Salah Kaprah dan Kaget di China

Iya iya saya tahu, dalam Bahasa Indonesia, yang baku tuh Tiongkok, tapi biarlah saya memakai Cina saja ya. Sekali-kali lah kalian nerima saja nggak usah komen dan minta penjelasan gitu. Teman-teman saya yang Chinese-Indonesian saja santai memakai kata yang sama. Toh niat saya memakai kata itu bukan untuk mengejek atau ngenyek, just a matter of comfort. << LAH PANJANG AMAT PENJELASANNYA.

Anyhoo… Mari menulis tentang perjalanan saya dan Mama ke Cina saja. Hehehe.

yuyuan-garden-shanghai

Perjalanan ke Cina bareng Mama kemarin sesungguhnya bukan perjalanan pertama kami ke negara Panda ini. Kami bolak-balik ke Hong Kong, Macau, dan Shenzhen pas libur Lebaran tahun-tahun lalu.

Tapi kan Hong Kong dan Macau, Lan, bukan Cina.

Eh Manyul, Hong Kong dan Macau itu bagian dari Cina. Hihihi. Ini salah kaprah yang sering banget terjadi. Just so you know, Hong Kong and Macau are NOT countries loh. Hahaha. JENG JENG… *slushy pecah*

Hong Kong dan Macau adalah bagian dari Cina. Jadi kalau kalian sudah pernah ke Hong Kong atau Macau, SELAMAT! Berarti kalian juga sudah pernah ke Cina. πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Tapi memang, kalau orang menyebut Cina, yang TRING langsung di otak adalah Cina Daratan; sedangkan Hong Kong dan Macau adalah daerah administratif khusus jadi tidak masuk ranah Cina Daratan itu (walaupun secara geografis, keduanya berada di satu daratan yang sama dengan yang disebut Cina Daratan itu. Hihihi). Penjelasan saya memusingkan nggak? 😜

Ada perkataan yang cukup terkenal; there’s is the rest of the world, and there is China. Dan setelah saya ke Cina dan melihat serta mengalami sendiri, saya mengamini perkataan itu. Cina itu negara yang sungguh besar! Gila lah besarnya. Ya secara geografis saja sudah kelihatan betapa besarnya negara ini kan. Hal besar lainnya, pas saya di sana, saya dan Mama dibuat terperangah karena ini negara kayak bisa berdiri on their own feet. Kayak nggak butuh negara lain. Macam bisa berjalan dengan sistem (yang dibuat) sendiri dan dengan orang-orangnya sendiri.

The rest of the world has Google?
Sorry, it’s banned in China. They have their own: BAIDU!

The rest of the world has Facebook?
Sorry, it’s banned in China. They have their own: REN REN!!

The rest of the world has Youtube?
Sorry, it’s banned in China. They have their own: YOUKU TUDOU!!

The rest of the world has Twitter?
Sorry, it’s banned in China. They have their own: WEIBO!!

Gila nggak?! Pemerintahnya menutup sebagian besar kanal berbagi-dan-hura-hura-ayo-pamernya anak muda tapi mereka punya kanal khusus mereka sendiri! Kayak nggak butuh orang/negara lain banget kan, mereka punya semuanya sendiri! Hahaha.

wangfujing-street-beijing

Dan sebagai negara dengan jumlah populasi terbanyak di dunia, yang saya lihat, sektor pariwisata di Cina ya berisi orang Cina juga. Turis tuh jumlahnya hanya remahan kerupuk udang dibanding wisatawan lokal. Ini cukup saya rasakan walau saya datang di waktu yang terhitung masa sepi pariwisata. Kalau di Oktober minggu pertama atau kedua, BEUH!! Jumlah turis sudah bukan remahan kerupuk udang lagi, macam bubuk bumbu Ind*mie yang ikut terhempas saat bungkus dibuka paksa! Sedikit banget dibanding wisatawan lokalnya.

Saya dan Mama sempat nonton opera berbayar di tempat terbuka. Operanya singkat, dilakukan oleh orang-orang tua. Satu pertunjukkan hanya menghabiskan waktu lebih kurang 15 menit. Berbahasa Mandarin. Saat itu ada sekitar 20 – 30 orang yang menonton dan dari 20 – 30 orang tersebut, yang turis hanya saya dan Mama, selebihnya wisatawan lokal semua. YHA.. Hahaha. I think, they certainly don’t need tourist to come secara wisatawan lokalnya saja sudah membeludak banyaknya. πŸ˜„

Kami mengunjungi tiga kota dalam perjalanan kami ke Cina kali ini: Beijing, Xi’an, Shanghai. Tapi Beijing tidak bisa dihitung kali ya karena kami hanya di sana selama 9 jam saja. Hihihi.

Setelah mendengar dan membaca tentang Cina Daratan dari teman maupun media, gambaran yang saya dapat dari Cina Daratan itu ya terbelakang dan jorok jadi walaupun kalau googling foto Beijing itu terlihat cerah, bagus, modern; dalam hati saya masih menganggap, “Ah, enggak lah. Ini editan kayaknya.” Hahahaha. Eh saat tiba di Beijing, lha malah saya yang kaget.

Beijing itu kota yang sangat modern, jalannya besar-besar, mobil yang seliweran pun mobil bagus dan kinclong. Jadi, sepertinya, foto-foto di Google itu bukan editan. πŸ˜‹

xi'an-on-autumn

Eh btw saya ada cerita tentang mobil!

Jadi saya dan Mama mendarat pukul 19.30. Dengan masa melewati imigrasi lalu menunggu koper ya ada lah kami keluar bandara sekitar pukul 20.00 (atau malah lebih). Dan karena bayangan saya akan Cina Daratan tu sudah jelek hasil dari dengar cerita orang dan baca-baca itu tadi, plus di luar bandara itu dingin sekali sementara badan kami masih harus beradaptasi, maka saya mengajukan untuk naik taksi bandara saja daripada ribet.

Saya yang masih agak jetlag langsung iya-iya saja saat mbak berjas di belakang konter menyebutkan angka 400 yuan untuk biaya perjalanan dari bandara ke penginapan. Baru sadar sekitar 5 menit kemudian saat Mama berujar, “Jadi 800 ribu ya dari sini ke bandara. Lumayan juga. Jauh, Dek?”

Hah wait what? Delapan ratus ribu?

Saya buka aplikasi XE Currency di ponsel saya dan mengetik 400 di mata uang yuan. Hasilnya: DELAPAN RATUS RIBU KURANG DIKIT, TEMAN.. DELAPAN RATUS RIBU!! Bisa untuk bayar maintenance Ubernest dua bulan! Astagfirullah.. 😒

Tapi akhirnya kami tetap naik sih dan malah cekikikan berdua karena pas taksinya datang ternyata bentuknya adalah … jeng jeng … MERCEDES BENZ! Huahahaha. Dul, gaya amat naik taksi Merci, di Jakarta saja naiknya Gojek. MAMAM TUH DELAPAN RATUS RIBU!

Jaraknya memang ternyata lumayan jauh dan macet tapi kan naik Merci ya, jadi nyaman. *dibanjur air seember* Lucunya lagi, penginapan kami itu nggak yang megah dan besar di pinggir jalan gitu. Kami menginap di sebuah boutique hotel yang ternyata posisinya di sebuah jalan kecil. Taksi kami nggak bisa masuk. Hahahaha. Itu pokoknya ngakak banget deh semalaman. Besok-besoknya saya ketat banget soal pengeluaran karena merasa dudul di malam pertama sudah keluar delapan ratus ribu buat naik Merci taksi.


Toiletnya benar jorok ya, Lan?

Saya beruntung karena saya datang di musim peralihan dari musim gugur ke musim dingin. Suhu udara sudah mendingin; berkisar di 6 – 7 derajat celcius di Beijing dan Xi’an dan menghangat ke 11 – 12 derajat celcius di Shanghai. Entah apa hubungannya dengan keadaan toilet, tapi saya selalu menganggap di musim dingin, wewangingan itu tidak terlalu tercium, menguap saja, terkalahkan oleh dingin dan tipisnya udara. Plus, pemikiran lainnya, mungkin juga orang jadi malas pakai toilet umum karena tidak seperti di Jepang yang toiletnya ada pemanasnya (jadi bumbum kita hangat gitu, enak deh, saya suka nongkrong lama banget di toilet hotel saat di Jepang hanya demi bumbum saya hangat. Hihihi. TMI), di Cina tidak ada penghangatnya. Jadi mungkin, pengunjung toilet umumnya juga berkurang. Mana enak doing the business dengan keadaan super dingin bikin menggigil kan. Hihihi.

Hal lainnya, entah toilet seperti apa yang dibilang sangat jorok itu tapi hampir semua toilet yang saya dan Mama pakai itu toilet otomatis yang ngeflush sendiri. Tinggal berdiri dan sensor langsung berjalan dan toilet ngeflush.

Sekali doang saya merasa ‘wangi’ toilet tercium cukup menyengat adalah saat berada di Tongli, kota air yang berjarak 80 kilometer dari Shanghai. Mengganggu banget nggak ‘wangi’nya? Enggak. Hahaha. Sekali lagi, mungkin karena musim dingin, udara tipis. Atau karena toleransi saya sama ‘wangi’ toilet tuh agak lebih dari rata-rata ya. Hihihi.

Tips: Jika ingin ke China, datanglah di sekitaran musim dingin, musim gugur, atau musim semi saja. Jangan saat musim panas. Biar aman dari serangan ‘wangi’ toilet gitu. Hihihi.

tongli-water-town

Banyak yang mungkin tidak tahu – termasuk saya sebelum berkunjung, Cina itu (ternyata) sangat-sangat maju dalam berbagai bidang. Salah satunya, dalam transaksi pembayaran. Di Cina, sangat jarang sekali orang transaksi menggunakan uang tunai.

Kami berkunjung ke Xi’an Muslim Street dua kali dalam dua hari. Sengaja, karena selain makanan berlimpah, itulah saat di mana saya bisa lebih santai nggak perlu memikirkan makanan untuk Mama karena semua yang di Muslim Street itu halal. Hehehe. My Mom is a muslim, btw, in case you don’t know. 😊

Muslim street selalu ramai. Karena muslimnya? Tidak. Lebih ke karena banyak makanan. Hahaha. You know how Chinese with food, kan! Tak bisa dipisahkan! Di Jakarta saja, sentra makanan enak berderet-deret pasti banyak yang berada di lingkungan komunitas Cina. Food is lyfe, kituh! Hihihi. Nah saat di Muslim Street Xi’an ini, saya baru sadar betapa orang Cina itu sudah jauh lebih di depan dalam urusan menjadi cashless society.

Saat saya dan Mama beli sate dan menunggu satenya matang, ada empat apa lima pembeli lainnya dan kesemuanya tidak ada yang membayar tunai. Jangan salah, tidak juga mereka membayar dengan kartu. Mereka sudah lebih maju dan membayar dengan memindai kode QR yang ada di depan masing-masing konter jualan lalu memasukkan jumlah pembayaran via ponsel lalu tinggal menunjukkan bukti bayarnya ke penjual. Di beberapa konter malah penjualnya sebodo teuing nggak minta pembelinya menunjukkan bukti bayar. Hahaha. Pembayaran dengan kode QR ini bisa dilakukan melalui dua kanal: Alipay dan WeChat Wallet/Pay. Kebanyakan sih pada pakai WeChat Wallet/Pay. Pembayaran non-tunai ini tidak hanya berlaku di penjual sate yang kami hinggapi kok (((HINGGAPI))), tapi laminating kode QR berwarna hijau dan biru itu ada di SEMUA penjual yang ada di Muslim Street. Ada juga di minimarket kayak Alf*mart atau Indomar*tnya gitu. Pokoknya mereka sangat minim menggunakan uang tunai, mungkin terakhir mereka menggunakan uang tunai sebagai moda pembayaran itu di tahun 2001 kali *ngasal*.

cara-pembayaran-di-cina

But anyway, mereka terima pembayaran tunai kok. Jadi tidak perlu takut pembayaran akan susah. Mereka juga punya kembalian tunai kok. Fleksibel mereka mah mana yang menghasilkan ya digarap. Hihihi.

Oke, di tulisan kali ini sebegitu dulu deh ya cerita tentang perjalanan ke Cinanya. Tahu-tahu sudah lebih 1600 kata nih, gawat. Bisa-bisa saya hibernasi satu bulan lagi kalau nulisnya kepanjangan. Hahaha.

Mengunjungi Cina mengubah pandangan saya. Dulu di sekolah, saya diajarkan bahwa negara adidaya adalah negara Amerika. Entah kenapa sejak ke Cina, saya malah berpikir Cina lah negara adidaya tersebut. Hihihi.

Eh tapi ini mungkin karena saya belum pernah ke Amerika sih. Hahaha. Jadi akan mungkin berubah nanti kalau saya sudah ke Amerika. Please, aku jangan dibully… Wkwkwkw..

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements