Clubbing di Yangon Myanmar

Confession: Sampai usia saya hampir mencapai twinnies 33 tahun, saya baru dua kali clubbing. Yang pertama dulu nggak terhitung clubbing sih wong kami (iya, kami, anak-anak sastra Inggris yang kelihatannya gahar dari luar macam singa betina namun kelakuan manis macam kucing anggora – naon pembandingnya teh binatang?!) datang ke acara anak kampus sebelah untuk memberi dukungan bagi kesuksesan acara itu saja. Hihihi. Nah yang kedua baru beneran clubbing, bukan di Indonesia lagi. Saya clubbing di Yangon Myanmar! CAILAH!!

Saya suka dance dan selalu merasa bahagia kalau sedang berjoget. Saya bahkan joget atau setidaknya goyang-goyang kalau saya lagi bahagia. Saking seringnya saya goyang-goyang secara random, kata Bhai Bart, saya kena tarantism! Hihihi.

Tarantism

Jadi kenapa kalau suka joget kok seumur-umur baru dua kali clubbing? Nah, itu adalah MISTERI!! Hihihi. Nggak tahu juga ya, mungkin karena 1) sejujurnya saya nggak begitu suka keramaian dan 2) saya nggak suka ngobrol ditengarai musik berisik jedag-jedug. Ribet banget gitu antara mesti teriak-teriak atau merangkul orang yang mau diajak bicara untuk bisa menyampaikan pesan. Jadi kalau ada teman lama (atau baru) yang ngajak clubbing tapi dengan embel-embel, “I wanna tell you something!” atau “I want to have a chat.” dih saya mah langsung malas. Hahahaha. But rave party/clubbing has always appealed interesting to me. I love the concept dancing your heart out like no one is watching. Sepertinya menyenangkan dan segar.

Susu murni Nasional kali ah, segar.. πŸ˜›


Hari itu hari terakhir saya di Myanmar dalam rangkaian acara famtrip Marvelous Myanmar. Perjalanan sudah berlangsung selama delapan hari dan di hari terakhir itu, kami diajak melepas kepenatan dengan suguhan lomba yang membuat kami ngakak tiada henti lalu diakhiri musik jedag jedug yang membuat semua orang asyik bergoyang bebas ke sana ke mari. Oh, tak lupa juga: free flow minuman! Wine, vodka, beer, you name it, they serve it! Haha. THANKS PARK ROYAL YANGON!! ❀

myanmar-travel-blogger-club

I really enjoyed the ambiance that night! People were literally dance their heart out. Nggak peduli gimana jogetnya, nggak peduli gimana tipe badannya, nggak peduli joget sama siapa, semuanya joget saja. No judgment! So fun and refreshing! Saya sampai keringatan!! Hahaha. Maka ketika salah satu panitia datang dan merangkul saya serta berkata, “Bulan, do you want to join us after this? We’re going to the club.” tanpa ragu saya mengiyakan. Let’s elongate this fun moment!

Pukul 10 malam kami menyudahi pesta di hotel dan bersiap pergi ke klub. Me, being me, sempat-sempatnya mandi sebelum ke klub. Padahal waktu bersiapnya kurang dari dua puluh menit. Hihihi. Mandi bebek!! Eh tapi saya belum nganu sih; Jessica – teman saya dari Filipina, niat banget berendam dulu sebelum ke klub. Lucunya, dia sudah mabuk saat itu jadi ketika dia berendam, dia sempat tertidur dan melorot sampai wajahnya masuk air. Baru pas wajahnya full masuk air dan dia bernapas (ya chenchu saja air masuk hidungnya), dia tersadar dan bangun. HAHAHAHA. Duh kalau ingat momen itu, saya pengen ngakak lagi. Drunk friends are the funn(i)est.

“It’s 10.000 kyat per person.” kata salah satu panitia memberitahukan harga masuk klubnya. Saya merogoh tas kecil saya dan JENG JENG!!

“OMG I don’t bring my wallet!!” pekik saya. Bengong sama diri sendiri. Pekikan kedua saya keluarkan ketika saya melongok lebih dalam ke tas saya, “AND MY PASSPORT!!”

Ya Tuhaaaaan.
Rembulan Indira, 32 tahun, Indone….. (cing, malu-maluin aja cing!!)

marvelous-myanmar-trip

Saya baru ingat saya berganti tas sesaat sebelum ke aula hotel untuk berpesta dan hanya membawa ponsel di tas kecil yang saya pakai (because who needs passport and wallet when you’re goin to a closed party four floors under your room kan) dan tas kecil itu pula yang saya bawa ke klub karena nggak sempat berganti tas.

“You can use my money!” sahut Kailun cepat. “And my money!” lanjut Alexis.

Ya ampun, apa yang sudah kuperbuat hingga mendapatkan teman-teman sebaik mereka yang mau bayarin biaya masuk klub sorang princess macam saya sih. *terharu*

“We still owe you anyway. So here I pay my debt.” Kailun memberikan 5000 kyat ke tangan saya. Saya diam dan berpikir sejenak.

OH!! Tadi kami makan siang pakai uang saya dan jadinya masing-masing dari Kailun, Hannah, Alexis, dan Jessica berhutang ke saya 5000 kyat! HAHAHAHAHA. Ternyata mereka tidak sebaik itu dan saya tidak seberuntung itu. Pfft!! *tidak jadi terharu* SINI BAYAR UTANG SEMUA SINIH!!

Wkwkwkwk.. *awe-awe 20.000 kyat di tangan*

Kami memasuki lobby klub yang berada di belakang sebuah restoran kelas atas. Suasana remang menyambut, seluruh petugas berpakaian hitam-hitam dan terlihat ‘sangar’. Mereka memasang gelang stiker di tangan kami dan setelahnya mengecek barang bawaan kami semua. Setelah melewati pemeriksaan, kami naik tangga menuju arena.

Arenaaaa..
Lu kata ring tinjuuu.
Wkwkwk..

Membuka pintu geser menuju lantai dansa, keseluruhan area bisa terlihat. Di depan pintu, ada tangga menuju area kecil memanjang berisi meja tinggi dan kursi bar. Di sebelahnya, dibatasi sekat setinggi lebih kurang 1.5 meter, ada area yang lebih luas berisi meja tinggi tanpa kursi. Di ujung belakang area besar ini ada bar dengan tiga bartender di baliknya yang sibuk meracik minuman. Area terakhir di sebelah kanan adalah area VIP yang lantainya dibuat sedikit lebih tinggi dan empat tiang kayu membentuk pergola dengan kain putih berkilat tergerai hingga menyentuh lantai menjadi sekat antar ruangannya. Di dalamnya terdapat sofa bench berbentuk U dengan meja di tengahnya.

Suara musik hingar bingar yang sudah terdengar dari lobby klub dan terpaan sinar lampu warna warni di seantero arena menambah suasana jadi meriah. Saya sempat mengedarkan pandangan untuk mencari di mana DJ berada karena kok tidak terlihat stationnya. Di kiri atas dekat atap, saya menemukannya. Stationnya kecil, menggantung di atas, dilingkupi banyak lampu yang berkilat-kilat mengikuti jedag jedug suara musik. Yeap, stationnya menggantung! Kewl….

*antara cool atau saya saja yang norak sih..hihihi*

Kami datang hampir berduapuluh dan menempati tiga meja di area tengah. Pelayan datang untuk menanyakan kami mau minum apa. Kami memesan vodka, beberapa botol bir, dan pesan sponsor dari saya: air mineral. HAHAHAHA. Saya masih batuk dan walaupun saya juga minum minuman lain but I surely need mineral water on the table!! Alexis senang hati mendengar saya memesan air mineral karena dia bilang dia tidak bisa banyak minum minuman beralkohol. Ketahanan tubuhnya akan minuman beralkohol sangat rendah. Minum sedikit saja sudah akan mabuk parah katanya. Hihihi. *I was actually looking forward to seeing her getting drunk*

room-in-yangon-myanmar

Hal pertama yang membuat saya senyum dan membuat momen clubbing di Yangon jadi unik adalah karena ketika minuman keluar, kudapan yang menyertai bukanlah sebatas sepiring kecil kacang tapi juga …..

wait for it..

FRUIT PLATTER!!

Hahahahahaha.

Entah saya yang kurang heits tapi baru kali itu saya tahu kudapan pendamping di klub adalah sepiring buah-buahan. :)) Ada irisan pepaya (PEPAYA!!), semangka, melon, dan pir yang ditata cantik di atas sebuah piring panjang. Jadi bayangkanlah, kami minum, joget, sambil memegang satu tusukan dengan seiris pepaya di ujungnya.

Like how healthy funny is that?!

Suddenly, I don’t feel that bad gulping the drinks anymore because HEY!! I eat fruits with it!! :)))

Malam terasa panjang, semua larut dalam suasana, bergoyang sesuai musik, berpelukan, berpeluh, menunduk, twerking, menggoyang pinggul, berangkulan, mengangkat tangan tinggi-tinggi, meloncat, menggelengkan kepala, menggila. Semakin malam, suasana semakin ramai dengan kedatangan beberapa teman lain yang memutuskan menyusul. Kevin menempel di tiang dan menggoyangkan pinggulnya dengan gaya sensual, perlahan turun, turun, turun, dan menjatuhkan dirinya berjongkok di tiang dengan kaki yang terbuka lebar. Kami semua ngakak!

Hannah mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengayunkannya ke kanan dan ke kiri dengan bentuk memutar sambil kakinya juga bergerak mundur. Jessica (well, yes, that drunk to drown in a bathtub Jessica) menggerakkan tangannya di depan dada, bergerak mengikuti irama sambil matanya menutup menikmati musik yang sedang diputar. Htoo meloncat-loncat sesuai hentakan musik sambil kepalanya menoleh kiri dan kanan. May memutar tangannya di depan dada lalu mengayunkannya ke atas serta menggerakkan pinggulnya ke kiri dan kanan lalu tiba-tiba memutar badan dan memeluk Saw, pacarnya, yang berada di belakangnya. Jib mengangkat tangannya tinggi dan menggoyang pinggulnya membentuk putaran ke bawah. It was crazy. Crazy in a good way.

“Bee are you in the club?” Phyo, salah seorang videografer mengirimkan pesan di DM saya. Kebetulan sekali saya membukanya – karena sepanjang di klub, seringnya ponsel saya berada di dalam tas kecil yang saya taruh di atas meja bersama tas lainnya dan jarang saya pegang. “YES!!” jawab saya singkat sambil memberikan nama klub tempat kami berada. Tidak sampai sepuluh menit kemudian Phyo datang dan ikut menikmati suasana.

“Where is Hannah???” saya bertanya sedikit panik ke Kailun. Kailun menengok ke kiri dan kanan ikut mencari Hannah. Gila! Baru sekian menit lalu dia berada di tengah kami lha kok sekarang nggak ada.

“Where is Hannah???” Kailun bertanya ke Alexis. Alexis ikut menengok kiri kanan mencari sosok Hannah.

travel-blogger-in-myanmar

Kami sudah bersama selama delapan hari dan jadi punya rasa tanggung jawab untuk melindungi satu sama lain. Hannah sudah mabuk dari sebelum kami ke klub dan saya nggak mau ada sesuatu yang buruk terjadi dengannya ketika kami semua lengah.

“She’s goin to the toilet.”, Naw menjawab kegelisahan kami.

“I’ll check the toilet.” sahut saya dan segera berlari ke toilet di lantai bawah. Saya panggil-panggil nama dia dan bertanya ke petugas toilet tapi katanya toilet kosong saat itu. Saya lari lagi ke atas untuk mengambil ponsel kemudian lari lagi turun untuk menunjukkan foto Hannah ke petugas toilet. Oh man… Kepanikan menjalari pikiran saya.

Petugas toilet bilang tidak yakin melihat Hannah masuk toilet tadi. Saya beralih ke usher dan menunjukkan foto Hannah. Dia bilang tadi Hannah ke luar. Saya lari ke depan, nggak ada. Saya lari ke belakang, nggak ada. Gila, panik! Kailun turun menyusul saya mencari Hannah. Sekian menit mencari tanpa hasil, pada akhirnya Kailun berkata, “That’s okay. Believe that Hannah is fine. She’s a mature lady and she should be able to take care of her own self, Bulan. Don’t worry.”

Huhuhu..
Kami pun naik ke atas lagi dengan perasaan sedikit bersalah dan panik masih menggelayut.

“Yuck!!” tiba-tiba Alexis menampakkan wajah menjijikkannya. Belum sempat kami bertanya ada apa, dia berteriak, “I drink vodka!!!! I thought it’s mineral water!!” sambil mengangkat gelas yang berisi setengah cairan bening itu. Saya dan Kailun ngakak. “Do you gulp it?” tanya saya sambil tertawa. “YES!!” kata Alexis.

Muahahaha.. Atuhlah pegimana dah. “Enjoy it!!” teriak saya dan Kailun sambil bergoyang. Sepanjang malam, saya rasa Alexis minum minuman lainnya. Kejadian setelah kami sampai di kamar hotel mengonfirmasi keyakinan saya.

Minuman kembali datang (yes, along with the mineral water..hihi) dan kami tidak berhenti bergoyang. Semakin malam, klub semakin penuh tapi masih ada cukup ruang untuk Kevin bergoyang erotis menggoda saya sambil memelet-meletkan lidahnya dengan sensual dan masih ada cukup ruang bagi saya untuk lari dari kejaran Kevin, berlindung memeluk Alexis hingga kemudian Alexis (yang saya rasa sudah setengah mabuk) berteriak, “Don’t get close!! Don’t get close to my friend!!” Hahahaha.

Waktu berlalu dengan cepat saat kita sedang bersukacita, begitu pun yang terjadi ketika kami clubbing di Yangon Myanmar. We had fun till we forgot about time. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi ketika saya dan teman-teman akhirnya keluar dari klub. Hannah, Alexis, dan Kailun akan terbang kembali ke Singapura pukul 8.50 pagi hari itu. Jib harus terbang kembali ke Bangkok bahkan lebih awal, pukul 6.50 pagi. So we called it a night and planned to go back to hotel… BUT……

“Do you guys want to eat mohingar?” Kevin tetiba menawarkan.

WAIT.. WHAT?? Eating mohingar at 3 in the morning after some sweaty clubbing?
Who can say no to that? :)))

Jadilah perjalanan clubbing di Yangon Myanmar diakhiri dengan makan sup ikan dan bihun ala Myanmar di sebuah restoran di samping klub. Hahahaha.

mohingar-yangon-myanmar

Hampir pukul 4 pagi ketika kami masuk kamar hotel Park Royal Yangon. Alexis menjatuhkan badannya di ranjang Hannah. “What time is your flight tomorrow?” tanyanya.

Saya berganti pakaian sambil menjawab, “11.15.”

Hannah memutuskan untuk pindah ke kamar Alexis dan Kailun malam itu karena takut membangunkan dan mengganggu tidur saya saat mereka mau berangkat. Jadilah mereka berbondong mengambil barang-barang Hannah dari kamar kami untuk kemudian membawanya ke kamar Alexis dan Kailun.

Sambil membelakangi Alexis, saya berkata, “Let me know when you Guys have arrived in Singapore ya. I’ll cancel this room’s wake-up call and put it on your..” saya berbalik menghadap Alexis and there she was….

Sleeping peacefully.
Not giving a shit of what I said.
Totally drunk. :))))

PS: Hannah was not missing. Ketika kami kembali ke atas dari kepanikan mencarinya di bawah, Naw berkata, “She’s here!! Hannah is here!!” OMAGAH such a relieve! Ketika Kailun bertanya dia habis dari mana, wajahnya polos saat menjawab, “I went out smoking.” MUAHAHAHAHAHA.. Bhaique..

Baru sadar saya dan Kailun semacam terlalu drama ya. Hihihi.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚


BACA JUGA:

  1. Fuck dan Fog di Myanmar
  2. Myanmar 4 Days 4 Nights Trip
  3. Menikmati Bisingnya Jalanan India
Advertisements