Fuck dan Fog di Myanmar

Just so you know, I share this just because the moment was so funny. Not at all trying to laugh on other people’s skill or whatevs, unless you thought so then wth. Hehehe. Move aside, oversensitive fellas need to move aside. Please jangan pada sensitif ya, cukuplah urusan agama dan politik saja yang jadi sensitif di Indonesia ini, bahasa jangan, apalagi perasaan kita.

(((KITA)))

bamboo-house-myanmar


“FUCK!!”, terdengar suara Htoo keras diucapkan ke seorang pelayan yang sedang berdiri di belakangnya. Bagai hujan deras yang tiba-tiba menyambar momen romantis dengan sunset yang dramatis di ujung sana; suara Htoo membuat saya, Hannah, dan Alexis kaget dan langsung memalingkan wajah kami secara cepat menghadap dia sambil menghunuskan seribu pedang panjang dalam bentuk tatapan mata yang tajam. What is it that make this guy speaks something so rude?

Pelayan yang tadi menerima ‘FUCK’ dari Htoo terlihat sopan mengangguk dan berlalu.

“NOOO!! NOOOO!!” sahut Htoo cepat melihat wajah kami yang penuh penghakiman. “NO FUUUCKK.. I WANT FOOOOG!!” lanjutnya sambil mengangkat sendoknya tinggi dan membentuk bibirnya bulat serupa huruf O. Kami bingung. Sekarang dia angkat sendoknya segala? Nggak cukup tadi berkata kasar?? “FOOOGG… FOOOO .. GGGG” kini Htoo mengucapkannya dengan perlahan dan bernada – masih dengan mengangkat sendoknya. Saya dan Hannah lihat-lihatan dan kontan tertawa ngakak berdua. Htoo pun ikut tertawa bersama kami. Geli banget kami ngakak-ngakak. Alexis yang masih belum paham memberikan pandangan butuh kejelasan. Di tengah tawa yang membahana dari saya, Hannah, dan Htoo, saya terbata-bata mengatakan apa yang sesungguhnya Htoo maksudkan tadi.


Saya pikir post ini tidak akan panjang dan njelimet, tapi setelah mencoba menuliskannya selama dua hari, ternyata tidak mudah membagi hal yang menarik bagi saya dan menuangkannya dalam tulisan untuk dibaca oleh orang lain karena mungkin, secara umum, hal ini tidak terlalu menarik bagi banyak orang.

It’s about language.
Mind you, kuliah saya jurusan sastra, jadi kalau ada bagian di mana saya mengulik bahasa dan terbaca membosankan atau kurang penting, tetap baca ya. Karena apa?

Karena saya sedih kalau kalian tinggalkan tulisan ini di tengah bacaan. Rasanya tu seperti ditinggalkan pacar tanpa kabar di tengah hubungan yang baru berjalan beberapa bulan. WEY!!

sunset-at-inle-princess

Keahlian berbahasa Inggris adalah satu keahlian yang lumayan membuat percaya diri saya ada. Seenggaknya saya bisa lah berbicara dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, gitu. Nggak bengang-bengong dan malu-maluin almamater banget lah. Hihihi. *salim kepada guru les, dosen, serta handai taulan semuanya*

Eh btw, saya belajar bahasa Inggris dari usia empat tahun lho. Ngintil, minta ikut kelas kursus bahasa Inggrisnya Kak Ari, abang saya. Padahal pada kala itu, kelas bahasa Inggris untuk usia empat tahun belum ada. Wkwkwk.. Dari kecil sudah lucu nyusahin emang saya ni ya.. *baru sadar*

Membaca, berbicara, dan menyampaikan pendapat dalam bahasa Inggris sudah lumayan oke; ada satu lagi kemampuan tambahan yang membuat Mama kadang suka terpukau: kemampuan saya mengenali maksud seseorang dalam pengucapan bahasa Inggrisnya walaupun dengan aksen lokal! Hahaha..

Mendengar pengucapan bahasa Inggris ala Amerika itu terhitung mudah, menurut saya. Mungkin karena dalam pengajaran di Indonesia aksen dan pilihan kata yang digunakan condong ke Inggris Amerika. Mendengar pelafalan bahasa Inggris dengan aksen British itu paling saya suka. Mbulet dan medok gitu. Hahaha. Pelafalan Inggris Australia juga saya suka, diayun dan kayak nyimpen nada di tembolok (((TEMBOLOK))) yang bikin aksen terdengar panjang berirama dan khas. Nah, bagaimana dengan pelafalan bahasa Inggris di Asia?

Saya baru sadar betapa kayanya aksen-aksen bahasa Inggris di sekitaran Asia ini setelah mengunjungi beberapa negara di benua yang sama dengan negara saya tercinta Indonesia (TSAH!). Banyak banget aksennya, Bok! Dan menurut saya, semua berbeda. Aksen Inggris Thailand, Inggris Malaysia, Inggris Singapura, Inggris India, itu beda-beda semua. Unik ya..

tricycle-ride-yangon-myanmar

Di masa awal saya tinggal dan bekerja di Kuala Lumpur, saya kesulitan memahami omongan kolega saya. Padahal mengingat jarak Indonesia dan Malaysia yang dekat dan banyaknya budaya yang sama antara dua negara ini, harusnya lebih muda ya gak si? Tidak ternyata. Hihihi.

Mungkin ini berkaitan dengan apa yang dibicarakan juga ya, misalnya kalau jalan-jalan saja kan ya percakapan hanya seputar harga ini itu dan segala hal ihwal keseharian gitu; nah kalau kerja kan membicarakan hal teknis dengan kolega, jadi beda gitu kata-kata yang dipakai. Saya sempat keteteran pas awal di sana apalagi bahasa Inggris Malaysia tu ‘kaya’ sekali, bisa ada kata dalam bahasa Inggris, Kanton, Mandarin, atau bahkan Melayu dalam satu kalimat. Pusing pusing dah! Hihihi. Tapi tenang, namanya juga Princess Rembulan Indira, saya butuh waktu semingguan saja untuk membiasakan mendengar lafal bahasa Inggris yang diucapkan kolega saya dan setelahnya, saya jadi lebih mudah paham karena malah bahasa Inggris saya jadi beraksen sama. HAHAHAHAHA.. *anaknya mudah terpengaruh*

Pulang dari Malaysia, Mbak Fili, teman saya, mendengar saya berbicara bahasa Inggris berkata, “Ya ampun senang ya dengar Bulan cerita dalam bahasa Inggris. Serasa nonton Upin Ipin bicara (bahasa) Inggris secara live gitu.”

*saya nggak ngerti saya mesti bahagia apa sedih mendengarnya*
*mari berbahagia dan menertawakan aksen sendiri sahaja..hihihi*

Kembali ke Htoo dan cerita soal bahasa Inggris di Myanmar, laki-laki yang lebih mirip oppa-oppa Korea dibanding orang Myanmar ini membuat saya ngeuh bahwa somehow, pelafalan bahasa Inggris orang Myanmar ini mirip dengan pelafalan bahasa Inggris orang Thailand. Agak gantung, terdengar sedikit cadel, dan karenanya jadi sedikit sulit dimengerti. Sedikit saja, jangan banyak-banyak, nyakitin hati kalau berharap terlalu banyak dalam sebuah hubungan.

EH…NAON?!

Btw, mungkin ada kayak Bhai saya yang bingung bagaimana melafalkan nama Htoo. Htoo itu dibacanya ….. wait for it ….. Thu. HAHAHAHAHA. Gitu doang, antiklimaks. Bye..

Kunjungan ke Myanmar kemarin adalah kunjungan kedua saya. Di kunjungan pertama, saya pergi dengan Mama dan hanya keliling selama empat hari. Saya nggak terlalu ngeuh soal bahasa ini di kunjungan pertama itu. Nah di kunjungan kedua kemarin, saya berada di Myanmar lebih lama. Selama delapan hari saya berkeliling dan setiap harinya selalu bersama lebih dari tiga puluh orang dan selalu ada orang Myanmarnya. Htoo pun selalu ikut menemani. Baru di hari ketiga perjalanan kemarin saya sadar ternyata memang aksen dan pengucapan bahasa Inggris orang Myanmar agak lebih sulit dimengerti. Tapi jangan sedih, jangankan pengucapan bahasa Inggrisnya, wong pengucapan bahasa Myanmar dan tulisan latinnya saja agak mbingungi karena kadang beda jauh.

Untuk ‘terima kasih’ misalnya, di bahasa Inggris: thank you, di bahasa Myanmar, tulisan yang formalnya ‘แ€€แ€ปแ€ฑแ€ธแ€‡แ€ฐแ€ธแ€แ€„แ€บแ€•แ€ซแ€แ€šแ€บ’, dalam tulisan latin jadi ‘kyaayyjuutainpartaal’. Nah itu dibacanya bagaimana? Dibacanya ‘Che zu tim ba de’ JENG JENG!! GIMANA COBA TUUUU… Hehehe..

Kalau saya coba pecah, mengesampingkan tulisan Myanmarnya, dalam terjemahan latin, ‘ky’-nya mereka dibaca ‘ch’, ‘j’ dibaca ‘z’, ‘p’ dibaca ‘b’, nah bagian ‘taal’ dibaca ‘de’ itu saya masih nggak paham bagaimana memecahnya. Hahaha. Bulan mesti banget dikulik gitu? Ya enggak sih, kembali lagi ke alasan: ini mungkin karena pas kuliah saya ambil jurusan sastra saja jadi lumayan senang mengulik bahasa. Hihihi. Jatuhnya jadi agak sedikit obsessed untuk mengucapkan sebuah nama atau kata dalam bahasa setempat dengan baik dan benar. Sampai tingkat geregetan kalau dengar orang mengucapkan kata atau nama dalam bahasa tertentu tapi nggak sesuai kaidah bahasa tersebut. Hahaha. Kyat, nama mata uang Myanmar dibacanya chaat dan Aung San Suu Kyi dibacanya Awng Shan Su Chi, btw.. #justsoyouknow Hihihi.

pray-at-shwedagon-pagoda-yangon

INTERMEZZO: Saking saya gemes banget sama bahasa, pernah nonton beauty video di Youtube dan Mbak-mbaknya bilang, “Iya, Guys.. Ni namanya XX (apa gitu saya lupa), nggak tahu sih gimana nyebutinnya maaf-maaf aja kalau salah dan ini juga penjelasannya adanya dalam bahasa Tagalog soalnya.” saya langsung tertarik dong, eh ada barang baru dari Filipina yang ampuh nih sampai dibikinin video sama Youtuber Indonesia? Hingga kemudian Mbaknya ngasih lihat instruksi manualnya ke arah kamera dan saya bengong. Nganu… soalnya yang dia tunjukkin, tulisan dalam bahasa Thailand bukan Tagalog. Hyaaaa.. *kuingin menangis*

SKIP..

Kembali ke Myanmar, yang saya tangkap juga, dengan bawaan pengucapan bahasa mereka, cara pengucapan orang Myanmar ini agak terdengar sedikit ngawang. Kayak gantung gitu di ujungnya. Nama desa Indeinn ketika mereka sebutkan terdengar seperti ‘I(y)dey-i’; huruf N di belakang hampir tidak terdengar. Untungnya (atau bisa disebut ‘magisnya’) untuk nama saya Bulan, mereka bisa menyebut dengan baik. Padahal diakhiri nun mati (kalau kata guru ngaji saya dulu) juga. Hahaha.

traditional-cloth-at-indein-village-myanmar

Nah bahasa setempat saja sudah agak berbeda dan ngawang pengucapannya, bayangkanlah ketika harus memahami bahasa Inggris yang diucapkan orang Myanmar. Kejadian lah soal FUCK eh FOG itu tadi. Eh sampai sini sudah pada sadar belum apa yang sebenarnya ingin dikatakan Htoo? Kalau belum, baca terus. Kalau sudah, simpan dulu dan baca sampai habis untuk cek benar enggaknya. Hihihi.

Dengan agak sulitnya memahami lafal bahasa Inggris orang Myanmar, lalu apakah jadi ada kendala bahasa saat berkunjung ke sana?

Enggaaaaak.
Saya sih tidak merasa ada kendala bahasa yang berat gitu. Paling banter hanya butuh waktu lebih saja untuk bisa menangkap apa yang mereka katakan apalagi kalau mereka ngomongnya cepat. Sama lah, mungkin juga orang dari negara lain butuh waktu untuk mengerti bahasa Inggris yang kita ucapkan ya. Hihihi. Dan menyenangkannya, orang Myanmar itu ramahnya luar biasa. Mau ngebantuin pakai banget gitu. Orang-orangnya pun nggak sensitif. Kalau ada kesalahan pengucapan dan dibenerin pun mereka oke-oke aja. Kalau kesalahannya lucu dan saya ketawa (tanpa bermaksud merisak), mereka akan ikut ketawa bareng. Hehehe.

Lalu, ngomongin lafal bahasa Inggris orang Myanmar begini begitu emang lafal bahasa Inggris orang Indonesia sudah bagus banget gitu? Ya nggak juga. Bahkan lafal saya juga nggak sebagus itu kok. Kadang juga orang bisa nggak paham sama apa yang saya omongin.

Reception: Reception, good afternoon. How can I help you?
Me: Hi.. I wonder if there’s someone who can help me buy cough syrup?
Reception: Coffee, Mam? You want coffee?
Me: No.. Cough syrup.
Reception: Coffee with syrup, Mam?
Me: Nooo.. Cough.. Cough.. Cough meds. Cough syrup.
Reception: Muff?
Me: Cough.
Reception: Buff?
Me: Coouuuggghhhh…

Dan demikianlah saya lalu ketawa ngakak banget di ujung telepon dan kemudian Reception ikut tertawa. Ketika saya batuk-batuk baru Mbaknya sadar, “Oh… Cough syrup, Mam?” AUK AMAAAAT MBAAAAKKK!!! Hahahaha..

Jadi sampai sini, sudah bisa menebak apa yang dikatakan Htoo di awal cerita?

For goodness sake, he wants a FORK!!
TADAAAAA!!! Hahaha.. Sekian dan terima kasih.

*ahiran yang gantung*

Senyum dulu ah.. ๐Ÿ™‚


Baca juga:

  1. Myanmar 4 Days 4 Nights Trip
  2. Sadar Wisata Phuket
  3. Hambatan Bahasa di Busan
Advertisements