5 Tips Mengatur Keuangan

“Adek cukup uang di sana?” tanya Mama ketika saya baru pindah beberapa bulan di Jogja. Saya mau tertawa mendengar pertanyaannya. Belasan tahun sejak saya mengurus hidup sendiri nggak minta uang sama orangtua, ditanyakan soal cukup uang atau tidak itu rasanya nganu.. LUCU. Hihihi.

Apa yang membuat Mama menanyakan soal kecukupan uang padahal sebelum-sebelumnya tidak pernah?

Ini adalah karena pendapatan saya jauh berkurang sejak saya memutuskan keluar dari Jakarta. Baik saya menetap di Jogja maupun di Bali dulu, pendapatan saya tentu sudah berkurang jauh dibanding ketika saya kerja di Jakarta. Tapi saya bisa hidup nggak dengan pendapatan yang berkurang jauh itu?

Ya bisa lah.. Kalau nggak bisa hidup ya trus yang ngetik post ini siapaaaa? Gendeluwo?! Hihihi.

Di tahun yang baru ini (sekaligus menandai setahun saya pindah tinggal di Jogja), saya mau berbagi buah pikiran kaya dan bahagia yang bisa membuat saya bertahan, berhemat, dan menabung bahkan ketika pendapatan berkurang dari sebelumnya. Saya yakin poin-poin di bawah ini bisa diterapkan dalam berbagai keadaan dan menimbulkan kebaikan. CAELAH, Bulan kayak orang benar saja.

Disclaimer: I am in no way an expert on finance, yang saya tulis di sini adalah dari pengalaman ya. Jangan diyakini bulat-bulat karena yang pantas diyakini hanya Tuhan dan kitab suci. Allahuakbar.

*kemudian berhijrah*


RESET YOUR LIFESTYLE

Persoalan gaya hidup ini kunciannya.

Saya belajar bahwa benar kata Mpok Rodiah dari RT 22, “Jangan makan gengsi!”

Serius, jangan.

Nggak bakal kenyang.

Sesuaikan gaya hidup dengan kebutuhan dan kemampuan, bukan keinginan. Gaya hidup apa dari saya yang berubah sejak pindah ke Jogja?

Jadi senang jalan kaki atau naik ojek online ke mana-mana alih-alih nyetir mobil.

Jadi jarang sekali ke mall karena mall yang besar jauh-jauh. HAHAHA.

Jadi suka masak sendiri karena ke pasarnya dekat, bisa jalan kaki.

Jadi jarang makan di luar karena pergi ke luar itu punya konsekuensi besar: susah cari parkir mobil, membakar bensin (padahal saya berusaha menjalankan eco-friendlier lifestyle), keluar uang lebih, dan mesti dandan. Hihihi.

Apa efek perubahan gaya hidup yang kelihatannya sederhana ini?

Efek yang langsung didapat tentu soal penghematan.

Naik mobil ke mana-mana itu butuh bensin Rp200.000/minggu.

Ke mall itu untuk parkirnya saja paling tidak Rp8000 sekali masuk (saya bukan tipe yang suka muter-muter mall sih memang, jadi ya ke mall karena ada keperluan saja, biasanya cepat, nggak sampai berjam-jam, kecuali kalau nonton).

Masak sendiri itu bisa menghemat biaya makan di luar atau pesan antar yang sekali pesan antar semurah-murahnya itu Rp18.500.

Nah coba deh, hitung berapa pengeluaran untuk hal-hal ini setiap minggu. You’ll be surprised dengan berapa ratus ribu yang bisa dihemat dari mengganti gaya hidup saja.

Pssst… Saya beli mobil baru saat pindah ke Jogja. Kurang dari setahun tinggal di sini, mobil itu saya jual. Kenapa? Karena alasan di poin selanjutnya.

blogger-famtrip-malaysia

MIND(SET) OVER MATTERS

Saya tertarik dengan sindiran Bang Jupri dari RT 17 pas Mpok Zubaedah mau ambil pupur di konter Progo, “Yakin, perlu?”

Iya.

Yakin, perlu?

Setiap mau beli barang, tanyakan pertanyaan yang sama ke diri sendiri.

Seringnya, kita itu beli sesuatu karena ingin (atau kalau saya, ‘karena lucu’), bukan karena perlu. Hihihi. Padahal ketika barang itu akhirnya dibawa pulang, sampai di rumah ya sudah dibiarkan saja ia tergeletak tak berfaedah. Kan sayang ya. Sayang barangnya dan sayang uang belinya.

Saya belajar mengurangi membeli barang-barang yang lucu saat tinggal di apartemen dulu. Apartemen saya kecil, Geng, kalau beli barang-barang lucu terus, ya bakalan penuh banget apartemennya. Nyimpennya juga susah karena ruangan terbatas. Pindah ke Jogja, kamar saya lebih kecil lagi. Jadi lebih selektif lagi deh kalau beli barang. Hehehe.

Ini berlaku untuk produk non fisik juga.

Misalnya Potipay, Nuflix, Ayflix, dan lain-lain itu you know what I mean kan. Dulu saya berlangganan Potipay karena terpakai kalau lagi terbang butuh hiburan dengar musik. Sekarang saya lebih sering naik maskapai full board jadi sudah ada IFE-nya, maka Potipay jadi nggak berfaedah lagi. Berhentiin saja. Lumayan, menghemat Rp49.900 per bulan. Kelihatannya kecil, tapi dikali 12, per tahunnya saya jadi bisa hemat Rp598.800!

Saya juga nggak langganan flix-flixan lagi karena frekuensi saya nonton sebenarnya bisa dihitung jari jadi si flix-flixan ini kurang berfaedah juga. Hentikan lah semua yang kurang berfaedah.

Hubungan juga, kalau perlu.

Dulu, saya sering nyetok makeup dan skincare, padahal baik makeup maupun skincare ada masa kedaluwarsanya. Pas saya proses pindah ke Jogja, saya lumayan kaget lihat stok makeup dan skincare saya. BUSEH BANYAK BEENG!! Akhirnya, untuk alasan dan keinginan menjadi lebih eco-friendly (makeup/skincare nggak ada isi ulangnya dan umumnya kemasannya plastik sekali pakai) serta alasan kepraktisan, saya jauh mengurangi pembelian makeup dan skincare. Ngaruh nggak ke bujet? NGARUH BANGET!! Makeup dan skincare itu lumayan mahal wey.

Kalau ada yang bilang cantik itu nggak perlu mahal, gamparin pakai botol pitera!

Mobil pun demikian. Saya berhitung faedahnya, produktivitasnya. Dan ketika hasilnya adalah memiliki mobil itu kurang produktif, ya saya jual saja. Lumayan, uang hasil jualnya bisa buat beli tambahan rakyat (baca: ikan).

Tambahan pengajaran dari Emak saya: Jangan pernah merasa miskin. Selalulah bersyukur, bahkan untuk rejeki kecil sekali pun. Mindset over matters.

ubercentil-makeup

SAVE FIRST!

Banyak orang menabung uang sisa, kalau ada sisa, baru ditabung. Saya, kebalikannya.

Dalam setiap uang yang saya dapatkan, uang itu sudah ada plotnya masing-masing. Plotnya apa saja sih bebas tergantung kebutuhan dan keinginan. Untuk menabung, variabel keinginan boleh dimasukkan karena keinginan memang harus diperjuangkan.

Keinginan saja saya perjuangkan, apalagi hubungan..

UHUK!

Karena saya kerjanya freelancing, saya pakai hitungan prosentase, bukan angka pasti (karena pendapatannya kan juga tidak pasti..hehe).

Nasib hubungan juga seringnya tidak pasti. :/

Jadi misalnya, setiap pendapatan itu 30%-nya adalah untuk tabungan cicilan, 20%-nya untuk tabungan fun, 20%-nya tabungan emas/darurat, 25%-nya daily needs, dan 5%-nya amal. Nah setiap plot itu sudah ada akunnya masing-masing. Biasanya beda-beda bank, tapi dijadikan satu bank pun bisa. Mau diambil tunai dan dimasukkan per amplop gitu juga bisa kalau telaten dan tempat menyimpannya sudah pasti aman.

Untuk yang pendapatannya pasti tiap bulan, bisa juga dibikin angka pasti. Mulai dari kebutuhan kewajiban (cicilan/utang) dulu kalau ada baru kemudian tabungan, kebutuhan harian, dan lain sebagainya. Ketidakpraktisan sistem angka pasti adalah nanti kalau gajinya berubah, kita harus hitung ulang budgetingnya. Jangan gajinya naik dari 3juta jadi 4juta eh plot tabungannya tetap karena malas hitung ulang ya. Yaitumah kalau kata Dik Tuti dari komik Tuti and Friends namanya CULANG.

desa-farm-kota-kinabalu-view

START INVEST YOUNG

Saya selalu menekankan ini ke beberapa teman, mulailah investasi saat masih muda, apalagi saat belum berkeluarga. Apa pasal?

Belum ada tanggungan yang (somehow) akan ikut menanggung ‘efek’ dari investasi kita. Kalau untung bisa kita nikmati sendiri dan kalau rugi, hanya kita yang nanggung sendiri juga. Nggak ada kita geret-geret orang lain gitu. Kecuali kalau hidupnya kayak Bang Jaenudin dan Mpok Cici (MPOK apa CICI sih?!) dari RT 06 yang walaupun masih pacaran tapi berprinsip susah senang bersama, rejeki dinikmati berdua, rugi pun dijalani berdua. Nah itu beda. Hehehe.

Kalau ada yang nanya investasi apa yang cocok untuk A atau apakah B harus melakukan investasi X, duh, ai nggak bisa sarankan. Produk investasi itu BUANYAK sekali dan investasi itu cocok-cocokan.

Kayak hubungan percintaan.

Bagaimana cara tahu investasi apa yang cocok untuk kita?

Tak lain tak bukan adalah dengan mempelajari dan mencobanya. Hehehe. Ini serius ya, investasi tu nggak bisa ‘kata orang’, menurut saya. Memang harus masing-masing mempelajari dan melakukan aksi sendiri karena beda karakter orang, bisa pengaruh juga ke kecocokan dengan investasi yang dijalani.

Pendapatan saya berkurang banyak setelah saya pindah Jogja tapi jangan kawatir, ada investasi yang masih memberikan hasil. Ada juga aset harta yang berubah fungsi jadi investasi. Misalnya, apartemen saya di Jakarta tidak lagi saya tempati mau disewakan. Bisaaaa.. Jadi pendapatan juga kan tu. Alhamdulillah..

Jangankan apartemen, lha motor saya yang jelas sekarang saya pakai saja kalau ada yang mau menyewa harian dan waktunya pas juga saya sewakan og. Sayanya tinggal mendem saja di rumah beberapa hari saat motor disewa orang (waktu yang tepat untuk berkontemplasi.. cieh..) atau kalau harus pergi ya naik ojek online. Selama hasil penyewaan motor dikurangi biaya ojek online masih cuan, habek lah! Berkorban sedikit demi cuan. Hihi.

lucky-chinese-cat

NEVER STRESS OVER MONEY

Ini poin terakhir dan yang paling menyenangkan. Dari melakukan empat hal di atas, jangan pernah lupa untuk bersenang-senang. Ngatur uang itu bisa dibikin menyiksa, bisa juga dibikin senang. Nah tinggal kita pilih mau tersiksa apa mau senang-senang saja mengaturnya. Hehe.

Hidup kan harus seimbang, keseimbangan ini berlaku juga dalam mengurus uang. Lakukan apa yang bikin senang, walaupun ‘bakar uang’; tapi dalam kapasitas terukur. Menabung dan berhemat jangan dijadikan tameng beban.

Misalnya, suka banget nyobain kafe baru, sekali ke kafe abis seratus lima puluhan ribu. Masih tetap boleh dilakukan nggak saat mulai budgeting? YA BOLEH LAH!

Tapi terukur.

Dulunya ngafe seminggu sekali, ubah jadi dua minggu sekali atau sebulan sekali.

Dulunya pesan apapun yang diinginkan, berapa pun harganya, sekarang sesuai sama bujet saja.

Di dalam budgeting pun, harus ada variabel ‘suka-suka’ ini.

Dalam budgeting saya, plot ini bahkan saya taruh kedua setelah urusan kewajiban (cicilan). Cicilan didahulukan karena kewajiban (dan tanggungjawabnya melibatkan orang lain, bukan diri sendiri saja), fun didahulukan biar hidup seimbang dan nggak gila. Hihihi. Percaya padaku, Geng, biaya ke psikolog/psikiater itu mahal.

Yang suka nyalon, bikin dong plot nyalon.

Yang suka ngemal, bikin dong plot ngemal.

Yang suka ikutan kursus, bikin dong plot pengembangan diri.

Yang suka saya, waktu dan tempat saya persilakan.

space-coffee-roastery-jogja


Isssh… Sudah seribu lima ratus kata lebih nih. Saya nggak mau tambahkan penutup karena nanti jadi lebih panjang lagi. Semoga tulisan ini berguna ya.

Btw, ada yang mengganggu pikiran saya dan harus saya utarakan di sini sebelum tulisan ini saya akhiri.

Hasil kontemplasi saat motor disewa orang dan saya mendem di rumah:

Kenapa ‘lifestyle’ itu penulisannya disambung sementara ‘gaya hidup’ dipisah? Apa nggak kangen mereka nantinya kalau dipisah gitu, Geng?

Senyum dulu ah.. πŸ™‚


BACA JUGA:

  1. 14 Places I would Want to Share with My Loved One
  2. So This is Goodbye..
  3. Liburan untuk Pekerja Kantoran
Advertisements