Keunikan Rumah Suku Bajo di Tarupa Kecil Taka Bonerate

“Kita akan bertemu suku Bajo di Pulau Tarupa Kecil.” Bang Andi – pemandu kami selama di Taman Nasional Taka Bonerate memberikan arahan saat kami baru naik ke kapal setelah lelah snorkeling dihantam ombak.

Sejujur-jujurnya, saya bukan tipe pejalan yang senang berkunjung ke Kampung A atau bertemu Suku B kalau tidak ada keperluan apapun – kecuali kalau kampung atau suku tersebut membuka diri untuk dijadikan tujuan wisata ya itu beda cerita. Kalau tidak, IDK, rasanya kayak menjadikan (kehidupan) orang sebagai objek wisata, seperti memasuki ranah kehidupan orang dan menganggapnya serupa benda. It just doesn’t feel right.

Maka ketika Bang Andi mengajak ke pulau Tarupa Kecil untuk bertemu suku Bajo, saya bingung, nanti mau ngapain ya? Hihihi.

“Suku Bajo di Tarupa Kecil ini unik karena mereka membangun rumah-rumahnya dari kayu-kayu yang hanyut.” Bang Andi bercerita.

Eh, wait what?

rumah-suku-bajo-di-tarupa-kecil

“Untuk membangun rumah, mereka menunggu ada kayu hanyut. Dikumpulkannya kayu-kayu itu untuk membangun rumah. Atap dan dindingnya menggunakan daun kelapa yang dijalin lalu dikeringkan. Daun kelapa ambil dari pohon langsung.” lanjut Bang Andi dengan semangat.

Mata saya berbinar mendengar cerita Bang Andi.

This is interesting!! Unik sekali. Baru sekali mendengar ada yang membangun rumah dengan kayu hanyut.

Saya yang tadinya biasa saja (malah sempat berencana mau di kapal saja, nggak mau turun) jadi semangat untuk turun dan melihat-lihat rumah suku Bajo di pulau Tarupa Kecil ini. Padahal untuk menuju pulau Tarupa Kecil, kapal harus berhenti kira-kira dua puluh dua koma lima meter dari bibir pantai karena takut air surut lalu kapalnya karam. Jadilah saat mau turun, kami semua lepas baju lagi dan nyemplung jalan pelan-pelan menyeberangi air setinggi pinggang untuk mencapai pulaunya. Berasa kayak Bekasi di tahun 2007 dulu, jalan pelan-pelan ditemani air setinggi pinggang.

Bedanya, di Bekasi, airnya berwarna coklat. Di pulau Tarupa Kecil, seperti halnya di seluruh kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, airnya….. semriwing bening!! Hihihi.

pulau-tarupa-kecil-taka-bonerate

Tas-tas berisi kamera dan drone disunggi di kepala, baju bersih dipeluk. Alhamdulillah semua aman.

“Kita lihat pohon bakau terbesar dulu ya.” kata Bang Andi dan mengarahkan kami ke sisi ujung pulau – menjauh dari deretan rumah-rumah suku Bajo. Sebuah pohon bakau besar berada di sana, dikelilingi air dan pasir serta beberapa tanaman berwarna kuning serupa kencur panjang mencuat di antara pasir di sekelilingnya. Beberapa jaring ikan nyangkut di tanaman serupa kencur itu. Saya nggak terlalu impressed sama pohon bakau (((terbesar))) ini hingga kemudian saya menyadari sesuatu, “Bang, ini tu akar pohon bakaunya ya?” tanya saya sambil menunjuk puluhan tanaman berwarna kuning serupa kencur yang mencuat itu.

“Iya.” jawab Bang Andi sambil senyum-senyum.

LAH, GENG, IYA GEDE BANGET BERARTI INI POHONNYA!! Pohonnya di mana, akarnya sampai mana. Kalau kata anak Instagram masa kini, pohon ini WAGELASEEEEEH…

pohon-bakau-besar-tarupa-kecil-taka-bonerate

 


“Selamat siang, Ibu, Bapak..” saya mencoba menyapa Ibu dan Bapak yang sedang berkumpul. “Selamat siang, Nak..” sambut salah satunya dengan tersenyum.

Bang Andi membantu menjelaskan ke mereka, Bapak dan Ibu suku Bajo di pulau Tarupa Kecil ini, bahwa kami bermaksud datang untuk melihat rumah. Mereka mempersilakan. Saya langsung jalan-jalan melihat rumahnya.

Suku Bajo, shockingly, adalah suku yang berasal dari Kepulauan Sulu, Filipina Selatan (hasil search Wikipedia). Selama ini saya kira suku asli Indonesia. Hehehe. Di Indonesia sendiri, suku Bajo tersebar khususnya di pulau Sulawesi. Mereka disebut sea gypsy karena cara hidupnya ya memang seperti sea gypsy. Suku Bajo yang tinggal di Pulau Tarupa Kecil ini nomaden; berpindah sesuai angin berhembus gitu puitisnya, penjelasan ‘ilmiah’nya sih mengikuti di mana ada ikan lebih banyak. Hehehe. Mereka hidup seadanya, makan dari hasil melaut, hidup bersama alam, secukupnya.

Saya mulai melewati rumah-rumah suku Bajo di Pulau Tarupa Kecil ini, tidak banyak jumlahnya. Sepertinya hanya ada lebih kurang sepuluh rumah.

rumah-suku-bajo-di-taka-bonerate

 

 

Berbeda dengan Kampung Suku Bajo yang pernah saya kunjungi ketika dulu jalan-jalan ke Pulau Togean, rumah Suku Bajo di Tarupa Kecil ini menjejak pasir, tidak mengapung atau berdiri di atas cagak-cagak yang ditancapkan ke laut. Rumahnya sungguh sangat sederhana. Hanya ada satu ruangan besar di dalam. Dapurnya di luar, dipakai bersama-sama. Area komunal pun di luar – tempat Bapak-bapak dan Ibu-ibu duduk menjawab sapa kami saat baru datang tadi.

Di pinggir sebuah rumah terlihat ada empat batang pohon ditaruh begitu saja di atas pasir, ukurannya berbeda satu sama lain. Bang Andi berkata, itulah batang pohon yang hanyut dan diambil oleh orang Suku Bajo ini untuk dikumpulkan dan nantinya digunakan untuk membangun rumah.

Di akhir deretan rumah suku Bajo ada satu area luas berisi pohon kelapa. Kami sempatkan berfoto di sana secara bergantian.

kebun-kelapa-di-tarupa-kecil-taka-bonerate

“Bulan.. Aku mau cerita..” Firsta mendekat ke saya. “Tahu nggak, Ibu itu tadi minta dari aku.. Minta air tawar untuk minum.”

“HAH?!” saya bengong sejenak.

“Iya. Mintanya hati-hati banget, sopan banget. Aku kasih minum aku sebotol trus Ibunya masih nanya apa nggak apa-apa dia terima? Dia nanya nanti aku minum apa? Katanya kalau minumku tinggal sebotol ini saja, dia nggak mau. Aku bilang, masih ada minum di kapal.”

Saya masih bengong.

“Emang dia kekurangan air minum, Ta?” tanya saya.

“Kamu tahu nggak sih, ternyata, mereka minum dengan menadah air hujan.” Firsta menjelaskan.

Hati saya mencelos. Bingung mesti merespon bagaimana.

“Kenapa, Mbak?” tanya Bang Andi melihat kami mengobrol dengan wajah khusyuk.

“Bang, mereka minumnya dari nadah air hujan?” tanya saya.

“Iya, Mbak.” jawab Bang Andi.

“Bang Andi kenapa nggak bilang di gruuuup? Kalau bilang kan bisa disiapkan, ke sini jadi bawa air minuuuum!!” saya bertanya lagi.

“Lupa, Mbak.” kata Bang Andi.

😦

Saya sempat diam sebentar. Bingung harus bagaimana.

“Jangan terlalu sedih, Bulan.” Firsta seperti membaca wajah saya. “Ini pilihan cara hidup. Mereka memilih menjadi nomaden, mereka memilih tinggal di sini, mereka tahu kok resikonya, mereka tahu apa yang dihadapi dan mereka kuat, makanya mereka hidup begini.”

Saya diam merenungkan omongan Firsta, iya ya, benar juga. Life is full of choices. Suku Bajo ini kuat dan memang hidupnya ya seperti panggilannya: sea gypsy. Saya mungkin tidak akan bertahan lama jika harus hidup seperti mereka, walaupun nama saya Incess Ikan. Sama halnya mereka mungkin juga tidak bahagia kalau harus hidup seperti saya.

Mengunjungi kampung suku Bajo di pulau Tarupa Kecil terasa menakutkan di awal tapi saya bahagia saya memilih untuk ikut turun, melihat, dan bertemu Ibu dan Bapak yang tinggal di sana walaupun hanya sejenak. Rasa hangat yang menjalar seiring lambaian tangan saya ke arah tiga Ibu yang mengantarkan kami pulang membuat saya belajar, berjuang, dan bersyukur lagi untuk hidup.

Has life been this special?
:’)

Senyum dulu ah.. 🙂


BACA JUGA:
1. Perjalanan Berat ke Taka Bonerate
2. Lihat Parade Penguin di Phillip Island
3. Clubbing di Yangon Myanmar

Advertisements