[GP] Hanya Kabut Pagi di Bukit Kingkong

“Travel isn’t always pretty. It isn’t always comfortable. Sometimes it hurts, it even breaks your heart. But that’s okay. The journey changes you; it should change you. It leaves marks on your memory, on your consciousness, on your heart, and on your body. You take something with you. Hopefully, you leave something good behind.”

Anthony Bourdain


sunrise-di-bukit-kingkong-bromo

Dini hari, pada jam tiga pagi, dikelilingi angin Bromo yang menggerutu dingin, saya dan Bulan berjalan keluar penginapan untuk bertemu dengan Pak Sudar, supir jeep yang kami sewa. Di luar penginapan, saya melihat lelaki itu hanya mengenakan celana denim panjang, kaus lengan panjang, kupluk yang menutupi kepala, dan sehelai kain sarung kotak-kotak. Tanpa jaket. “Bapak tidak kedinginan?” tanya Bulan setelah kami berada di dalam jeep, siap berangkat menuju lokasi pertama. “Sudah biasa, Mbak.” jawabnya singkat.

Ya. Saya dan Bulan sedang berada di Bromo. Kami tiba tadi malam, sekitar pukul sembilan, setelah menempuh perjalanan dengan kereta api dari Yogyakarta menuju Probolinggo dan dilanjutkan perjalanan dua jam dengan mobil Elf.

Hari ini, kami akan mendatangi beberapa lokasi wisata yang berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Lokasi pertama yang akan kami datangi adalah Bukit Kingkong, salah satu tempat untuk melihat matahari terbit, selain Penanjakan dan Bukit Cinta. Setelah Bukit Kingkong, kami juga akan mengunjungi lokasi lain di TNBTS seperti, Gunung Bromo, Pasir Berbisik, Savana, dan Bukit Teletubbies.

***

Jeep melaju meninggalkan penginapan, menyusuri jalan di depan rumah-rumah warga lalu masuk ke jalanan kecil yang sedikit menanjak. Sinar yang menyala hanyalah lampu depan mobil yang kami naiki. Gelap, bintang pun tak tampak. Hanya ilalang dan kabut yang menyelimuti tanpa henti, seperti sutra merah yang tak rela membugilkan tubuh Drupadi oleh Dursasana. Kabut yang memperpendek jarak pandang, mungkin tidak sampai sepuluh meter.

Pak Sudar tidak peduli. Ia terbiasa dengan kabut. Ia terbiasa dengan dingin yang menusuk kulit. Ia terbiasa dengan gelap jalanan tanpa lampu. Ia terus menginjak pedal, bahkan semakin dalam ketika kami mulai melewati hamparan pasir setelah lepas dari jalanan beton yang tidak begitu besar tadi. Tampak di sebelah kiri kami, dua buah sepeda motor melaju entah ke mana. Mungkin mereka juga akan melihat matahari terbit. “Kalau sendirian, naik ojek sih tidak rugi. Tapi kalau berdua, mending sewa jeep. Harganya sama dan tidak kedinginan.” ucap Pak Sudar mengomentari dua sepeda motor tadi yang ternyata adalah ojek. “Memang berapa ongkos ojeknya, Pak? tanya Bulan kemudian. “Duaratuslimapuluhribu rupiah,” jawab Pak Sudar singkat.

Jeep terus melaju dengan kencang di tengah hamparan pasir Bromo. Di luar masih gelap, hanya terlihat debu berterbangan yang tergerus roda-roda kendaraan serta lampu-lampu jeep lain, jauh di depan sana. Patok-patok beton dipasang berjajar sebagai pembatas antara area yang boleh dilintasi dengan yang tidak. Beberapa pondok bambu tampak berdiri kosong, mungkin itu adalah warung-warung penjual makanan dan minuman yang belum buka karena waktu masih menunjukkan pukul setengahempat dini hari, atau mungkin saja tidak akan buka karena mengingat ini bulan Ramadan. Saya melihat ke langit sebentar, masih tidak ada bintang, hanya kabut yang terus menggerutu. Saya bergeming dalam hati, “Semoga nanti cerah, jadi Matahari terbit bisa dilihat dengan jelas.”

Meninggalkan area pasir, jeep kami mulai masuk ke perbukitan. Jalanan kembali kecil. Ia menanjak dan berliku. Dari dalam mobil, saya melihat kabut yang lebih tebal dari sebelumnya. Jarak pandang mungkin hanya delapan meter, atau bahkan lima, tetapi Pak Sudar tidak sekali pun mengurangi kecepatan, dan itu berhasil membuat jantung saya berdegup kencang. “Semalam hujan ya, Pak?” tanya Bulan ke Pak Sudar. “Iya, Mbak. Kemarin sore hujan. Makanya sekarang berkabut.” jawab Pak Sudar kemudian.

Saya melihat jalanan yang sedikit basah itu. Jalanan berkelok-kelok dan menanjak. Jalanan tanpa lampu. Jalanan yang hanya tampak lima meter ke depan. Jalanan dengan tebing di sisi kanan dan jurang di sisi kiri. Jalanan yang berkabut. Menderu dalam hati, “Semoga nanti terang.”

***

Kira-kira tigapuluh menit perjalanan, akhirnya kami sampai di lokasi pertama; Bukit Kingkong. Setelah turun dari mobil, Pak Sudar mengantar kami menuju titik kumpul. Warung dari bilah-bilah bambu yang tersimpul satu dengan lainnya, dengan terpal sebagai penutup bagian atas, berjajar menjual segala penganan. Bara api menyala dari anglo diletakkan oleh para penjual di tengah warung tersebut, untuk menghangatkan tubuh.

“Ini tempatnya ya, Mbak,” ucap Pak Sudar ketika kami akhirnya sampai di titik kumpul Bukit Kingkong. Ia menambahkan, “Paling jelas bisa dilihat dari situ,” seraya menunjuk tempat yang dimaksud dengan menggunakan cahaya senter. “Kalau yang di atas itu, Pak? tanya Bulan kemudian. “Itu Penanjakan.” jawab Pak Sudar. “Di sini tidak begitu ramai, Mbak. Tidak seperti Penanjakan. Di sana, kalau telat sedikit, tidak terlihat apa-apa, hanya kepala-kepala orang,” Pak Sudar menambahkan.

Saya melihat sekitar, ada beberapa kelompok sudah tiba sebelum kami. Kebanyakan turis mancanegara. Di antara mereka, ada yang berdiri di belakang pagar pembatas setinggi satu meter yang mengitari seluruh kawasan, ada pula yang duduk di lapak-lapak yang menjual makanan dan minuman, mengitari anglo dengan bara api untuk menghangatkan tubuh. Tak lama, Pak Sudar pamit kepada kami untuk kembali ke jeep.

Saya menengok arloji di tangan. Waktu menunjukkan pukul empat dini hari. Dibutuhkan sekitar satu jam lagi sampai Matahari terbit. Kami menuju salah satu lapak untuk memesan minuman. Bulan pesan susu sedangkan saya pesan teh jahe.

Kabut masih bebal, ia tetap tebal. Saya bertanya kepada bapak penjual, jam berapa kira-kira Matahari muncul. “Biasanya sekitar jam lima, Mbak,” jawab si bapak seraya menyalakan api di anglo miliknya setelah selesai membuatkan pesanan kami. “Tapi kabut tebal begini, semoga muncul ya Mataharinya.” imbuhnya kemudian.

Saya mengamini dalam hati.

***

Sungguh, di sini dingin sekali. Apalagi saya lupa membawa sarung tangan. Berkali-kali saya menggosok-gosok kedua telapak tangan untuk menghilangkan rasa dingin di tangan. Tapi itu tidak berlangsung lama, dingin dengan cepat kembali menusuk, membuat wajah menjadi kelu.

Merasa penasaran berapa suhu pagi ini, saya melihat suhu di gawai, menunjukkan sepuluh derajat selsius. Pantas saja, gumam saya dalam hati sambil meniupkan napas ke dalam celah di antara kedua telapak tangan lagi.

Saya merapatkan diri lebih dekat ke anglo, berusaha menghangatkan diri. Tetapi, bara dengan percikan api dan asap hangat itu segera terbang, tidak peduli atas kami. Angin dengan cepat membawanya pergi entah ke mana.

Ada empat orang lain duduk bersama saya dan Bulan, dua orang Rusia dan dua lainnya warga Perancis.

Saya mengambil gelas plastik berisi teh jahe di meja. Sedikit menyesap minuman itu, merasakan hangatnya masuk ke dalam mulut lalu mengalir di tenggorokan dan bermukim di perut. Nikmat sekali rasanya. Saya sesap lagi dan lagi seraya berharap agar kabut segera pergi.

Saya bangkit dari duduk dan berjalan menuju titik pandang. Berjalan seraya berlompat-lompat kecil, memaksa tubuh bergerak agar tidak kedinginan, begitu kata orang. Melihat kembali arloji di tangan, waktu menunjukkan pukul lima pagi. Mungkin sedikit lagi, pikir saya. Tapi mengapa kabut tak jua menghilang? Walaupun ada sedikit cahaya di ujung Timur, kabut tetap tak bergeming berpindah, dan dingin tak jua reda. Kembali mengusap-usap kedua tangan dan meniupkan napas di antaranya, mengantarkan hangat pada telapak, sekali lagi.

Orang-orang sudah memenuhi titik kumpul. Mereka punya harapan yang sama atas Matahari yang akan muncul. Ketika sepintas cahaya emas memancar dari balik bongkahan kapas abu-abu di atas sana, orang-orang itu pun sontak bersorai. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena kemudian kabut kembali menjadi sutra merah yang menutupi tubuh Drupadi. Mereka kembali dirundung sendu.

Saya terus menunggu dengan teliti setiap desik kabut yang lalu lalang tanpa henti. Menyaksikan wajah-wajah kecewa karena Matahari datang terlambat. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana kalau Matahari benar-benar tidak datang? Ia tidak memberi kami semua kesempatan untuk melihat cahaya keemasannya bersinar di sini, melihat kuasanya memberikan pantulan cahaya kepada Bumi, melihat Gunung Batok, Bromo, dan Semeru dari sini. Tapi pagi ini, Matahari tidak kuasa memendar dirinya sendiri atas kabut yang merajalela bagai kelelawar pada senja kelam.”

Saya bisa apa?

***

Pada akhirnya, walaupun pagi itu sudah cukup terang, tetapi Matahari tidak tampak dari pandangan. Yang terlihat hanyalah kabut, kabut, dan hanya kabut. Tidak ada pemandangan Bumi, di ujung sana, yang tampak, hanya Mahameru muncul sepintas pada ujung lancipnya, tempat Yudhistira membawa anjing putihnya ke nirwana. Lalu kemudian kembali ke abu-abu, kembali pada kabut.

***

Pak Sudar terbangun dari tidurnya di kursi kemudi jeep. “Bagaimana, Mbak? Dapat tidak sunrise-nya?” tanya Pak Sudar kepada kami. “Tidak, Pak. Tapi tidak apa-apa. Berarti harus ke sini lagi lain kali.” jawab saya seraya menutup pintu jeep.

Saya selalu menikmati setiap detik perjalanan, setiap inci pengalaman.

Berjalan menyusuri setapak yang pertama tadi untuk kembali menuju jeep dengan perasaan—walaupun tidak bisa melihat pemandangan indah Bromo, Batok, dan Semeru yang biasa dilihat di internet atau kartu pos— dengan perasaan senang. Perjalanan itu tidak melulu soal keindahan. Perjalanan itu ada pula yang bercerita tentang ketidakberuntungan. Tapi saya selalu menikmati segala tapak langkah kaki, setiap inci derik napas. Menikmati segala perjalanan, mendatangi tempat baru yang belum pernah dikunjungi, pengalaman baru. Mungkin saya harus datang ke Bromo lain kali, mengadu kesempatan yang lebih baik.

***

Sementara, jeep kembali melajukan mesinnya. Roda berputar mengantarkan kami menuju lokasi kedua. Melaju di jalan yang sama dengan yang tadi, tetapi kali ini, pagi sudah benar-benar pagi, semua yang tadi tidak tampak, kini terlihat jelas.

bukit-kingkong-bromo-probolinggo


Tulisan di atas adalah tulisan tamu dari Nonna Widi. Untuk tulisan Bulan tentang Bromo, silakan klik tautan berikut:

  1. Perjalanan Dari dan Ke Bromo
  2. Nanjak Maksimal di Bromo
  3. Negeri di Atas Awan Bromo
  4. Perjalanan dari Yogyakarta ke Bromo
Advertisements