Lebih Tahu tentang Kopi dari #NgopiBarengKAI

“Aku nggak tahu deh hari ini kenapa. Kok aku ngerasa sesak napas begini tapi sebenarnya nggak sesak. Kayak aku harus ambil napas dalam berkali-kali gitu. Kayak napasku nggak beres.” curhat saya ke Mbak Yeyen dua tahun lalu.

“Tadi minum atau makan apa?”

“Hah?” bingung kok pertanyaannya minum atau makan apa? “Makan mie, minum kopi.”

“Kamu nggak bisa minum kopi berarti ituuuuu.. Itu debar-debaaaar.”

Oh… Begini kah rasanya jantung berdebar-debar? Kata orang, kalau ketemu si dia yang pas di hati, jantung akan berdebar-debar. Saya kok nggak pernah merasa gini melihat laki-laki? Apa jodoh saya adalah…….kopi?


Sejak curhat itu, saya sama sekali nggak pernah minum kopi hitam lagi. Takut. Takut merasakan debaran yang sama.

Mungkin karena itu juga saya masih sendiri hingga kini (LAAAAHHH…)

Maka ketika saya diajak ikut serta di acara #NgopiBarengKAI, saya semacam mau ngikik. Bagaimana deh? Orang nggak minum kopi kok diajak ngopi?

ngopi-bareng-kai

Tapi kemudian saya ingat-ingat, sebelum saya minum kopi hitam yang membuat saya berdebar dulu itu, saya sering minum kopi dan baik-baik saja. Maka, apa ada yang salah dengan kopi yang saya minum kala itu? Apa saya nggak tahan minum salah satu jenis kopi dan bisa minum jenis lainnya? Jenis apa? Apa kopi yang saya minum harus diseduh dengan metode tertentu? Apa ada korelasi antara asal kota penghasil kopi yang saya minum dengan asal jodoh saya nantinya?

Dengan rasa penasaran akan jodoh serta kopi ini, saya pun mengiyakan ikut acara #NgopiBarengKAI.

Acara #NgopiBarengKAI ini unik! Diadakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun KAI yang ke 73, #NgopiBarengKAI dilaksanakan di 12 kota, 15 stasiun, 40 kereta api, dan mengikutsertakan 200 barista untuk membuat 50.000 cup kopi GRATIS hanya dalam dua hari!!

Dan semuanya: KOPI INDONESIA! Wiiii…wiiii.. Laff..

Sebelum berangkat, saya sempatkan berkeliling melihat stand kedai kopi lokal di Stasiun Yogyakarta dan ngobrol-ngobrol sama Mas Sultan dari Soulthan Coffee. Dari Mas Sultan lah saya jadi tahu ternyata tipe biji kopi yang ada di Indonesia itu tidak hanya arabika dan robusta saja.

WOOT!

kopi-sidikalang-di-ngopibarengkai

Ada lima tipe biji kopi: Arabika, Robusta, Liberika, Ekselsa, Luwak.

Ini pengetahuan dari Mas Sultan dan hasil saya googling-googling ya. Setelah saya ngobrol dengan beberapa barista, pengetahuan soal tipe biji kopi ini ternyata berbeda-beda. Jadi kalian jangan bully aku, wahai milenial penikmat kopi.

Walaupun, saya yakin banget, penikmat kopi beneran itu selow-selow, nggak suka ngegas. Yang suka ngegas biasanya anak baru kemarin sore suka kopi trus ngerasa udah paling hokya soal perkopian. Yang ngata-ngatain pilihan orang minum kopi kalau nggak hitam. Yang memandang rendah pilihan orang ngopi di mana; di kedai lokal atau kedai medusa. Hihihi.

Saya tahunya dulu biji kopi itu ya hanya arabika dan robusta. Tahu sih kopi Luwak, tapi saya kira itu termasuk dalam arabika atau robusta tergantung buah kopi tipe apa yang dimakan sang luwak. Hihihi. Ternyata tidak, Saudara-saudara! Nanti saya coba jelaskan di bawah kenapa luwak menjadi satu tipe biji kopi sendiri.

Arabika digadang-gadang memiliki citarasa tinggi, kadar keasamannya tinggi, dan kafeinnya bernilai 1. Robusta, kafeinnya dua kali lipat Arabika (jadi nilainya 2), kadar keasaman rendah, dan aromanya lebih burnt a.k.a hangus. Hihihi. Kek hubungan kita saja, hangus.

Liberika itu unik banget. Kadar kafein Liberika sama dengan Robusta tapi rasa dan aromanya lebih condong ke sayuran atau dedaunan hijau! Jadi penasaran nyobain liberika aqutu, Geng.

Ekselsa memiliki citarasa yang kuat dan dominan pahit. Mungkin penikmat kopi tingkat dewa bisa membedakan dominasi ini ya tapi buat saya, semua kopi tu rasanya pahit! Hahaha.

Luwak jadi tipe biji kopi sendiri karena ternyata itu buah kopi yang dimakan sang luwak nggak cuma asal lewat lambungnya lalu keluar jadi empup saja melainkan sudah mengalami fermentasi singkat dengan bakteri alami yang ada di perut sang luwak tersebut. Jadi, walaupun kebanyakan buah kopi yang dimakan sang luwak adalah arabika, tapi saat keluar, itu biji kopi tak lagi memiliki karakteristik arabika seperti sebelumnya. Ia telah berubah.

Seperti kamu, Mas.
HALAH.

Lalu apakah hanya tipe biji kopi saja yang pengaruh ke debaran jantung saya di kala dulu itu? Tidak, Geng!

seduh-kopi-di-kereta

Dari obrolan dengan Mas Sultan dan Mas Syahlun (barista dari Kopistreet Jogja yang bersama saya dalam perjalanan di kereta), saya baru tahu bahwa ternyata dunia perkopian itu sungguh sangat kompleks! Hahaha.

Biji kopi yang sama bisa berakhir dengan rasa yang sangat sangat berbeda. Karena apa?

Karena dari biji kopi, masih ada lagi proses pembersihannya, ada lagi proses roastingnya, ada lagi proses seduhnya, dan seluruh proses ini ada andil dalam membentuk rasa kopi tersebut! WAGELASEH kalau saya nulisin tentang semua proses ini, nggak akan cukup 2000 kata juga. Dan ya, pengetahuan saya tentang kopi pun nggak segitu luasnya. Hihi. Maka biarkan itu semua menjadi bagian barista-barista dan Komunitas Kopi Nusantara untuk menjelaskan; saya bercerita sesuai pengalaman saya saja. Hihi.

“Mau kopi apa?”, tanya Mas Sultan.

Saya melihat deretan kopi di depan saya dengan sedikit masygul dan ragu. Perjalanan kereta selama lebih kurang delapan jam yang harus saya lakukan membuat saya sangat berhati-hati, jangan sampai sakit perut dalam perjalanan.

“Mas Sultan rekomen kopi apa untuk aku minum? Yang nggak bikin deg-degan ya..”

Mas Sultan terkekeh. Dari mulai saya tadi bercerita kejadian tahun lalu saat jantung saya berdebar-debar setelah menemukan dia minum kopi, Mas Sultan yakin berkata bahwa jantung berdebar itu tidak mengapa. Debar itu akan hilang dengan sendirinya. Selama tidak pusing dan sakit perut parah setelah minum kopi ya berarti saya oke-oke saja minum kopi hitam.

Mengingat saya punya maag akut, Mas Sultan tidak menyarankan saya minum robusta. Maka dipilihlah Aceh Gayo Arabika untuk saya nikmati malam itu. Saya minum satu cup. Diawali dengan bismillah; biar lancar sampai KUA Jakarta.

Belum selesai minum satu cup, kedai Kopi Luwak Pak Ali di sebelah kedainya Soulthan Coffee mengajak saya datang dan mengobrol. Ngobrol doang? Ya tentu tidak. Barista Kopi Luwak Pak Ali sigap menghidangkan secangkir kecil kopi luwak dan secangkir air putih.

Sungguh ya, saya baru merasa komunitas penikmat kopi ini orang-orangnya sangat hangat. Rasa macam seduluran saja padahal baru kenal. :))

ngopibarengkai-di-kereta-taksaka

Tak sampai hati saya tidak meminum kopi luwak yang disajikan. Kembali dengan bismillah, saya sisip pelan-pelan kopi luwak itu.

OMG, GENG!! Enak banget itu kopi daaaah!!

Eh enak itu relatif ya, tapi sebagai newbie dalam menikmati kopi, saya suka sekali rasa kopi luwak yang disajikan barista Kopi Luwak Pak Ali itu. Ringan, nggak terlalu asam, bikin segar!!

“Coba kapan-kapan Kak Bulan pulang beraktifitas, capek kan tu. Kakak duduk di kursi, selonjoran, menikmati kopi sambil dengar musik favorit. Hirup aroma kopi sebelum diminum trus minumnya pelan-pelan. Beuuuuh… Mantap itu, Kak, rasanya!” kata Mas Julian, barista Kopi Luwak Pak Ali yang tampil mantul dengan rambut mekar afronya yang lucu.

Saya membayangkan apa yang Mas Julian katakan. Baru membayangkan saja sudah bikin saya senyum-senyum. Hihi.

Eh, trus jadi ingat momen mengenaskan ini: Pas SMA, saya punya satu pacar. Sebut saja namanya Togu – nama sebenarnya. Masa ya, pas dulu ngobrol becandaan sama teman-teman membahas apa yang akan dikatakan ke pasangan di pagi hari atau saat bangun tidur, pasangan teman-teman saya pada jawab, “Selamat pagi, Sayang..” atau “Hi, Baby, good morning.”; Togu menjawab dengan yakin yang akan dikatakannya adalah,

“Hei, pagi, bangun kau, buatkan aku kopi.”

Demikianlah, memang sudah takdir sepertinya saya ni nggak akan diromantisin sama pasangan. Dari SMA saja sudah mengenaskan begitu pengalamannya ya. :))

Total saya minum dua cangkir kopi malam itu sebelum berangkat dengan Taksaka menuju Jakarta.

blogger-ngopibarengkai

Magisnya, saya nggak merasakan debar apapun, saya nggak sakit perut, maag saya nggak kambuh, dan yang ada, saya tetap segar sepanjang perjalanan padahal hanya tidur dua jam saja!

Pas perjalanan pulang, saya minum kopi lagi buatan Mas Syahlun di atas kereta (iya, barista yang ikut di kereta berjibaku menyeduh kopi saat kereta berjalan dan goyang-goyang, hihihi). Kopi Wamena Papua.

Efeknya apa?

Sampai di Yogya, saya segar bugar! Ajaib! Padahal rute saya: naik kereta Taksaka Malam dari Yogya menuju Jakarta (sekitar 8 jam), tidur hanya sekitar dua jam. Sampai Jakarta sekitar pukul 04.00 dan saya naik taksi ke apartemen Mama. Sampai di apartemen, saya masih segar dan ceria. Sempat ngobrol sama Mama lalu saya tidur sekitar satu jam. Bangun tidur saya langsung mandi, sempat makan sama Mama, tidur lagi di pangkuan Mama 15 menit lalu cuss naik ojek ke Gambir untuk naik kereta Taksaka Pagi kembali ke Yogyakarta pukul 08.30. Sampai Yogya pukul 17.00 masih segar bugar dan ceria! Saya naik ojek pulang dan sampai rumah langsung mandi. Setelah mandi saya kira saya akan langsung tidur karena kecapekan etapi tidak dong. Saya masih sempat cerita-cerita sama Om dan Tante saya dulu. Segitu enaknya mood saya padahal abis perjalanan panjang! That’s so weird. Hihihi.

Mungkin itu karena kereta api di Indonesia sekarang sudah amat sangat nyaman; jadi perjalanan jauh dan tektok pun tetap bikin saya segar sekembalinya ke Yogya.

Mungkin ini karena teman sepanjang perjalanan yang asyik-asyik; Bu Indah dan Mbak Anita – kondektur Taksaka Malam dan Taksaka Pagi yang ramah serta prama prami Taksaka (Mas Donny, Mbak Dinda, Mas Prana, dan yang lain) yang tidak hanya sabar dan melayani tapi juga tak henti mengingatkan saya untuk istirahat dalam perjalanan.

kondektur-prama-prami-taksaka

Mungkin juga karena Mas Syahlun sebagai barista asyik diajak kerjasama, mau mengangkat nampan berisi puluhan cangkir untuk dibagikan melewati gerbong demi gerbong – karena kalau saya yang disuruh bawa, saya menyerah, mungkin baru keluar gerbong restorasi sudah berjatuhan tu kopi.

Dan mungkin karena saya minum dua gelas kopi sebelum berangkat ke Jakarta dan satu gelas kopi sebelum berangkat kembali ke Yogya sehingga tubuh saya ini bisa merasa segar selalu sepanjang perjalanan.

Mungkin.

Yang pasti, sekarang saya nggak takut lagi minum kopi. Semangat mencoba berbagai jenis kopi dari beragam tempat di seluruh Indonesia. Melihat kayanya negeri dari kopi.

Bisa minum kopi hitam lagi juga berarti kali lain saya ke kedai kopi, saya bisa merasakan ‘keren’nya memesan menu seperti teman-teman saya yang pecinta kopi sejati:

“Hai, Mas.. Satu Merapi Arabika ya. V60.”

AHZEK!!

Senyum dulu ah.. 🙂


BACA JUGA TULISAN LAIN TENTANG #NgopiBarengKAI di bawah ini:

  1. KAI Kembali Adakan Festival Ngopi Bareng KAI #2
  2. Akrabnya Ngopi Bareng KAI di Kereta Api Ciremai
  3. Ngopi Bareng KAI, dari Surabaya hingga Bandung
  4. 28 Jam di atas Kereta Bagi-Bagi Kopi Gratis di Ngopi Bareng KAI 2
  5. Sensasi Ngopi Bareng KAI #2 di Lodaya Malam
  6. Ngopi Bareng KAI dari Jakarta ke Surabaya

BACA JUGA:

  1. Ide Ramah Lingkungan Ala Saya
  2. Jalan-jalan ke Derawan Dulu dan Kini
  3. Memaknai Kematian di Toraja

Referensi Tambahan untuk tulisan ini:
(iya, I’m that kind of blogger who reads other writings to support my writing)

  1. Biji Kopi dan Jenis Minuman Kopi
  2. 5 Metode Seduh dan ‘Jodoh’ Kopinya
  3. Mana Lebih Aman, Kopi Arabika atau Robusta?
  4. Jenis dan Karakteristik Kopi
Advertisements