Perjalanan Berat Ke Taka Bonerate

“Ke Selayarnya kita mau jalan darat apa naik pesawat? Kalau jalan darat, kita bisa sekalian berkunjung ke Bira. Atau pas pulangnya aja.”

Saya membaca pertanyaan yang diajukan Andes – Pak Kades dalam perjalanan kali ini – beberapa kali. Belum ngeuh soalnya. Takutnya kalau saya sok-sokan jawab eh ternyata nggak nyambung, saya dikira bego sama anggota perjalanan lainnya; I can’t put my reputation at risk!

WKWKWK.
Macam punya reputation aja, Pegangan Panci Oglek.


Akhirnya, setelah tahun lalu gagal berkunjung ke Taka Bonerate (karena putus cinta sama pacar padahal rencananya pergi bareng dan patah hati karena teman yang urus perjalanan meninggal), tahun ini saya ‘memberanikan’ diri mengunjungi taman nasional yang berada di selatan Sulawesi ini.

Beberapa bulan sebelum berangkat, saya memang rindu laut. Rindu berat yang tidak bisa terpuaskan dari main-main seharian di Gili Labak, Madura. Jadi ketika unicorn bestie (please jangan howek) saya, Firsta, kasih ide untuk main ke Taman Nasional Bahari Taka Bonerate, saya langsung YUK!! Hihihi. Gampangan banget memang. -____-/

taka-bonerate-trip

No expectation. Yang penting mah ke laut! Kaki ini rindu menjejak pasir yang halus. Hidung ini rindu mencium bau laut. Mata ini rindu melihat karang berwarna-warni dan ikan berseliweran. Hati ini rindu merasakan rutinnya saldo bertambah di akhir bulan.

LAH?!
Kok gitu..

Anyhoo, karena tidak adanya ekspektasi berlebihan maka persiapan saya berangkat ke Taka Bonerate ini terhitung selow. Selow terukur.

Anjay selow terukur, kek nama burung khas peliharaan orang Jawa.

***

Untuk menuju Taka Bonerate, saya berangkat dari Yogya, terbang langsung ke Makassar dan bertemu Firsta serta anggota geng lainnya di sana. Dari Makassar, perjalanan dilanjutkan dengan terbang lagi ke Selayar.

Sebenarnya ke Selayar itu bisa melalui jalur darat atau udara seperti yang Andes tanyakan di awal. Kami akhirnya memilih jalur udara karena kepikiran ke (Tanjung) Bira-nya pas perjalanan kembali dari Taka Bonerate saja. Kalau butuh info cara ke Selayar via darat, silakan dibaca tulisan dari Firsta ini ya, ada penjelasannya di situ.

Dari Bandara Selayar, kami naik mobil menuju Pelabuhan Patumbukan. Di pelabuhan (yang tidak seperti pelabuhan ini) kapal charteran kami sudah menunggu. Kapalnya cukup besar, padahal kami hanya berdelapan.

kapal-di-takabonerate

“Kapalnya pakai yang besar banget, Bang!” seloroh saya. “Iya, Mbak, soalnya nggak ada yang kecil.” jawab Bang Andi – pemandu yang menemani kami selama kami berkeliling Taman Nasional Taka Bonerate.

Di awal melihat kapalnya, saya agak masygul, merasa mubazir kapal sebesar itu hanya dipakai untuk kami. Untung ada dua apa tiga warga yang ikut serta juga. Ya alhamdulillah lah ya jadi kapalnya bisa berguna untuk orang lain juga. Di tengah perjalanan, pikiran saya berubah. Saya beryukur sekali kapal kami besar.

GILA GENG!! GILA BANGET!!
Malam itu adalah pengalaman menumpang kapal yang terburuk dalam sejarah jalan-jalan saya di Indonesia! Huks…

Kapal mengantarkan kami dari Kepulauan Selayar ke Pulau Rajuni Besar. Memasuki laut lepas, kapal bergolak keras. Kami semua yang duduk di dek lantai dua bergoyang parah. Biasanya di kapal goyangannya katakanlah hanya level 1 – 2, ini kemiringan saat bergoyang sampai ke level 7 – 8. Miring banget sampai kalau badan nggak alert, kami bisa kelempar ke lautan. Mana pembatas di dek atas itu tingginya paling hanya 10cm; WAGELASEH sungguh sangat tidak aman, Jenderal!

Goyangan pertama, kami masih tertawa-tawa. Menertawakan sebuah sensasi yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya.

Kurang dari sepuluh menit kemudian, goyangan makin menggila, sudah tidak ada lagi senyum apalagi tawa. Semua tegang!! Perut saya nggak enak rasanya, kayak mau muntah. Tapi saya pikir, sepertinya ini sisaan rasa ingin muntah dari pas perjalanan mobil sebelumnya, jadi saya diam saja. Cuma saya minimalkan bersuara.

“Ay.. Ay!! Plastik, Ay!!” suara Roro terdengar di samping kiri saya. Saya menengok, melihat wajah Nohan – anggota termuda geng kami yang baru berusia 5 tahun – sudah menggelendot ke badan Roro – ibunya. Wajahnya sudah pucat.

Oh God.. Oh God..

Tubuh kecil itu tidak bisa menahan gelegak naiknya isi perut. Plastik datang pada waktu yang tepat. Kami semua berkumpul, mencoba menenangkan Nohan. Tak lama kemudian, isi perut saya merasa iri melihat isi perut Nohan sudah dikeluarkan dan memaksa saya menggeser badan saya yang sudah lemas dan kepala saya yang pusing ke samping kanan beberapa puluh senti. Dengan sisa tenaga, saya berpegangan kuat ke pembatas yang hanya 10cm itu dan menumpahkan isi perut ke lautan lepas.

“Bulan!!”, Firsta beralih mengurus saya, mengangsurkan tisu basah dan mengelus punggung saya.

Selesai isi perut tertumpah ke lautan, saya merasa sedikit lega. I felt so much better. Baru saya mengangkat kepala mencoba menghirup udara segar, Ipank yang tadi lagi membantu menolong Nohan dan Roro beringsut pindah duduk satu meter di sebelah saya, memegang pembatas, dan ikut menumpahkan isi perutnya. GILA GILA!! Suasana chaos gila!!

Hampir seluruh isi perut saya keluar. Selesai muntah, saya melihat pemandangan sekeliling. Hanya ada air. Hanya ada lautan. Saya jadi teringat pesan dari Pak Saleh yang mengurus transportasi kami selama di Taman Nasional Taka Bonerate.

Tiga jam pertama sejak Anda meninggalkan Pelabuhan Pattumbukan, akan diombang-ambingkan oleh kondisi perairan Pantai Timur Kepulauan Selayar, satu jam selanjutnya ombak relatif stabil karena terhalang oleh gugusan atol Taka Bonerate.

Tiga jam pertama sejak Anda meninggalkan pelabuhan Pattumbukan, Anda tidak akan melihat pulau di depan mata Anda sebagai tujuan kedatangan, setelah melewati fase waktu ini, baru terlihat pulau Latondu Kecil.

Oh, I’m looking forward to these three first hours to pass. Pronto.

bungin-tinabo-taka-bonerate


Sekitar satu jam berlalu dari saat saya muntah, rasa perut saya memburuk kembali, saya mual lagi. Tidur tidak banyak membantu karena sepanjang tidur, badan kami tidak hanya terombang-ambing tapi juga bergeser mengikuti kerasnya ombak  yang menggoyangkan kapal. Bergeser tidak lagi 4 – 5cm, atau bahkan 10cm. Ombak menggeser kami sekitar 20cm dalam satu libasan. Ketika saya masih sadar, bisa tuh dari posisi saya di dek sebelah kanan, saya bergeser hingga kepala saya menyentuh pembatas sebelah kiri kapal. Gila ga!

Saya muntah lagi.
Kedua kalinya..
Ketiga kalinya..
Keempat kalinya..

“Andes, kita masih berapa jam lagi perjalanan?” dengan suara lirih saya bertanya ke Andes yang sedang memegangi kaki saya – takut saya tersungkur dan tercebur (atau sengaja menceburkan diri). Hari sudah gelap, tidak ada cahaya apapun di tengah lautan kecuali lampu kecil dari kapal kami. Kapten kapal kami bahkan tidak lagi mengemudikan kapal dari dalam melainkan melongokkan kepalanya ke atas dek demi melihat terjangan ombak yang ada di depan.

Ada masa di mana saya mau nyerah dan menceburkan diri ke laut saja saking nggak tahannya. Perut saya sudah sakit sekali. Sejak muntah ketiga, tidak ada lagi isi perut yang bisa saya muntahkan tapi perut terus merongrong. Dari mulai muntahan keempat, saya sudah tidak tahu lagi apa yang saya muntahkan.

“Masih dua jam lagi.” kata Andes.
Not something I want to hear, but okay.

Saya muntah lagi..
Kelima kalinya..
Keenam kalinya..

GILA, INI GILA!!
Tidak pernah saya semabuk ini dalam perjalanan.

You’re asking if I took an anti-motion sickness pill?
I DID!!
Tak berguna.. 😦

desa-bajo-tarupa-kecil-taka-bonerate

Tubuh saya sudah lemas sekali. Angin dingin yang berhembus malam itu tidak banyak membantu. Saya yang sudah pakai celana panjang dan sweater tetap menggigil kedinginan saat meringkuk. Saya sudah nggak peduli posisi tidur saya, saya bahkan sudah nggak peduli menahan kaki di pembatas saat ombak menggeser tubuh saya ke arah kanan. Kalau saya tercebur, sudahlah, pikir saya, mungkin sudah waktunya. Dalam hidup saya selama tiga puluh tiga tahun, mungkin ini adalah kali kedua saya merasa begitu pasrah. #drama

#maklum
#gemini

Saya nggak ingat apa-apa lagi dari perjalanan itu setelah muntah keenam kalinya. Sepertinya AKHIRNYA saya berhasil tidur. Yang sempat saya ingat hanyalah momen berbagi pelampung yang dijadikan bantal bersama empat anggota geng lainnya dan berpegangan seadanya pada pelampung tersebut mengikuti gerakan kapal. Kapal memiringkan kami ke kiri, kami semua berempat bergeser ke kiri dalam posisi tidur. Kapal memiringkan kami ke kanan, kami berempat bergeser ke kanan. Begitu terus hingga kemudian laut tenang dan suara mesin memelan tanda kami ALHAMDULILLAH sudah mau sampai daratan.

Fiuh..

Kalau ada hal paling dasar yang diajarkan jalan-jalan kepada saya, adalah untuk selalu bersyukur. Alhamdulillah kami selamat sampai ke daratan.

Kami menginap semalam di Pulau Rajuni Kecil sebelum keesokan harinya naik kapal selama lebih kurang satu jam ke Pulau Tinabo – pulau yang akhirnya menjadi base island kami selama berkeliling Taman Nasional Taka Bonerate.

Puji Tuhan saya nggak sakit sama sekali sampai perjalanan berakhir. Padahal sudah takut banget akan jatuh sakit secara hari pertamanya saja sudah berat begitu. Alhamdulillah.

Dengan perjalanan berat ke Taka Bonerate, mau kembali lagi nggak, Lan?
MAU BANGET!!
Tapi mau lebih pilih waktunya deh, nggak pas musim pancaroba begini. Hihihi.

FYI, kata Bang Andi, musim yang baik untuk mengunjungi Taka Bonerate adalah pertengahan Maret sampai awal Juni lalu juga akhir September sampai awal November. Kuatkan hati karena sudah pasti kalau berangkat di bulan-bulan bagus seperti itu, keadaan tidak akan sekosong ketika saya ke sana. Mungkin sedikit lebih penuh.

Atau mungkin penuh banget malah. Wkwkwk.

Perjalanan ke tempat-tempat baru itu tidak selalu mulus, tidak selalu menyenangkan, tidak selalu lancar tanpa hambatan. Ada muntah, ada jatuh, kehujanan, keserempet motor, kebawa gelombang, hingga kesayat karang segala. Tapi dari setiap hal yang terlewati dalam perjalanan, selalu ada cerita. Cerita menyenangkan yang bisa bikin ketawa kalau diingat-ingat lagi di masa sekarang.

Dan selalu ada rasa beryukur yang bertambah.

Saya masih ketawa kalau ingat saya muntah sampai enam kali dalam perjalanan ke Taka Bonerate ini. I mean, wait what? SIX TIMES?!

:))))))))

Senyum dulu ah.. 🙂


BACA JUGA:

  1. [GP] Hanya Kabut Pagi di Bukit Kingkong
  2. Wae Rebo, Antimo, dan Perjalanan Menuju Sebuah Impian
  3. Perjalanan dari Yogyakarta ke Bromo
Advertisements