Liburan Bersama Anak di Bali

Sebelum ada Key dan Ken, keponakan saya, saya nggak pernah terpikir liburan bersama anak itu ternyata butuh pemikiran tambahan saat perencanaannya. Harus memperhitungkan tingkat bosan di jalan untuk anak usia balita dan batita,  harus memperhitungkan waktu tempuh dari satu destinasi ke destinasi berikutnya, harus memperhitungkan cuaca, dan harus mencari alternatif tujuan wisata anak selain yang sudah direncanakan karena kita tidak pernah tahu kapan anak tiga tahun akan berkali-kali berujar, “Jauh banget ti Aunty, belum tampe juga nih? Key tapek mau ke otel ajah.”

HYAAA..

Saat tahun lalu kami liburan keluarga ke Bali, tujuan wisata di bawah inilah yang akhirnya berhasil kami kunjungi. Kenapa saya tuliskan ‘berhasil’ dengan cetak tebal? Karena tujuan wisata lain yang sudah saya masukkan rencana buyar begitu saja dikarenakan waktu atau jarak yang tidak memungkinkan. Hahaha. Dari yang sudah kami kunjungi, ada yang saya rasa pas sebagai tujuan wisata liburan bersama anak di Bali, ada yang tidak.

liburan-keluarga-ke-bali

  • Bermain olahraga air di Tanjung Benoa

This one is oldie but goodie. Kalau anaknya suka main air dan lonjak-lonjak bahagia kalau melihat pantai atau laut, ajak saja ke Tanjung Benoa! Banyak pilihan olahraga air tersedia, dari mulai jetski hingga flying fish dan flyboarding.

Jangan lupa sebelum memainkan olahraga air apapun, anak dikondisikan dengan air laut dulu ya. Juga jangan lupa pemanasan, strecthing-strecthing cantik gitu. Kala itu, main air dimulai dari kami semua memakai pelampung dan saya mengajak Key ke laut biar dia terbiasa. Ken nggak diajak? Tidak, karena waktu kami sampai di Tanjung Benoa itu sudah pukul 12 siang dan panas terik, kasihan Ken (yang waktu itu baru usia setahunan) kalau diajak main nanti kepanasan. Lagipula, Ken tidur pulas setelah nenen. Hihihi.

tanjung-benoa-watersport

Saya, yang adalah tumbal keluarga untuk urusan main di alam, ajak Key melintas pasir yang agak panas dengan cepat sebelum akhirnya menceburkan diri ke air laut. Sebelumnya kami sudah pemanasan dulu di pondokan pinggir pantai. Masuk ke air laut, Key diam dulu merasakan airnya (antara diam atau saya curiga dia pipis sih), kemudian tidur-tiduran bersama pelampungnya, merasakan ombak kecil menyapu tubuhnya, dan juga (nggak sengaja) minum air laut untuk merasakan asinnya pas dia jatuh terbawa ombak kecil tadi. Hihihi. Main air begitu saja dia sudah bahagia.

Setelah main air beberapa menit, mata dia mulai melihat ke arah jetski. Maka naik ke atas jetski lah kami.

Kami naik bertiga. Key di depan, lalu saya yang mengemudikan jetski, dan satu abang di belakang untuk jagain kami. Mengemudikan jetski sambil bawa anak usia tiga tahun itu ternyata tidak mudah.  Awalnya saya mengemudikan seperti biasa tapi kira-kira tiga menit jalan, saya baru sadar kepala Key donggleng-donggleng gitu saat jetski melibas ombak dan dibawa dalam keadaan kencang. Ada kemungkinan kepala dia bisa terantuk kemudi karena tangan dia belum cukup kuat untuk menahan kepalanya biar tegak diterpa angin dan ombak. Saya sempat panik saya kira dia sudah terantuk. Kalau benjol atau mimisan, habis lah sudah angan-angan liburan akhir pekan yang menyenangkan di Bali. Bisa-bisa semua langsung digeret kembali ke hotel dan disuruh tinggal di hotel saja nggak boleh keluar kamar sama mama. 😦

jetski-di-tanjung-benoa

Saya tanya apa dia terantuk kemudi? Dia bilang nggak. Dan untungnya nggak ada tanda benjol atau mimisan juga. Tapi untuk tindakan preventif, saya akhirnya mengemudi jetski dengan satu tangan kanan sementara tangan kiri memegang badan Key biar agak ke belakang dan menempel di tubuh saya jadi lebih aman. Ribet dah. Hahaha. Kami berputar-putar hampir sepuluh menit. Key senang luar biasa.

  • Naik speedboat ke Pulau Penyu

Sejujurnya, sebagai orang yang berusaha keras menjadi ramah terhadap alam, saya tidak rekomendasikan kegiatan ini. Saya ceritakan saja pengalaman kami ya, nanti setelah baca, kalian bisa ambil kesimpulan sendiri apakah akan berkunjung ke pulau ini atau tidak.

swag-stylish-kid

Kami naik speedboat dari Tanjung Benoa ke Pulau Penyu. Tujuan utamanya mau makan siang di sana karena terakhir saya makan di Pulau Penyu, masakan laut di sana enak!

Baca cerita makan enaknya di Jalan-jalan ke Bali = Berat Badan Naik

Sampai di Pulau Penyu, belum kami menjejak kaki dengan baik saat turun dari speedboat, Key sudah diangkat Abang-abang yang entah siapa dan dibawa ke arah pintu masuk. Setelah kami membayar tiket masuk Pulau Penyu, Abang itu – yang masih menggendong Key di pundaknya – langsung membawa Key ke pojok tempat seekor penyu besar sedang bersantai. Dia menurunkan Key dan tiba-tiba srrrtttt menarik penyu dari tengah kolam ke pinggir. SAYA SYOK!!!!

“Eh Bang, ngapain? Sudah biarkan. Keponakan saya bisa lihat kok dari sini.”, saya berkata ke Abang tersebut tapi dia keukeuh masih menarik penyu. ADUH!!

“Nih Key duduk sini. Nggak apa-apa, duduk sini, nanti difoto sama mamanya.” si Abang mengangkat Key dan mau membawanya duduk di atas rumah sang penyu. SAYA JADI EMOSI!

“Nggak usah, Bang! Anaknya nggak mau, jangan dipaksa. Kami lihat penyunya dari sini saja. Key pegang dan sayang-sayang penyunya saja ya. Sayang.. Sayang.. Maaf ya kami tarik kamu ke pasir, Penyu..” saya memegang Key dan mencontohkan gerakan sayang-sayang penyunya. Sebenarnya nggak penting juga itu saya ajarin dia pegang penyunya tapi saya panik dan bingung mesti bagaimana.

Abang itu masih keukeuh dengan rencananya dan dia angkat badan Key dan didudukkan di atas penyunya. Saya emosi tapi bingung. Mau bentak juga ada Key dan Ken nanti mereka lihat dan dengar saya bentak Abangnya mereka takut. Huhuhu. Dan seperti yang saya perkirakan, Key nangis dong diangkat tiba-tiba dan didudukkan di atas binatang yang masih asing bagi dia dan besar pula. HADOH!!

“Sudah nggak usah dipaksa. Anaknya nggak mau, kenapa dipaksa sih! Nggak semua anak mau didudukkan di atas penyu kayak gitu. Dan dudukkin penyu tu nggak benar! Yang benar aja lah Bang ngajarinnya!” saya mulai ketus ke si Abang dan menarik tangan Key menjauh. Kesal setengah hidup, ingin masukkin kepala si Abang ke dalam pasir saja dalam-dalam.

Belum berhenti sampai di situ, si Abang macam nggak paham ketusnya saya. Setelah dia nggak berhasil mengajak Key duduk di cangkangnya penyu, dia ajak Key melihat binatang lain yang ada di sana. Ada burung besar, ada beberapa monyet, dan ada iguana. Semuanya, kecuali iguana, ada di kandang. Dan keadannya sungguh menyedihkan. Saya nggak mengerti bagaimana harus bersikap. Mau ajak Key keluar tapi kami baru saja sampai dan bahkan belum makan siang. Berada di sana pun kok hati rasanya bersalah. Hiks.

binatang-di-pulau-penyu

Dan yang lebih menyedihkan lagi, di Pulau Penyu ada ular piton. Tahun 2012 ketika saya ke Bali dan berkunjung ke Pulau Penyu, ular itu juga ada. Dibiarkan di luar, melungker santai. Kemarin ketika ke Pulau Penyu dan melewati sebuah peti besar, si Abang bertanya mau pegang ular atau tidak? Saya tanya mana ularnya?

Dibukalah peti dan dikeluarkan si ular yang sekarang mulutnya DISELOTIP! Ya Allah, Tuhan YME, kenapaaaa???

Saya nggak sadar mulutnya diselotip dan sudah memanggul si ular karena si Abang menaruhnya di pundak saya. Pas saya sadar mulut ularnya diselotip, saya langsung mual dan muak. Sedih. Saya taruh kembali ular di atas peti dan bilang ke si Abang untuk melepas selotipnya. Dia bilang, “Iya nanti dibilangin ke yang punya.”

YANG PUNYA SIAPAAAAA??

Emosi…

Pada akhirnya kami sekeluarga tidak menikmati waktu di Pulau Penyu, hanya sebentar di sana. Nggak sabar mau keluar.

Oh dan makanan di sana kurang cocok untuk anak-anak ternyata karena umumnya dimasak pedas. HYAAAA…

Baca juga: Enam Tempat Makan Enak di Bali yang Ramah bagi Vegetarian

  • Monkey Forest Ubud

Key dan Ken, seperti umumnya anak-anak, senang melihat binatang. Ini dilematis memang karena saya juga suka melihat binatang tapi suka merasa bersalah dan nggak lapang hati kalau melihat binatang dikandangi demi menjadi tontonan manusia. Nah tapi di Monkey Forest Ubud, monyet-monyetnya tidak dikandangi. Mereka bebas berkeliaran dan berpindah tempat. Boleh banget nih dikunjungi.

Key dan Ken senang sekali di Monkey Forest Ubud. Mereka terpesona melihat monyet-monyet yang tampak cuek hang out di pinggir jalan petak yang memang disiapkan untuk pengunjung. Key juga penasaran melihat monyet yang menggendong anaknya.

Monyet di Monkey Forest Ubud terkenal iseng memang, tapi monyet mana yang nggak iseng sih? Kayaknya itu sifat bawaan mereka. Hehehe. Saat kami lagi jalan santai, sempat ada satu monyet yang naik dan memanjat ke kepala mama. Mama diam namun terdengar nada panik “Dek, ini gimana ini? Panggil petugasnya, Dek..” dan saya celingak-celinguk mencari petugas yang tak tampak satu pun jua di sekitar jalan itu. Dan sementara kami panik, Key malah excited melihatnya. -____-

 

see-monkey-at-the-monkey-forest

Monyet itu akhirnya turun sendiri sih dari kepala mama. Sempat nangkring di pundak mama juga. Tadinya mau saya foto, tapi kok mama lagi panik saya malah foto-foto? Tatut, nanti sayanya dikepruk mama. Hihihi.

Monkey Forest Ubud jadi tujuan wisata di Bali yang cukup menyenangkan untuk anak. Sayangnya, kami kemarin nggak bawa stroller sedangkan areanya cukup besar sehingga Key dan Ken kelelahan dan akhirnya harus digendong.

Gendong mereka itu sungguh PR!
Berat, Makjan!
:)))

  • Pura Pekendungan (Tanah Lot)

Waktu itu kami hanya berakhir pekan di Bali dan maksud hati mau ajak Key untuk lihat Pura Pekendungan sebelum ciao ke bandara. Sampai di sana, saya baru sadar sepertinya wisata pura agak kurang cocok untuk Key (atau saya generalisasi, anak-anak seumuran dia). Dia melihat puranya, tapi lalu ya sudah. Lempeng saja gitu wajahnya. Hahaha. Dia terlihat lebih bahagia melihat air di sekeliling pura daripada puranya. Jadi kami pun nggak lama di sana.

liburan-ke-tanah-lot


Baru ini saja sih tujuan wisata di Bali yang saya kunjungi bersama anak kecil yaitu Key dan Ken,  dua keponakan saya yang kadang lucu kadang nyebelin ini. Kali lain, semoga bisa liburan bersama keluarga lagi ke Bali dan mengunjungi tujuan wisata lainnya.

Atau kalian ada ide berkunjung ke tujuan wisata di Bali lainnya? Boleh dong dibagi untuk menambah khasanah tujuan wisata ramah anak di Bali untuk Aunty-nya Key sama Ken niiii. Hehehe.

Senyum dulu ah.. 🙂

Advertisements