Sendirian ke Kashmir, Aman Namun Kantong Jebol

“HAH? Mau ke Kashmir? Ngapain? Itu bukannya daerah ribut India Pakistan?”

Sebagian besar orang yang tahu saya akan jalan-jalan ke Kashmir dalam perjalanan ke India kemarin langsung membelalakkan mata. Bahkan, Mama sempat berkata khawatir, “Nggak usah lah Adek ke Kashmir segala.” dengan nada campuran khawatir dan sedih. Khawatir anak perempuannya jalan sendiri ke daerah yang dianggap rawan dan sedih karena tahu anaknya tetap akan pergi walaupun dibilang begitu. Hihihi.

Maka pergilah saya. Pergi dengan bismillah. 🙂

dal-lake-srinagar-kashmir


Kashmir, yang berada di negara bagian J&K atau Jammu dan Kashmir, berada di India bagian utara. Berbatasan dengan Pakistan dan memiliki sejarah panjang soal perebutan wilayah dan penentuan kedaulatan apakah Kashmir merupakan bagian dari India atau bagian dari Pakistan membuat daerah ini terkenal rawan.

 

Negara bagian Jammu & Kashmir ini unik sekali karena ibukotanya berpindah tergantung musim. Saat musim panas, ibukotanya adalah Srinagar di bagian Kashmir dan saat musim dingin, ibukotanya pindah ke Jammu. Hihihi. Bagaimana kalau di Indonesia begitu? Saat musim mangga, ibukota pindah ke Probolinggo. Saat musim durian, pindah ke Medan. Musim jeruk, pindah ke Pontianak. Musim apel pindah ke Mal…

ANYWAY..

Apa yang membuat saya ingin ke Kashmir?
Well, selain karena saya gagal ke Kashmir di perjalanan saya ke India dua tahun lalu (OMG this is 2018 already!) dan membuat saya jadi penasaran; keinginan ke Kashmir juga adalah karena ingin melihat sisi alam India yang katanya ‘amazing like out-of-this-world’.

Mengingat posisi Kashmir yang berada di antara Pegunungan Himalaya dan Jajaran Pegunungan Pir Panjal, keindahan alamnya seharusya memang tidak perlu diragukan lagi. Sebelum saya menjejak kaki di sana pun saya sudah yakin alam Kashmir luar biasa indah.

sonamarg-kashmir-india

Tercengang pertama saya akan alam Kashmir adalah ketika saya mau mendarat di Srinagar. Itu antara tercengang sama stress sih. Saya duduk di bagian dalam, sisi jendela, jadi bisa lihat pemandangan di bawah saat mau mendarat. Pemandangannya pegunungan tapi bentuk permukaanya nggak biasa! Warnanya coklat dan terlihat seperti bukit terjal beralur dengan danau berwarna biru pekat di tengahnya. Jarak antara bukit ke angkasa terlihat dekat sekali. Saya sempat membatin, “What is this place?” – padahal ya Srinagar lah! Kan pesan tiket pesawatnya ke Srinagar. D’uh!

Pesawat membutuhkan waktu lebih lama untuk mendarat. Dapat dipahami mengingat posisi runway (dan bandara) yang dikelilingi pegununungan.

Btw, saya sampai Whatsapp teman saya yang pilot untuk minta penjelasan dalam bahasa manusia kenapa mendarat di bandara yang dikelilingi pegunungan lebih butuh waktu lama. I mean, I know the logical reason, it was also taught in high school kan. Cuma, ya biar yakin saja yang di otak saya dan yang dia jelaskan selaras.

Dari teman saya yang pilot itu:

Usually if the airport is between mountain, we have strong mountain winds, which are very unstable and make landing difficult and at the same time, if we do a go-around, it’s not very easy, coz of mountain around.

       And high elevation decreases our performance during landing.

Usually, with the airport, such as Kathmandu or Srinagar, coz of mountains                 during approach, we do long arrival procedure, avoiding the path of mountain,           in case we loose one engine, we don’t crash on it.

Wait what?!
“In case we loose one engine, we don’t crash on it”?????

Saya menyesal bertanya padanya.

Puji Tuhan, pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan selamat. Haleluya.

cable-car-gulmarg-kashmir

Memasuki gedung bandara, sinyal ponsel saya langsung hilang. Mas-mas yang melayani saya membeli nomor SIM lokal saat di Delhi dulu memang bilang bahwa nomor Vodafone saya tidak akan aktif di Kashmir. Keluar bandara, saya celingak celinguk mencari Hashim, pemilik penginapan tempat saya akan menginap selama di Srinagar. Kami sudah whatsappan sebelumnya dan dia berjanji akan menjemput saya.

Tunggu punya tunggu, kok nggak ada wajah yang sama dengan foto profil whatsappnya Hashim terlihat ya? Perasaan saya mengatakan ada yang nggak beres.

Saya menyetop seorang petugas bandara yang lagi jalan dan bertanya apa boleh meminjam HPnya untuk menelepon Hashim. Eh ternyata, Bapaknya kenal Hashim! Duileh Hashim selebrita Kashmir apa gimana sampai petugas bandara kenal! Hihihi.

Feeling saya benar, Hashim lupa menjemput saya dan meminta saya naik taksi saja. Kesal nggak? Kesal lah! Kan sudah janji! Kenapa ingkar?

Kayak politisi Indonesia saja kalau janji suka ingkar!!
YHA.

Tercengang kedua: Biaya taksi dari bandara ke Dal Lake 700 rupee!!

Tujuh ratus rupee itu sekitar 150.000 rupiah. Termasuk mahal kalau untuk ukuran perjalanan taksi di India yang dilakukan tidak di jam sibuk. Saya sampai nanya berulang kali, “How much?” karena berharap salah dengar. Hihihi.

shikara-dal-lake-srinagar

Saya menghabiskan enam hari di Kashmir. Mengunjungi Gulmarg dan Sonamarg serta tur kota di Srinagar. Saya harus berlapang dada gagal berkunjung ke Pahalgam karena jalan menuju Pahalgam ditutup di hari saya mau pergi. Kenapa ditutup? Longsor?

Tidak.
Nganu…
Ada demo. Hehehe.

Saat mendengar ada demo, saya jadi punya bahan awal untuk menanyakan keadaan keamanan dari kacamata orang Kashmir sendiri. Satu-satunya orang Kashmir yang saya kenal dan saya percaya tidak akan ribet dan emosi ketika saya tanyakan tentang hal sensitif ini hanyalah  supir saya selama di Kashmir, sebut saja ia Raja.

*padahal memang nama panggilannya Raja. Hihihi*

tour-guide-srinagar-kashmir

Raja sama gilanya dengan saya. Tapi dia kerjaannya ngelawak mulu, kalau saya kan orangnya serius. Saking seringnya Raja ngelawak, kadang saya nggak paham dia lagi serius apa lagi becanda. *hihihi* Wawasannya cukup luas, diajak ngomong banyak hal pun dia paham. Bahasa Inggrisnya terhitung bagus dan jelas. Nyupirnya ala orang India pada umumnya, begajulan. Tapi dia nggak ambil hati kalau saya marahin saat dia nyupirnya mulai gila gitu. Kadang juga dia ngejawab asal banget kalau saya tegur.

*Raja membunyikan klakson ke mobil depan berkali-kali sampai telinga saya pekak*

Saya: Dude, CHILL!! You don’t have to honk many times like that!!
Raja: Bee.. Do you know what the sound mean for us?
Saya: The honking? Means you’re crazy impatient and totally not chill?
Raja, kepalanya menghadap saya di belakang sambil mobil masih jalan dalam kecepatan lumayan tinggi: No. For us, it means ‘Hello.. We want to pass you. Can you give us a way, please…’, sambil nadanya dimanis-manisin.

TER.SE.RAH!!

Dari Raja saya tahu ternyata keadaan yang saya anggap biasa saja menyimpan sedikit sumbu panas di dalam. Tulisan-tulisan yang banyak dicoretkan di dinding bangunan pinggir jalan vokal menyuarakan pemikiran atau preferensi keberpihakan (haduh, jadi ngakak setiap baca dan ngetik ‘keberpihakan’). Saya nggak nyadar saja karena tulisannya dalam Kashmiri/Koshur.

Tidak hanya persoalan perebutan wilayah antar dua negara, masalah kemudian jadi merembet ke berbagai bidang mulai dari agama, budaya, dan lain-lainnya.

Mendengar pendapat Raja tentang keadaan Kashmir, tidak bisa saya hindari, agak ciut hati ini. Hihihi. Tapi sebenarnya saya selalu punya rasa ciut kalau berkunjung ke negara/kota yang Islami sejak dibentak di Aceh dan ‘ditakut-takuti’ saat dulu mau umroh. Hihihi.

Secara umum, bagi saya, Srinagar terasa cukup aman. Tidak mencekam rawan perang atau gimana gitu. Jalan kaki sendirian di Srinagar pun masih oke walaupun nggak tahu kenapa, saya merasa nggak nyaman saja jalan sendirian di sana. Pandangan orang-orang ke saya, saya rasakan, berbeda. Saya merasa lebih dipandangi di Srinagar daripada di Amritsar atau Varanasi atau Agra atau bahkan Delhi.

Yang sedikit agak menakutkan bagi saya justru di tempat wisata yang jauh-jauh dari kota seperti Gulmarg atau Sonamarg gitu. Saya datang di bulan Oktober, musim sepi pengunjung di Kashmir. Baik di Gulmarg maupun Sonamarg, sedikit sekali ada wisatawan. Ada pengunjung lain pun Indian, bukan foreigner. Itupun jumlah mereka nggak sampai ratusan. Dibandingkan luas wilayahnya, jumlah pengunjung yang hanya segelintir itu jadi nggak ada apa-apanya. Sepi sekali rasanya.

solo-traveling-kashmir-india

Di Gulmarg, turun dari mobil, saya jalan ke dalam untuk menuju terminal gondola. Jarak dari parkiran ke terminal gondola fase satu itu sekitar satu kilometer lebih sedikit lah dan pemandangan di kanan jalan indah sekali. Tanah lapang berumput hijau maha luas dengan pegunungan sebagai latarnya. Rasa-rasanya ingin berlarian lalu menjatuhkan diri berguling-guling sambil teriak, “I feel freeee…” deh. Hihihi. Yang membuat momennya jadi nggak indah adalah belasan orang yang mengikuti jalan di belakang saya, menawarkan jasa naik kudanya.

Iya, belasan orang!! Dan saya diikuti hingga sampai di terminal fase 1 itu. Mereka semua menawarkan jasanya dengan berbicara dalam bahasa Kashmiri yang tentunya saya nggak paham. Berisik lagi, semua ngomong dalam waktu bersamaan. Sudah saya jawab, “No, thank you..” sambil tersenyum, tetap saja mereka keukeuh mengikuti.

Ingin saya mencari kelucuan momen tersebut dan berkata ke diri sendiri, “Ni, Cess, gini rasanya jadi artis dikejar dan diikuti penggemar..” tapi nggak bisa. I seriously feel annoyed, and scared.

horse-riding-gulmarg

Pas di Sonamarg, mobil baru belok kiri mau parkir, ada sepuluh orang lari mengikuti. Setelah mobil parkir, mereka merubungi mobil sampai badannya nempel dan melongok ngintip di kaca jendela untuk melihat ada siapa di dalam. GOOD LORD, I feel like my privacy has been trespassed!! Pas pintu supir dibuka, mereka langsung memasukkan kepala dan melongok ke dalam dan menawarkan jasa naik kudanya. Harga yang ditawarkan? DUA RIBU LIMA RATUS RUPEE!!

Lima ratus ribu anjir!!
Setengah juta!!

Tapi ya orang mah bebas mau menawarkan harga berapa saja kan ya, kitanya juga bebas menolak atau mencari rekanan lain.

Or so I thought..

Jalan saya dihalangi. Puluhan badan orang pegunungan yang walaupun kurus tapi saya yakin kuat luar biasa menghalangi badan perempuan Asia yang kecil dan kiyut ini. Saya sampai nggak bisa punya pandangan ke depan, kanan, dan kiri. Saya tanya di mana jalan masuknya? Mereka nggak jawab. Ya jawab sih tapi dalam bahasa setempat dan nggak ada ngasih petunjuk arah dengan tangan gitu jadi saya nggak tahu maksudnya apa. Satu orang bilang, “You cannot go up, Madam. You take horse, you go up. No horse, no go up.”

HAH GIMANA?!
Saya mesti naik kuda setengah juta untuk menikmati pemandangan alam di Sonamarg ini?

Perdebatan terjadi lebih dari 10 menit. Hasil akhir, saya kalah, walaupun tidak 100%. Perasaan saya nano-nano antara gedeg banget pengen ngamuk sama takut. Saya akhirnya mengiyakan sewa kuda seharga 1000 rupee. Mereka pun membubarkan diri dan ketika mereka berpencar, baru saya melihat alam Sonamarg di depan saya. Luar biasa indahnya.

Pegunungan tinggi dengan salju di pucuknya menjulang di kejauhan. Padang yang luas dengan rumput terpotong rapi tepat berada di depan pandangan. Di sisi lain, gunung yang tinggi dengan jejak gletser terpampang. Deretan pohon cemara berbaris rapi mengikuti kontur tanah. Sinar matahari pagi terasa lebih dramatis di daerah pegunungan. Biasnya menerpa puncak gunung dan memantulkan sinar menyilaukan dari salju gletser. Sesaat, saya tersenyum dan bergumam, “Cantik sekali..”

sonamarg-kashmir-india

Dengan enggan saya mulai naik kuda. Kuda disabet ranting kecil berkali-kali untuk membuat lajunya lebih cepat. Sabetan yang kelima, saya nggak tahan terus diam, saya minta jokinya jangan menyabet lagi dan membiarkan kudanya jalan dengan kecepatan yang dia inginkan.

Sampai di puncak bukit pertama, saya terperangah melihat indahnya pemandangan. Saya turun dari kuda dan mengambil foto. Lalu lanjut berjalan kaki. Joki dan kudanya mengikuti di belakang.

Pada akhirnya, sepanjang kunjungan ke Sonamarg, saya jalan kaki!! Dan menertawakan diri sendiri setiap melihat kuda dan joki yang saya sewa berjalan di depan atau di belakang saya. Ngapain coba keluar uang dua ratus ribu untuk sewa kuda yang tidak saya naiki? Hihihi.

Pedih hati ini.

Oh, dan di akhir perjalanan yang saya jalan kaki dan joki serta kuda mengikuti di belakang saya itu, jokinya masih punya keberanian untuk minta tips setelah saya kasih uang 1000 rupee.

LUAR BIASA!!
*nangis memeluk Amir Khan*

sonamarg-view-in-october

Demikianlah kemudian saya sadar, wisata di Kashmir itu mahal sekali khususnya untuk pejalan solo di musim sepi pengunjung. Setengah uang saku saya untuk sebulan di India habis di Kashmir pada tiga hari pertama. Dan bukan karena belanja! Hihihi.

Tempat wisata di Kashmir yang di luar kotanya jauh-jauh dan nggak ada bus atau angkutan umum ke sana jadi harus sewa mobil. Bisa sih naik shared van gitu kalau nggak salah, tapi kan saya datang pas musim sepi, jadilah van-nya lagi nggak jalan. Sewa mobil nggak bisa share dengan wisatawan lain juga karena selain wisatawannya jarang di musim sepi, di sana juga bukan budayanya sharing gitu, apalagi kalau dengan lawan jenis yang kenal on-the-spot. Saking angkutan susah (cenderung nggak ada) di sana, mobil sewaan saya berkali-kali diketuk orang lokal yang nanya arah dan mau numpang di tengah jalan. Segitu parahnya akses transportasinya bahkan untuk penduduk Kashmir sendiri.

Saya merasa “if you don’t have money, you can’t go anywhere” itu harfiah sekali artinya di Kashmir ini. Hihihi.

Soal alam, alam Kashmir memang indah. Saya tidak berasa di India saat berada di tengah pegunungan dan padang rumput itu. Saya merasanya lagi di Swiss!

Padahal saya belum pernah ke Swiss!
YHA.

Tapi saya masih merasa terganggu dengan orang-orangnya sih. Apalagi yang di tempat wisatanya. Ugh!! Mengesalkan.. Hehehe.

Kashmir aman nggak untuk dikunjungi? Aman..
Yang nggak aman itu buat kantong pejalan yang sendirian. Hihihi.

Senyum dulu ah.. 🙂

Baca juga:
1. Dibentak di Aceh
2. Sapaan di Imigrasi Jeddah
3. Jogetan di Mehendi Night

Advertisements