Seharian di Homestay Labu Kubong Kuala Kangsar

“Esok hari guna t-shirt hitam ya.” Liaison Officer kami, Zee, mengingatkan via Grup Whatsapp. Yay, akhirnya pakai kaos acara yang paling saya suka karena satu-satunya yang saya dapat berukuran S! Hihihi. Di hari sebelumnya, saya pakai kaos acara yang kebesaran, ukurannya L. Mana lupa bawa gunting untuk potong-potong bajunya lagi, jadilah ribet sendiri kaosnya diuntel-untel dan diikat biar nggak kelihatan syariah kebesaran amat. :)) *pelajaran berharga, kali lain diundang acara yang kemungkinan besar memberikan kaos sponsor, harus bawa gunting!!*

Hari ketiga dalam rangkaian acara Tourism Hunt Malaysia akan dihabiskan di Homestay Labu Kubong di Kuala Kangsar, Perak, Malaysia.  Walaupun namanya ‘homestay’ tapi ternyata kami tidak akan menginap di Homestay Labu Kubong ini. Kami hanya akan bermain saja seharian dalam acara Balik Kampong! Sebagai mantan anak ibukota, tentu saja saya bahagia tak terkira ada acara main ke desa begitu. Sudah terbayang asyiknya!! Nggak sabar!!

jalan-di-pinggir-sawah

Kuala Kangsar adalah sebuah distrik yang berjarak sekitar empat puluh kilometer dari Ipoh – ibukota Perak. Kuala Kangsar sendiri adalah juga Kota Kerajaan Perak di mana Istana Iskandariah berada. Sultan Perak tinggal di Istana Iskandariah tersebut. Homestay Labu Kubong  berada di distriknya, di bagian yang masih sangat asri dengan pohon yang rindang dan sawah yang menghijau sepanjang mata memandang.

Kami disambut dengan meriah sekali. Seluruh Akak dan Abang yang menyambut di depan memakai baju tradisional Melayu: Baju Kurung untuk yang perempuan dan Baju Cekak Musang untuk yang laki-laki – lengkap dengan kopiahnya. Kami pun dibagikan satu gelas minuman jahe yang segar (dan untungnya nggak panas) sebagai minuman selamat datang. Masuk ke dalam, tarian seni bela diri yang diiringi tabuhan genderang dipertunjukkan di tengah tanah lapang. Tabuhan genderangnya bukan genderang perang ya, ini lebih ke genderang kendang dengan nada ala kasidahan gitu. Hihihi.

STOP PRESS: Waktu saya SD, saya masuk Grup Kasidahan sekolah saya lho. I know, tak terbayangkan ya. Kalau lagi tampil, saya pakai hijab!! Ikutan nyanyi, “Jilbab.. Jilbab putih.. Lambang kesucian..” Hahaha.. Sungguh syariah sekali si Bulan ini (di jaman dulu).

Beberapa meja makan berbentuk bulat sempurna seperti wajah Bu Ani tertata rapi di bagian kanan tanah lapang, dipercantik taplak berwarna merah muda, kontras dengan hijaunya rumput dan sawah di pinggirnya. Ihirrr, makan siang di pinggir sawah nih. Eksotis sekali! Hihihi.

Seluruh peserta sudah tidak sabar mau jalan-jalan dan main sepertinya, karena semua makan dengan cepat sebelum kemudian berganti pakaian dengan cepat pula. Dari kaos dan jeans, pakaian kami berganti menjadi kaos dan sarung! Hahaha. Iya, kami semua pakai sarung. Dengan berbagai macam gaya lilitan ala berbagai negara. Saya pakai lilitan sederhana karena kan saya memang anaknya sederhana, hanya dibentuk dua pegangan di kanan kiri lalu pegangan itu diikat di tengah, membentuk rok lebar yang tetap bisa membuat saya jejingkrakan kanan kiri saking lebarnya.

cara-melilit-sarung

Eh tapi di tengah jalan (IYA, DI TENGAH SAYA JALAN DI SAWAH!!), saya ubah gaya lilitan sarungnya jadi satu lilitan di kanan lalu saya untir-untir dan saya selipkan ke dalam. Maksud hati biar lebih terlihat anggun gitu. Nggak sampai tujuh menit kemudian, MASIH DI TENGAH SAWAH, lilitan terasa melonggar dan akhirnya saya lipat di tengah dan saya selipkan ke bagian dalam seperti cara memakai sarung laki-laki yang mau salat Jumat dan kegantengannya bertambah 127% itu. Ribet benar dah Incess ini yawla. *rolling my own eyes*

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah salah satu rumah tinggal yang bisa diinapi. Bentuknya rumah panggung seperti rumahnya Upin dan Ipin, tapi ini lebih rendah. Di depan rumah ada tanah lapang berbalut rumput hijau yang asyik sekali buat guling-gulingan dan main bola di kala hujan. Melihat rumahnya sebentar, kami pun diajak jalan lagi dan kali ini ke peternakan lebah.

di-depan-rumah-panggung

Oke, sebelum sampai peternakan lebah ada satu perhentian lagi sih. Kami berhenti sebentar banget di depan sebuah rumah horor. Menurut cerita Bapak Pemandu, rumah itu sudah tidak dipakai dan siapa-siapa yang berani menginap di dalam rumah itu, akan menemukan dirinya berada di luar rumah (entah di halaman depan rumah atau di halaman tetangga) keesokan harinya. Saya sebagai anak paling pemberani di kelompok tanjidor keliling ini (tapi bohong!) tentu saja hanya melengos manja melewati rumah itu, nggak berhenti sedikit pun di depannya. Tatuuuuttt…

*merinding membayangkan diri sendiri bilang “Tatuuuttt..” dengan gaya manja.*

Sampai di peternakan lebah, kami diajarkan cara memanen madu. Puji Tuhan ya yang diajarkan cara memanen madu, bukan cara menjadi madunya.

EH NAON ETA?!

Cara panen madu di Homestay Labu Kubong ini unik loh, bahkan sarang lebahnya pun berbentuk unik. Tidak seperti bentuk honeycomb pada umumnya, sarang lebah di Homestay Labu Kubong berbentuk kantung berwarna kuning keemasan. Untuk memanennya, kantung harus dirobek dengan tusuk gigi dahulu. Setelah itu madu yang berada di dalam kantung bisa disedot ke luar dengan menggunakan suntikan tanpa jarum. Madunya bisa langsung dikonsumsi, tanpa harus melewati proses kimiawi atau penyulingan apapun. Pas saya coba, bukan hanya bentuknya dan cara panennya saja yang unik, rasanya pun unik! Manis di awal dan asam nyelekit di akhirannya.

Seperti laki-laki saja, manis di pendekatan, pas sudah jadian eh sukanya nyelekit asem!!
#YHA #terserahDikBulansaja

homestay-labu-kubong-kuala-kangsar

Selesai belajar memanen madu, kami melanjutkan perjalanan ke kebun karet untuk belajar apa lagi kalau bukan menyadap karet.

Karena lebih baik menyadap karet dibanding menyadap telepon mantan presiden yekan. Nanti dicurhatin dua jam lagi di TV Nasional. Pucing!

Saya sempat mencoba menyadap karet dan berhasil loh! Saya baru tahu ternyata kulit pohon karet itu nggak sekeras yang saya bayangkan. Well, antara kulit pohonnya nggak sekeras yang saya bayangkan atau memang alat sadapnya yang tajam sih. Hehehe. Karena dengan hanya sedikit tenaga, kulit pohon karet yang saya sadap mudah tergerus dan membentuk jalur baru untuk getah karet segar berwarna putih lewat hingga menetes ke dalam cawan yang sudah digantung di bawahnya.

*langsung berpikir*
Leh uga nih punya kebun karet ya. Bisa nyadap sendiri.
#halah #KakehanKinginan

menyadap-karet

Kebun karetnya agak instagrammable dan sebagai artis ala-ala tentu saja saya tak mau melewatkan lokasi yang berpotensi begitu. Selesai menyadap karet, foto-foto dulu deh. Hihihi.

Semua pohon karet selesai disadap, rombongan tanjidor internasional ini digiring kembali ke sawah. Eh acara sudah selesai nih? Tentu saja belum. Kali ini, kami dibentuk ke kelompok-kelompok baru dan diajak bermain Tarik Upih!

Apa sih permainan Tarik Upih ini?

Tarik Upih adalah permainan kampung yang ternyata sungguh sangat seru!! Hahaha. Perlu setidaknya dua orang untuk memainkan permainan ini. Orang pertama akan duduk di pelepah kelapa yang sudah kering dan orang kedua harus menarik pelepah tersebut melewati sebidang sawah yang tak terpakai dan pastinya berlumpur tebal dan bertanah liat!

permainan-tarik-upih

Satu kelompok dalam permainan Tarik Upih kali ini berisi enam orang yang dipecah menjadi tiga pasang. Saya berpasangan dengan Bean dari Vietnam dan menjadi pasangan kedua yang tarik menarik di sawah. Kasihan Bean, dia harus menarik saya. Saya ni berat loh. Hihihi.

Disclaimer: Saya sudah tanyakan ke Bean apa mau saya saja yang menarik dia? Eh dia nggak mau dan dia bilang dia pasti kuat menarik saya. Sebagai Princess, saya bisa apa selain berkata ‘Ya monggo”. Hihi. Pas dia mulai menarik, dia sempat bilang, “Why are you so heavy??” HUAHAHA. Saya ngakak. Akhirnya saya bantu dia dengan juga mendorong badan saya pakai kaki. Hihihi. *itu bukan curang, itu STRATEGI!!* 😛

Kelompok saya akhirnya menang juara ketiga dari enam grup yang ada. Lumayan lah ya, nggak buruk-buruk amat. Sebenarnya kami juara ketiga itu salah pasangan setelah kami sih. Pasangan terakhir, Jimmy dan Agoez, badannya besar-besar dan pasti berat untuk saling menarik, jadi lambat deh. Benaran bukan salah saya dan Bean pokoknya! Hihihi. *nyalahin orang*

Permainan Tarik Upih selesai dan seluruh peserta sudah bersiap mau naik keluar sawah dan bebersih, eh panitia yang iseng malah menyetel lagu Despacito keras-keras. Jadilah kelompencapir kelas teri ini nggak jadi keluar sawah dan malah asyik jogetan di sawah dengan baju dan celana kotor bersimbah lumpur dan tanah. Hahaha. Di tengah siang hari bolong pula!

Princess pun berubah jadi Minah.
RIP keanggunan diri.
Untung nggak ada mama saya ya, kalau ada, mungkin beliau akan segera panggil blandweer untuk cepat menyemprot anaknya biar bersih.

Selesai sampai di situ? Oh tentu tidak. Dalam perjalanan dari sawah kembali ke Homestay Labu Kubong, kami melewati parit. Bapak Pemandu bilang boleh masuk ke parit tersebut dan beliau pun menjelaskan air paritnya masih alami dan dingin. Saya yang nggak mudah percaya pun langsung tergoda untuk masuk ke dalam parit. Airnya memang berwarna cokelat, tapi benar ternyata, airnya dingin dan segar sekali!

Kelompencapir kelas teri berpindah tempat joget dan jadi norak bersama; jogetan di dalam parit! Hahahaha. SUPER FUN!!

mandi-di-kali

Jadi mandinya di parit, Lan?

Enggak kok. Setelah selesai ngubek-ngubek parit, kami berjalan beriringan kembali ke Homestay Labu Kubong dan mandi di kamar mandi lah. Hihihi.

Setelah mandi, acara pun dilanjutkan dengan makan bersama di pinggir sawah.

Dari sekian acara dalam Tourism Hunt Malaysia kemarin, seharian di Homestay Labu Kubong Kuala Kangsar jadi acara favorit saya. Asyik banget! Serunya maksimal!

Sekarang, ijinkan saya mengakhiri post ini dengan sebuah pantun biar lengkap ke-Melayu-an saya:

Incess Ikan jalan ke Kuala Kangsar berubah nama jadi Minah.
Menyadap karet, jalan di sawah, juga memanen madu.
Kapan-kapan kembali ke Homestay Labu Kubong dan menginap ah!
Biar makin asyik, menginapnya sama kamu!

Uwuwuwuwu..
*lulus jadi FA-nya Citilink*
Hihihi..

Senyum dulu ah.. 🙂

 

Baca juga:

  1. Tourism Hunt Malaysia: Roadtrip Kuala Lumpur, Perak, Hingga Putrajaya
  2. Kuala Lumpur Walking Tour – Route 1
  3. Easy and Cheap Way To Go Around Penang
Advertisements