Indian yang masih sangat tradisional gitu. Maka melihat ia menjaga jarak dan terlihat kaku untuk  berfoto bersama calon suaminya cukup membuat saya bingung.

Saya pun bertanya ke sepupuya, Veer, yang ada di samping saya, “Why aren’t they holding hands?”

“Holding hands between a boy and a girl is actually not very acceptable in our culture.” , jawab Veer. Saya bengong. Dalam hati berpikir, kalau berpegangan tangan saja tidak bisa diterima dalam budaya India, keapa perkosaan banyak terjadi di negara ini ya?

Tapi tentu saja pertanyaan itu bertahan di hati saya saja. Sepertinya bukan waktu yang tepat menanyakan pertanyaan genting tingkat nasional macam itu di sebuah pesta pernikahan. Hihihi. Jadi pertanyaan ini masih menjadi misteri. Alih-alih, saya hanya mengafirmasi, “But they’re husband and wife!”

Veer, dengan kesabarannya menghadapi perempuan kicik berisik ini menjawab, “Well, technically no. They’re yet to be husband and wife.” Saya pun ngakak. Benar juga, ya memang belum upacara pernikahannya sih saat itu.

indian-bride-lehenga

Kembali ke Sandy dari Amritsar, saya akhirnya memeluk dia dan rasanya tidak ada yang salah. Tidak terasa modus dibalik ajakannya berpelukan. Tidak terasa ada napsu. It was just a hospitality he performs to his guests. Dan kegiatan berpelukan ini tidak hanya dilakukan ke saya, tapi juga ke tamu lainnya – laki-laki sekalipun.

Memang lah, kehangatan Amritsari ini memang berbeda.


Saya nggak tahu nama Bapak ini, saya memanggilnya ‘Uncle’. Awal saya berkenalan dengannya adalah ketika saya mencari transportasi untuk membawa saya kembali ke daerah tempat saya menginap dari luar komplek Golden Temple.

tuktuk-driver-india

Saat itu, antrian transportasi di depan komplek kuil sudah mengular, banyak pilihan memang. Tapi, kebanyakan dari antrian itu adalah becak dengan sepeda di bagian depannya dan pengemudi mengayuh sepedanya itu. Saya sudah tahu seberapa jauh tujuan saya – Rattan Singh Chowk – dari kuil jadi saya nggak mau naik becak yang ditarik sepeda. Saya mencari tuktuk bermesin saja. Dan satu-satunya tuktuk bermesin di antrian itu adalah milik Uncle ini.

Tambahan: Ini fisik banget, tapi selain karena Uncle mengendarai tuktuk, saya ikut dengannya juga adalah karena wajahnya yang kebapakkan somehow membuat saya merasa aman dan nyaman. HAHAHAHA.

Di sepanjang perjalanan dari Golden Temple hingga Rattan Singh Chowk, Uncle – seperti umumnya pengemudi India – royal membunyikan klakson. Dari mulai orang jalan, orang menyeberang, sampai celeng yang ke jalannya tengah-tengah juga diklakson sama dia. Awalnya saya kaget-kaget, tapi lama-lama malah lucu. Jadi setiap Uncle membunyikan klakson, saya tertawa di kursi belakang. Dan karena mendengar saya tertawa-tawa di kursi belakang, Uncle jadi semakin semangat membunyikan klaksonnya. Ya kali, ayam lewat aja diklakson dong sama dia biar saya ketawa. :)))

golden-temple

Kali kedua saya ke Golden Temple (dalam hampir 32 tahun saya hidup, ini kuil pertama yang membuat saya merasa tenang dan tentram, jadi jangan heran, saya datang sampai dua kali. Hehehe), saya melihat Uncle di antrian depan komplek kuil. Saya langsung berteriak, “UNCLE!!!”

Uncle yang lagi mengobrol sama teman-temannya balas berteriak sambil mengangkat tangannya, “RATTAN SINGH CHOWK!!” Hahaha. Uncle sigap membuka pintu tuktuknya untuk mempersilakan saya masuk namun saya bilang saya mau makan Pani Puri dulu sebelum pulang. Uncle tertawa dan kembali mengobrol sama teman-temannya sambil menunggu saya makan Pani Puri di mamang-mamang belakang tuktuknya.

Mamang Pani Purinya ‘nakal’, saya dikasih harga mahal. Biasanya hanya 30 rupee lha kok sekarang diminta 50 rupee. ISH!! Saya keluarin lah jurus anak kecil, teriak lagi, “UNCLEEEE!!” dan Uncle pun datang tergopoh-gopoh bertanya saya kenapa. Saya ngadu saja saya dikasih harga mahal. HAHAHAHA. Pada akhirnya tentu saya bayar 30 rupee. *saya pikir-pikir, saya pedit banget deh, 20 rupee doang pake ngadu sih. Hihihi.*

Pulang dari Golden Temple, saya bilang ke Uncle saya mau cari ATM untuk coba tarik uang (saya datang ketika India sedang dilanda krisis uang tunai, jadi sebagian besar ATM kosong tak berisi, pejalan yang kebiasaan nggak bawa uang tunai banyak seperti saya jadi susah dibuatnya). Uncle pun memberhentikan tuktuknya di pinggir jalan dan berkata ada ATM di seberangnya. Saya pun hati-hati menyeberang dan bertanya ke orang-orang di mana kah ATM yang dimaksud. Semua orang yang saya tanya baik hati sekali. Menjawab dengan sopan, memberikan arah jalan yang benar, dan bahkan ada yang mengantar saya sampai terlihat ATMnya sebelum kemudian dia berbalik badan dan kembali ke tempatnya. Ya ampun, sungguhlah Amritsari ini ramah-ramah sekali dibandingkan orang Delhi. OOPS!

Yang bikin saya sempat sendu bahagia adalah ketika saya mau kembali ke tuktuknya Uncle.

Saya berada di sisi seberang tuktuknya dan lalu lintas padat sekali kala itu. Bukan yang padat macet ya. Kalau macet sih saya lebih mudah menyeberangnya, tapi ini padat berjalan. Jadi semua mobil jalan ganti-gantian, membuat sulit bagi saya untuk menyeberang. Tambahan lagi, saya memang tidak fasih menyeberang. Ya menyeberang Jalan Gunung Sahari saja saya mengangsurkan uang dua ribu rupiah untuk minta diseberangkan tukang parkir gitu, apalagi ini di India – yang notabene lalu lintasnya jauh lebih ramai dibanding Indonesia.

Tatuuuut…

Scaredy Cat

*kalian geli nggak membayangkan saya bilang “Tatuuut…”?*
*saya geli loh*

Di saat saya masih menunggu di pinggir jalan, bingung bagaimana mau menyeberang, tiba-tiba HAP!!

Pundak kiri saya dirangkul. Saya langsung nengok dan sudah hampir melayangkan tendangan hingga kemudian saya melihat siapa?

Yes. Uncle!

Beliau bela-belain meninggalkan tuktuknya, menyeberang, dan kemudian membantu menyeberangi saya. Sepanjang kami menyeberang, tangannya tidak lepas dari merangkul saya. Membuat saya mellow sedunia. Jadi berasa punya papa lagi. Hehehe.

Nggak salah memang saya main fisik di depan, memilih Uncle karena wajahnya yang kebapakan. Ternyata, jiwa melindunginya memang sungguh sangat kebapakan! Hehehe.


Masih ada banyak cerita lainnya tentang keramahan Amritsari yang membuat jatuh hati. Kapan-kapan saya ceritakan lagi ya.

Orang India itu jarang ramah (apalagi hangat), jadi merasakan keramahan Amritsari ini privilege tersendiri.

Mungkin Teman-teman yang ingin ke India tapi masih (sedikit) takut bisa datang ke Amritsar saja. Walaupun badan orang Punjab ini besar-besar, tapi ramahnya sungguh sebanding dengan besar badannya. Hihihi. Ajak saya ya kalau mau ke Amritsar!

Senyum dulu ah.. 🙂

Note: Semua foto diambil di Amritsar, kecuali foto saya dengan Deepika di hari pernikahannya. 🙂

Advertisements