Wae Rebo, Antimo, dan Perjalanan Menuju Sebuah Impian

Beberapa tahun lalu Mama pernah menunjukkan satu artikel bagian travel koran Kompas dengan sebuah foto besar di tengahnya. Tujuh bangunan berbentuk kerucut yang tertutup ijuk dari atas ke bawah terlihat gagah melingkupi tanah lapang besar di tengahnya. Lembah tinggi menjulang memeluk ketujuh rumah dari belakang. Kabut turun menambah magis gambaran akan desa yang sedang dibicarakan dalam artikel ini. Saya wondering, “What is this place? It looks surreal!”

Desa Adat Wae Rebo, namanya.
Melihat gambarnya, saya bermimpi, suatu saat saya akan berkunjung ke sana.

Baca tulisan saya tahun 2015 lalu tentang mimpi ini >> Mimpi Indonesia, Desa Adat Wae Rebo


Untuk menuju Wae Rebo, kami; saya dan Firsta, naik pesawat dulu ke Labuan Bajo. Firsta berangkat dari Jakarta dan bertemu saya di Bali lalu melanjutkan bersama ke Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo, kami lanjut dengan minibus selama empat jam menuju Pertigaan Ruteng dengan jalan beraspal yang halus dan bagus serta pemandangan persawahan di Cancar yang memesona.

Sampai Pertigaan Ruteng, perjalanan dilanjutkan dengan oto kol.

Oto kol adalah truk besar yang disulap jadi angkutan. Di dalam truk itu dipasang bilah-bilah kayu melintang dari kiri ke kanan. Untuk naik oto kol, penumpang harus memanjat dari ban lalu menyisir badan truk ke kiri atau ke kanan tergantung tempat duduk yang dituju. Saya sudah deg-degan kalau-kalau nggak kuat mengangkat badan, eh ternyata kuat! Berarti masih sehat yes.. Puji Tuhan nggak perlu dibantu dorong bokong sama Abang-abang oto kol. Hihihi.

Saya duduk di paling pinggir, berpegangan badan truk dan tiang. Oto kol ini bukan hanya untuk mengangkut manusia namun juga segala macam barang. Saya rasa prinsip bisnis Abang oto kol ini adalah, “Satu tarikan untuk semua” karena secara harfiah, beliau siap memaksakan semua orang dan barang muat di dalam oto kolnya. Hihihi. Di tengah kami duduk dan menunggu, kami diminta mengangkat kaki karena ada tiga gulungan tikar daun yang besar dan panjang harus ditaruh di bawah kursi. Jadi sepanjang perjalanan, kaki kami menekuk sedikit dan menginjak gulungan tikar daun itu. Masih bearable ini sih, karena ada yang lebih heits!

Di tengah jalan, ada satu penumpang mau naik oto kol sambil membawa tiga kardus entah berisi apa, satu koper kecil, satu tas tabung berukuran lumayan besar dan, tebak apa, SATU GENTONG PLASTIK!! Saya sempat berujar ke Firsta, “Itu mau ditaruh di mana ya gentongnya?” dan tadaaaaaa, tentu saja Abang oto kol menemukan tempat untuk menaruh tu gentong! Seorang Bapak yang duduk di depan diminta duduk sedikit mengangkang demi memberi tempat bagi si gentong. Bapak penumpangnya juga iya saja lagi, tanpa membantah atau mengeluh, dia patuh melebarkan kaki dan si gentong pun berdiri gagah di antara pahanya. Saya dan Firsta lihat-lihatan sambil ngikik. :))

pemandangan-alam-wae-rebo

Perjalanan dengan oto kol dari Pertigaan Ruteng sampai ke Dintor ditempuh dalam waktu 3.5 jam. Kalau ingat-ingat memori naik oto kol itu, saya dan Firsta pasti tertawa-tawa sendiri. Sekitar 20 menit pertama naik oto kol, kami masih asyik mengobrol sambil melihat pemandangan yang membentang ciamik. Setelah itu oto kol mulai masuk ke jalan kecil dengan pepohonan menjulang di kanan kiri. Pemandangan jadi cukup membosankan dan dua anak kecil di depan kami sudah mulai geliyat-geliyet resah. Yang satu malah langsung rewel minta tukar tempat duduk sama ibu dan neneknya. Hmm, kayaknya bakal ada yang jack…..YAK, ADEK LAKI-LAKI YANG DI DEPAN MUNTAH!!

Hadudu… Perjalanan masih panjang, Dik!! πŸ˜₯

Akhirnya saya dan Firsta memutuskan berbagi satu tablet Antimo dan tidur dengan posisi yang tidak bisa dibanggakan maupun dipertanggungjawabkan. Firsta tidur menunduk dan membiarkan kepalanya goyang ke kanan kiri mengikuti gerak truk (kadang truk bergerak ekstrem, dan Firsta tetap …. tidur. Hahaha) sementara saya tidur dengan memosisikan tas di pojokan antara tiang dan badan truk kemudian membenamkan kepala di atasnya. Itu kalau truknya miring kanan dengan ekstrem, ada kemungkinan tas saya ndlosor jatuh ke kanan dan saking efek Antimo luar biasa bikin ngantuk, Β ada kemungkinan juga kepala saya ikut ndlosor tanpa bisa saya kendalikan. Hihihi. Luar biasa banget ini efek Antimo, padahal masing-masing kami hanya menenggak setengah tablet. :))

Yang unik juga, oto kol ini mengantar sampai depan rumah. Jadi kami diajak berkeliling ke rumah warga. Hahaha. Jadi tahu Bapak yang itu tinggal di sana, Ibu yang ini tinggal di sini, Adek yang tadi muntah punya anjing warna putih dan anjingnya menunggu di depan rumah lalu menggoyangkan ekornya dengan bahagia pas lihat si Adek datang. Hahaha. Duilah.. Ini macam silaturahmi. :))

Oto kol mengantar kami sampai ke Dintor karena kami akan menginap satu malam di Dintor sebelum trekking ke Wae Rebo.

pemandangan-desa-dintor

Pagi pukul 8 keesokan harinya, saya dan Firsta bergabung dengan satu grup berisi tiga anak muda ibukota, Gina, Asep, dan Laela, untuk memulai trekking ke Wae Rebo dengan ditemani satu pemandu bernama Bapak Sales. Dari penginapan, kami naik mobil ke Desa Denge; dari jembatan di ujung Desa Denge lah kami memulai trekking dengan bismillah.

Trekking ini bikin deg-degan sih. Saya nggak pernah percaya diri sama yang namanya trekking atau hiking dan kecil hati banget karenanya. Jadi dari awal persiapan trekking, saya sudah bilang ke Firsta, Asep, Gina, dan Laela bahwa ada kemungkinan saya akan memperlambat perjalanan karena memang nggak kuat nanjak. Mereka jawab santai, “Nggak apa-apa. Santai saja jalannya. Kalau capek ya berhenti dulu istirahat.”

Dan mereka benar-benar baik lho, nggak ada sekali pun mengeluh kalau saya minta berhenti untuk istirahat dulu. Saya berhenti, mereka ikut berhenti. Tidak sekali pun juga mereka menunjukkan wajah yaelah-berhenti-lagi-nih gitu karena ketika lagi berhenti, kami semua mengobrol atau foto-foto. Semuanya dibikin asyik, tidak sekali pun mereka membuat saya merasa bersalah karena memperlambat perjalanan.

Kebaikan apa yang saya perbuat di masa lalu sampai saya bisa hampir selalu dipertemukan dengan orang-orang yang baik begini di masa sekarang ya?

Alhamdulillah..

kumpul-di-desa-adat-wae-rebo

Dari yang saya baca dan bertanya ke Pak Sales, trekking ke Wae Rebo akan menempuh waktu lebih kurang tiga jam. Saya saat itu meringis sambil berkata, “Mungkin empat jam, Pak, karena ada saya.. Hehehe..” tapi ternyata kami semua menyelesaikan trekking dalam berapa jam? DUA JAM SAHAJA! Prok prok prok!! Puji Tuhan..

Tanda bahwa dengan orang-orang baik di sekitar yang saling mendukung dan tidak merendahkan, perjalanan lama bisa menjadi lebih cepat, perjalanan yang menakutkan bisa menjadi sangat menyenangkan.

“Tung tung tung tung tung!!!” suara sebuah alat dari bambu yang digoyangkan Pak Sales terdengar nyaring. Alat itu harus dibunyikan sebagai penanda akan ada tamu masuk ke Wae Rebo. Pak Sales pun memakai sarung untuk menutupi seluruh kakinya yang sepanjang trekking tadi hanya ditutupi celana selutut saja. Wae Rebo adalah desa adat sehingga siapapun yang masuk, harus terlebih dahulu menemui dan permisi ke ketua adat – dan tentunya, berpakaian sopan. Ketua adat akan menerima dan mendoakan pengunjung serta menyampaikan permisi kami ke leluhur desa Wae Rebo ini. Kami pun langsung menuju ke Mbaru Niang (sebutan untuk rumah di Wae Rebo) terbesar diantara ketujuh rumah yang ada di sana.

desa-adat-wae-rebo

Rumah di Wae Rebo hanya berjumlah tujuh saja. Tidak boleh lebih tidak boleh kurang. Tinggi rumahnya sekitar lima belas meter dan terdiri dari lima lantai. Untuk menuju lantai atas, disediakan tangga kecil yang menempel di kayu besar di tengah. “Itu elevatornya”, kata Michael, anak muda Wae Rebo yang membantu menerjemahkan perkataan Ketua Adat. Kami terkekeh.

Di tengah rumah, ada dapur yang aktif dipakai setiap harinya. Saya pikir akan terasa sangat sesak dan pengap di dalam rumah kalau ada asap dari dapur, eh ternyata tidak lho, padahal jendela pun hanya beberapa dan kecil-kecil saja. Asap juga ternyata justru bagus untuk menambah daya tahan kayu yang dipakai sebagai pondasi Mbaru Niang. Rumah yang diasapi akan bertahan lebih lama dan lebih kuat dibanding rumah yang tidak diasapi. Interesting!

Kami tinggal selama satu malam di sebuah rumah yang memang diperuntukkan untuk pengunjung yang ingin menginap. Telah tersedia kasur tipis (seperti futon) yang dialasi tikar di atasnya lengkap dengan satu bantal dan satu selimut penghalau dingin. Kasur-kasur diposisikan melingkar mengikuti bentuk rumah. Tidak ada sekat, semua pengunjung kenal nggak kenal ya tidur bersama dan kenal-kenalan akhirnya. Bagian tengah yang seharusnya untuk dapur ditutup dan dijadikan ruang makan. Satu rumah bisa berisi empat puluh orang, jadi saat makan tiba, kami semua duduk dan makan bersama, empat puluh orang! Ramai dan seru!!

Oh dan bantal yang dipakai untuk duduk saat makan itu empuk dan nyaman sekali deh. Rasa-rasa ingin bawa pulang. Hihihi.

Di pagi hari, tanpa mandi (karena kami sudah mandi di sore hari sebelumnya dan untuk apa mandi kalau nggak keringatan kan. #LifeTips) kami berpamitan dan menempuh jalur trekking yang sama untuk kembali ke Dintor. Sampai di pos tempat Pak Sales membunyikan alat bambu kemarin kami berhenti dan melihat ke belakang ke arah Desa Adat Wae Rebo sekali lagi.

Perjalanan yang manis, I’ll forever cherish.

Perjalanan ke Wae Rebo memang tidak mudah, butuh biaya yang nggak sedikit, fisik yang prima, dan perjuangan lebih. But it’s totally doable! Impian memang tidak ada yang mudah untukΒ  diraih kan?

 

What’s amazing won’t come easy, and believe me, Desa Adat Wae Rebo is totally worth suffering (the trip and trek) for. Hihihi.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements