Nostalgia Tak Disangka di Daegu

Hujan turun dengan deras.

Seorang laki-laki berparas manis dengan rambut tergerai sepundak melihat rintikan air hujan yang jatuh ke tanah dari jendela studio lukisnya di lantai dua. Mendengar suara hujan menenangkan pikirannya, melihat tetesan air membasahi tanah adalah terapi bagi matanya. Matanya menyapu taman di bawah ketika kemudian pandangannya tertumbuk ke seseorang di bawah sana.

Perempuan itu.

Perempuan manis berambut panjang dan lurus yang sering ia lihat duduk di kursi taman. Perempuan manis berambut panjang dan lurus yang senyum manisnya terasa lembut menenangkan. Perempuan manis berambut panjang dan lurus yang bisa membuat hatinya berdebar tak terkira.

Sudah beberapa minggu lelaki ini mengumpulkan keberanian untuk berkenalan dengan perempuan itu. Kini saat ia melihat perempuan itu akan berjalan menerjang hujan lebat tanpa payung, ia berpikir, apakah ini saat yang tepat untuk mendekat?

“YA!!”, pikirnya.

Dari studio lukisnya di lantai dua, ia melesat menuju pintu di lantai satu, membawa payung di tangannya. Perempuan itu sudah mulai berjalan di tengah hujan. Tetesan air sudah mulai membasahi bajunya. Laki-laki itu bergerak cepat mengejarnya.

Derap langkah yang cepat seharusnya terdengar tapi suara itu terkalahkan suara derap hatinya. Ia berhasil mengejarnya.

Di samping perempuan yang sudah lama ia sukai, yang senyumnya menimbulkan rasa hangat di hatinya, yang belum ia kenal, laki-laki itu membuka payung yang dibawanya dan mengangsurkannya.

Perempuan manis itu terhenyak sesaat namun akhirnya tersenyum dan mengajak laki-laki tadi berjalan berpayungan bersama. Bahu mereka bersentuhan dalam usaha melindungi diri dari tetesan hujan. Setiap sentuhan bahu berakhir dengan senyuman pengertian di bibir perempuan itu. Setiap senyuman di bibir perempuan itu menimbulkan gejolak listrik di hati lelaki itu.

Saya menonton scene tersebut sambil makan Bengbeng.

love-rain

 


Scene itu ada di serial Korea berjudul Love Rain. Satu dari dua serial Korea yang bisa membuat saya ikut terbawa emosi ceritanya; ikut gemas, ikut senang, ikut sedih, ikut-ikutan emosi lah. Hihihi.

Saya bukan tipe yang segitunya sama artis/aktor/aktris/serial/film. This explains why saya nggak begitu tertarik nonton konser walaupun saya suka artisnya, misalnya. Jadi, walaupun suka dengan serial Love Rain ini, saat serialnya selesai saya tonton, ikatan emosi saya dengan ceritanya pun berakhir. Nostalgia paling saya rasakan saat mendengar original soundtracknya. OSTnya membuat saya mengingat scene di atas kembali soalnya. Hehe.

Saat saya memutuskan mau ke Daegu, saya hanya berpikir mau menghabiskan dua atau tiga hari di sebuah kota baru sebagai waktu bersantai. Saya butuh meluangkan waktu untuk bekerja dan jalan santai tak tentu arah untuk menyegarkan pikiran. Maklum, beberapa jam setelah saya mendarat kembali di tanah air di akhir perjalanan, saya sudah ‘ditembung’ untuk memberikan presentasi/workshop kepada delapan puluhan peserta – full pakai bahasa Indonesia!

Padahal tentang media digital – yang mana banyak terminologinya dalam bahasa Inggris. Hahaha. Deg-degan aqutu saat itu, Geng. Wkwk.

Akhirnya di hari pertama di Daegu, saya niatkan pergi ke Keimyung University. Ngapain ke kampus gitu? Nganu, mencari perpustakaan untuk tempat bekerja. Hahaha. Bisa sih kerja dari hostel, cuma saya bosan. Bisa juga ke perpustakaan daerahnya tapi kok tempatnya semacam tidak menggugah rasa untuk bekerja, jadi, saya pilih ke kampus saja.

keimyung-university-art-center

Keimyung University sesungguhnya tidak di tengah kota. Saya harus naik subway dulu dan transfer satu kali untuk mencapainya.

Memasuki area kampus, pandangan saya langsung segar. Berbinar-binar. Kampusnya cantik sekali! Bersih, megah, tapi terasa hangat. Somehow, suasananya penuh nostalgia. Mungkin karena saya melihat ada bus berwarna kuning nangkring di jalan dan dedek-dedek mahasiswi berpakaian gemas membuat kampus ini mengingatkan saya akan kampus tempat saya dulu menghabiskan tiga setengah tahun berkuliah ya. Hihihi.

“Cheogiyo, doseogwan eodi iss-eoyo?” tanya saya ke seorang mahasiswi yang sedang berjalan di trotoar kampus. Ia menjawab ramah sambil menunjuk sebuah gedung di seberang kanan kami.

“Gamsahamnida!!” kata saya lagi dan beranjak menyeberang jalan menuju gedung yang tadi ditunjuk.

Tujuh derajat suhu pagi itu. Memasuki perpustakaan, saya terhenyak. Ramai banget, Cing! Adu adu.. Hihihi. Kayaknya karena di luar lagi agak dingin maka semua mahasiswa memilih masuk ke gedung dan menghabiskan waktu di dalam ruangan. Melihat keramaian yang teramat sangat, saya urung kerja di perpustakaan dan memilih kembali ke luar, duduk di bangku taman, membuka tablet dan mulai bekerja. Pemandangan depan saya: pohon-pohon dengan daun berwarna kuning dan merah serta tumpukan daun-daun kering  yang sudah disapu rapi dikumpulkan di bawah pohon. Bliss.

Suhu menghangat ke sepuluh derajat beberapa saat kemudian dan tangan saya berbahagia merasakan sejuknya belaian angin yang berhembus pelan. Beberapa jam di Kemyung University, saya bisa menyelesaikan beberapa slide presentasi. Lumayan. Saya baru pergi saat perut mengeluarkan suara-suara imut minta diisi. 😀

in-front-of-keimyung-library


“Hello, what’s the nearest station from here?” tanya saya ke seorang perempuan muda di balik laptop di sebuah tempat bertuliskan Tourist Information Center.

Saya baru saja dari gereja di seberang Tourist Information Center ini, menghabiskan beberapa menit berdiam diri mengosongkan pikiran, karena tadinya ingin membuka tablet dan melanjutkan bekerja tapi kok rasa-rasa gerejanya agak spooky alih-alih menenangkan ya wkwkwk dan saya tidak mau kembali ke stasiun subway melalui jalan yang sebelumnya saya lalui untuk mencapai gereja ini (naik tangga tinggi banget dan melewati kuburan, Geng, huhuhu!).

gyesan-church-daegu

Perempuan muda di balik laptop itu mengambil sebuah peta di deretan peta di atas meja dan mata saya tertumbuk ke satu brosur di samping peta tersebut.

“Sorry, is this Korean Drama shot here?”, tanya saya sambil menunjuk sebuah brosur dengan wajah lelaki berparas manis dengan rambut tergerai sepundak dan perempuan manis berambut panjang dan lurus dengan senyum manis yang terasa lembut menenangkan itu. Hati saya tiba-tiba terasa membuncah. Bersiap memekik jika perempuan muda di balik laptop tadi menjawab ya.

Alih-alih menjawab, dia menarik tangan saya dan mengajak keluar tempat kerjanya untuk menunjukkan sebuah neon sign berwarna hijau kuning di gedung samping. Saya seketika menutup bibir saya dengan tangan. Tak percaya.

Hangeulnya bertuliskan ‘Sse Ra Bi’; tulisan Hangeul untuk C’est La Vie.

INI ADALAH KAFE MUSIK YANG ADA DI SERIAL LOVE RAIN SETTING TAHUN 70AN!!!

OMG WHAT!!!

Love-rain-cafe-daegu

Saya tidak jadi memekik. Ada rasa aneh menjalar di tubuh saya. Saya bahkan terlalu malu kalau-kalau perempuan di samping saya ini bisa melihat gelagat rasa aneh itu.

“Gamsahamnida… It’s okay, you can leave me here. Thank you.” sahut saya ke perempuan muda di balik laptop tadi. Saya ingin punya momen sendirian untuk bernostalgia.

Di luar Tourist Information Center di depan Our Lady of Lourdes Cathedral atau yang lebih dikenal dengan nama Gyesan Church itu, di malam hari, di tengah suhu 6 derajat musim gugur, saya berdiri memandang neon sign yang diam.

Saya keluarkan ponsel dari dalam kantong, mengetik, “Love Rain Shooting Location” dan tersenyum sendiri membacanya.

The first days’ shooting for the 70s era took place at Keimyung University, Daegu, South Korea

Saya melihat ke atas ke neon sign bertuliskan C’est La Vie itu lagi dan tersenyum. Pantas saja Keimyung University terasa hangat dan menimbulkan rasa bernostalgia. Ternyata o ternyata.. 😀

Saya tidak masuk ke C’est La Vie malam itu. Hari sudah larut dan perut saya sudah kembali berteriak imut minta diisi maka saya pergi.

Pergi sambil menertawakan diri sendiri.

Cing, ini terlucu sedunia.
Saya, mellow over a neon sign!!

Hahahaha.

Sebelumnya, saya tidak pernah mengerti kenapa beberapa pejalan senang datang ke Korea Selatan untuk mengunjungi lokasi shooting serial yang ditontonnya. Saya nggak mengerti kenapa dan rasa apa yang ingin mereka rasa. Tapi saat itu, melihat neon sign bertuliskan C’est La Vie yang menyala diam di depan saya; saya sedikit lebih memahami. Mungkin rasa nostalgia ini yang mereka cari. Rasa memasuki lorong waktu dan menjadi bagian dari emosi yang ditampilkan di layar kaca. Seberapa pun abstrak dan jauhnya rasa itu dari kehidupan nyata. Orang kadang butuh lari sejenak dari kehidupan dan memasuki kehidupan lain dalam bayangan ya. Hehehe.

Senyum dulu ah.. 🙂


BACA JUGA:
1. Chuncheon: Dakgalbi dan Jatuh Hati
2. Galau di Haeundae Beach Busan
3. Transportasi di Korea Selatan

Advertisements