Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Cina

Balik dari Cina, saya kan wondering siapa yang memviralkan perkataan, “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina”, eh ternyata setelah saya googling, saya justru dibuat kaget karena perkataan “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina” ini asalnya dari hadis!

IYA. HADIS!!
Mind-boggling ya!!

EDIT: Setelah melalui obrolan seru dan tautan ini itu, ternyata hadis yang mengatakan ini masih diragukan level kesahihannya. Ada yang bilang ‘lemah’ ada yang bilang ‘palsu’. Ku tak tau yang benar yang mana. Yang ku tahu, aku sayang kamu. Dah gitu aja. Sip.

bicycle-in-beijing


Saya ingat Mama pernah berkata, “Kalau orang Cina punya usaha, tetangga sebelahnya buka usaha yang sama, mereka malah senang. Malah mendorong tetangga sebelah-sebelahnya lagi untuk usaha yang sama atau melengkapi usaha yang ada, jadi deh mereka secara tidak langsung bangun sentra usaha tersebut di daerah itu. Orang jadi tahu kalau mau cari barang A ya ke daerah itu. Gak ada tu yang namanya gidhap-gidhap kesal karena merasa lahannya diambil. Rejeki itu sudah ada masing-masing. Bersaing itu bisa secara kekeluargaan.” << Sebenarnya aslinya Mama kemudian membandingkan dengan cara berusaha bangsa lain tapi karena di dunia internet ini banyak yang sensitifnya tingkat test pack, jadi nggak usah lah saya ungkapkan di sini perkataan lengkapnya ya. Hihihi.

Omongan Mama ini terpatri banget di otak saya hingga kini. Terbawa dalam cara saya berusaha dan memandang hidup. AH CAELAH bahasa lu, Lan!

Waktu punya usaha sepatu, saya punya beberapa teman yang juga punya usaha di bidang yang sama. Puji Tuhan kami nggak pernah sikut-sikutan. Yang ada, kalau saya lagi kelebihan order, saya bisa hubungi mereka untuk ‘pinjam’ tukang sepatunya. Begitu pun kalau saya lagi belanja material, mereka nggak sempat belanja padahal lagi butuh, mereka titip saya belikan.

Begitu pula di dunia perbloggeran sekarang (cieee.. blogger banget nih Sis!). Memberi referensi blogger lain saat diperlukan itu selalu saya lakukan. Kadang, saya juga direferensikan oleh blogger lainnya. Menyenangkan sih yang begini, dunia nggak hanya diisi dengan kompetisi dan sikut-sikutan. Hidup jadi lebih mudah dan selaw. Nggak pusing dan sibuk menghitung rejeki orang lalu membandingkannya dengan diri sendiri.

Motto saya: cukuplah pegawai pajak saja yang menghitung rejeki orang lain, saya mah jangan. Hihihi. Peace dulu ah.. πŸ˜„

china-high-speed-train


“Orang Cina itu gigih kalau usaha, Dek. Nggak ada yang namanya malu untuk berusaha. Usaha apapun itu.”, kata Papa.

Saya kira beliau mengatakan ini untuk menghibur saya saja saat saya harus bangun pagi dan bekerja (di kantor beliau), tapi melihat kegigihan banyak orang Cina di sekitar saya, saya rasa perkataan beliau benar adanya.

INTERMEZO: Saya kerja di Kantor Papa saat libur sekolah dulu. Dibayar. Pekerjaan pertama saya adalah menyapu dan mengepel kantor sebelum karyawan datang. Jadi saya harus bangun pagi-pagi sekali saat masa liburan. Hahaha. Mau sedih tapi Papa bilang, “Ya ini namanya kerja. Kamu kira nanti kalau kamu kerja kantoran bisa langsung jadi manager tanpa jadi eksekutif atau junior? Kamu kira di tahun pertama atau bahkan sampai tahun ketujuh kedelapan kamu bisa datang ke kantor jam sepuluh? Kamu dibayar lho. Ada tanggungjawab yang harus kamu tunjukkan dari setiap sen orang membayar kamu. Itu namanya performa. Mulai semuanya dari awal, jadi nggak ada celah orang bohongin kamu wong kamu tahu sampai urusan bawah-bawah. Kalau nanti kamu jadi manager tapi nggak tahu urusan bawah ya siap-siap saja dibohongin orang.”

KRIK.. KRIK..
Padahal cuma komentar, “Wah aku mesti bangun pagi banget doooong.” eh dibalasnya pakai kultum. 😜

Dalam perjalanan kemarin, saya melihat lagi bagaimana gigihnya orang Cina berusaha.

Saya dan Mama terbang ke Shanghai dari Xi’an dengan pesawat paling pagi. Sepagi pukul 7.

Sebenarnya nggak terlalu pagi ya, apalagi mengingat ini penerbangan domestik. Tapi ternyata di Cina, untuk penerbangan domestik pun, jadwal check in dihitung dua jam sebelumnya.

Pas saya bilang pesawat kami pukul 7, Mbak Resepsionis keukeuh berkata kami harus berangkat pukul 4 pagi. Padahal dia sendiri bilang dari penginapan ke bandara kurang dari 30 menit. Nyahaha. Ya sudahlah, kami ikuti saja. Anaknya pasrahan. Hehehe.

Pagi itu, keadaan masih gelap dan sepi. Hanya ada dua penyapu jalan yang mulai bekerja. Kami diminta menunggu di halte bus dekat penginapan. Resepsionis sudah membantu kami memesan taksi online untuk pukul 4.

Pukul 03.58, sebuah mobil datang. Saya cek kertas yang diberikan resepsionis yang berisi detil mobil dan mencocokkan. Pengemudi pun turun untuk mengangkat koper kami ke dalam bagasi. Seorang pemuda, mungkin seusia saya atau malah lebih muda, memakai celana kain, kemeja putih polos, dan bersepatu pantofel. Rapi jali.

Pas saya masuk dan duduk, saya melihat ada tas kantor dan jas di kursi depan sebelah kanan. Melihat potongannya, saya yakin sekali dia pekerja kantoran. Dia cukup mengerti bahasa Inggris dan mobilnya sedan baru, mulus, bersih, wangi pula.

Kemudian saya kagum, hihihi.

Dia masih mau ambil orderan super pagi sebelum berangkat ke kantor. Saya dan Mama bangun pukul 03.30 pagi untuk siap-siap, dia sampai di hotel kami pukul 03.58 sudah lengkap dengan pakaian kantor rapi, sepatu, tas kantor, mobil kinclong bersih. Jadi SUDAH PASTI dia bersiap sebelum kami dong ya. Hebat ya. Gigih gitu. Nggak malas dan nggak malu menjemput rejeki dengan kerja tambahan jadi pengemudi taksi online. πŸ‘

Kami sampai bandara pukul 04.13, btw. Konternya belum pada buka pun. OKEXIP! *kasih jempol ke hidung Mbak Resepsionis*

xian-shaanxi-chia


 

Orang Cina Daratan itu galak, suka bentak-bentak, nggak suka ngebantu, cuek, jorok, dan sebodo amat. Semua pada nggak bisa bahasa Inggris! Itu beberapa ‘katanya’ tentang orang Cina Daratan yang sering saya dengar. Mendengarnya, sebelum berangkat, saya kok jadi deg-degan ya. Hihihi.

Saya atur ekspektasi saya rendah sekali dengan banyaknya ‘katanya’ ini. Saya juga minta Mama mengatur ekspektasinya pada tingkat yang sama. Pokoknya kami berniat tertawa dan senyum saja kalau nanti ‘katanya2’ itu kejadian. Hihihi.

DISCLAIMER: Jawaban berikut adalah berdasarkan pengalaman saya. Tidak menggambarkan orang Cina secara umum. Dalam satu komunitas masyarakat kan orangnya beda-beda, jadi ya kalau ada yang menyanggah jawaban-jawaban saya di bawah ini ya hehehe saja. Pengalaman berinteraksi kan pasti beda-beda, Bruh.

Orang Cina Daratan cuek?
IYA! Tapi bukan cuek nggak peduli sih. Lebih ke cuek nggak mau ngurus urusan orang. Sudah saja urus urusannya masing-masing gitu.

Kalau ditanya, mereka akan jawab?
JAWAB. Tapi sebisa mereka. Tingkat keramahan mereka ya seperlunya saja, tidak terlalu tinggi kayak orang Jepang, misalnya. Kalau kami nggak paham jawaban mereka ya sudah, mereka nggak akan seniat itu untuk buka aplikasi translate di ponselnya untuk menerjemahkan perkataan mereka supaya kami paham. Hihi.

Mereka nggak pernah nyapa ya?
ENGGAK. Hahaha. Menyapa dan beramah tamah sepertinya bukan budaya mereka.

TIPS: Kalau pacaran sama orang Cina (atau peranakan) jangan harap akan dihujani perkataan, “I love you..”, “You look so beautiful..”, “I can’t live without you” gitu. Beuh.. Susyeh… Cenderung kagak bakal! Lempeng beut padaan itu emosinya kayaknya. Hahaha. #sistahu #sispernah #sistakcurhat

city-wall-xian-china

Pernah dibantu orang sana nggak?
SERING! Ini di luar bayangan. Saat kami bertanya arah ke seorang Ibu di jalan, dia semangat sekali memberi tahu arah jalan dengan tangannya dan tidak henti berbicara dalam bahasa Mandarin berharap omongannya membantu kami mengerti arahannya. Padahal ya, nggak ada satu pun perkataan dia yang saya mengerti loh. Sungguh deh, berbagai kata dalam bahasa Mandarin yang sudah saya hapalkan, buyar semua saat mendengar mereka berbicara. Boro-boro menangkap nadanya, wong kata per katanya saja saya nggak nangkep. πŸ˜₯

But she helped us! Dengan susah payah berusaha memberi arahan. Saya hargai banget!

Kami juga dibantu saat kami harus mengangkat koper ke dalam mesin pindai (di setiap stasiun metro, seluruh bawaan harus dimasukkan mesin pindai). Petugas yang sedang jaga santai langsung sigap membantu mengangkat koper tanpa diminta.

Lalu, saat Mama kesulitan membawa kopernya menuruni tangga tiba-tiba ada seorang pria yang langsung mengambil alih koper berat itu dari tangan Mama lalu membawanya turun. Saya yang sudah di hentian tangga kedua langsung taruh koper saya dan ke atas lagi untuk bilang nggak usah ke dia dan membiarkan saya yang membawa itu koper tapi dia (dengan bahasa Mandarin tentu) kayaknya bilang nggak apa, biar dia yang bawa. Mama sampai stunned dan memberikan tatapan, “Dek.. Dek.. Gimana ini?” ke saya. Hahaha. Orang itu sampai duluan di bawah dan menaiki tangga lagi untuk membantu saya. Sayanya langsung nggak enak dan buru-buru turun biar dia nggak usah naik lagi. Ya ampun encok akuh ngangkat koper 17 kg menuruni tangga cepat-cepat. Hahaha. Saya dan Mama sampai nunduk-nunduk bilang terima kasih ke dia. Tangganya beneran tinggi banget btw.

PS: Saking tingginya itu tangga, sehari sebelumya saya dan Mama berdiri lama sekali di ujung atas tangga itu dan memikirkan skenario untuk meluncurkan koper kami ke bawah daripada mengangkatnya. :))) Keluarga saya aneh ya. Iya, suka lawak banget padaan.

Mereka kasar ya? Suka bentak-bentak?
KASAR SIH SEPERTINYA TIDAK. Saya nggak tahu pasti sih karena saya nggak paham apa yang mereka omongin. Tapi mereka nggak teriak-teriak atau bernada marah-marah gitu kok.

Sekali saja saya diserukan “WAAAAAHHH!” saat mengeluarkan kamera dan mau memotret kegiatan di People’s Park yang ternyata tidak boleh difoto (mungkin) (nggak tahu juga). Saya nunduk minta maaf, memasukkan kamera, lalu jalan kembali. Hihi. In my defense, saya nggak tahu kegiatan (yang saya tengarai adalah ajang cari jodoh tersebut) tidak boleh didokumentasikan. Nggak ada tandanya gitu. Cuma saya memang merasa setengah-setengah. Nggak yakin boleh karena dalam acara itu banyak payung-payung dijejerkan dan di atas setiap payung ada kertas seukuran A4 dilaminasi yang berisi tulisan. Tulisannya dalam Mandarin jadi saya nggak ngerti, tapi saya yakin sekali itu tentang promosi orang karena ada 183, 34, 38, dan angka-angka lain yang condong ke ukuran tubuh manusia (tinggi badan, ukuran celana, ukuran sepatu – mungkin), jadi ada hal privasinya. Dan saya selalu enggan foto semua hal yang ada privasinya gitu. Tapi kenapa saya coba mengeluarkan kamera saat di sana? Lebih ke karena saya pikir itu di taman! Area publik! Dan mereka massal menaruh payung-payungnya itu. Ada lebih dari 200 payung kali di keseluruhan taman. Jadi saya pikir ya mungkin boleh difoto. Ternyata tidak.  Ya sudah, no big deal.

Mama tidak berpendapat itu kegiatan cari jodoh, btw. Karena kata Mama, “Cari jodoh masa pakai payung?”

Hihihihi.

Orang Cina nggak bisa antri ya?
IYA. Hahaha. Ampun dah, nggak orang berpenampilan lusuh, nggak orang berpenampilan keren, senang pada nyelak antrian semua. Antrian masuk pesawat diselak itu sudah biasa.

Sekali saja saya hampir diselak dan akhirnya ngomong tegas “Scuse me, I’m queuing.” ke seorang perempuan yang ujug-ujug berdiri di depan kiri saya pas saya mau beli tiket kereta cepat. Setelah saya bilang gitu, dia mukanya lempeng tapi lalu mundur ke belakang saya. Wkwkwkwk. Lha sudah malam gitu, kalau nggak dapat tiket keretanya, karena membiarkan diselak, saya dan Mama nggak bisa kembali ke Shanghai bagaimana? Hehehe.

Lama-lama paham sama kebiasan tidak mengantrinya orang Cina Daratan ini, saya dan Mama kadang jadi suka iseng. Kalau kami lagi antri eh ada yang mau nyelak dari samping, kami menautkan tangan biar nggak bisa diselak. Atau kami maju saja terus, saling mepet, nggak mau kasih celah. Hihihi. Atau sekali waktu mau masuk ke peron kereta ada perempuan muncul di samping saya untuk nyelak, saya secara serius menabrakkan diri saya ke dia dan mendorong pelan dia. Dia tahu saya nggak mau kasih jalan, tapi dia gak minta maaf juga, sekali lagi, cuma lempeng saja mukanya lalu nunggu celah di belakang saya untuk bisa nyelak. Hahaha. Sak karepmu lah Mbak.. πŸ˜„

bell-tower-xian-at-night

Semua orang nggak bisa bahasa Inggris ya?
HAMPIR SEMUA NGGAK BISA. Petugas hotel gitu bisa. Pedagang bisa bahasa Inggris angka saja untuk menyebut harga barang. Untuk beli tiket kereta atau bus, ada loket khusus yang petugasnya bisa bahasa Inggris (not to mention petugasnya baik hati, sopan, dan sangat akomodatif). Petugas di TIC bisa berbahasa Inggris tentu (tapi mukanya pada sengak semua nggak ada ramah-ramahnya). Pemandu wisata di Terracotta Army Warriors and Horses bahasa Inggrisnya bagus banget saya sampai terpana. Hihi. Di restoran cepat saji jarang yang bisa bahasa Inggris, mangernya biasanya bisa sih, tapi terbatas. Untuk kemudahan dalam memesan ya tunjuk-tunjuk saja menu yang diinginkan, nggak usah pakai nanya apa-apa. Di menunya ada tulisan nama menu dalam bahasa Inggrisnya kok, walaupun kecil banget mesti diinceng. Hahaha. Kalau mau takeaway bilang ‘tapao’ pun ternyata mereka ngerti. Saya keceplos bilang tapao, eh mereka paham. Hehehe.


Saya dan Mama menikmati sekali perjalanan ke Cina Daratan kali ini, malah sudah berniat mau kembali lagi. Bagi saya pribadi, Cina memberikan kesan seperti India setelah perjalanan pertama saya ke sana. Ada kesan menyenangkan, menantang, dan bikin penasaran. Dan karena saya sudah mulai agak bosan ke India, bolehlah perjalanan selanjutnya ke Cina saja ya. Hehehe.

Astagfirullah lihat penghitung kata, jumlah kata sudah kayak tahun lahir nih! Marilah saya sudahi saja post ini kalau begitu. Hihihi.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Advertisements