Chuncheon: Dakgalbi dan Jatuh Hati

“Where are you now? Already in Korea?” tanya Ian via Whatsapp.
“Yeap! At Seoul Express Bus Terminal waiting for my bus to Sokcho!” jawab saya.
“NO!! NO!! Ask for a refund now!! Or don’t ask for a refund, I’ll pay for your ticket, just cancel it!!”

Saya panik sesaat membaca pesan dari Ian. Eh ada apa? Dalam bayangan sudah ada scene dari film A Taxi Driver yang berlatar Gwangju Uprising. Aduh aduh.. 😦

“Cancel your trip to Sokcho and come to Chuncheon instead! I’m still in Chuncheon, I can show you around! COME!!”

YEEEE.. MANEEEH!! Bikin panik ae. Abdi kira kenapaaaaah… Grrrh..


“Chuncheon hanmyeong juseyo..” pinta saya ke Ibu di balik konter dengan takut-takut. Ini kali pertama saya mencoba menggunakan bahasa Korea ke orang Korea di Korea. Duileh ngapalin frasenya sudah dari 300 meter sebelum terminal dah. Itupun kayaknya salah tapi yaudah gpp, yang penting Ibunya paham. Wkwkwk.

Ibu di balik konter membalas dengan senyum dan satu pertanyaan yang saya nggak paham arti persisnya tapi saya yakin beliau menanyakan jam keberangkatan.

“Yeol si.. (saya diam sebentar berpikir) sam sib bun..” jawab saya.

tiket-sokcho-chuncheon

Chuncheon adalah ibukota provinsi Gangwon yang berada di arah timur laut kota Seoul. Kalian tahu arah timur laut nggak si, Geng? Saya tadi googling dulu arah utara – timur itu disebutnya apa soalnya nggak hapal nama arah mata angin kecuali utara, selatan, timur, dan barat. Hihihi.

Saya hanya beberapa jam saja di Chuncheon sembari menunggu bus ke Daegu berangkat di petang harinya.

“What do you want to eat? The options come down to two: chicken or noodle.” tanya Ian saat menjemput saya di terminal bus Chuncheon.

“Hot noodle?” tanya saya balik karena saya baru tahu, umumnya orang Korea mengacu ke cold noodle saat mengatakan ‘noodle’.

“No, cold noodle.” jawab Ian, tepat seperti perkiraan. Saya nggak suka cold noodle (atau lebih tepatnya belum bisa menikmatinya) jadi pilihan saya jatuhkan ke ayam.

Kami masuk ke sebuah restoran yang cukup ramai. Meja-meja besar berbentuk bulat disusun rapi membentuk dua jalur. Di atas masing-masing meja, sebuah pinggan raksasa berbentuk bulat ditaruh di atas tungku arang.

“Kita makan Dakgalbi!” kata Ian dengan mata berkilat penuh semangat. Perut saya yang sudah lapar ikut berkilat-kilat penuh semangat. YHA. πŸ˜€

Pelayan datang membawa sebongkah daging ayam setengah beku yang langsung ditaruh di atas pinggan yang mulai memanas. Di atas daging ayam dituangkan bumbu berwarna jingga pekat. Di sekeliling daging ayam, diatur berbagai macam sayuran membentuk lingkaran. Lalu pelayan pergi. Meninggalkan perut saya yang kebingungan.

“Nanti dia akan kembali dan masakkan untuk kita.” kata Ian melihat wajah bingung saya.

dakgalbi-korea

Monmaap ini pecah fotonya karena ini screen grab dari instastory aja dong, Geng! Wkwk.

Sementara menunggu Dakgalbi dimasakkan, kami mengobrol. Obrolannya random banget dari mulai tentang Korea Selatan, Korea Utara, Dinasti Joseon, Dinasti Silla, sampai sejarah Dakgalbi. Hahaha.

“Kita tidak boleh makan sebelum pelayan beritahu” lanjut Ian menerangkan, “Mereka akan beritahu kapan makanan siap dimakan.”.

“Masitge deuseyo..” kata pelayan mempersilakan kami makan.
“Jal meogetsseumnidaaaa..” jawab saya dan Ian berbarengan.

Bagaimana tampilan Dakgalbi setelah jadi?

Nganu.
Mirip nasi goreng. Nasi goreng warna jingga. Yahahaha.
Rasanya pun mirip. Hanya ada beda sedikit rasa yang unik dari Dakgalbi; mungkin karena gochujangnya.

Sambil kami makan, saya melihat ke meja sebelah dengan ujung mata, “Kok mereka makan nasi?” tanya saya ke Ian. “Kita nggak makan nasi?” Saya curiga.

“Nanti. Di akhir. Hahaha.” Ian menertawakan jawabannya sendiri. Sebagai orang yang pernah tinggal delapan tahun di Indonesia, dia tahu banget kita – most Indonesian, memasukkan nasi di menu utama. Tapi dalam Dakgalbi, nasi dimasukkan terakhir – bersamaan dengan, apa tebak….

UDON!!

Buahahaha.. Combo banget karbonya astagah..

Mengetahui akan ada nasi (dan udon) di akhir jamuan, saya berencana mengambil porsi lebih sedikit di ronde pertama tapi Ian tentu tak membiarkan saya melaksanakan rencana saya. 😐 Dia terus saja memberikan ini itu nina ninu ke dalam piring saya dan menyuruh saya makan. Pfft!

“Setelah ini kita mau ke mana?” tanya saya ke Ian setelah kami selesai makan. “Kamu sukanya apa? Shopping, nature?” tanya Ian.

“NATURE!” jawab saya cepat.

Ian pun mengajak sayaΒ beranjak ke pinggir kota. Kami ke Animation Museum, tapi alih-alih masuk ke dalam museumnya, kami ke bagian belakangnya. Ada taman, jalur sepeda, dan gedung di belakang museum ini dan kata Ian, itu tempat menyepi dan suasananya tenang sekali dengan pemandangan yang indah.

Sampai sana, saya terhenyak.

Itu suasananya bukan tenang, Geng, itu lebih ke depressed. :/

chuncheon-korea-selatan

Pemandangannya memang cantik. Kami bisa melihat danau yang besar dengan latar kota di kejauhan. Tapi entah kenapa feeling saya nggak enak. Macam suicidal banget gitu auranya. 😦 Waktu kami datang, ada dua perempuan duduk berjauhan di sisi yang berbeda. Masing-masing hanya duduk saja diam nggak ngapa-ngapain. Mending kalau kursi dihadapkan ke luar ya jadi bisa sekalian lihat pemandangan, ini enggak, kursinya menghadap ke dalam. Segitu tegangnya aura yang ada di sana sampai saat saya dan Ian berjalan ke sebuah sisi dan melihat ada satu perempuan duduk di sudut sendirian saja saya jadi bertanya ke Ian apakah kami sebaiknya mendekat? Saya takut mengganggu.

“Ya, I think we better don’t. I think she needs some alone time.”

Kami berbalik arah.

Anehnya, sudahlah suasananya suicidal begitu, entah apa yang merasuki pikiran saya tapi kok saya malah mulai menanyakan fenomena bunuh diri di Korea Selatan.

Aduh aduh, obrolannya tetiba gelap.

Nggak suka dengan vibe yang ada, saya mengakhiri obrolan dan meminta pindah tempat (atuhlah Bulan, kau yang mulai kau yang mengakhiri banget ya).

Kami melanjutkan perjalanan ke sebuah danau besar yang juga berfungsi sebagai reservoir. “Di sini wisatanya seperti ini. Driving begini.” kata Ian.

Saya menahan senyum, terpikirkan sesuatu; pernah nggak sih kalian lagi stress dan mau keluar rumah tapi nggak tahu mau ke mana, pokoknya mau ke luar rumah saja, menyetir sampai jideng? Nah TADAAAA Chuncheon menjadikannya wisata. Wisata menyetir! Hihihi.

chuncheon-lake-view

Wisatanya ya benaran menyetir saja, Geng. Danaunya luas sekali dan berliku, nggak cuma berputar mengitari saja. Ada jalan di tengahnya yang bisa diambil dan nanti kalau belok kiri (misalnya) akan bertemu di sisi danau yang lainnya. Nyetirnya bisa kencang tapi nggak bisa ngebut juga karena jalannya berkelok. Pemandangannya apa? Danau dengan air biru tua yang bersih di satu sisi, bukit dan lembah di sisi lainnya, serta pegunungan di kejauhan. LAFF BANGET!!

Kalau pikiran sudah agak tenang, bisa juga mampir ke beberapa kafe yang ada di pinggir danau bagian lainnya (danau berkafe itu ada di sisi yang berbeda dengan danau yang wisata menyetir tadi, tapi danaunya satu danau yang sama. Ribet ya bahasa saya, paham tak? Hihihi).

“Are we goin to a cafe?” saya mulai demanding demi melihat sebuah kafe nan rupawan di pinggir jalan tapi Ian melewatinya saja.

“We can. Do you want to go to a cafe?” Ian malah balik bertanya.

“YES!” jawab saya cepat. “To the one we just passed!”

Ian ngakak dan akhirnya memutar balik.

Sebuah kafe dengan lantai dan dinding semen menyambut kami. Di dalamnya, meja kursi kayu dan besi diatur berantakan bergaya industrial chic. Dari kejauhan, kami bisa melihat hamparan rumput sintetis berwarna hijau dengan puluhan bean bag berwarna-warni. Posisinya tepat di pinggir danau; membuat warna hijaunya terlihat kontras dengan air danau yang biru pekat. Suasananya tenang sekali.

Kali ini benaran tenang, bukan depresi. Hamdallah.

lakeside-cafe-in-chuncheon

Kami memilih duduk di balkon atas, mengobrol ditemani Americano, latte, dan sepotong kue red velvet. Topik obrolan beralih tentang bahasa dan isu lingkungan.

“Ada beberapa tempat lagi aku mau ajak tapi tidak tahu cukup atau tidak waktunya.” kata Ian.

“Kalau tidak cukup ya sudah, santai saja. Tidak ada target apa-apa. Aku tidak mau buru-buru.” kata saya santai.

Akhirnya kami memutuskan ke satu tempat lagi saja yang adalah sebuah kafe dengan posisi di atas bukit. Saya ngakak pas masuk kafenya. Ini nggak tahu apakah karena sering kejadian orang datang doang tanpa beli apapun dan menghabiskan waktu lama menikmati suasana dan pemandangan di sana tapi di depan pintu masuk ada tulisan tiap orang WAJIB membeli MINIMAL satu minuman. Hihihi.

Kafenya sendiri menurut saya biasa saja, nggak terlalu nyaman untuk duduk-duduk dan bercengkerama, tapi lokasinya memang prime. Di belakang kafe itu, mereka membuat dek yang sangat besar, menjorok keluar dari bukit, menyuguhkan pemandangan kota Chuncheon dari ketinggian. Saat kami datang, matahari sudah mau kembali ke peraduan. Chuncheon jadi terlihat berwarna kekuningan. Cantik.

sunset-di-chuncheon-korea-selatan

Minuman selesai kami nikmati, kami pun bergegas beranjak ke terminal. Sepanjang jalan, saya melihat ke kanan, menikmati langit senja. “Why didn’t you tell me sunsets are good from here?” tanya saya ke Ian sambil tak henti terpukau melihat semburat jingga keunguan itu.

“I didn’t know you like nature this much. I didn’t know what you like and don’t like. Now I know, I can create better plan next time.”

Saya diam tidak membalas. Langit yang berwarna magis, suhu yang hangat dari heater di dalam mobil, dan mobil yang bergerak perlahan membuat saya begitu menikmati suasana. Saya hanya bisa diam memandang langit di kejauhan. Saya jatuh hati dengan kota ini. Chuncheon, you peaceful you.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚


BACA JUGA:

  1. Rekomendasi Film dan Serial Korea
  2. Sokcho – Kota Kecil yang Menggugah Hati
  3. Hambatan Bahasa di Busan
Advertisements