Ide Ramah Lingkungan Ala Saya

Sebenarnya bingung mau kasih judul apa ke post ini. Haha. Intinya saya mau berbagi hal-hal apa yang sudah saya lakukan dan coba jadikan gaya hidup (CAELAH) untuk menjadi lebih ramah ke lingkungan.

Eh yang saya lakukan lebih ke reduce waste dan eco-mindfulness ya, tidak ngejar zero waste. Karena saya pernah coba ngejar zero waste yang ada stress sendiri. Wkwkwk. Jadi ya dikurangi saja memproduksi limbahnya dan juga selalu berpikir panjang tentang apa dan bagaimana efek yang dihasilkan dari sesuatu yang saya lakukan untuk lingkungan.

Oke, tanpa banyak babibu, mari langsung kita mulai saja karena kalau nggak dimulai ya nggak akan bisa selesai. #apasikneng

  1. BAWA AIR DI BOTOL MINUM KE MANA-MANA
    Ide ini diajarkan dan dijadikan kebiasaan oleh Mama. Mama, kalau ke Mall Central Park (yang mana cuma lompat indah dari tempat tinggalnya), selalu bawa botol minum berisi air putih. Bagusnya kebiasaan ini: jadi bisa minum air putih kapan saja secara saya onta, hihihi. Dan nggak harus beli air minum kemasan botolan/gelas plastik yang sudah pasti akan jadi limbah setelah isinya dikonsumsi.

    Plus, kalau lagi jalan sama lelaki pilihan, saya bisa sok menawarkan air minum kapan saja, nggak usah tunggu sudah sampai di restoran gitu. Biar dikira perhatian. Hihi.

    wangfujing-street-beijing

  2. BAWA RANTANG ATAU TEMPAT MAKAN PAS MAU BELI MAKAN
    Soal beli makan ini baru menampar kesadaran saya saat membuka plastik demi plastik makanan yang saya dan Tante beli untuk makan di rumah. Sayur daun pepaya satu plastik, sayur buncis satu plastik, tongseng ayam dua plastik (didobel karena takut bocor), tahu tempe satu plastik, plus satu plastik besar untuk mewadahi plastik-plastik itu. Dan semua plastik itu tidak bisa dipakai ulang berkali-kali. Kalau kata 2ne1, kenyataan ini sangatlah: HO MA GAAAAH! :(Jadi sekarang bawa rantang atau tempat makan saja saat beli makan.

    Bisa juga direncanakan, sampai rumah rantang dibuka dan ajak Masnya makan bersama. Serantang berdua. AHZEEEEEK. Sudahlah ngirit, ramah lingkungan, dan praktis pula. Sungguh saya rantang ni calon pendamping idaman.

  3. SEDIA DAN BAWA TAS KAIN UNTUK BELANJA
    Biar nggak pakai plastik sekali pakai lagi kalau bisa yaaaa.Kalau nggak bawa tas kain dan belanjaannya sedikit, saya biasanya masukkan ke tas saya sendiri atau ya pegang di tangan saja. Kalau mau belanja agak banyak dan lupa bawa tas kain, saya minta semua belanjaan dijadikan satu plastik saja – nggak usah dipisah antara makanan dengan toiletries gitu. Plastiknya saya simpan dan pakai jadi wadah sampah di rumah. Hehe.

    Kalau belanja di supemarket, supermarket di Jogja rasanya lebih menawarkan opsi ramah lingkungan dibanding Jakarta. Di supermarket-supermarket di Jogja, kalau belanjaannya banyak banget, pembeli ditawarkan pakai kardus alih-alih pakai plastik. Dan kalau saya lagi belanja banyak (yang mana jarang sekali wong saya tinggal sendiri nggak punya pacar ataupun suami lha kok curhat yha) saya selalu ambil opsi pakai kardus itu.

    warming-hands-at-kawaguchiko

  4. NGGAK PAKAI TISU GULUNG DI KAMAR MANDI PRIBADI
    Tisu dibuat dari kulit kayu yang dijadikan bubur (pulp). Satu pohon berusia 6 tahun menurut artikel ini (hanya) bisa menghasilkan 2 pak tisu yang masing-masing pak berisi 20 lembar. Jadi satu pohon hanya bisa untuk EMPAT PULUH LEMBAR TISU DOANG!! Shocking? IYA. Maka setelah tahu, saya memutuskan nggak pakai tisu gulung di kamar mandi pribadi saya lagi, saya beralih pakai handuk kecil.
    Kalau bukan di kamar mandi sendiri, ya agak susah memang kalau nggak pakai tisu ya. Kalau di toilet umum, saya masih pakai tisu gulungnya itupun ambilnya diitung nggak mau sampai lebih dari 6 kotak. Pas cuci tangan, untuk mengeringkan tangan, saya pakai hand dryer saja. Hand dryer nggak ada? Yasudah dikibas-kibas ae tangannya. Hihi.

    Kalau ada Masnya, kepret-kepretin air di tangan ke muka dia saja biar dikata manja. #halah

  5. NGGAK PAKAI PEMBALUT SEKALI PAKAI
    Pembalut sekali pakai itu limbah. Limbahnya banyak banget dari mulai plastik packagingnya, plastik pembungkus satuan pembalutnya, kertas berplastik tempat lemnya, hingga keseluruhan pembalutnya sendiri.
    Sudah setahun lebih saya nggak pakai pembalut sekali pakai yang dijual di pasaran dan saya ganti pakai menstrual pad. Ada dua pilihan pengganti sebenarnya: menstrual pad atau menstrual cup. Silakan masing-masing riset dan kalau sudah yakin, tentukan pilihan. Tapi kalau belum yakin ya nggak apa-apa, saya nggak memaksa. Daripada dilanjutkan ke jenjang selanjutnya tapi penuh keraguan kan.
  6. ISI ULANG TOILETRIES
    Daripada setiap pergi-pergi beli perlengkapan mandi baru dalam bentuk sachet yang kemasannya hanya bisa sekali pakai, saya mending isi ulang toiletries saya kalau mau dibawa jalan-jalan. Sampo di tempat perlengkapan mandi saya isi ulang dengan sampo dari rumah (yang saya beli dalam pak besar), sabun juga begitu. Sampah kemasan sachetannya jadi nggak ada deh.

    toilet-in-japan

  7. MINTA LAUNDRY LADY NGGAK PAKAI PLASTIK PEMBUNGKUS LAUNDRY-AN
    Sebagai anggota dari Alandrian (Aliansi Anak Laundry Kiloan), saya sudah sediakan satu tas khusus untuk membawa baju-baju saya yang akan dilaundry. Dulunya, setelah selesai dicuci dan diseterika, baju saya dimasukkan ke plastik bening sebelum kemudian dimasukkan ke tas laundry bawaan saya. Semacam nganu saya melihatnya. Pemborosan dan plastiknya jadi sampah. 😦
    Akhirnya saya minta Ibu Laundrynya untuk memasukkan langsung baju-baju saya ke dalam tas laundry, nggak usah pakai plastik segala. Ibu Laundry mengerti. Semudah itu. Nggak kayak dia yang dulu. Susah mengerti aku. #okesip
  8. MINUM TANPA SEDOTAN
    Sedotan plastik hanya bisa digunakan sekali, setelah digunakan, langsung jadi sampah. Sad. Nanti sampah-sampah lambat laun akan masuk lautan. Duh laut yang indah jadi mengenaskan sekali kalau sudah ada sampah masuk. Apalagi kalau sampah plastik macam sedotan itu dimakan binatang-binatang laut. Efeknya bukan lagi mengenaskan tapi membinasakan. Double sad aqutu. Jadi, saya menolak memakai sedotan. Kalau beli minum di luaran ya sudah dikokop saja minumnya, nggak usah pakai sedotan. Hehehe.
    Ada yang suka pakai sedotan stainless. Bisa juga kok beli dan pakai sedotan itu; kan bisa dicuci dan dipakai lagi. Saya anaknya nggak telaten. Punya sedotan gitu pasti akhirannya saya lupa bawa. Atau sudah dibawa dan dipakai, lupa mencucinya. Jadi sudahlah, saya team #kokopsaja . Hehehe.

    kehwa-tea-kashmir

  9. PESAN MINUMAN DI GELAS
    Kalau pesan minuman di luaran dan saya mau mengonsumsinya di tempat, saya minta pakai gelas beneran saja daripada pakai gelas kertas/gelas plastik. Kalau dibawa pulang, saya minta minuman dimasukkan ke botol minum yang saya bawa.Menjadi sedih adalah ketika tempat jualannya tidak menyediakan gelas benaran. Lebih sedih lagi kalau gelas plastik yang mereka gunakan sebagai wadah adalah juga alat ukur pembuatan minuman mereka jadi tetap harus dipakai.

    Pernah kejadian, saya bawa botol minum ke sebuah tempat jualan milk tea, minta minuman dimasukkan ke botol yang saya bawa. Masnya bilang oke. Pas saya lihat pembuatannya LHA KOK TETAP PAKAI GELAS PLASTIKNYA? Pas saya tanya, kata Masnya, ukurannya ada di gelas plastiknya jadi tetap harus pakai gelas plastik itu baru kemudian dimasukkan ke botol minum. Lalu gelas plastiknya dipakai untuk minuman selanjutnya? Ya enggak! Langsung dibuang. KESEL GAK SI, GENG! Sama saja bodong kalau gitu sih ya. 😦 Sad.

  10. LEBIH ALERT SAMA KEMASAN/BENTUK MAKEUP YANG DIPAKAI
    Banyak yang bertanya kenapa saya yang dulunya aktif makeup-in orang dan wajah sendiri kok sekarang justru seringnya nggak dandan. Salah satunya ya karena alasan lingkungan. Hahaha. Saya sadar kemasan makeup dan skincare itu kebanyakan nggak bisa didaur ulang, sudah aja gitu dibuang dan tanpa penanganan yang baik akan berakhir di lautan juga. 😦 Dari situ, saya jadi mengurangi pemakaian makeup khususon yang packagingnya sampah banget.

    Yang drastis saya kurangi tu pemakaian kapas. Dulu bisa beli kapas dua kali dalam sebulan masing-masing dua pak karena tiap hari makeup-an yekan. Shock jinggo pas lihat kapas kotornya. Sekali hapus makeup bisa pakai lebih dari tujuh lembar kapas untuk menghilangkan riasannya. Dan itu setiap hari!! WAGELASEH.
    Sekarang jarang banget makeup-an, dan kalau mau hapus makeup pakai handuk penghapus makeup gitu. MengurangiΒ  beli makeup juga biar nggak banyak memproduksi limbah bekas pakainya.

    ubermoon

Itu beberapa hal yang saya lakukan untuk menjadi lebih ramah lingkungan. Pada akhirnya, kebiasaan-kebiasaan di atas ini sudah merasuk ke jiwa (AIH MATEEE) dan jadi lebih panjang penanamannya. Misalnya, saya jadi malas minum milk tea, bubble tea, dan sejenisnya yang memakai gelas plastik sebagai gelas ukurnya karena berarti setiap membeli satu minuman, saya menyumbang satu gelas plastik untuk lingkungan. Saya juga jadi mengurangi belanja online karena belanjaan online SELALU dibungkus plastik; kadang sampai berlapis-lapis. 😦 Saya juga mengurangi belanja makanan via GoFood apalagi kalau saya tahu packaging untuk makanan take away di restoran yang saya tuju itu pakai banyak plastik. Saya usahakan nggak beli semua minuman yang kemasannya botol PET.

Jadi nggak beli milk tea, nggak pesan makan via GoFood, dan nggak belanja online, Lan?

Ya masih, tapi saya ekstrem kurangi intensitasnya. Kayak pilihan terakhir banget lah. Untungnya, ayam geprek kesayangan saya packagingnya pakai kardus kertas. Wkwkwk. #tetep

Kalian ada ide lain bagaimana untuk menjadi lebih ramah terhadap lingkungan? Kalau ada, share ya. Kalau bisa saya lakukan, pasti juga akan saya lakukan. Yuk, bersama-sama kita berusaha untuk jadi lebih ramah ke lingkungan. Ya ramah ke dia yang kita harap jadi tempat kita pulang saja bisa masa ke lingkungan yang notabene sudah jadi tempat kita pulang sekian lama nggak bisa yekan! Kaaaaaan.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚


BACA JUGA:

  1. Jalan-jalan ke Derawan Dulu dan Kini
  2. Keunikan Rumah Suku Bajo di Tarupa Kecil Taka Bonerate
  3. Sydney atau Melbourne
Advertisements