Tiga Hari di Daegu, Ke Mana Saja?

“Daegu might be disappointing, though.”
“Why would you go to Daegu? There’s nothing there.”

Pendapat dua teman saya yang orang Korea itu membuat saya mempertanyakan ulang rencana saya berkunjung ke kota metropolitan terbesar keempat di Korea Selatan ini.

Tapi akhirnya, saya tetap dengan pendirian saya.
Saya akan ke Daegu!
Why?
Because ini kan my trip, my adventuuureeeee… HAHAHA..

*guys, jangan pergi dulu, guys, baca dulu sampai abis, guys*
*guys…guys..helloooo*

road-in-daeg


Saya tahu tentang Daegu dari nonton beberapa video Youtube saat mencari cara menuju Gyeongju dari Sokcho. Karena tidak bisa langsung, maka dari Sokcho, saya harus ke kota A dulu sebelum ke Gyeongju. Ada beberapa pilihan kota A tersebut, salah satunya: Daegu.

Saya hanya menghabiskan dua hari full di Daegu dan satu harinya setengah hari sebelum ciao ke Gyeongju. Hari-hari di Daegu saya jalani dengan santai banget; nggak ada yang mengejar dan dikejar jadi saya pergi sesuka langkah kaki saya melangkah saja. Nggak ada target, karena saya tahu pasti saya akan kembali ke kota ini. Hihihi.

Jadi, tiga hari di Daegu bisa ke mana saja?

Banyak sebetulnya. Ini karena saya jalan santai dan nggak ngoyo saja jadi hanya sedikit tempat yang saya kunjungi. Tapi ya buat apa ngoyo kalau bisa santai penuh perhitungan yekan. Hidup ngoyo tu melelahkan lho. Hehehe.

  1. KEIMYUNG UNIVERSITY
    Banyak yang bertanya ngapain ke Keimyung University (selain bernostalgia drama Korea Love Rain)?Well, saya ke kampus ini malah nggak tahu itu tempat shooting drama Korea Love Rain, saya ke sana karena mau cari perpustakaan dan perpustakaan kotanya tidak terlihat menarik dari tampilan foto di GMaps. Hihihi.

    Tapi selain bernostalgia dan ke perpustakaan, Keimyung University ini menyenangkan untuk jadi tempat duduk-duduk – not to mention, berfoto. Gedung di komplek universitas ini berbeda tampilan satu dengan yang lain dan semuanya bagus-bagus, megah-megah. Di Keimyung Art Center juga suka ada pagelaran drama musikal gitu. Bisa beli tiket dan nonton; tapi kalau nggak bisa bahasa Korea ya banyak-banyak istigfar saja ya karena sebagian besar pagelaran di sana memakai bahasa Korea full. Hihihi.

    keimyung-university-art-center
    in-keimyung-university

  2. KIM KWANG SEOK ROAD
    Saya nggak tahu siapa Kim Kwang Seok ini sebelumnya tapi jalan dengan namanya ini sepertinya jadi ‘the road to visit in Daegu’ maka saya sempatkanlah Googling dulu siapa Kim Kwang Seok ini. Hehehe.Ia adalah penyanyi dan penulis lagu beraliran folk rock yang melegenda. Saya sempatkan mendengar lagu-lagunya sambil jalan ke jalan memorabilianya itu dan saya suka! Lagunya penuh jiwa. Lebih terdengar seperti folk balad bagi telinga saya tapi kata Wikipedia folk rock ya baiklah, folk rock it is. Hehe.

    Membaca biografi elektroniknya, saya cukup terhenyak. Kim Kwang Seok ini meninggal karena bunuh diri di usia 31 tahun. 😦 So sad. Setelah tahu tentang cerita hidupnya, lagu yang saya dengarkan lebih terdengar seperti rintihan depresi daripada balada cinta. :/

    kim-kwang-seok-st
    kim kwang seok

  3. SEOMUN MARKET
    Seomun Market adalah sebuah pasar tradisional yang sangat besar. Isinya palugada! Apa lu mau, gue ada. Hahaha. Dari mulai penjual baju (level pinggir jalan sampai level butik), penjual kaos kaki, penjual alat sulam, penjual kain sekaligus penjahit hanbok, penjual tteokbokki, guksu, buah-buahan, sampai ikan asin semua ada, kumpul di Seomun Market! Hihihi. Areanya yang luas dan beragamnya barang dagangan di Seomun Market mengingatkan saya sama Chatuchak Market di Bangkok. Suasananya pun mirip.Jalan di Seomun Market itu besar kemungkinan nyasar. Saya masuk dari Poin A, pas mau balik sudah nggak bisa menemukan Poin A itu, jadilah keluar dari Poin B. Hahaha. Padahal saya jarang sekali nyasar.

    Dari kejadian nyasar ini maka saya punya tips:

    Kalau melihat sesuatu hal yang disuka di Seomun Market, jangan berpikirnya, “Lihat yang lain dulu deh, kalau nanti sukanya sama yang ini ya tinggal balik lagi.”

    JANGAN!!

    Karena menemukan tempat itu lagi tidak semudah itu, Esperanza! Jadi kalau lihat ada yang lucu dan hati sudah lima puluh persen jatuh, LANGSUNG HABEK saja!! Hihihi.

  4. GYESAN CATHEDRAL
    Saya suka gereja katolik so it only makes sense I pay a visit to one on the trip. Selain itu, Gyesan Cathedral ini juga cantik (dari luar). Hihihi.Kenapa saya bilang dari luar? Karena entah bagaimana, bagian dalamnya terasa agak spooky. Mungkin ini satu-satunya gereja yang punya aura kurang nyaman (buat saya) dan membuat saya keluar setelah berada di dalam kurang dari sepuluh menit! Hihihi.

    Tapi dari luar, Gyesan Cathedral ini cantik, tinggi menjulang bergaya gotik.

    I mean the style, not the Zaskia.

    gyesa

  5. CHEONGNA HILL
    Saya nggak sengaja melewati tempat ini saat menuju Gyesan Cathedral dari Seomun Market. Cheongna Hill, sesuai namanya, berada di bukit. Tapi jangan bayangkan bukit yang tinggi banget gitu, Cheongna Hill masih bisa banget dicapai jalan kaki santai dari bawah kok.Dari tangga di Cheongna Hill, kita bisa melihat pemandangan Gyesan Cathedral dan sekitarnya.

    Cheongna Hill ini area di mana kekristenan dimulai di Daegu, di dalam komplek Cheongna Hill ada Medical & Missionary Museum dan Education & History Museum. Semua museumnya tidak ada yang saya masuki karena, IDK, they looked intimidating. HAHAHA. Dan saat itu sepi, saya takut masuk sendirian. Wkwk. Dan di luar museumnya (masih di dalam komplek) ada kuburannya. Auranya WA WA WA gitu lah pokoknya. Hahaha. #BulanSiAnakCemen #takutsamaWAWAWA

    daegu-park

    Bukan foto di Cheongna Hill. Nggak foto di Cheongna Hill takut ada WAWAWA ikut.

  6. GYEONGSANG-GAMYEONG PARK
    Saya suka taman, jadi kalau pergi-pergi – apalagi sendirian, saya selalu menyempatkan pergi ke taman di kota yang saya kunjungi dan duduk-duduk menikmati suasana. Begitu pun pas ke Daegu.Gyeongsang-gamyeong Park ini adanya di tengah kota, kebetulan juga nggak terlalu jauh dari penginapan saya – sekitar 4,5km saja dan saya jalan kaki ke sana. Hihihi. Berada di taman ini membuat saya bahagia. I can spend hours sitting at the bench there, people (and birds) watching!

    Di dalam Gyeongsang-gamyeong Park ada Seonhwadang Hall (kantor gubernur zaman dulu), Jingcheonggak Pavilion (rumah gubernur saat itu), dan beberapa monumen pencapaian gubernur. Baik Seonhwadang Hall dan Jingcheonggak Pavilion tidak bisa dimasuki, tapi bisa dilihat dari luar. Dari melihat bangunan-bangunan di Gyeongsang-gamyeong Park ini, saya jadi bisa tahu gaya bangunan dinasti Jeoseon. Particular sekali detailsnya.

    gyeongsang gamyeon park

  7.  GUKCHAE-BOSANG MEMORIAL PARK
    Saya tertarik ke Gukchae-bosang Memorial Park karena cerita sejarah kepahlawanan masyarakat Korea Selatan dari guru bahasa Korea saya.Alkisah, di tahun 1997, Korea Selatan mengalami krisis moneter. HO OH! Sama ya seperti yang mendera negara kita di tahun tersebut.

    Nilai mata uang won kala itu terjun bebas. Bisnis banyak yang bangkrut. Beberapa bank kolaps; yang bertahan pun mati-matian menjaga stabilitas keuangannya. Investor asing mencabut investasi dalam negeri, ratusan orang kehilangan pekerjaan. Satu-satunya jalan keluar, saat itu, Korea Selatan mengambil bantuan dari IMF. Bantuan diberikan sebesar 58 milyar USD dengan beberapa persyaratan yang harus dilakukan.

    Tapi apa yang hebat dari cerita itu? Yang hebat adalah bantuan sebesar itu bisa dikembalikan di tahun 2001 (4 tahun setelah krisis, 3 tahun lebih cepat dari jadwal pengembalian) dengan bantuan, tidak hanya pemerintah Korea Selatan, tapi juga segenap rakyat Korea Selatan! Bagaimana bisa? Nah itu! Korea Selatan punya satu gerakan hebat yang disebut Love Trade. Love Trade ini, bermula dari gerakan yang sama di tahun 1907 bernama National Debt Repayment Movement. Nah di Gukchae-bosang Memorial Park ini ada National Debt Redemption Movement Memorial Hall. Memorial Hall ini kaya museum gitu; isinya diorama dan video tentang apa itu gerakan kepahlawanan masyakarat Korea dan bagaimana gerakan ini membantu negara keluar dari keterpurukan krisis keuangan.

    Saya nggak akan ceritakan tentang petikan sejarah yang saya dapat dari berkunjung ke National Debt Redemption Movement Memorial Hall di sini, tapi akan saya ceritakan di Fanpage Ubermoon. Kalau kalian mau tahu, klik di Cerita National Debt Redemption Movement ini ya. Banyak yang bisa dipelajari dari bagian sejarah Korea Selatan ini, saya jadi lebih tahu tentang penerapan arti nasionalisme. Kagum sekali sama bangsa Korea Selatan jadinya – dan semakin berkurang kagumnya sama bangsa Jepang, but anyway, hahaha.

    Saya suka satu kalimat yang tertera di bagian depan buku panduan museum:

    We, People, take responsibility.

    Indah ya.

    Pola pikir yang menyadarkan saya bahwa sebuah negara bisa berjalan baik tidak hanya karena pemerintahnya melainkan juga karena dukungan segenap rakyatnya. Merinding aqutu, Geng, kalau mengingat bagian sejarah Korea Selatan ini.

    bell-in-gukchae-bosang

Ditulis begini, saya jadi sadar ternyata nggak terlalu sedikit juga ya tempat yang saya kunjungi selama tiga hari saya di Daegu . Ini belum termasuk daerah Dongseongno yang saya kunjungi setiap hari karena itu tempat penginapan saya berada. Dongseongno terkenal sebagai area belanja di Daegu. Di atas tanah, ada banyak sekali toko dan kafe dari mulai toko stocking, toko alat rumah tangga, toko produk kecantikan, kedai kopi lokal, sampai resto khusus. Daiso, Lotte, Olive Young, Starbucks, Ediya Coffee, lengkap ada di Dongseongno. Di bawah tanah, ada Daehyun Primall – mall (tersambung ke subway station) sepanjang 400 meter yang isinya toko baju, toko makanan, aksesoris, sampai studio foto – and yes, posisinya persis di bawah tanah jalan besar di Dongseongno. Keluarannya saja sampai lebih 20 pintu. Hihihi.

Daegu menyenangkan nggak?

Bagi saya menyenangkan! Jadi salah satu kota favorit saya di Korea Selatan malah. Kotanya metropolitan, semua ada, transportasi subway tersedia, tapi dalam skala lebih kecil jadi terasa lebih hangat, nggak kota besar banget gitu. Subwaynya hanya tiga jalur btw. Hihi.

daegu-in0

I’m glad I didn’t listen to what my friends said and went with my gut about Daegu. Kalau nggak, jadi nggak tahu tentang kota ini.

Memang ya, kadang, kita harus lebih percaya gut kita. Mendengarkan saran orang boleh, tapi tetaplah ambil keputusan akhir sendiri. Toh ini perjalanan kita.

Kan..

MY TRIIIPPPPPP..
MY ADVENTUUUREEEE…

gitu…
*oke, sekarang kalian boleh pergi dan menutup laman ini*

Hihihi.

Senyum dulu ah.. 🙂


BACA JUGA:

  1. Nostalgia Tak Disangka di Daegu
  2. Chuncheon: Dakgalbi dan Jatuh Hati
  3. Bergaya Saat Jalan-Jalan
Advertisements