Kehe Daing Laguna Perjuangan Seorang Ibu

“Loh.. Di sini lihat stingless jellyfishnya, Pak? Beda (tempat) ya sama yang dulu saya datangi.” saya tertegun melihat pemandangan di depan saya – mencoba mengingat pemandangan danau ubur-ubur yang saya datangi di tahun 2013 lalu. Sepertinya berbeda.

“Bukan, Mbak. Ini lagoon. Dulu diajak ke sini, nggak?”, Pak Udin, pemandu kami, balik bertanya.

“Wah.. Enggaaaak..” jawab saya excited melihat tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sama sekali.


gua-di-kehe-daing

Dua tangga tinggi terlihat di depan saya. Satu terlihat lebih kokoh dari yang lainnya. Di sebelah kiri tangga ada sebuah ceruk gua yang terbuka. Saya melihat ke atas, ke ujung tangga dan menahan tawa dalam hati.

Di ujung atas tangga tersebut ada empat orang yang menatap kami dengan wajah tak mampu digambarkan dengan kata-kata. Ini rasanya seperti di film-film saja ni; semacam kami terdampar di sebuah pulau dan orang-orang itu adalah penduduk lokal yang melihat kami dengan tatapan bingung kenapa ada yang sampai nyasar ke pulaunya. Wkwkwk.

“Assalammualaikuuuum…”, sapa saya. “Walaikumsalaaaaam.”, dua orang Ibu dan dua orang Bapak menjawab sapa saya dengan ramah. Bapak-bapak itu rupanya adalah juga pengunjung, pengunjung dari tanah yang sama; tanah Kalimantan. Penduduk ‘penunggu’ laguna saat itu adalah dua Ibu yang ada di sana. Ibu Maspa dan Ibu Rospa, namanya.

Kakak beradik ini membuka warung kecil tepat di ‘pintu masuk’ laguna, di atas tebing yang bisa dicapai dengan menaiki tangga yang tinggi tadi. Warung sederhana itu terbuat dari triplek; menjual minuman hangat dan juga penganan ringan.

Laguna ini…. Kehe Daing, namanya. Artinya: lubang ikan, dalam bahasa Bajo. Lokasinya berada di Pulau Kakaban – salah satu pulau besar yang ada di Kepulauan Derawan. Posisi Kehe Daing sendiri berpunggungan dengan danau ubur-ubur yang terkenal di pulau yang sama. Kehe Daing berbentuk laguna dengan satu ujung menuju laut lepas dan ujung lainnya berakhir memasuki gua. Aliran air menuju gua terlihat tenang namun sedikit menghanyutkan karena gua menjorok lebih dalam. Dari gua, air mengalir terus hingga ke laut di luar laguna.

“Anak saya sekolah di Jogja.” Ibu Maspa memulai cerita setelah mengetahui saya datang dari Yogyakarta. “Sekolah (jurusan) Teknologi Jaringan.” lanjutnya.

“WOW!” ucap saya. Saya baru tahu ada jurusan se-spesifik itu.

“Yang pertama sudah kembali. (Jadi) bidan.” Bu Maspa terus bercerita menemani saya, Mama, Pak Udin, dan Abang Motoris yang sedang makan siang.

Saya, Mama, dan Pak Udin duduk bersama di sebuah kursi kayu dengan satu paku mencuat tajam di antara titik duduk saya dan Mama. Abang Motoris duduk di sisi kursi kayu lainnya. Bu Maspa berjongkok santai di seberang kami, punggungnya bersandar ke pohon kelapa. Ibu Rospa duduk tidak jauh dari warungnya, mengamati obrolan kami tanpa bersuara.

Laguna Kehe Daing terasa misterius dari mulai saya melihatnya di kejauhan. Air lagunanya terlihat begitu cantik, bergradasi bening di satu sisi kemudian menghijau  di tengah dan semakin pekat hijau di sisi satunya lagi. Dasarnya ditutupi pasir putih yang lembut dan sedikit liat, membuat saya sedikit kebat-kebit pertama kali menginjaknya. Penampilannya seperti pasir hisap yang sering saya lihat di film-film. Hehe.

Saya berjalan pelan merasakan pelukan pasir yang hangat dan liat di kaki saya.

laguna-kehe-daing

“Ibu anaknya berapa?” tanya saya kepo berfaedah – if there is ever kepo yang berfaedah. Wkwk.

“Tiga. Satu bidan, sekarang di Biduk-Biduk. Yang kedua guru. Sekarang di Derawan. Satu lagi itu yang paling kecil, di Jogja.”

Saya membiarkan mulut saya menganga. Kagum sekali. Bangga bertemu dengan seorang Ibu yang tinggal di daerah namun begitu melek pendidikan.

Kalau kalian punya orangtua yang bergerak di bidang pendidikan seperti saya, kalian mungkin akan mendengar cerita-cerita seputar bidang itu. Salah satunya: MASIH BANYAK SEKALI orangtua yang tidak rela anaknya mengenyam pendidikan di negeri ini. Dulu, saya pikir itu hanya rumor dan cerita lama saja, tapi ternyata tidak! Cerita itu benar adanya bahkan hingga masa sekarang ini. Mau sedih menanggapinya tapi ya bagaimana, mereka punya alasan untuk tidak menyekolahkan anaknya (banyak yang beralasan anaknya bisa lebih ‘produktif’ kalau membantu pekerjaan Bapak Ibunya dibanding bersekolah), siapa lah saya bisa menghakimi apa yang baik bagi mereka?

Karenanya, saya senang sekali bertemu orangtua di daerah yang sudah melek pendidikan seperti Ibu Maspa. Anak-anaknya direlakan menuntut ilmu ke luar kota (ketiga anaknya bersekolah di luar Kalimantan) dan hebatnya, ketika anaknya sudah ‘jadi’, Ibu Maspa bisa membimbing mereka untuk mau kembali dan berkontribusi di tanah Kalimantan alih-alih memakan impian indah hidup di ibukota atau kota besar lainnya.

“Ibu hebat sekali! Anak-anaknya jadi semua alhamdulillah ya, Bu. Nanti yang kecil selesai, Ibu tinggal menikmati masa tua ya.”

Ibu Maspa tersenyum menanggapi respon saya. Mungkin terselip kata ‘Amin’ dalam senyumnya.

Laguna Kehe Daing dikelilingi hutan lebat yang hijau. Hutan ini memproduksi suara-suara asing bagi telinga saya. Untuk sesaat, saya meyakini itu suara monyet; tapi kata Pak Udin, itu suara burung.

Ya antara saya dan Pak Udin, kalian tahu lah siapa yang lebih bisa dipercaya urusan suara dari hutan. Hehehe.

Air di laguna tidak terlalu dalam, hanya sebatas betis saya. Tapi di air yang terhitung dangkal tersebut, ada ikan-ikan garis hitam putih kuning yang berenang tegak berkelompok. Lucu sekali melihat mereka; cara mereka berenang tidak kecentilan (seperti ikan-ikan di Limasan..pfft), mereka berenang tenang dengan sirip yang bergerak pelan. Mungkin cara berenang ikan itu terpengaruh keadaan di habitat mereka ya, kalau airnya tenang, ikannya juga berenang dengan tenang, kalau airnya berarus, ikan berenang dengan sigap dan cepat.

Nah ikan di Limasan berenangnya kecentilan gitu kenapa ya?! Airnya perasaan tenang-tenang saja.

Hmmm…

hutan-kehe-daing-kalimantan-timur

Saya berdiri di sebuah ceruk kecil di bibir gua bagian dalam, melihat ke arah hutan hijau di seberang. Begitu asingnya suasana dan suara yang saya dengar, saya sampai merasa seperti tidak sedang berada di Indonesia.

Seperti di hutan Amazon gitu, Geng!
Padahal saya belum pernah ke Amazon. Hihihi. (^_^)

Keluarga Ibu Maspa dan Ibu Rospa adalah pemilik tanah di laguna Kehe Daing ini. Dulu, Kehe Daing tidak dibuka untuk umum. Entah siapa yang pertama kali menemukan laguna yang cantik ini lalu berinisatif menerima tamu tapi bahkan hingga saat saya datang, Ibu Maspa dan Ibu Rospa tidak menerapkan tarif khusus untuk memasuki laguna miliknya ini.

Dari guliran cerita yang keluar dari bibirnya, saya jadi tahu Ibu Maspa membesarkan anaknya sendiri. Suaminya sudah meninggal bertahun-tahun lalu, ketika anaknya yang paling kecil masih SD atau SMP.

Langit yang terang tiba-tiba berubah menjadi sedikit gelap. Tiba-tiba hujan turun rintik-rintik. Beruntung saya dan Mama sudah selesai makan jadi tidak ada makanan yang harus kami lindungi dari curahan air dari langit ini. Badan kami yang sudah setengah basah sehabis bermain air di gua dan laguna kami biarkan terkena hujan yang turun menyegarkan. Kami masih enggan beranjak.

mengapung-di-kehe-daing-pulau-kakaban

“Melaut.” sahut Bu Maspa singkat ketika saya bertanya apa pekerjaan suaminya dulu. Saya tidak ingin lagi bertanya tentang suaminya setelah itu melihat beberapa kali Ibu Maspa menyeka air mata yang mengumpul di pelupuk matanya dengan ujung hijabnya saat bercerita tentang mendiang suaminya tersebut.

“Keluarga minta saya jual tanah (Kehe Daing) ini.” Bu Maspa terbata berkata.

“Jangan, Ibuuuuuu!!” balas saya cepat. “Sayang sekali tanah ini kalau dijual”

Ibu Maspa tersenyum. Ada kekuatan dan semangat baru terpancar dari matanya. “Anak-anak juga tidak mau tanah ini dijual. Sayang, katanya. Tapi keluarga lain minta dijual saja, biar bisa bagi-bagi uangnya. Tidak usah dijual ya, Bu?” tanyanya minta dikuatkan.

“Kalau Ibu sekarang masih cukup pendapatannya untuk kebutuhan harian dan biaya kuliah si Adek, jangan dijual, Bu. Sayang.” jawab saya.

“Diurus saja, Ibu. Bisa dibangun pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Saya yakin Ibu dan anak-anak bisa urus.” Mama ikut memotivasi.

Ibu Maspa tersenyum. Sepertinya beliau jadi lebih yakin dengan keputusannya tidak menjual tanah di Kehe Daing ini.

Sudah lewat pukul 12 siang kala itu, Pak Udin mengingatkan kami untuk beranjak dari Kehe Daing menuju tujuan selanjutnya. Saya tersenyum puas dan menengok ke Mama. Saya rasa Mama merasakan hal yang sama. Hati kami penuh. Penuh dengan cerita kebahagian dan kekaguman akan perjuangan seorang Ibu dari sebuah laguna ini.

“Ibu mau Kehe Daing ramai atau tidak?” tanya saya sebelum menuruni tangga untuk kembali ke kapal.

“Mau. Mau sekali.”, jawabnya.

Saya sempat berpikir untuk menganonimkan tempat ini. Biar keasriannya terjaga. Biar tidak ada suara berisik yang membuat suara alam berubah diam. Biar lagunanya tetap alami. Tapi cerita Ibu Maspa dan jawabannya akan pertanyaan saya di atas membuat saya berpikir ulang dan akhirnya menyebutnya.

Kalau kalian berkunjung ke Kepulauan Derawan, pastikan mengunjungi laguna ini ya. Kunjungi Ibu Maspa dan Ibu Rospa, bercengkerama dengan mereka. Kuatkan mereka. Sampaikan salam dari saya. Kalau kalian berkenan, hubungi saya via DM Instagram atau email rembulan_indira@yahoo.com. Saya mau menitip cetakan foto Ibu Maspa dan Ibu Rospa bersama Mama saya di bawah ini. Semoga bisa jadi kenangan manis untuk mereka.

ibu-maspa-ibu-rospa-kehe-daing

Siang itu, kami melanjutkan perjalanan dengan semangat baru. Semangat untuk menjadi lebih baik lagi, semangat untuk terus bersyukur atas kehidupan kami, semangat untuk terus bisa jadi kuat dan menginspirasi. Seperti yang ia sudah lakukan. Ia, Ibu Maspa, ibu sederhana dari laguna.

Laguna ini.. Kehe Daing, namanya. Artinya: lubang ikan, dalam bahasa Bajo.

Senyum dulu ah.. 🙂


BACA JUGA:

  1. Jalan-jalan ke Derawan Dulu dan Kini
  2. Menyentuh Ubur-ubur di Danau Kakaban
  3. Ide Ramah Lingkungan Ala Saya
Advertisements