Keliling Taman Nasional Komodo 3 Hari 2 Malam Bersama BeBorneoTour

“Kita naik apa Ta dari bandara ke hostel?” tanya saya ke Firsta.

“Dijemput Kak Indraaaaaa.”

HAH?! DIJEMPUT?!
Saya suka terpukau deh sama orang selain orang Jakarta (mau sebut orang daerah nanti ada yang tersinggung lagiiii, banyak  tersinggungnya nih orang Indonesia masa kini) karena suka pada baik-baik sekali menyambut. BeBorneoTour-nya Kak Indra itu baru akan kami gunakan jasanya di hari ketiga liburan kami. Di tiga hari pertama, saya dan Firsta akan ke Desa Adat Wae Rebo dulu secara swadaya. Nah, kurang baik bagaimana coba Kak Indra menjemput kami di bandara dan mengantar sampai ke hostel padahal kami belum dalam jadwal menggunakan jasa turnya. LAFF BANGET KAN!! Sama BeBorneoTournya maksudnya, bukan sama Kak Indranya. ❤

*mohon maaf*
*dia sudah beristri jadi tidak bisa digebet*
NEXT!!

indra-beborneotour-labuan-bajo

Kami dijadwalkan ikut dalam trip keliling Komodo Islands selama 3 hari 2 malam bersama BeBorneoTour; menginap di kapal atau yang lebih terkenal dengan sebutan LoB (Live on Board), kami akan mengunjungi satu per satu pulau yang ada di Komodo Islands. Nggak semua sih, waktunya nggak cukup, nanti kelamaan di laut, calon jodoh saya di darat lelah menanti (halah!).

Di pagi hari setelah kembali dari kunjungan (cailah kunjungaaaan..kek pejabat aja nih pakai kunjungan) ke Desa Adat Wae Rebo, sebuah mobil Kijang hitam sudah menjemput kami di hostel dan mengantarkan kami ke pelabuhan. Kak Indra, pemilik BeBorneoTour menyambut di pintu masuk pelabuhan dan menunjukkan mana kapal yang akan kami pergunakan selama LoB. Suasana pelabuhan saat itu tidak terlalu ramai. Banyak kapal bersandar, beberapa menyetel musik reggae khas pantai. Tiba-tiba di kejauhan terdengar kumandang lagu nasional dari pengeras suara kantor pelabuhan; sekejap, musik reggae pun langsung dihentikan. Hihihi. Kapal kami berwarna putih, wangi cat menyeruak ketika kami memasukinya. Rupanya ini kapal barunya BeBorneoTour dan kami adalah orang-orang terpilih yang menggunakannya untuk pertama kalinya!

CAILAH.. GAYA BEUT!!

kapal-beborneotour-komodo

Kapal pertama dari BeBorneoTour bisa mengangkut hingga lima orang sedangkan kapal kedua dapat memuat delapan orang. Kami berdelapan saat itu, ada saya dan Firsta, sepasang kekasih penuh uwuwuwu Risty dan Adi, sepasang kekasih (lagi) Matthias dan Sadia, serta sepasang kekasih lainnya Rustam dan dia-yang-tak-boleh-disebut-namanya. Wkwkwkwk. Becanda. Rustam nggak pacaran kok sama dia-yang-tak-boleh-disebut-namanya itu. 😀

Sekitar pukul 10 pagi, kapal mengangkat sauh diikuti obrolan kami yang tak berhenti. Pisang di atas meja sudah semakin sedikit, dagingnya berpindah ke perut-perut kami. Ini belum apa-apa sudah suka makan semuanya yaaaa!! :)) Di kapal ini ada tiga kamar. Dua kamar berada di bawah geladak utama, satu kamar yang lebih besar ada di belakang ruang kemudi. Saya dan Firsta menempati salah satu kamar yang berada di bawah geladak utama. Di atas kamar kami adalah ruang makan dan tempat kumpul-kumpul. Kamar di kapal sempit-sempit semua tapi untungnya tidak sampai menimbulkan rasa claustrophobic. Bahkan kami masih oke menutup pintu kamar di malam hari.

Pulau pertama yang kami datangi adalah Pulau Kanawa. Pulau cantik yang dulu sempat jadi pilihan tempat saya menikah tapi kemudian pilihan itu saya buang jauh-jauh. Selain karena belum ada yang mau saya nikahi, juga karena ternyata setelah saya pikir-pikir, panas benar nikah di pantai ya. Mana saya cranky pulak kalau kepanasan. BRIDEZILLA on the loose banget dah. Hihihi.

pulau-kanawa-komodo

Pulau Kanawa kini sudah bisa dimasuki umum (dulu privat untuk sebuah resor di sana – yang menawarkan paket menikah di pinggir pantai itu). Pulaunya tidak terlalu besar, airnya biru jernih dan banyak sekali (like, BANYAK SEKALI) bintang laut di pinggir pantainya. Sampai-sampai saya takut jalan kaki masuk ke air, takut menginjak mereka. Incess anaknya lembut hati. (Iyain saja sudah).

Di dekat dermaga Pulau Kanawa, airnya masih biru, jernih, dan juga banyak ikannya. Akhirnya saya dan Firsta memilih renang di dekat dermaga saja, melihat ikan badut hingga lionfish juga karang berwarna-warni cantik sekali.

Selesai dari Pulau Kanawa, kami kembali ke kapal, makan lagi (lagi?!), dan melanjutkan perjalanan ke Taka Makassar: sebuah gusung yang pasirnya berwarna merah muda!!

taka-makassar-kepulauan-komodo

Gusung itu sebutan untuk sandbank. Kalau saya artikan di Google Translate sih sandbank itu bahasa Indonesianya beting atau busung. Nah jadi yang benar busung apa gusung? Entahlah. Orang Kepulauan Seribu menyebutnya gusung, Google Translate menyebutnya busung, kalau kamu menyebutnya apa, Mas?

Aku ikut kamu aja.
YHA…

Pasir di Taka Makassar lembut berwarna putih saat kering dan menjadi merah muda saat terkena air. Areanya nggak luas jadi kalau mau lari-larian dari ujung ke ujung pun bisa. Air di sekitarnya jernih dan tenang juga dangkal. Nggak ada ikan dan karang yang terlihat dalam jarak renang jadi saya nggak snorkeling, cuma lelarian saja macam lifeguard Baywatch minus baju renang seksi berwarna merah dan payudara mentul-mentul mengintip di sebaliknya.

*eh ini blog apa koran Lampu Merah sih?!*

Sepertinya saya terlalu bersemangat lari-lari ke sana ke mari dan berjemur di Taka Makassar, nggak berapa lama saya merasakan pusing yang menusuk di buana kepala. Ah, saya paham banget deh nih.. Heatstroke!! Atuhlah, kulit belum menggelap, kepala sudah pusing kena heatstroke. Kampung pisan!!

Sorenya, kapal menepi di Gili Lawa Laut kemudian kami turun dan mendaki Gili Lawa Darat untuk melihat matahari terbenam dari ketinggian. Dengan kepala yang masih nyut-nyutan, saya ikut turun kapal dan mulai mendaki. Mendaki Gili Lawa Darat tidak terlalu sulit hanya saja jalurnya berisi tanah gersang dan saat itu masih musim kemarau jadi tanahnya kering dan licin saat diinjak. Naiknya sih kekar lah ya saya jalan sendiri, nah baliknya dong, pegangan terus sama Rustam!! Hahaha.

gili-lawa-darat-tn-komodo

Saat naik, matahari sudah mulai turun tapi keadaan masih terang. Jalan setapak di Gili Lawa Darat dan rerumputan di sekitarnya yang berwarna cokelat pun masih terlihat jelas. Semakin terbenam, lukisan Tuhan semakin terlihat dramatis. Gurat-gurat jingga dan merah di kejauhan membakar langit yang kini berwarna biru gelap. Bias merah menerpa lautan yang kini pias. Saya terpana. Hanya bisa duduk diam menikmati pemandangan.

Indonesia tanah air beta..
Pusaka abadi nan jaya..
Indonesia sejak dulu kala..
Tetap dipuja-puja bangsa..

Bulu kuduk saya merinding. Mendengar lagu Indonesia Pusaka dikumandangkan di tengah padang rumput sebuah pulau di bagian timur Indonesia dengan lelautan biru melingkupi dan langit bersemburat merah di kejauhan membuat saya terharu. Rasanya hampir sama seperti ketika mendengar lagu nasional saat sedang berada di luar negeri? Penuh haru dan rasa cinta akan negeri sendiri. Pas sekali, saat itu, 17 Agustus 2017. Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-72.

sunset-gili-lawa-darat

Saya terberkati bisa menyaksikan pemandangan indah di depan saya, bersama teman baik di samping saya, diliputi angin yang menyapa kulit dengan halus, menjadi warga negara negeri yang kaya, dan ditemani lantunan lagu yang mendayu.

Malam itu malam pertama yang kami habiskan di atas kapal. Saya, karena kena heatstroke akhirnya di kamar saja, nggak ke area komunal tempat teman-teman lain makan (lagi dan lagi). Firsta berbaik hati membawakan makan malam untuk saya ke dalam kamar. Selesai makan, minum obat, saya pun tertidur lelap.


“Ada rusa!! Ada rusa!!”, teriakan Risty menggeliat semangat saya untuk bangun pagi.

“Mana Ty, manaaa?” saya memicingkan mata mencari bentuk makhluk yang tadi Risty beritahukan keberadaannya.

“Ituuuuu..” tunjuk Firsta. Tangannya menunjuk sebuah arah. Tak terlihat apa-apa di sana bagi saya. Hanya gelap, hitam. :)) Duh nasip mata minus dan tidak membawa kacamata.

Kapten kapal menyorongkan senter yang dipegangnya ke arah yang tadi Firsta tunjuk. Kesal kali karena saya nggak melihat makhluk yang baginya jelas ada di sana. Hahaha.

rusa-di-giili-lawa-darat

“Oh!!” sekarang saya melihatnya! Dua ekor rusa terlihat menyusuri pantai. Sepertinya mencari makan. Cantik dan anggun sekali mereka. Kakinya jenjang, badannya kecil, bentuk mukanya kecil melancip menik-menik. Potongan model portrait by the mass media lah. Jalan ala model kenapa disebutnya catwalk bukan deerwalk ya? Jalannya rusa terlihat lebih anggun dibanding kucing gitu.

Eh tapi rusa suka tiba-tiba meloncat tanpa sebab sih, model kan nggak boleh begitu ya.

Pagi itu Teman-teman mendaki Gili Lawa Darat lagi untuk melihat sunrise.
Saya?

YA LANJUT TIDUR DONG PLEASE!! Akuh bukan anak sunrise!! :)))))

Tapi saya sempatkan tidur di dek atas, sambil melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit seperti meses di atas roti saya. Banyak sekali! Indah!! ❤

Ada kejadian menyenangkan sekali sekembalinya Teman-teman dari naik Gili Lawa; Adi – pacarnya Risty – tetiba berkata, “Guys, Guys.. Today’s Risty’s birthday. Please please let’s sing Happy Birthday to her just before breakfast ya. She doesn’t know this plan. Okay okay!”

Kami, yang adalah THH – Tim Hura Hura – dan AMB – Anak Mudah Bahagia – ya tentu saja menyambut gembira rencana Adi dengan harapan ada kue ulangtahun yang bisa dimakan bersama setelahnya. Pas banget sebelum makan, Risty datang dengan muka polosnya dan kami gegap gempita bertepuk tangan sambil teriak menyanyikan lagu Happy Birthday! Hahahaha. Wajahnya Risty: PRICELESS!!

Sayang setelah menyanyikan lagu kebangsaan orang ulangtahun itu Adi nggak cium Risty. Hih. Kesal! Dan ternyata, nggak ada kue ulangtahun juga. Ah, double kesal. #lhagitu

Di hari kedua itu, kami langsung menuju Pink Beach. Pink Beach terkenal karena apalagi kalau bukan pasirnya yang berwarna merah muda. Pasir yang berwarna merah muda ini disebabkan remuk dan meleburnya foraminifera, sejenis biota laut dengan cangkang berwarna merah. Merah mudanya ternyata nggak yang merah muda banget, tapi akan lebih terlihat warnanya saat pasir tersapu air. Pasirnya sendiri halus banget!! Kayak bedak!! Suka banget membenamkan kaki di pasirnya Pink Beach.

 

pink-beach-taman-nasional-komodo

Saat di Pink Beach juga kami dikejutkan dengan adanya seekor komodo kecil di atas pohon. Jadi ternyata, komodo juga ada di Pink Beach. Pohon di pantai ini dijadikan tempat menaruh bayi komodo. Bayinya ya, bukan telurnya. Kalau telurnya ditaruh di pohon ya jatuh dan pecah dong!

Kayak aku saat kita berpisah. Jatuh dan pecah.
OPO?!

Dari Pink Beach kami lanjut melihat primadona Komodo Islands! Apalagi kalau bukan… SAYA KOMODO!!

Ada dua pulau besar di mana pengunjung bisa melihat komodo. Yang pertama adalah Pulau Komodo dan yang kedua adalah Pulau Rinca. Kami mengunjungi pulau yang kedua.

komodo-di-taman-nasional-komodo

Kapal bersandar santai di dermaga. Sekumpulan monyet asyik bermain di pepohonan terdekat, satu monyet merisak seekor monyet kecil sampai tercebur. Kami semua melongo sambil menahan napas melihat monyet yang tercebur. Berharap dia cepat bisa naik karena ada buaya di perairan situ. As much as seeing an animal eats another animal at NatGeo is amazing (and overwhelming), I don’t think I will ever get ready to watch it in real life.

Kami berjalan dalam diam sambil sesekali menengok ke kiri dan ke kanan kalau-kalau ada komodo lewat, lebay ya, padahal masuk ke gerbangnya saja belum. Hihihi.

Pas sebelum gerbang masuk, seekor komodo berukuran sedang menampakkan diri di kanan kami, tak berapa lama seekor komodo lagi terlihat di sisi kiri. Kami berjalan lebih cepat, tidak sabar melihat komodo yang lebih besar di dalam.

Memasuki Taman Nasional Komodo, seperti halnya taman nasional lainnya, baiknya bersama ranger. Ranger akan menjaga semua pengunjung tetap aman dan juga menjelaskan banyak hal tentang komodo dan sejarah tempat. Sedikit sayang, ranger kami tidak lancar berbahasa Inggris padahal ada dua makhluk bule di kelompok kami. Jadilah setiap Mang Ranger menjelaskan, kami menjelaskan ulang dalam bahasa Inggris ke dua teman bule kami ini. Makin lucu karena setelah kami jelaskan dalam bahasa Inggris, Sadia masih kadang harus menjelaskan lagi dalam bahasa Prancis ke Matthias. LoL. Sungguh kelompok yang sangat beragam (dan nyusahin). :)))

komodo-pulau-rinca

Kami melihat belasan komodo di Pulau Rinca, ada yang tiduran saja diam, ada yang jalan-jalan, ada yang sedang mengeruk tanah untuk menyembunyikan telurnya, ada yang lagi makan (lengkap dengan darah di sekitar mulutnya). Dengan penuh kehati-hatian dan ketenangan tingkat tinggi, kami satu per satu jalan mindik di belakang komodo untuk berfoto bersama. Satu komodo jalan pelan meninggalkan kami, jalannya lucu banget, mekangkang, lalu setelah jalan, tiba-tiba dia menjatuhkan perutnya dan santai lagi. Kocak! Saya jadi wondering perkataan komodo bisa mengejar mangsanya dengan cepat itu apa benar adanya lha wong ini komodonya terlihat malas-malasan semua dan jalannya pun pelan-pelan gitu. Hihihi.

DISCLAIMER: Saya bilang ‘wondering’, tapi saya percaya kok komodo bisa lari kencang saat mengejar mangsa. Please ojo bully aku.. Hihihihi.

Setelah dari Pulau Rinca, kami ke Manta Point dong. Berenang sama manta (or so she-whose-name-shall-not-be-mentioned requested). Kami sempat snorkeling dan itu kali pertama saya melihat manta besar sekali. Dulu, saya selalu merasa ‘terbang’nya penyu di dalam air itu anggun sekali, memesona. Tapi sekarang setelah saya melihat manta berenang, ya ampun keanggunan penyu kalah jauh. Manta JAUH LEBIH ANGGUN!! Kayak terbang dengan lemah gemulai gitu. Cantik sekayiiiiii!!!

Sore kami habiskan di sebuah pulau yang saya lupa namanya apa saking semua pulau terlihat sama. Wakakaka. Minum air kelapa dan berjemur di sebuah gusung di belakang pulau.

Banyak sekali yang menanyakan bosan atau tidak LoB 2 malam? Bosan sih enggak ya, cuma saya memang kayaknya lagi sensitif pada kala itu dan saya sedang sebal-sebalnya sama salah satu teman yang ikutan trip ini (yang namanya nggak boleh disebut tadi dan sesungguhnya kami sudah kenal sebelum bareng di trip ini). Makin amsyong adalah, setelah trip LoB ini, kami menginap di hostel yang sama!! YANG SAMA!! Untung kamarnya beda dan saya nggak ketemu dia sampai waktunya kembali ke Bali. Kalau nggak, beuuuuh, betenya keterusan. Wkwkwkw.

Mau nggak ngulang trip yang sama lagi? MAU!! Tapi nggak mau pas musim kemarau. Mau pas musim hujan di mana rerumputan di pulau yang terlihat coklat ini akan menjadi hijau! Segar pasti deh!!

BeBorneoTour recommended nggak? RECOMMENDED!! Selesai kegiatan, kami diantar ke hostel pilihan masing-masing, makanan melimpah (minta masakkin terong gorengnya deh.. UENAK!!), Kak Indra dan kapten serta ABKnya pun nggak kemrungsung dan tetap mengutamakan keselamatan. Menyenangkan. Ini anak-anak eks-komodo trip ini katanya sih janjian mau jalan lagi bareng BeBorneoTour tahun ini. Tapi mari kita tunggu, apakah akan jadi kenyataan ataukah hanya wacana belaka. Hihihi. Semoga benar kejadian yaaaa!

Ada amin, Saudara-saudara??
Amiiiin…

Senyum dulu ah.. 🙂

Baca juga:

  1. Wae Rebo, Antimo, dan Perjalanan Menuju Sebuah Impian
  2. Sadar Wisata Phuket
  3. Hat Yai – The Forgotten City of Thailand

 

BEBORNEOTOUR
Instagram: beborneotour
Website: beborneotour.com
Email: info@beborneotour.com
Whatsapp: 0856 5120 2195

>> Say my name three times for booking!! <<
*not that it gives impact tho, just to make it fun* :))

 

 

Advertisements