Setengah Hari di Semarang

“Tinggal di Jogja nanti jadi lebih gampang kalau mau jalan-jalan ke Semarang gitu. Yuhuuu!!”, pikir saya dulu.

Apa lacur, bayangan tinggalah bayangan. Wacana tetaplah wacana.

Hingga negara api menyerang, saya tetap belum ke Semarang lagi walaupun sudah tinggal di Jogja selama sepuluh bulan. Hihihi.


Lalu datanglah sebuah makhluk bernama Irwin.

Pas kami ketemuan di Jogja, Irwin mengajak saya ikut serta ke Semarang. Dia akan ke Semarang sebelum kembali ke Jakarta. Saya, yang sudah lama banget ingin ke Semarang, ya tentu langsung berbinar semangat mendengar nama kota ini disebut. Saya pun melaksanakan poll di Instastory menanyakan kepada netizen apakah saya harus ikut ke Semarang. Bulan anaknya medsos abis yekan. Hihi.

Eh, Guys, follow Instagram saya dong. Ubermoon gitu ya, nama akunnya.

Kenapa sih ingin ke Semarang lagi, padahal sudah lebih empat kali ke sana?

Nganu, saya rindu makan Nasi Ayam Bu Pini. Hahaha.

Setelah hasil polling keluar, sembilan puluh delapan persen netizen vote saya ikut ke Semarang. Maka pergilah saya mengintili Irwin. Mutual benefit lah ini, Irwin dapat teman seperjalanan yang asyik, cantik, serta mulia dan saya dapat teman seperjalanan yang berbahagia nyetirin. Hihi. Dan karena dia belum pernah ke Semarang untuk jalan-jalan, sayanya jadi nggak perlu pusing mikirin harus ke mana untuk nunjukkin apa lha wong ke Lawang Sewu yang terhitung super mainstream saja dia belum pernah. Gampang kan jadinya. Hahaha.

Kami hanya punya waktu setengah hari di Semarang. Berangkat santai dari Jogja jam delapan pagi, sampai di Semarang sekitar jam dua belas siang (sempat-sempatnya kami mampir Candi Prambanan dulu otw yekan..haha), lalu waktu jalan-jalan juga dipotong ke bengkel audio dulu secara head unit mobil tiba-tiba metong aja dong. Wkwk. Besoknya Irwin rencana kembali ke Jakarta pukul sembilan pagi (tapi lalu mundur ke jam sepuluh sesuai jadwal travel saya ke Yogya). Irwin balik Jakarta, saya balik Jogja naik travel DayTrans.

Jadi, apa saja yang bisa dilakukan di Semarang dalam waktu setengah hari?

1. MAKAN NASI AYAM BU PINI

Please lah, this is the main reason for me visiting Semarang! Hahaha. Banyak yang bilang Nasi Ayam Bu Pini bukanlah yang terenak, tapi menurut saya, ini enak bangeeeet!

Saya memang mudah dibahagiakan.

Sudah mudah dibahagiakan begini saja masih belum ada yang mau meminang?

Yha kok curhat.

Nasi Ayam di Semarang itu sesungguhnya sama (atau mirip saja?) dengan Nasi Liwet di Surakarta. Nasi gurih yang pulen tapi nggak lengket ditaruh di piring yang sudah dialasi daun pisang, lalu disiram sayur labu, krecek, dan kuah opor. Di atasnya dikasih irisan setengah telur bacem dan suiran ayam. Rasanya: BEUH!! Mantap djiwa! Nasi Ayam ini kayak makanan yang nggak pernah salah lah. Saya nggak bosan-bosan makan ini.

Monmaap ni nggak ada fotonya, Geng. Saya sudah ingin segera menikmati sampai lupa memotretnya. Hihihi.

2. BERKUNJUNG KE MASJID AGUNG JAWA TENGAH

Masjid Agung Jawa Tengah ini punya bagian arsitektur yang unik yaitu payung-payung berukuran mega yang bisa terbuka, mirip sekali dengan payung-payung besar yang ada di Masjid Nabawi, Madinah.

Sayangnya, pas saya datang, payung-payung ini tidak sedang dibuka. Ketika saya tanya ke petugas masjidnya, ternyata dibukanya hanya saat-saat tertentu saja; misalnya pas ada hari besar. YHA.

masjid-agung-jawa-tengah-semarang

Tapi walaupun payung-payungnya menguncup, masih ada hal lain dari masjid ini yang bisa dinikmati. Misalnya, lampu gantung besar indah di tengah ruangan yang berpadu kontras dengan atap limasan ala Jawa (saya suka banget!!). Lalu pas kita masuk ke aula induknya, ada Al-Quran berukuran raksasa menyambut. Di bagian luar masjid, ada menara tinggi (yang ternyata di dalamnya ada lantai menara pandang dan kafe yang berputar 360 derajat – tapi karena kami nggak tahu dan saat itu panas sekali ya kami nggak berkunjung ke menara itu. Wkwk), dan juga pilar-pilar ala Romawi yang disusun setengah melingkar lebih sedikit (bagaimana coba ni setengah melingkar lebih sedikit?!) dengan hiasan kaligrafi di atasnya.

Yang perlu menjadi catatan, keadaan pelataran masjid kotor sekali, sedih aqutu. Air di kolam air mancurnya hijau, berlumut, dan penuh sampah, di sekitar pilar-pilar ala Romawi itu juga banyak sampah potongan kertas kecil-kecil entah apa. Dan saat siang hari dengan keadaan payung tertutup, lantai marmer di pelataran dari batas suci hingga ke pintu aula panasnya ampun-ampunan. Sambil berlari menahan tusukan panas lantai marmer itu di telapak kaki, saya hanya bisa menghibur diri dengan berkata, “Tahan.. Tahan.. Sabar.. Ini masih panas dunia. Belum lagi panas neraka.”

Hih. Amit-amit astagfirullah.

 

3. MAIN-MAIN KE LAWANG SEWU

Saya suka mengunjungi tempat wisata yang ada nilai historisnya. Saya bisa lama banget tu bacain satu per satu penjelasan sejarah sebuah ruang atau tokoh gitu lalu membayangkan seperti apa kehidupan di situ pada masa dahulu.

Kecuali di Lawang Sewu.

Wkwkwk.

lawang-sewu-semarang

Dari pertama ke tempat ini enam tahun lalu, saya sudah nggak suka auranya. Saya nggak bisa melihat makhluk tak kasat mata (alhamdulillah), tapi bahkan di Lawang Sewu ini perasaan saya nggak pernah nyaman. Segitu seriusnya aura mistis ni tempat dah. Haha. Namun katanya, apalah ke Semarang tanpa ke Lawang Sewu yekan, nah karena Irwin juga belum pernah ke Lawang Sewu maka dengan terpaksa saya memasuki tempat ini lagi menemani dia. Wkwkwk.

Kami datang bertiga; saya, Irwin, dan Kak Astin. Saya sudah dari awal malas explore sih, udah aja pengen duduk di bawah pohon bersama orang-orang lain aqutu. Tapi Kak Astin dan Irwin panggil-panggil terus ya jadilah saya terpaksa ikutan muter-muter. Huhuhu.

gedung-di-lawang-sewu

Dulu di tahun 2012 saya datang, Lawang Sewu ya hanya berupa komplek gedung saja. Di tahun 2018 ini, ternyata sudah lebih tertata. Beberapa ruangan dibuka dan diisi dengan berbagai macam diorama serta papan-papan penjelas sejarah. Saya bahkan nggak ada niat baca sih, maunya sudah cepat pulang saja. Hahaha. Apalagi kami datang di malam hari, adudu adudu makin makin perasaan ini. Hihi.

Sekarang di Lawang Sewu juga sudah ada satu merk ayam goreng – yang dulu berseteru sama saya – buka kedai di sana. Dulu pas saya datang, pemandu bilang mau ada kafe di Lawang Sewu dan ruangan-ruangannya akan diubah jadi kamar-kamar hotel, tapi sampai saya datang kembali kemarin, Lawang Sewu tetap menjadi Lawang Sewu saja. Alhamdulillah nggak jadi dijadikan hotel. Hihihi.

4. JADI PUTERA PUTERI CINA DI SAM POO KONG

Gua Batu Sam Poo Kong ini selalu menarik hati saya seberapa kali pun saya mengunjunginya. Cerita di sebaliknya si yang menarik paduannya. Bagaimana nggak menarik wong tempat ini sejatinya adalah sebuah petilasan. Dulu, Laksamana Cheng Ho dari Cina, mendarat pertama kali dan beristirahat di Sam Poo Kong ini. Menariknya, Laksamana Cheng Ho ini Cina Muslim, tapi kemudian Sam Poo Kong dijadikan kelenteng! Hahaha.

bulan-irwin-sam-poo-kong

Ada dua tiket masuk di Sam Poo Kong: tiket pelatarannya saja atau sama tiket masuk kelentengnya. Kalau hanya untuk foto-foto, di pelatarannya sudah cukup sih menurut saya. Kalau mau berdoa, baru bisa ke kelentengnya. Jangan masuk ke kelentengnya tapi malah sibuk foto-foto saja ya, banyak umat ke sana memang untuk ibadah. Ra ilok nek awake dewe mung poto-poto, ngganggu sing arep dungo.

Oh ya, untuk yang muslim, di Sam Poo Kong ini juga ada musholla di dekat pintu masuk dan keluar ya.

5. MENIKMATI LOENPIA MBAK LIEN

Selain perkataan, “Belum ke Semarang kalau belum ke Lawang Sewu” ada lagi satu perkataan lain, “Belum ke Semarang kalau belum makan loenpia”. Hahaha.

Loenpia atau lumpia adalah makanan khas Semarang. Isian, bentuk, dan sausnya beda dengan lumpia dari daerah lain. Lumpia Semarang berbentuk lebih padat dengan isian yang penuh. Nggak kopong gitu, Geng. Isiannya biasanya rebung, telur, dan daging udang atau ayam. Cara makannya adalah dengan saus lumpia yang berwarna coklat dan bertekstur lengket, kenyal, kayak lem kanji. Hahaha. Rasa sausnya: manis tapi nggak terlalu manis. (Fix Bulan nggak cocok jadi food blogger memang. Apa itu “Manis tapi nggak terlalu manis” wkwkwk)

Berdasarkan rekomendasi temannya Irwin, meluncurlah kami malam-malam ke Jalan Pemuda untuk menikmati loenpia Mbak Lien.

loenpia-semarang

Selain loenpia Mbak Lien ini, ada juga loenpia-loenpia tak bermerk gitu yang dijual dalam gerobak-gerobak di Jalan Pandanaran. Kalau kata Kak Astin – yang menahbiskan dirinya sendiri sebagai Duta Pariwisata Semarang, yang di Pandanaran itu lebih kayak massal dan ala kadarnya. Loenpia kerakyatan lah gitu, cailah. Nah kalau yang kayak Mbak Lien di Jalan Pemuda ini ya semacam kelas gourmetnya loenpia gitu. AHZEK. Hihihi. (Tapi brandnya Mbak Lien juga buka di Jalan Pandanaran kok, Geng).

Lima tempat itu bisa dicapai setengah hari, Lan? Bisa kok. Padahal Irwin tipikal yang nyetir santai. Mungkin juga karena kami jalan di weekday ya, jadi nggak terlalu macet. Hehehe.

Dari tempat-tempat di atas, mana yang sudah kalian pernah kunjungi, Geng? Pokoknya sudah ke mana pun tapi kalau belum pernah makan Nasi Ayam Bu Pini jatohnya nggak aci ya, Geng. Wkwkwk.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚


BACA JUGA:

1. Lawang Sewu Semarang

2. Flying Fix Wow di Semarang

3. Umbul Sidomukti Semarang

Advertisements