Ide Ramah Lingkungan Ala Saya

β€’
β€’30
Ide ramah lingkungan tanpa sedotan

Sebenarnya bingung mau kasih judul apa ke post ini. Haha. Intinya saya mau berbagi hal-hal apa yang sudah saya lakukan dan coba jadikan gaya hidup (CAELAH) untuk menjadi lebih ramah lingkungan.

Eh, yang saya lakukan lebih ke reduce waste dan eco-mindfulness ya, tidak ngejar zero waste. Karena saya pernah coba ngejar zero waste yang ada stress sendiri. Wkwkwk.

Jadi ya dikurangi saja memproduksi limbahnya dan juga selalu berpikir panjang tentang apa dan bagaimana efek yang dihasilkan dari sesuatu yang saya lakukan untuk lingkungan.

Oke, tanpa banyak babibu, mari langsung kita mulai saja bagaimana ide ramah lingkungan ala saya ini. Karena kalau nggak dimulai ya nggak akan bisa selesai. #apasikneng

  1. BAWA AIR DI BOTOL MINUM KE MANA-MANA

    Ide ini diajarkan dan dijadikan kebiasaan oleh Mama.

    Mama, kalau ke Mall Central Park (yang mana cuma lompat indah dari tempat tinggalnya), selalu bawa botol minum berisi air putih. Bagusnya kebiasaan ini: jadi bisa minum air putih kapan saja secara saya onta, hihihi. Dan nggak harus beli air minum kemasan botolan/gelas plastik yang sudah pasti akan jadi limbah setelah isinya dikonsumsi.

    Plus, kalau lagi jalan sama lelaki pilihan, saya bisa sok menawarkan air minum kapan saja, nggak usah tunggu sudah sampai di restoran gitu. Biar dikira perhatian. Hihi.

    Botol ramah lingkungan
    Bawa botol minuman untuk mengurangi limbah
  2. BAWA RANTANG ATAU TEMPAT MAKAN PAS MAU BELI MAKAN

    Soal beli makan ini baru menampar kesadaran saya saat membuka plastik demi plastik makanan yang saya dan Tante beli untuk makan di rumah.

    Sayur daun pepaya satu plastik, sayur buncis satu plastik, tongseng ayam dua plastik (didobel karena takut bocor), tahu tempe satu plastik, plus satu plastik besar untuk mewadahi plastik-plastik itu. Dan semua plastik itu tidak bisa dipakai ulang berkali-kali. Kalau kata 2ne1, kenyataan ini sangatlah: HO MA GAAAAH! :(Jadi sekarang bawa rantang atau tempat makan saja saat beli makan.

    Bisa juga direncanakan, sampai rumah rantang dibuka dan ajak Masnya makan bersama. Serantang berdua. AHZEEEEEK. Sudahlah ngirit, ramah lingkungan, dan praktis pula. Sungguh saya rantang ni calon pendamping idaman.

  3. SEDIA DAN BAWA TAS BELANJA KAIN

    Biar nggak pakai plastik sekali pakai lagi kalau bisa yaaaa.

    Kalau nggak bawa tas belanja kain dan belanjaannya sedikit, saya biasanya masukkan ke tas saya sendiri atau ya pegang di tangan saja. Kalau mau belanja agak banyak dan lupa bawa tas kain, saya minta semua belanjaan dijadikan satu plastik saja – nggak usah dipisah antara makanan dengan toiletries gitu. Plastiknya saya simpan dan pakai jadi wadah sampah di rumah. Hehe.

    Kalau belanja di supemarket, supermarket di Jogja rasanya lebih menawarkan opsi ramah lingkungan dibanding Jakarta. Di supermarket-supermarket di Jogja, kalau belanjaannya banyak banget, pembeli ditawarkan pakai kardus alih-alih pakai plastik. Dan kalau saya lagi belanja banyak (yang mana jarang sekali wong saya tinggal sendiri nggak punya pacar ataupun suami lha kok curhat yha) saya selalu ambil opsi pakai kardus itu.

    Tas Belanja Kain
    Gunakan tas belanja kain agar dapat dipakai berulang kali.
  4. NGGAK PAKAI TISU GULUNG DI KAMAR MANDI PRIBADI

    Tisu dibuat dari kulit kayu yang dijadikan bubur (pulp). Satu pohon berusia 6 tahun menurut salah satu sumber yang saya baca (hanya) bisa menghasilkan 2 pak tisu yang masing-masing pak berisi 20 lembar.

    Jadi satu pohon hanya bisa untuk EMPAT PULUH LEMBAR TISU DOANG!!

    Shocking? IYA.

    Maka setelah tahu, saya memutuskan nggak pakai tisu gulung di kamar mandi pribadi saya lagi, saya beralih pakai handuk kecil.

    Kalau bukan di kamar mandi sendiri, ya agak susah memang kalau nggak pakai tisu ya. Kalau di toilet umum, saya masih pakai tisu gulungnya itupun ambilnya diitung nggak mau sampai lebih dari 6 kotak. Pas cuci tangan, untuk mengeringkan tangan, saya pakai hand dryer saja. Hand dryer nggak ada? Yasudah dikibas-kibas ae tangannya. Hihi.

    Kalau ada Masnya, kepret-kepretin air di tangan ke muka dia saja biar dikata manja. #halah

  5. NGGAK PAKAI PEMBALUT SEKALI PAKAI

    Pembalut sekali pakai itu limbah. Limbahnya banyak banget dari mulai plastik packagingnya, plastik pembungkus satuan pembalutnya, kertas berplastik tempat lemnya, hingga keseluruhan pembalutnya sendiri.

    Sudah setahun lebih saya nggak pakai pembalut sekali pakai yang dijual di pasaran dan saya ganti pakai menstrual pad. Ada dua pilihan pengganti sebenarnya: menstrual pad atau menstrual cup. Silakan masing-masing riset dan kalau sudah yakin, tentukan pilihan. Tapi kalau belum yakin ya nggak apa-apa, saya nggak memaksa. Daripada dilanjutkan ke jenjang selanjutnya tapi penuh keraguan kan.

  6. ISI ULANG TOILETRIES

    Daripada setiap pergi-pergi beli perlengkapan mandi baru dalam bentuk sachet yang kemasannya hanya bisa sekali pakai, saya mending isi ulang toiletries saya kalau mau dibawa jalan-jalan. Sampo di tempat perlengkapan mandi saya isi ulang dengan sampo dari rumah (yang saya beli dalam pak besar), sabun juga begitu.

    Sampah kemasan sachetannya jadi nggak ada deh.

    Isi ulang Toiletries

  7. MINTA LAUNDRY LADY NGGAK PAKAI PLASTIK PEMBUNGKUS LAUNDRY-AN

    Sebagai anggota dari Alandrian (Aliansi Anak Laundry Kiloan), saya sudah sediakan satu tas khusus untuk membawa baju-baju saya yang akan dilaundry. Dulunya, setelah selesai dicuci dan diseterika, baju saya dimasukkan ke plastik bening sebelum kemudian dimasukkan ke tas laundry bawaan saya. Semacam nganu saya melihatnya. Pemborosan dan plastiknya jadi sampah. πŸ™

    Akhirnya saya minta Ibu Laundrynya untuk memasukkan langsung baju-baju saya ke dalam tas laundry, nggak usah pakai plastik segala. Ibu Laundry mengerti. Semudah itu.

    Nggak kayak dia yang dulu. Susah mengerti aku. #okesip

  8. MINUM TANPA SEDOTAN

    Sedotan plastik hanya bisa digunakan sekali, setelah digunakan, langsung jadi sampah. Sad. Nanti sampah-sampah lambat laun akan masuk lautan. Duh laut yang indah jadi mengenaskan sekali kalau sudah ada sampah masuk. Apalagi kalau sampah plastik macam sedotan itu dimakan binatang-binatang laut. Efeknya bukan lagi mengenaskan tapi membinasakan. Double sad aqutu.

    Jadi, saya menolak memakai sedotan. Kalau beli minum di luaran ya sudah dikokop saja minumnya, nggak usah pakai sedotan. Hehehe.

    Ada yang suka pakai sedotan stainless. Bisa juga kok beli dan pakai sedotan itu; kan bisa dicuci dan dipakai lagi. Saya anaknya nggak telaten. Punya sedotan gitu pasti akhirannya saya lupa bawa. Atau sudah dibawa dan dipakai, lupa mencucinya. Jadi sudahlah, saya team #kokopsaja . Hehehe.

    Ide ramah lingkungan tanpa sedotan
    Tinggal kokop
  9. PESAN MINUMAN DI GELAS

    Kalau pesan minuman di luaran dan saya mau mengonsumsinya di tempat, saya minta pakai gelas beneran saja daripada pakai gelas kertas/gelas plastik. Kalau dibawa pulang, saya minta minuman dimasukkan ke botol minum yang saya bawa.

    Menjadi sedih adalah ketika tempat jualannya tidak menyediakan gelas benaran. Lebih sedih lagi kalau gelas plastik yang mereka gunakan sebagai wadah adalah juga alat ukur pembuatan minuman mereka jadi tetap harus dipakai.

    Pernah kejadian, saya bawa botol minum ke sebuah tempat jualan milk tea, minta minuman dimasukkan ke botol yang saya bawa. Masnya bilang oke. Pas saya lihat pembuatannya LHA KOK TETAP PAKAI GELAS PLASTIKNYA? Pas saya tanya, kata Masnya, ukurannya ada di gelas plastiknya jadi tetap harus pakai gelas plastik itu baru kemudian dimasukkan ke botol minum.

    Lalu gelas plastiknya dipakai untuk minuman selanjutnya? Ya enggak! Langsung dibuang. KESEL GAK SI, GENG! Sama saja bodong kalau gitu sih ya. πŸ™ Sad.

  10. LEBIH ALERT SAMA KEMASAN/BENTUK MAKEUP YANG DIPAKAI

    Banyak yang bertanya kenapa saya yang dulunya aktif makeup-in orang dan wajah sendiri kok sekarang justru seringnya nggak dandan. Salah satunya ya karena alasan lingkungan. Hahaha. Saya sadar kemasan makeup dan skincare itu kebanyakan nggak bisa didaur ulang, sudah aja gitu dibuang dan tanpa penanganan yang baik akan berakhir di lautan juga. πŸ™

    Dari situ, saya jadi mengurangi pemakaian makeup khusus yang packaging-nya sampah banget.

    Yang drastis saya kurangi tu pemakaian kapas. Dulu bisa beli kapas dua kali dalam sebulan masing-masing dua pak karena tiap hari makeup-an yekan. Shock jinggo pas lihat kapas kotornya. Sekali hapus makeup bisa pakai lebih dari tujuh lembar kapas untuk menghilangkan riasannya. Dan itu setiap hari!! WAGELASEH.

    Sekarang jarang banget makeup-an, dan kalau mau hapus makeup pakai handuk penghapus makeup gitu. MengurangiΒ  beli makeup juga biar nggak banyak memproduksi limbah bekas pakainya.

    Kosmetik Ramah Lingkungan

Itu beberapa hal yang saya lakukan untuk menjadi lebih ramah lingkungan.

Pada akhirnya, kebiasaan-kebiasaan di atas ini sudah merasuk ke jiwa (AIH MATEEE) dan jadi lebih panjang penanamannya. Misalnya, saya jadi malas minum milk tea, bubble tea, dan sejenisnya yang memakai gelas plastik sebagai gelas ukurnya karena berarti setiap membeli satu minuman, saya menyumbang satu gelas plastik untuk lingkungan.

Saya juga jadi mengurangi belanja online karena belanjaan online SELALU dibungkus plastik; kadang sampai berlapis-lapis. πŸ™ Saya juga mengurangi belanja makanan via GoFood apalagi kalau saya tahu packaging untuk makanan take away di restoran yang saya tuju itu pakai banyak plastik. Saya usahakan nggak beli semua minuman yang kemasannya botol PET.

Jadi nggak beli milk tea, nggak pesan makan via GoFood, dan nggak belanja online, Lan?

Ya masih, tapi saya ekstrem kurangi intensitasnya. Kayak pilihan terakhir banget lah. Untungnya, ayam geprek kesayangan saya packagingnya pakai kardus kertas. Wkwkwk. #tetep

Kalian ada ide lain bagaimana untuk menjadi lebih ramah terhadap lingkungan? Kalau ada, share ya. Kalau bisa saya lakukan, pasti juga akan saya lakukan.

Yuk, bersama-sama kita berusaha untuk jadi lebih ramah ke lingkungan. Ya ramah ke dia yang kita harap jadi tempat kita pulang saja bisa masa ke lingkungan yang notabene sudah jadi tempat kita pulang sekian lama nggak bisa yekan! Kaaaaaan.

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

Related Posts

30 Responses
  1. Beberapa mulai saya terapkan juga mbak, biarpun belum sepenuhnya. Seperti, bawa minuman, gak pake sedotan, kalau belanja bawa tas kain, dan kalau membungkus makanan nggak bawa plastik (bawa tas kain sendiri).
    Kalau dirasa-rasa sih mending kita berusaha dari diri sendiri baru menularkan ke orang lain. Sekarang yang susah itu berusaha konsisten πŸ™‚

    1. Tul!!! Aku selalu berpikir apa-apa dimulai dari diri sendiri dulu sih. Efeknya memang tidak langsung besar. Nggak terasa malah mungkin. Tapi ya gpp, dimulai satu, semoga menyemi menjadi seribu.

  2. kak Bubuy kereeeen
    dari 10 poin di atas, saya baru mulai konsisten 3 poin *yg penting usaha dulu kan ya*
    jadi ingat kurlep 2 tahun lalu di awal – awal bawa botol minum sendiri sering banget ketinggalan .. di kebon binatanglah, di warteglah, di mesin atm-lah .. sampai ada kawan menyarankan pakai botol minum yang kinclong. sekarang sih selalu ingat untuk selipin kembali ke ransel (semoga gak cepat pikun haha)

    1. Tips: Botolnya pakai yang ada hooknya, Kak. Dikaitin di luar tas alih-alih ditaruh di dalam. Kalau mau minum jadi lebih mudah dan selesai minum langsung hook balik. Jadi nggak sempat dipegang-pegang karena biasanya yang dipegang-pegang yang mungkin hilang. Hihihi.

  3. Gallant Tsany Abdillah

    Aku pernah belanja di Indomaret pake tas kain sendiri, mbak-mbaknya bingung. Pas aku tanya, bingung kenapa, katanya ada cowok ganteng belanja pake tas kain gitu. Aku njawab aja, buat apa ganteng tapi jomblo #halah

    1. Gapapaaa, bisa berkontribusi dari lain sektor kan ya Diiit. Cailah.
      Btw, menstrual pad teh sama bentukannya sama pembalut. Cuma dari kain aja dan bisa dicuci.

  4. Isi Ulang Toiletries : Yang perlu produsen perhatikan adalah, setahu saya nih yaaa, BELUM ADA KEMASAN ISI ULANG SHAMPOO, CONDITIONER dan HAND BODY LOTION. ITu penting lhooo, biar ga perlu beli botolnya berkali2 ;( Saya kalau beli Shampoo 480 ml sekalian, hand body lotion beli yang 1 liter. Gemes sih belum ada kemasan isi ulangnya.
    Kapas Make Up : Sya pake susu pembersihnya yang cream, yang bisa langsung dibilas air sebelum memakai pembersih muka, jadi emang ga pake kapas. Tapi untuk make up tebal, memang pembersih muaknya harus extra, misal yang mengandung scrub halus gitu, biar make up ga tertinggal di pori2 πŸ˜€

    1. Iya beneeeerr. Kemasan isi ulang yang ada hanya sabun cair aja. Itu pun, aku agak nggak sreg sama kemasannya karena ya pakai bahan yang tidak mudah terurai. Aku sampai pernah ngomong sama teman yang sama-sama concern soal lingkungan, “Apa orang RnD sebanyak itu gak bisa ya come up dengan satu ide bagaimana caranya org bs refill tanpa limbah lagi?” Huhu.
      Aku gak pakai body lotion, btw. Tapi ini ya karena emang kulitku sih. Sengsitip kalau kena body lotion dan sabun cair kebanyakan, bruntusan. Huhu. Jadi aku pakai: tadaaaaaaa, VCO ke badan. Hahaha.

  5. Firsta

    2,4 dan 5 masih agak susah nihhh.. Menarik juga untuk coba (lagi) menstrual cup. Dulu banget pernah coba tapi gak enak banget huhu. This is a great post! Loveee it!

    1. Aku bahkan nggak berani mencoba si menstrul cup! Hahaha. Cemen aku mah jd udah lah pakai pad aja walaupun lbh banyak effort bersihin dan ngeringinnya tapi tak apa lah. Hihihi.

  6. Bagus banget kak artikelnya 😊 satu cara lagi supaya lebih ramah lingkungan adalah mengurangi konsumsi hewani kak, soalnya peternakan emisinya besar dan banyak proses yang harus dilalui untuk menjadi satu produk makanan, yang pastinya proses2 tsb menyumbang limbah/menggunakan banyak energi. Nguranginya ngga harus ekstrim kok, bisa dimulai dengan ngga makan hewan seminggu sekali atau seminggu dua kali. Semoga membantu! πŸ˜€

    1. Wah!! Ini hal baru! Aku baru tahu. Terima kasih ya. Aku nggak makan daging merah sih, tapi ayam masih. Ay..ay…ayam geprek gimana kabarnya kalau begini? Hihihi.
      Eh kalau hewani tp nggak dari peternakan? Ikan gitu gimana?

      1. Iya ih berat ya ninggalin ayam geprek πŸ˜‚
        Wah kalo dua pertanyaan terakhir ku belum tau banyak, bukan ahlinya takutnya salah ngomong hihi aku juga baru belajar. Setahuku sih kalo ikan dan daging organik ngga separah hewan2 peternakan kak.

    1. Yay!! Sedikit-sedikit ya. Dimulai dari diri sendiri, berpendar ke sekitar. Semoga kemudian bisa jadi kontribusi berarti untuk lingkungan yang lebih sehat.

  7. Udah ngelakuin semua sih kecuali yang menstrual pad/cup, masih keder mau pakai hehe. Bahkan belanja di warung sebelah rumah ku juga bawa tas belanjaan, dan dikomen sama budhenya dooong. Sering sampe eyel2an karena aku nggak mau pake plastik, sedih deh.
    Terus karena di kampung kan sering ada acara kenduri terus kirim makanan gitu ya. Dulu biasanya pake ceting plastik (aduh bahasa indonesianya apa sih?), sekarang mulai pake besek bambu. Ku senang.
    Oya dan aku merasa bangga, karena anakku dulu pake popok kain. Pake pampersnya cuma kalu bepergian aja ahahaha. Repot nyuci tiap hari gpp deh.

    1. Yaaasss.. Woohoo!!
      Kalau aku di Jakarta srg nggak boleh minum dr botol minum kalau ke cafe/restoran. Ditunjukkin tulisan “Dilarang membawa makanan dan minuman dari luar” masa. Wkwk. Ya gpp juga si, aturan mereka. Jadi ya aku bayar aja bilang beli air mineral tapi aku minum pakai botolku aja. Hihi.
      Kalau di Jogja malah sering boleh isi ulang dari galon restonya. Kadang bayar kadang juga dibilang gratis. Hihihi.

  8. kayanya kita perlu sesi curhat khusus soal menstrual pad ini. Aku pengen coba pake menstrual pad (karena ngga nyaman sama menstrual cup huhuhu maafkan aku yang anaknya pad banget ini)
    BTW sekarang udah banyak supermarket yang plastiknya mudah terurai (aku senang) tapi tetep dong kemana-mana bawa tas sendiri (kalo bisa malah gausah diplastikin). terus sekarang shampoo dll belinya in bulk jadi ngurangin kemasan ❀
    mba ada 1 lagi cara ramah lingkungan ala aku tapi kamu pasti bete kalo denger… caranya adalah NGURANGIN MANDI dan CUCI PIRING. intinya sih irit sabun huahahaha soalnya kan limbah sabun juga mencemari lingkungan atuhlah. kalo piring mah makan sepiring berdua aja BWUAKAKAKAKAKAAKA
    (ini bukan alesan karena saya males mandi dan cuci piring plis)

    1. Hahahaha. Lho mandi sekali sehari itu juga sering aku lakukan! Hihihi. Aku banyak menstrual pad belum dipakai, Gi, kalau kamu mau coba. Salah perhitungan, aku kira aku butuh banyak ternyata 4 aja cuci kering pakai bisa. Wkwkwk. Segala pakai beli yg night padahal tak berguna. Pfft.. Wkwk.
      Ketemuan belum jadi-jadi nih ih!

  9. Aku pikir-pikir ya, waktu jaman SMP-SMA itu mbah putri ku kalau nyuruh beli soto pasti nyuruh bawa rantang. Trus jajanan di kantin sekolah (capcay goreng, bihun/bakmi goreng, nasi goreng) semua dibungkusnya pakai daun pisang atau dan daun jati.
    Sekarang di Klaten jajan apa aja bungkusnya plastik. Pernah beli soto di salah satu warung gitu, sotonya dimasukin plastik dulu, diiket, trus dimasukin rantang. Langsung pengen tak kuliahi mbak-nya.

    1. Aku pun berpikiran sama!! Dulu, orang ke pasar itu bawa tas yang anyaman, eh trus karena ada yang bikin dan produksi plastik jadinya sekarang semua orang gak bawa tas dan menggantungkan ke plastik.
      Di Jogja juga ada beberapa yang pakai double plastik gitu bungkus makanannya. Triple kalau sama bungkus kreseknya. Stress gak si. Wkwkwk.

Leave a Reply