Jalan-jalan ke Derawan Dulu dan Kini

“Dek, Mama ingin ke Derawan deh. Di sana tu yang bisa renang sama ubur-ubur ya? Adek sudah pernah ke sana ya? Mau nggak ke sana lagi?”

Ibu Ratu bertitah.
Incess Ikan menjalankan.

Mari kita ke Derawan!


Dua tahun setelah saya mulai kena virus suka jalan di tahun 2010, saya punya satu tujuan impian untuk dikunjungi di Indonesia.

Derawan.

Saya tahu tentang Kepulauan Derawan dari media sosial dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat foto tempat ini. Bagaimana nggak, wong setiap melihat foto Derawan yang berseliweran itu penggambarannya air laut bening, pasir putih dan (sepertinya) halus, juga langit cerah biru. Ciamik banget itu foto bagi anak Jakarta Bekasi yang setiap hari lihatnya gedung tinggi menjulang, beton abu-abu, orang-orang bermuka senep pulang kantor capek keringetan mesti empet-empetan di kereta dan langit putih pucat.

Saya akhirnya kesampaian ke Derawan pada tahun 2013. Saat itu, untuk menuju Derawan, saya terbang dari Jakarta menuju Balikpapan lalu dari Balikpapan lanjut terbang lagi ke Tarakan. Dari Tarakan, sudah ada mobil menjemput dan kami pun dibawa ke pelabuhan untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan speedboat selama empat jam.

small-speedboat-in-kakaban

Yang saya ingat dari perjalanan itu hanyalah speedboat yang ngebut sepanjang jalan (ya ngebut saja masih empat jam gitu ya, bagaimana kalau nggak ngebut coba?) dan menghantam ombak berkali-kali sehingga bagian depan speedboat bergerak vertikal naik turun secara cepat. Kami yang di dalam merasakan kepala kami terantuk-antuk atas bawah dengan keras berkali-kali. Setengah jam pertama berlalu, saya memutuskan menenggak dua butir dimen.

DUA BUTIR, GENG!!
Wkwkwkwk.

Gila itu efeknya mata ngantuk banget tapi posisi duduk dan gerakan speedboat yang membanting kepala ke atas dan ke bawah membuat keadaan tidak memungkinkan untuk tidur. Sungguh seru dan tak ingin saya ulangi lagi.

HAHAHA.

Di tahun 2018, saat saya dan Mama pergi ke Derawan, kami menempuh rute jalan berbeda. Kami terbang dari Jakarta menuju Balikpapan lalu dari Balikpapan lanjut terbang ke Berau. Dari Berau, kami dijemput dan diantar ke Pelabuhan Tanjung Batu (perjalanan darat 2 jam, jalan sudah bagus) dan dari Tanjung Batu kami naik speedboat selama 40 menit hingga ke Pulau Derawan.

Perjalanannya mendingan yang mana?
Yang tahun 2018 tentu.
*simpan dimen di dalam tas, nggak perlu nenggak*
Hihihi..

dari-tanjung-batu-ke-derawan


Kepulauan Derawan ada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Ada banyak pulau yang masuk dalam Kepulauan Derawan tapi yang (sudah) terkenal baru beberapa saja seperti Pulau Maratua, Pulau Derawan, Pulau Sangalaki, dan Pulau Kakaban. Di tahun 2013, saya menginap di Pulau Maratua. Ketika kembali lagi di tahun 2018, saya menginap di Pulau Derawan.

Kalau ditanya menginap di Kepulauan Derawan paling nyaman di pulau mana, saya jawab tergantung lingkungan seperti apa yang dicari. Kalau honeymooners atau pejalan yang ingin tinggal di tempat yang lebih sepi, menurut saya cocok menginap di Maratua.

Kebanyakan orang ke Maratua menginap di resor. Ya tinggal di rumah warga pun bisa, hanya lebih sedikit saja pilihannya (dibanding di pulau Derawan). Yang saya ngeuh saat saya menginap di Maratua, pulaunya lebih bernuansa privat.

berenang-di-maratua-paradise-resort

Apa saja yang bisa dilakukan di pulau Maratua? Jalan-jalan di pinggir pantai, lihat penyu hijau yang kadang suka datang ke dekat resor, berenang di sekitar resor atau sekedar menikmati momen matahari terbenam duduk di sunbed sambil pegangan tangan, ngobrolin masa depan.

Misalnya masa depannya harus berpisah ya nggak apa, diobrolin saja.
Mungkin jodohnya hanya sampai jalan bareng ke Derawan.
😦

Pulau Derawan, terasa lebih hidup. Cottage di atas air yang ada di Derawan langsung berhubungan dengan rumah-rumah warga di daratan. Di jalan utama, banyak restoran, toko suvenir, penyewaan sepeda, penyewaan alat snorkeling, hingga warung kelontong. Hampir semua rumah warga di Derawan dibuka sebagai penginapan juga. Bagaimana bisa hampir setiap rumah warga jadi penginapan? Ternyata ini berhubungan dengan penyelenggaraan PON di tahun 2008.

penginapan-di-derawan

Di PON 2008, Pantai Pulau Derawan menjadi lokasi penyelenggaraan pertandingan bola voli pantai, layar/selancar angin, dan selam sehingga banyak atlet yang menginap di pulau Derawan. Nah daripada membangun wisma atlet di pulau ini (yang pada akhirnya jadi tidak efektif dan efisien karena hanya akan digunakan saat ada pertandingan/acara olahraga saja), maka penyelenggara memiliki gagasan untuk meminta warga turut andil menjadi host bagi para atlet ini. Di setiap rumah warga yang bersedia berkontribusi, diminta dua kamar dengan fasilitas standar sesuai permintaan. Kalau nggak salah ingat dapat info dari pemandu kami di Derawan, untuk pembangunan dan penyewaan dua kamar tersebut selama acara, setiap pemilik rumah diberikan dua puluh lima juta. Nah setelah acara PON 2008 berakhir, kamar-kamar yang tadinya untuk atlet tersebut bisa disewakan lagi untuk wisatawan.

Ide bagus ya. Win-win solution; penyelenggara dapat menyediakan kamar untuk atlet selama berlaga, pengeluaran bisa dijaga dengan menyewa kamar-kamar rumah warga alih-alih membangun wisma atlet, dan kamar-kamar yang tersedia bisa lebih efektif karena bisa untuk disewakan lagi setelah acara selesai. Good initiative!

Eh tahu nggak sih, nama pulau-pulau yang terkenal di Kepulauan Derawan itu kayak berhubungan satu sama lain.

Derawan diambil lebih kurang dari perawan.
Sangalaki dari (sang) lelaki.
Maratua dari mertua.
Kakaban dari kakak.

Jadi deh mereka berkeluarga semuanya. Hihihi.

Berwisata ke Kepulauan Derawan berarti juga mengunjungi beberapa pulau dalam keluarga ini. Menyambangi pulau Kakaban pasti dilakukan karena danau tempat ubur-ubur tidak menyengat adanya di pulau ini.

Saya lupa di tahun 2013 ke pulau Sangalaki atau tidak; pulau ini adalah pulau kecil tempat konservasi penyu dan di pulau ini saya melihat biawak besar banget yang kalau diperhatikan, lha iya mirip komodo ya. Hihi. Bentuk badannya sampai cara jalannya mirip banget! Hanya, biawak lebih pemalu dibanding komodo yang seringnya sebodo teuing sama manusia.

biawak-di-pulau-sangalaki

Saat turun dari kapal untuk ke pulau Sangalaki harus hati-hati ya, banyak ikan pari mendem di pasirnya. Ikuti saja jalur yang dibuat pemandu atau motoris biar aman, oke!

Saya lupa saya snorkeling di mana saja di tahun 2013 (ingatnya hanya pas berenang bareng ubur-ubur..hihi..), kalau di tahun 2018 ini, spot pertama yang saya dan Mama sambangi adalah spot Derawan.

Spot Derawan ini dekat sekali dari penginapan kami. Kami naik speedboat ke spot ini tapi sebenarnya bisa jalan kaki juga. Masuknya bisa nyebur dari kapal atau dari dermaga. Karangnya biasa saja, tidak terlalu bagus tapi ikan-ikannya banyak. Kalau ada yang masih belum biasa snorkeling, bisa pengondisian dulu di dermaga spot ini. Mama pengondisian dulu dengan memegang kayu dermaga dan mulai membiasakan bernapas lewat mulut via snorkel gear. Ketika Mama sudah lebih tenang dan nyaman dalam air, pemandu kami, Pak Udin, mengajak Mama berenang keliling dermaga.

Spot kedua namanya Taman Sabilly. Spot di tengah laut, turunnya nyebur langsung dari kapal.

Eh, saya perhatikan, di semua perjalanan ke laut di tahun 2018 ini; baik di Taka Bonerate maupun di Derawan, sistem ‘docking’ saat kapal menunggu penumpang snorkeling tu nggak ada lagi yang buang jangkar melainkan dengan mencantolkan tali di sebuah pelampung yang tersambung ke tambang dan tambangnya ‘tertanam’ di bawah laut. Saya sampai kagum lihatnya. Saat di Taka Bonerate, awak kapal sampai tiga kali mencoba memasukkan tali ke cantelan di pelampung itu karena ombak lumayan membuat tugas itu jadi susah. Di Derawan ini, motoris dua kali mencoba baru bisa masukin tali itu. Suka deh saya sama metode ini; nggak ada lagi jangkar yang ditancapkan mengenai karang di bawah. Semoga sekarang semua spot karang memakai metode ini ya.

Di Taman Sabilly, koralnya besar-besar sekali dan bentuknya aneh-aneh. Ada yang berbentuk kumpulan bunga, ada yang berbentuk cawan dengan bagian tengah yang cekung, ada yang berbentuk seperti jari. Di tengah koral ada beberapa anemon dan ikan badut yang berenang lincah di antara sulur-sulurnya. Ikan-ikannya tidak terlalu banyak tapi ada bebebrapa yang besar sekali.

bawah-laut-taman-sabilly-kepulauan-derawan

Oh ya, di taman ini juga ada plang bertuliskan ‘Taman Sabilly” dari semen dan beberapa kursi di kanan kiri tulisannya itu. Entah untuk apa. Hihihi.

Spot ketiga adalah Turtle Point yang mana ternyata berlokasi tidak jauh juga dari penginapan saya dan Mama di pulau Derawan. Bahkan, kami bisa berenang kembali ke penginapan dari Turtle Point ini.

Saya melihat delapan penyu saat snorkeling di sekitar Turtle Point sementara Mama melihat lima ekor penyu. Kami memang terpisah saat di Turtle Point ini, saya keasyikan berenang mengikuti seekor penyu hijau. Pas saya angkat kepala, lhaaaaaa Mama dan Pak Udin sudah nggak ada dalam pandangan. Omagah. Semacam agak menakutkan. Saya di tengah laut sendirian. Hihihi.

Ada dua spot snorkeling lagi sebenarnya yang harusnya kami singgahi keesokan harinya. Satu spot di dekat Sangalaki dan satu spot di dekat dermaga Kakaban, tapi kami memutuskan nggak turun mengingat ombak yang begitu besar menerjang. Lagipula, Mama sudah nggak sabar mau melihat dan berenang bersama ubur-ubur di Danau Kakaban. Hihihi.

Cerita tentang berenang di Danau Kakaban bisa dibaca di post lama yang saya tautkan di bawah ya.

Selain snorkeling, kami juga main ke sebuah gusung. Kami datang tidak di masa puncak sehingga spot-spot yang kami datangi tidak terlalu penuh. Bahkan di gusung itu, kami sendirian!

gusung-di-kepulauan-derawan


Sebelum berangkat, saya sempat was-was berpikir apakah keadaan di Derawan sudah kotor dan bawah lautnya tidak lagi memesona. Puji Tuhan, kekawatiran saya tidak terjadi. Di pulau Derawan sendiri pantainya bersih, dermaganya bagus, dan orang-orangnya ramah. Bawah laut kepulauan Derawan pun masih indah, konservasi penyu di pulau Sangalaki berjalan baik (di bulan-bulan ini, setiap malam pasti ada penyu yang bertelur dan setiap hari pihak konservasi melepas tukik-tukik siap juang kembali ke lautan).

Yang bikin sedih hanya satu: penggunaan wadah plastik sekali pakai dan konsumsi air mineral kemasan masih meluas di sini. Air minum teman makan siang yang disediakan masih pakai air minum kemasan, begitu juga dengan air minum saat kami makan malam. Padahal makanannya sudah ditaruh di tempat makan yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Saya dan Mama bawa botol minum sendiri-sendiri dan di penginapan kami isi ulang dengan air galon jadi kami nggak minum air kemasan. Pas makan malam,  kami sengaja pesan teh karena kalau pesan teh disajikannya dalam gelas. Kalau mau minum air putih, kami bawa minum sendiri.

Ibu penjual jus dan pisang goreng memasukkan jus buatannya ke dalam gelas plastik sekali pakai, mengelap meja dengan tissue (padahal di sebelah tisu ada lap kain), dan tadinya mau memasukkan pisang goreng pesanan kami ke wadah plastik sekali pakai juga. 😦

Saya sama Mama memberitahu Pak Udin maupun Ibu penjual untuk mengurangi pemakaian plastik sekali pakai tapi tentu masih butuh usaha lebih dari sekedar memberi tahu ya. Bingung juga euy mesti bagaimana. Semoga akan ada bimbingan soal penggunaan plastik (khususnya) di pulau Derawan. Saya yakin orang-orang di Kepulauan Derawan adalah orang-orang yang mau belajar dan mau berkembang sehingga bisa mudah diajarkan untuk menjadi lebih ramah dan bersahabat menjaga lingkungan.

Semoga saja ya.

Senyum dulu ah.. 🙂

Foto terakhir: Ekspresi bahagia Mama ketika kami sampai di Derawan. Gotta have this one posted here. Hihihi.

jalan-jalan-ke-derawan


BACA JUGA:

  1. Menyentuh Ubur-ubur di Danau Kakaban
  2. Perjalanan Berat ke Taka Bonerate
  3. Wae Rebo, Antimo, dan Perjalanan Menuju Sebuah Impian
Advertisements